
Hari ini aku bangun pagi-pagi sekali. Hari ini begitu spesial bagiku, karena aku akan bersekolah kembali. Aku bangun bahkan sebelum jam weker berbunyi membangunkanku. Aku sangat bersemangat sekali pagi ini.
Aku ingin segera masuk sekolah. Karena aku ingin menghindari kemungkinan buruk, aku memutuskan untuk berangkat lebih pagi dari biasanya. Aku sudah bersiap dan juga baru saja selesai sarapan. Ini adalah waktunya..
“Aku berangkat!” Teriakku
Aku berjalan perlahan menuju sekolah. Karena aku belum sembuh sepenuhnya, aku masih bisa merasakan rasa ngilu di punggungku. Aku hanya berdoa kali ini aku tidak bertemu dengan mereka yang telah memukuliku.
"Tidak aku sangka jika udara pagi ini begitu menusuk. Bahkan tulangku bisa merasakan dinginnya!" Aku kedinginan.
Pagi ini sungguh dingin. Aku tidak membawa jaket pagi ini karena aku kira tidak begitu membutuhkannya. Aku biasa ke sekolah tanpa mengenakan jaket walau sedingin apapun. Akan tetapi untuk pagi ini berbeda, dinginnya udara pagi sampai menusuk tulang, atau mungkin hanya perasaanku saja karena badanku masih terasa sakit.
"Masih dikunci ternyata!" Aku memegang gerbang sekolah.
Jam menunjukkan pukul 5:30 pagi setelah aku lihat di smartphone milikku. Belum ada yang datang ke sekolah, bahkan gerbang sekolah masih dikunci. Aku berteriak memanggil satpam yang berjaga agar membukakan gerbangnya.
“Permisi, pak satpam!” Teriakku
Tidak ada jawaban, suasana sepagi ini sangatlah sunyi di sekolah. Aku sendirian di luar gerbang dan juga kedinginan. Aku akan mencoba sekali lagi untuk memanggil satpam yang berjaga.
“Pak satpam.. Tolong buka gerbangnya!” Aku membuat suara di pintu gerbang.
Aku memegang gembok lalu memukulnya ke besi pintu gerbang. Setelah sedikit kegaduhan, satpam yang berjaga pun mendatangiku.
“Maaf, maaf. Saya ketiduran.” Satpam itu berlari lalu membuka pintu gerbang.
“Tidak apa-apa pak! Maaf telah mengganggu.” Balasku.
“Tidak, tidak. Justru saya berterima kasih karena kamu telah membangunkanku. Kalau tadi guru yang datang, pasti aku sudah kena marah!” Lanjut satpam itu.
Gerbang akhirnya dibuka oleh pak satpam. Aku kemudian memasuki sekolah sedangkan pak satpam membuka keseluruhan gerbang sekolah.
“Ya sudah pak, aku permisi ke kelas dulu.” Pamitku.
“Silahkan nak.” Balas satpam itu sambil mendorong pintu gerbang sehingga terbuka semuanya.
Aku bergegas menuju kelas. Sesampainya di kelas, aku membuka pintu dan melihat ke arah tempat dudukku. Aku sedikit rindu, beberapa hari aku tidak duduk di sana.
"Kotornya, apa tempat dudukku tidak pernah dibersihkan oleh yang piket?" Tanyaku dengan heran.
Untungnya aku berangkat pagi, aku bergegas membersihkan tempat dudukku yang berdebu ini. Tentu aku tidak asal-asalan membersihkannya, aku tidak ingin merepotkan yang bertugas piket pagi ini. Setelah meja dan kursiku bersih sempurna, aku pun duduk dan meletakkan tasku di meja.
Sementara itu di depan sekolah, Luna berpapasan kembali dengan si kembar. Luna mengerutkan keningnya ketika melihat mereka berdua lagi.
“Dunia sesempit inikah? Haruskah tiap pagi aku bertemu kalian berdua.” Keluh Luna.
“Wah kebetulan lagi kita bertemu!” Balas Airi dengan ceria.
“Kebetulan jidatmu, kalau sudah berkali-kali sih bukan kebetulan lagi namanya!” Lanjut Luna sedikit kesal.
“Oh iya! Aku ingin menanyakan sesuatu padamu.” Sahut Airi
“Apa itu?” Luna ingin tahu.
“Apakah laki-laki yang di rumah sakit itu pacarmu?” Tanya Airi.
