HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 48: Berakhir Sudah



Beberapa hari setelah aku ikut dalam OSIS, aku berkeliling di waktu istirahat sehari-harinya. Aku berjalan menyusuri seluruh area sekolah. Aku mengecek segala tempat yang ada, aku juga sering ke kantin sekarang untuk melihat situasi kantin saat ramai.


Aku berjalan sambil menggenggam smartphone milikku dan langsung melaporkan kepada Luna jika ada sesuatu. Beberapa pelanggaran yang aku temui adalah perkelahian antara anak laki-laki, pemalakan terhadap siswa perempuan dan beberapa pelanggaran lainnya. Kejadian itu kerap terjadi, Luna langsung turun tangan menyelesaikan masalah-masalah tadi sedangkan aku hanya membantunya dari belakang.


Namun hari ini berbeda, kali ini aku yang menemui masalah.


“Yo..” Sapa Romi.


Aku yang sedang menuruni tangga lab IPA bertemu dengan gerombolan itu lagi. Karena di tangga, aku tidak bisa menghindar dari mereka lagi. Karena sekolah ini bertingkat 3, aku sangat tidak menyangka akan bertemu mereka di sini. Aku diam saja dan tidak membalasnya.


“Kebetulan sekali aku bertemu denganmu di sini." Lanjut Romi mendekat.


Romi naik ke atas menghampiriku. Aku sangat yakin dia masih menyimpan dendam atas kejadian kemarin. Mata Romi melihatku dengan sinis.


“Kami masih sedikit menyimpan dendam denganmu atas kejadian kemarin." Balas anak yang lain sambil mengepalkan tangannya.


Aku masih diam dan tidak menanggapi. Aku sudah terkepung dan tidak bisa lari sekarang. Jika aku memaksakan untuk lari, maka mereka pasti akan terus mengejarku karena menganggap aku pengecut.


“Hoiii.. Kau dengar atau tidak..?” Bentak Romi sambil mendorong bahuku.


Aku tidak boleh terprovokasi di sini. Akan sangat buruk jika aku melayani mereka. Aku memegang erat smartphoneku dan menyembunyikan di kantong celana. Aku takut hal buruk akan terjadi nantinya.


“Aku belum tuli." Jawabku dingin.


Romi terpancing emosi. Aku harus tetap tenang untuk menghadapi mereka. Tidak perlu lari lagi, lebih baik terluka daripada harus menjadi pengecut.


“Lalu kenapa kau diam saja dari tadi?" Romi mendekatiku dan memegang baju bagian leherku.


Karena hal itu, aku tanpa sengaja menekan layar smartphone milikku yang masih menyala. Gerombolan Romi pun segera mengelilingiku. Karena tangga bagian lab IPA ini selalu sepi karena lab hanya digunakan untuk praktek pelajaran IPA, jadi jarang sekali ada orang yang lewat. Ini adalah spot terbaik untuk mereka jika ingin menyakitiku. Kemudian anak itu mengambil posisi akan memukulku. Di sini aku hanya bisa menutup mata.


Sementara itu, Luna yang sedang beristirahat dan sekarang berada di ruang OSIS. Luna kecapekan setelah melaksanakan tugasnya, banyak sekali pelanggaran yang di lakukan para siswa hari ini. Di ruang OSIS, Luna ditemani Astrid dan juga Aria yang sedang mengerjakan tugas masing-masing.


"Ah capeknya. Aku ingin istirahat sebentar." Luna bermalas-malasan di ruang OSIS.


"Kerja bagus Luna." Astrid mengipasi Luna.


Luna yang baru saja bersantai harus kembali bekerja. Tiba-tiba Luna menerima sebuah pesan sosial media, smartphone miliknya berbunyi.


Kling.. (bunyi notifikasi)


Luna membuka smartphone miliknya, Tio mengirim sebuah foto yang tidak jelas. Luna tidak mengerti dan sedikit bingung saat melihat pesan yang dikirim oleh Tio.


“Foto?” Luna kebingungan.


“Ada apa Luna? Kamu terlihat kebingungan.” Tanya Aria.


Aria yang sedang menulis di laptop melihat Luna yang sedang bingung. Aria kemudian menanyakan sebab kebingungan Luna.


