
“Kemari kalian!" Perintah guru pembimbing OSIS dengan nada tinggi.
Dengan raut wajah marah, pak guru pembimbing OSIS menyuruh gerombolan itu turun dari tangga. Para gerombolan itu pun mengikuti perintah dari guru itu dengan gemetar dan rasa takut.
“Duduk kalian!" Suruh guru pembimbing OSIS.
Mereka pun duduk di lantai. Sebagian dari mereka ada yang meratapi perbuatannya dan menyesal lalu sebagian ada yang sangat kesal dengan kejadian hari ini. Guru itu pun mengeluarkan smartphone miliknya dan menelepon seseorang.
“Halo, bu BK." Sapa guru pembimbing setelah tersambung.
Ternyata guru pembimbing OSIS menelepon guru BK. Ini akan benar-benar menjadi bencana bagi gerombolan Romi. Jujur aku merasa senang, namun di sisi lain aku juga merasakan takut.
“Ya pak pembimbing OSIS, ada apa?” Tanya guru BK membalas.
“Segera ke gedung lab IPA, kami menemukan pelanggaran yang sangat berat." Guru pembimbing OSIS memberitahu guru BK.
“Ada kejadian apa memangnya pak?” Tanya guru BK lagi.
“Seorang siswa bernama Tio hampir saja menjadi korban pengeroyokan." Jawab guru pembimbing OSIS.
“Astaga.. Baiklah saya segera ke sana." Balas guru BK terkejut.
Guru pembimbing OSIS kemudian menutup telepon dengan guru BK. Para gerombolan itu pun semakin gemetar ketakutan. Sekarang mereka yang dikepung oleh kelompok terkuat di sekolah. OSIS dan guru BK telah turun tangan menangani kasus ini.
Setelah telepon berakhir, guru BK bergegas menuju ke tempat tersebut. Namun saat hendak berangkat, Guru BK di tanyai oleh guru olahraga.
“Kenapa bu, buru-buru sekali?” Tanya pak Indra.
“Itu pak, ada anak yang hampir dikeroyok. Saya harus segera ke sana." Jawab guru BK.
“Siapa bu? Di mana?” Pak Indra ingin tahu.
“Namanya Tio, kejadian ada di gedung lab IPA." Balas guru BK.
“Astaga.. Saya mengenal anak itu. Kalau begitu saya ikut ke sana." Pak Indra terkejut.
“Jadi bapak kenal? Kalau begitu jangan buang waktu lagi, mari kita ke sana." Balas guru BK.
Guru BK dan guru olahraga pun bergegas menuju tempat itu. Di sini guru olahraga tidak menyangka hal seperti ini terjadi kepada Tio. Padahal masih dalam waktu sekolah, anak-anak itu memang sudah keterlaluan.
Sesampainya di tempat, guru BK melihat delapan anak telah duduk di lantai. Pak Indra langsung berlari menghampiri Tio. Setelah itu, guru BK langsung mengambil tindakan.
“Selamat siang pak." Guru BK menyalami guru pembimbing OSIS.
“Siang juga, ini bu anak-anaknya. Silahkan diproses." Balas guru pembimbing OSIS.
Guru BK kemudian bertanya kepada guru pembimbing OSIS terlebih dahulu perihal kejadian.
"Bapak melihat kejadiannya?" Tanya guru BK.
"Satu anak yang bernama Romi sudah hendak memukul Tio, sedangkan yang lainnya mengepungnya." Jawab guru pembimbing OSIS.
"Ada saksinya?" Tanya guru BK lagi.
"Semua anggota OSIS saksinya, bahkan mereka yang melakukan penyergapan ini." Jelas guru pembimbing OSIS.
"Kalau begitu, kemungkinan ini akan menjadi kasus berat nantinya." Ujar guru BK.
Guru BK langsung menghampiri kedelapan orang itu. Dengan raut wajah kesal, ibu guru BK itu memarahi gerombolan itu.
"Kalian semua sudah keterlaluan. Apa sebenarnya yang kalian pikirkan? Ini sekolah, kalian harus tahu itu. Tidak semestinya kalian mengeroyok seseorang di sini." Guru BK marah.
Gerombolan Romi tidak ada yang berani menjawab, mereka semua hanya bisa menundukkan kepalanya sendiri-sendiri.
