HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 32: Menyelidiki



Luna membuka gerbang depan dengan perlahan. Dia kemudian masuk ke sekolah dengan hati-hati dan mengendap-endap. Dia harus memprediksi di mana Tio dan gurunya berada tanpa menyebabkan kecurigaan. Bagi Luna ini adalah misi yang sangat rahasia dan penting.


Luna melihat kanan kirinya saat berjalan menyusuri sekolah, dia takut jika ada satpam yang berjaga. Meskipun dia mengenakan atribut sekolah dan juga OSIS, itu tidaklah cukup menjamin dirinya aman jika ketahuan.


Luna memutuskan untuk menuju ke ruang jaga satpam, ternyata hari ini satpam tidak ada. Luna aman, dia melanjutkan mencari Tio. Tak lama berputar sekolah, Luna mendengar suara orang dari gudang olahraga, Luna langsung ke sana untuk memastikan. Ternyata benar, Tio dan pak guru sedang di dalam gudang olahraga. Luna menguping dari luar pembicaraan mereka.


“Kamu lolos ketinggian 2,5 meter Tio." Kata guru olahraga.


“Sudah cukup pak, aku sudah tidak kuat." Suara Tio.


Luna langsung paham setelah mendengarnya. Pantas Tio kemarin tidak dimarahi guru saat ada di atas pohon, jadi pada hari minggu mereka mengambil nilai sebagai pengganti hari kemarin. Luna sedikit kesal karena Tio ternyata memiliki rahasia yang cukup besar selama ini.


“Jadi ini yang dia lakukan pada hari minggu? Untung aku bangun pagi dan belanja tadi. Kalau tidak aku tidak akan mengetahui rahasia sebesar ini." Luna sedikit kesal.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara mereka merapikan gudang. Luna masih diam di belakang gudang sambil menyelidiki lebih lanjut apa yang mereka akan lakukan.


Tio dan pak guru keluar dari gudang. Luna memasang posisi agar tidak ketahuan. Luna melihat mereka menuju ke lapangan. Dia langsung bergerak ke semak-semak agar bisa mengawasinya.


Luna melihat mereka sedang mengambil nilai sprint. Tio sedang bersiap untuk berlari sedangkan pak guru memakai smartphonenya sebagai stop watch.


Terdengar aba-aba dari pak guru, Tio kemudian mulai berlari. Luna melihat kecepatan lari Tio tidak terlalu bagus.


“Hmm... Kalau larinya seperti itu tidak akan bisa mengalahkan nilaiku." Gumam Luna.


Setelah melihat Tio yang berlari cukup lambat, Luna menjadi sedikit penasaran dengan nilai yang Tio dapat. Untuk lari seperti itu mungkin hanya nilai rata-rata, namun Luna hanya baru melihat Tio melakukan sprint saja. Apalagi saat lompat tinggi tadi Luna tidak bisa melihat ke dalam gudang.


Namun secara jelas dia mendengar 2,5 meter. Berarti nilai lompat tinggi Tio setara dengannya. Luna tidak menyangka Tio bisa setinggi itu meski tidak pernah ikut pelajaran olahraga.


Kemudian Luna melihat mereka berpindah ke bak pasir untuk bersiap melakukan lompat jauh. Pak guru terlihat berdiri di dekat bak pasir. Karena di bak pasir sudah terdapat angka meternya, jadi pak guru tidak perlu lagi membawa meteran untuk mengukur jauhnya. Tio sudah mengambil posisi. Pak guru memberi aba-aba mulai, Tio langsung berlari dan melompat cukup tinggi dan mendarat sangat jauh.


“Jauhnya...” Luna terkagum.


Dengan lompatan sejauh itu, nilainya pasti akan sangat tinggi. Dalam pikiran Luna, bisa jadi nilainya kemarin bisa terlewati dengan nilai lompatan itu. Luna hanya bisa melompat sejauh 2,9 meter dan level ketinggian yang sama dengan Tio di lompat tinggi.