Luna langsung kaget dengan pertanyaan Airi. Aria bercerita apa kepada kakaknya sehingga Airi mempunyai dugaan seperti itu? Tidak hanya Luna yang terkejut, bahkan Aria juga ikut berteriak.
“Eeeeehhhh...” Luna dan Aria berteriak.
“Ka-kakak apa yang kamu lakukan?” Aria panik.
“Pertanyaan macam apa itu? Dari mana asal dari pertanyaanmu itu?” Tanya Luna gugup.
“Sudah jawab saja, aku hanya penasaran!” Lanjut Airi.
“Ten-tentu saja bukan. Dia hanya teman. Iya hanya teman, beneran!” Tegas Luna dengan terbata-bata.
“Benarkah begitu?” Airi menatap tajam Luna.
“Benar, aku tidak bohong!” Luna memastikan alasannya.
Airi sudah menemukan jawaban dari pertanyaannya. Dia sudah mengetahui jika Luna tidak ada perasaan apapun ke laki-laki itu dan Luna tidak berbohong.
“Baiklah kalau begitu, aku ke kelas dulu ya!” Airi berlari meninggalkan Luna dan Aria.
Luna penasaran dengan kelakuan Airi pagi ini. Airi sudah membuat jantung Luna hampir copot karena pertanyaan anehnya. Luna kemudian menanyakan Airi ke Aria.
“Ada apa dengan kakakmu itu?” Tanya Luna.
“Entah, aku juga heran.” Jawab Aria.
“Haaahh.. Ayo ke kelas! Di luar dingin.” Ajak Luna.
“Yuk!” Balas Aria sambil menggesek kedua telapak tangannya.
Aria ikut ke parkiran sepeda untuk memarkir sepeda milik Luna terlebih dahulu. Mereka berdua pun bergegas menuju kelas dengan mengobrol bersama setelahnya.
Hari semakin terang dan satu-persatu siswa kelasku datang. Ada yang aneh di sini, saat mereka melihatku mereka langsung menjauhiku. Bahkan yang duduk di dekatku hanya meletakkan tas mereka lalu pergi berkumpul dengan yang lain. Mereka berbisik-bisik membicarakan sesuatu. Aku tidak ingin ambil pusing, aku membuka tasku lalu mengeluarkan satu buku. Buku yang kupilih adalah buku pelajaran pertama, lalu aku membacanya dengan posisi menutupi wajahku.
Halaman demi halaman aku baca, aku berusaha mengabaikan semua keberadaan siswa di kelas. Hingga ada suara yang kukenal memanggilku.
“Tio, kamu sudah berangkat!” Luna tak percaya saat melihatku.
“Pagi Luna!” Sapa diriku.
Luna masih tidak percaya, dia datang menghampiriku. Dia juga memastikan keberadaanku.
“Kamu benar-benar Tio? Atau kamu hantu?” Luna mencubit pipiku.
“Aw.. aw.. Sakit! Lihat kakiku masih menempel di lantai.” Aku sambil mengelus pipiku.
Baru berangkat saja sudah disiksa Luna seperti ini, pipiku sakit sekali ketika dicubit olehnya. Semangatnya pagi ini benar-benar berlebihan.
“Oh asli ternyata. Kenapa tidak bilang kamu sudah sembuh?” Luna duduk di tempatnya
“Aku belum sembuh sepenuhnya, tapi aku ingin segera masuk sekolah.” Balasku.
“Lalu kapan kamu pulang dari rumah sakit?” Tanya Luna.
“Kemarin.” Jawabku.
“Kemarin?!..” Luna kaget.
Luna menatapku dengan sangat serius. Apa aku salah menjawab pertanyaannya? Luna langsung terlihat seperti sedang marah.
“Iya, kemarin.” Tegasku.
Luna menggeleng kepalanya. Dia tidak menyangka jika Tio seceroboh ini. Harusnya dia masih di rumah beristirahat bukannya datang ke sekolah dengan keadaan belum sembuh total.
“Bukankah lebih baik kamu istirahat dulu beberapa hari? Kamu belum sembuh benar loh!” Luna menasehatiku dengan nada tegas.
“Aku sangat ingin kembali bersekolah. Aku rindu tempat ini!” Aku mengelus mejaku.
Luna tidak habis pikir saat melihat kelakuan anak satu ini. Padahal dia masih sakit tapi tetap saja berangkat. Namun itulah yang membuat Luna kagum, Tio bisa berangkat seperti sudah lupa dengan apa yang telah terjadi padanya kemarin.
“Hah, Kamu ini ya memang!” Luna menghela nafas.