
Makan malam selesai, paman dan bibi pulang dan mereka bilang besok akan ke sini pagi-pagi. Aku dan Reza kemudian pergi ke kamarku. Aku menghidupkan televisi dan konsol game milikku.
“Nih main sendiri dulu!” Ucapku pada Reza.
Aku menyerahkan kontroler game kepada Reza yang sudah duduk tenang di depan televisi. Ketika dia kuberi kontroler malah dia bertanya kepadaku.
“Lah kakak tidak main?” Tanya Reza.
“Aku mau beres-beres dulu, aku tidak ingin ada yang ketinggalan di sini besok!” Jawabku.
Aku harus mengemasi barang-barang milikku agar tidak ada yang ketinggalan mengingat jarak menuju ke sini sangatlah jauh dan juga belum tentu bisa setiap saat kembali ke sini. Aku segera mengeluarkan koperku dan mulai membersihkannya terlebih dahulu.
“Hmm.. Kalau begitu konsol ini tinggal saja kak!” Balas Reza.
Aku langsung menatap Reza dengan tatapan datar. Anak ini memang sangat pintar bercanda ya? Atau lebih tepatnya dia terlalu berharap jika aku akan meninggalkan konsol kesayanganku ini di sini.
“Enak saja kamu!” Balasku refleks.
“Hehe.” Reza hanya tertawa.
"Sudah sana main duluan, selesai berkemas akan aku susul. Nanti keburu malam dan waktu bermain gamenya semakin sedikit!" Aku kembali menyuruh Reza.
Setelah itu Reza langsung berubah menjadi semangat dan memainkan game dengan tenang. Aku benar-benar sibuk sekarang dan aku tidak mau diganggu olehnya. Aku mulai memasukkan barang bawaanku ke dalam tas koper. Setelah memasukkan semuanya aku mengecek lagi apa yang masih ada di luar, setelah semua lengkap dan yang di luar hanya konsolku saja. Aku kemudian menutup tas koperku lalu ikut bermain game dengan Reza.
“Sini aku ikut, aku sudah selesai.” Ucapkum
“Nih, aku pakai kontroler kedua saja.” Balas Reza yang memberikan kontroler yang dipegangnya padaku.
Kami berdua pun melanjutkan bermain game di hari terakhirku di sini. Aku tidak menyangka aku besok akan pulang ke rumah. Apa yang harus aku lakukan setelah aku tiba di sana? Hanya itu yang aku pikirkan saat ini karena bisa saja aku akan merasa canggung ketika menemui mereka semua nantinya.
Hari sudah malam dan sekarang sudah jam 10 malam. Aku memutuskan untuk menyelesaikan bermain game sekarang karena aku harus segera tidur jika tidak ingin kesiangan besok.
“Sudah malam, sekarang cukup sampai di sini ya main gamenya.” Ucapku pada Reza.
“Loh udahan nih?” Tanya Reza.
“Iya lah! Aku juga ingin memasukkan konsolku ini ke dalam tas. Kalau besok aku bisa terburu-buru dan ada kemungkinan barang-barangku juga ada yang ketinggalan.” Jawabku.
Anak ini kalau sudah bermain game rasanya tidak ingin berhenti bermain. Mau tidak mau sesi bermain game ini aku sudahi karena aku benar-benar ingin memastikan semua barang bawaanku masuk ke dalam koper malam ini juga.
“Kalau begitu biar aku bantu!” Reza langsung berdiri.
“Terima kasih sebelumnya.” Balasku yang juga berdiri.
Aku mematikan konsol dan juga televisinya. Reza membantu mencabut semua kabel yang ada, dia lalu menggulung kabel-kabel dan juga merapikan kontrolernya. Sedangkan aku memasukkan konsolku ke dalam tas serta memastikan konsolku itu aman dari benturan. Setelah Reza selesai menggulung kabel, dia memberikan semuanya padaku. Aku lalu menata semuanya di dalam tas.