“Ini Tio, dia mengirim foto blur begini. Hanya foto tangga dan kaki beberapa orang yang terlihat." Balas Luna.


"Hmm.. Iya jelek banget fotonya." Astrid ikut melihat.


“Mana, coba aku lihat?” Aria penasaran.


“Nih." Luna memberikan smartphone miliknya ke Aria.


Aria melihat foto itu secara seksama. Dia sedikit familiar dengan tempat yang ada di foto. Aria mengingat tempat itu ada di mana? Sedangkan Astrid kembali mengerjakan tugasnya di samping Luna.


“Memangnya itu di mana?” Tanya Luna.


“Ini tangga dekat lab IPA, tapi tempat itu cukup sepi. Jarang ada orang lewat situ pada jam istirahat." Jawab Aria.


Mendengar jawaban Aria, Luna merasakan sedikit keanehan. Luna kembali melihat foto yang dikirim Tio, dia memahami lagi kenapa foto itu bisa blur. Aria bilang jika di sana sepi dan tidak ada orang lewat, Luna langsung tersadar.


“Tunggu.. Tunggu Aria, apa yang kamu katakan barusan?” Luna terkejut mendengar penjelasan Aria.


“Tangga dekat lab IPA?” Tanya Aria.


“Bukan.. Bukan yang itu." Luna memastikan.


“Oh.. yang jarang ada orang lewat situ. Karena lab IPA ada di lantai 3 dan jarang ada orang ke situ kecuali saat ada pelajaran di lab." Lanjut Aria.


Ini gawat, Tio pasti sedang dalam keadaan bahaya. Bisa saja itu gerombolan anak-anak kemarin dan Tio tidak sengaja memotret lalu mengirim foto itu ke Luna. Karena biasanya saat Tio berkeliling, dia selalu membuka halaman chat dengan Luna.


“Jadi kaki yang ada di foto....” Luna baru tersadar.


“Ada apa Luna?” Tanya Aria penasaran.


Tingkah Luna semakin mencurigakan. Raut wajahnya menjadi sangat khawatir akan sesuatu dan Aria semakin penasaran dibuatnya.


“Gawat.. Ini benar-benar gawat." Luna mulai khawatir.


“Apanya yang gawat?” Aria semakin tidak mengerti.


Tiba-tiba Luna berteriak kepada Astrid yang ada di sampingnya. Padahal sedang membuat laporan keuangan di laptop miliknya.


“Astrid..!” Teriak Luna


“A-a-apa Luna? kamu ini bikin kaget saja. Tidak perlu berteriak juga kali, kupingku sakit." Astrid kaget.


Luna memegang bahu Astrid dengan tergesa-gesa, dia juga telah membuat Astrid kaget karena ulahnya. Kemudian Luna meminta tolong kepada Astrid.


“Segera cari yang lain!" Luna memegang bahu Astrid.


“Hah.. Apa maksudmu?” Tanya Astrid dengan heran.


“Sudah cari saja, kita tidak punya waktu. Segera cari mereka dan juga bilang pada mereka agar datang ke tangga dekat lab IPA." ucap Luna dengan nada sedikit keras.


Luna kemudian langsung lari meninggalkan ruang OSIS. Astrid dan Aria pun kebingungan dengan apa yang telah terjadi. Gelagat Luna terlihat mencurigakan, Luna terlihat sangat khawatir sekarang.


“Bagaimana ini?” Tanya Astrid ke Aria.


“Begini saja, kita ikuti apa kata Luna. Kamu segera mencari yang lain dan juga jangan lupa bilang ke guru pembimbing. Aku sedikit penasaran, jadi aku akan langsung mengejar dan mengikuti Luna." jawab Aria memberikan saran.


“Baiklah." Astrid setuju.


Astrid menyimpan pekerjaan yang sedang dia kerjakan lalu meletakkan laptopnya di loker miliknya yang ada di ruang OSIS. Aria segera lari menyusul Luna sedangkan Astrid mengunci ruang OSIS lalu segera mencari yang lain.


Aria berlari kencang dan berhasil menyusul Luna. Aria ingin tahu kenapa Luna sebegitu khawatirnya.


“Ada apa sebenarnya Luna?” Tanya Aria dari belakang sambil berlari.


“Tio dalam bahaya." Jawab Luna dengan khawatir.