“Baik bu.” Jawab Andreas.
Andreas kemudian menoleh ke belakang. Dia mengajak beberapa orang untuk mengawal gerombolan ini ke ruang OSIS.
"Ryan, Luna, Kevin dan Astrid ikut aku mengantar mereka. Aria tolong temani Tio saja." Perintah Andreas.
"Baik." Ryan, Kevin dan Astrid serentak.
"Haaah.. Tidak aku sangka kalau aku harus berurusan dengan mereka lagi." Keluh Luna.
"Berurusan? Memangnya kamu pernah diganggu mereka?" Tanya Astrid.
Luna menjelaskan sedikit kejadian kemarin sabtu sewaktu di parkiran sepeda. Luna ingin mereka semua jera.
"Kemarin Sabtu saat sepulang sekolah aku dihadang mereka di parkiran sepeda. Karena aku tidak apa-apa jadi aku tidak melaporkan kejadian itu." Jawab Luna.
"Wah, wah! Sepertinya hukuman kalian akan berat nantinya." Sindir Andreas setelah mendengar penjelasan Luna.
"Sial kalian semua, enyah saja." Romi kesal.
"Sudah berdiri kalian." Bentak Andreas.
Guru BK dan semua OSIS kecuali aku dan Aria membawa gerombolan itu menuju ruang OSIS. Kemudian pak Indra menanyaiku.
“Kamu tidak apa-apa Tio?" Tanya Pak Indra.
“Aku baik-baik saja pak." Jawabku.
“Syukurlah kalau begitu." Pak Indra senang mendengarnya.
Guru pembimbing OSIS kemudian bertanya kepada pak Indra, kenapa beliau bisa tahu mengenai hal ini dan bahkan ikut kemari.
“Lho kenapa bapak ikut ke sini?” Tanya guru pembimbing OSIS.
“Saya mendengar dari guru BK tadi saat di ruang guru. Karena saya kenal dengan anak ini, jadi saya memutuskan untuk ikut melihat keadaannya." Jawab pak Indra.
“Seperti itu rupanya. Baiklah kalau begitu Aria, bawa Tio ke ruang OSIS. Kita akan bertanya padanya nanti. Saya dan guru olahraga harus ke ruang BK terlebih dahulu." Suruh guru pembimbing OSIS.
“Baik pak." Balas Aria.
"Mari pak kita ke ruang BK terlebih dahulu." Ajak guru pembimbing OSIS.
Guru pembimbing OSIS dan guru olahraga pun ikut menyusul ke ruang BK, sedangkan Aria mengajakku ke ruang OSIS
“A-ayo Tio, kita ke ruang OSIS." Ajak Aria dengan nada pelan.
“Ayo!" Balasku.
Aku dan Aria menuju ke ruang OSIS untuk menenangkan diri sejenak. Aku sangat tidak percaya jika hal seperti ini terjadi padaku. Aku tidak bisa membayangkan jika Luna, Aria dan yang lain tidak datang ke tempat itu tadi. Aku tidak tahu lagi seperti apa kondisiku saat mereka berhasil memukuliku tadi. Akan tetapi, ada hal yang membuatku penasaran. Darimana mereka tahu aku berada di dekat lab IPA? Aku memutuskan bertanya kepada Aria.
“Hei Aria, boleh aku bertanya?” Tanyaku kepada Aria.
Setelah aku bertanya, Aria malah diam saja di belakangku. Setelah aku menoleh ke belakang, aku melihat Aria yang menunduk malu dan sedang memainkan rambutnya.
“Aria, kamu kenapa?” Tanyaku sambil melihat ke arah Aria.
“A-anu.. Tidak apa-apa. Ini adalah pertama kalinya kamu mengajakku mengobrol. Karena aku orangnya sedikit pemalu, jadi aku sedikit tidak menyangka kamu akan mengajakku bicara." Jawab Aria yang sedang menutupi wajahnya.
Aku baru tersadar jika baru kali ini aku mengajaknya mengobrol dan aku juga baru tahu jika Aria adalah gadis yang pemalu. Pantas saja saat pertama bertemu dia bersembunyi di balik pohon dan saat di ruang OSIS dia sering menutup wajahnya dengan buku catatan.