Semua barang-barangku sudah masuk ke dalam tas. Aku melakukan pengecekan ulang siapa tahu masih ada yang tertinggal. Setelah aku cek ulang ternyata tidak ada barangku lagi di luar tas ini kecuali baju ganti untuk besok dan juga baju kotor. Untuk baju kotor biar itu urusan ibu. Karena sudah malam dan aku juga sudah mengantuk, aku mengajak Reza untuk tidur.
“Aku mau tidur, aku matikan lampunya ya?” Aku menuju saklar lampu.
“Baik kak! Sayang sekali malam ini jadi sepi.” Keluh Reza.
Aku memencet saklar untuk mematikan lampu kamar, setelah itu aku kembali ke tempat tidur lalu membalas ucapan Reza.
“Sudah, besok liburan juga aku masih ke sini. Kayaknya!” Balasku sambil menaiki tempat tidur.
Aku menarik selimut lalu mengambil posisi tidur, Reza juga mulai tiduran di sampingku. Meskipun aku sudah mengantuk tapi mata ini masih belum bisa terpejam. Reza kembali mengajakku mengobrol sebelum aku benar-benar tidur.
“Yah mau bagaimana lagi, kakak memang sudah harus pulang kan?” Ucap Reza.
Mungkin sedikit yang aku rasakan ada benarnya, Reza masih berat jika aku pulang dari sini. Aku kemudian memiliki pertanyaan kepadanya tentang apa yang akan dia lakukan ke depannya mengingat dirinya sudah kelas 3 SMP.
“Sebelum tidur boleh aku bertanya padamu, Reza?” tanyaku
“Apa kak?” Jawab Reza.
“Kenapa kamu ingin sekali sekolah di kota?” Tanyaku.
Aku masih sangat ingat dengan keinginan Reza satu ini. Dia benar-benar terobsesi sekolah di kota bersamaku, dan kali ini aku menanyakannya apakah dia masih tetap ingin bersekolah di kota atau tidak.
“Ya tentu saja karena aku ingin dekat dengan kakak. Selain aku ingin bermain game seperti ini, aku juga ingin menjadi orang yang selalu menemani kakak di kota. Di kota juga koneksi internet bagus bukan? Aku ingin merasakan indahnya menggunakan internet di kota dengan smartphone milikku ini.” Jawab Reza.
“Masih kecil saja sudah kepikiran begitu kamu. Biar aku beri tahu, karena kamu sudah kelas 3, besok saat ujian akhir berusahalah mendapatkan nilai yang tinggi. Karena dengan itu kamu memiliki kesempatan untuk mendapatkan beasiswa ke jenjang SMA. Kamu bisa memilih di mana pun kamu ingin bersekolah.” Aku memberi Reza saran.
Aku sedikit ingin membantu mewujudkan keinginan Reza itu dengan syarat dia harus benar-benar belajar. Karena masih ada beasiswa untuk melanjutkan ke SMA bahkan di kota yang aku tinggali sekarang. Mengingat aku juga mendapat beasiswa prestasi, jadi aku ingin Reza juga bisa sepertiku nantinya.
“Benarkah kak?” Tanya Reza dengan semangatm
“Apa menurutmu aku bersekolah di kota tidak dengan beasiswa? Karena nilaiku rata-rata tinggi jadi aku mendapat beasiswa untuk meringankan ibu menyekolahkanku.” Jawabku.
“Oh jadi begitu, aku harus dapat beasiswa besok agar bisa bersekolah di kota!” Reza mulai berangan-angan.
“Hahaha, sudah tidur dulu saja. Siapa tahu di mimpi nanti kamu sekolah di kota.” Candaku.
“Wah kakak jahatnya!” Keluh Reza.
“Sudah aku mau tidur, besok kesiangan aku bisa-bisa terlambat naik kereta!” Aku mulai memejamkan mata.
Reza pun mengikuti aku tidur, malam terakhir aku habiskan bersama Reza dengan bermain game meskipun tidak lama. Selain itu aku sangat menghargai niat baik Reza yang ingin selalu menemaniku. Aku hanya bisa berharap dia agar bisa meraih mimpinya itu, tapi tetap dia juga harus rajin belajar.