Luna semakin kesal setelah mengetahui hal ini. Namun yang membuat Luna lebih kesal adalah kenapa rahasia ini dia sampai tidak tahu?. Saat guru memarahinya dan membiarkan Tio di atas pohon, dia harusnya tahu jika ada hal yang aneh. Luna baru tersadar hari ini setelah mengetahui ini semua.


“Aku harus bertanya padanya nanti!" Ucap Luna.


Setelah selesai mengambil nilai, mereka beristirahat di pohon kesukaan Tio. Mereka terlihat membicarakan sesuatu yang Luna tidak bisa dengar. Tak lama kemudian mereka bergegas pulang.


Luna kembali mengendap-endap mengikuti mereka berdua. Luna bersembunyi dan berpindah dengan sangat hati-hati. Saat mereka hampir sampai di gerbang sekolah, tiba-tiba Luna terpikir sesuatu.


“Tunggu.. Tunggu Luna. Kalau aku kesana secara tiba-tiba dan pak guru tahu aku ada di sekolah pada hari minggu, mau jadi apa aku nanti?” Luna kebingungan di balik pohon.


Luna memutuskan melanjutkan pengintaiannya terlebih dahulu. Dia juga tidak boleh gegabah dan mengambil keputusan bodoh di saat seperti ini. Meski penasaran, Luna harus lebih mengutamakan keberhasilan dan juga mengumpulkan informasi lebih banyak lagi.


“Lebih baik aku menunggu momen yang pas. Aku tidak ingin ada gosip tidak enak bertebaran di sekolah jika Luna seorang penguntit. Sungguh aku tidak mau itu terjadi padaku." Lanjut Luna.


Mau jadi apa jika berita tersebut tersebar di sekolah. Reputasi Luna akan hancur seketika jika itu terjadi. Yang hanya Luna khawatirkan adalah pak Indra, dia masih jadi saksi mata jika Luna keluar dari persembunyiannya. Luna harus menunggu Tio benar-benar sendirian.


Luna melihat mereka berpisah pulang ke rumah masing-masing. Dengan pelan Luna berjalan ke gerbang serta kebingungan. Dia sangat penasaran tentang hari ini. Akan tetapi jika Tio pulang, Luna sudah tidak memiliki kesempatan bertanya lagi. Dan jika Luna bertanya besok, Tio pasti tidak akan mengaku dan malah akan curiga ke Luna.


“Lebih baik aku ikuti dia pulang." Luna memutuskan.


Luna mengambil keputusan gila, dia akan mengikuti Tio pulang demi menanyakan hari ini padanya. Luna bergegas menuju toko tempat dia menitipkan sepedanya. Luna tidak melihat bapak penjaga toko itu. Luna kemudian segera masuk dan mencarinya. Luna menemukan bapak penjaga toko sedang menata barang dagangan di tokonya.


“Terima kasih pak sudah menjaga sepedaku. Aku mau pulang dulu, sekali lagi terima kasih." Ucap Luna berterima kasih.


“Sama-sama, ada apa memangnya ke sekolah sepagi tadi di hari minggu dan juga sampai sepedamu dititipkan di sini?” Tanya bapak itu.


“Anu pak, aku lupa mengunci ruang OSIS kemarin jadi aku sedikit khawatir. Karena aku tidak tahu gerbang depan dibuka atau tidak, jadi aku memutuskan meninggalkan sepedaku di sini saja." Alasan Luna.


“Oh begitu rupanya, lain kali lebih teliti lagi nak." Nasihat bapak penjaga toko.


“Baiklah pak, aku mau pergi ke rumah teman untuk melaporkan kalau aku sudah mengunci pintunya. Permisi." Luna pamit


“Hati-hati nak." Balas bapak itu.


Luna langsung keluar dari toko dan mengambil sepedanya. Luna menaiki sepedanya dan mulai mengayuh sepedanya untuk mengikuti Tio pulang.


“Aku harap aku tidak kehilangan jejaknya." Harap Luna.