
Setelah beberapa jam perjalanan, jam 7:30 pagi kami tiba di stasiun. Untungnya kami berangkat pagi sekali sehingga kita semua tidak terjebak kemacetan. Aku membantu ibu dan tante menurunkan barang bawaan kami. Setelah itu kami berpamitan dengan tante, tante tidak ikut mengantar kedalam stasiun karena dia harus pulang kemudian berangkat ke butik miliknya.
“Kami pergi dulu ya!” Pamit ibu ke tante.
“Iya, kalian hati-hati ya di sana.” Balas tante Rose.
“Terima kasih banyak tante telah sering membantu kami.” Ucapku berterima kasih
“Tidak masalah, Tio. Oh iya, tante pesan satu hal. Jangan kamu terlalu lama perginya, pasti mereka juga akan khawatir denganmu jika kamu pergi tanpa pamit seperti ini.” Tante Rose menasihatiku.
Nasihat tante ada benarnya, aku pun menjadi sedikit memikirkannya. Aku hanya ingin pergi dari sini hingga suasana ini mereda atau anak-anak itu ketemu dan terungkap pelakunya. Aku juga tahu, pasti semua anggota OSIS tidak akan diam nantinya. Aku pun harus segera kembali ke kota.
“Baik tante.” Balasku.
“Kalau begitu aku pulang dulu sebelum jalanan ramai, dah.” Tante melambaikan tangan.
"Hati-hati, Rose!" Balas ibu.
Tante hanya mengangguk. Tante kemudian masuk ke mobilnya, dia meninggalkan kami perlahan. Kami juga membalas dengan melambaikan tangan. Setelah tante pergi, kami segera ke loket pembelian tiket untuk membeli tiket kereta.
Karena ibu sudah memesan tiket sejak kemarin melalui online, kami hanya tinggal mencetak tiket di loket. Aku melihat tiket yang diberikan petugas loket dan ternyata keberangkatan kami masih jam 10 nanti. Ah lamanya, aku bisa bosan hanya melihat kereta yang lewat.
"Ayo nak, kita masuk saja ke ruang tunggu agar bisa beristirahat." Ajak ibu.
"Ayo, bu! Aku juga ingin segera bersandar." Balasku.
Ibu mengajakku untuk masuk ke ruang tunggu. Kami pun melewati petugas pemeriksa tiket. Petugas itu memeriksa identitas aku dan ibu, setelah cocok kami dipersilahkan untuk masuk. Aku duduk di kursi panjang yang menghadap ke rel kereta bersama ibu. Aku teringat dengan smartphone milikku. Aku mengambilnya dari saku lalu membukanya
"Hmm.. Masa iya aku hidupkan lagi?" Aku mulai bertanya-tanya
Aku kembali menghidupkan smartphone milikku untuk sedikit bermain game untuk saat-saat terakhir sebelum aku mematikan smartphone ini selama aku pergi, karena aku sangat bosan jika menunggu tetapi tidak melakukan apapun.
Ternyata, meskipun aku menghidupkan lagi smartphoneku tidak ada satupun pesan yang masuk. Setelah aku bosan bermain game, aku melihat grup chat dan juga chat pribadi milikku. Aku membacanya semua sambil berdoa semoga mereka baik-baik saja di sini selama aku pergi.
“Semoga dengan aku menjauh, kalian semua tidak akan celaka seperti mereka.” Ucapku sambil membaca chat.
Aku sendiri pun berdoa agar kepergianku ini tidak membawa mereka kedalam masalah ini. Jam di smartphone menunjukkan pukul 9:20, aku memutuskan untuk menonaktifkan smartphone ini untuk sementara waktu. Aku juga menyuruh ibu untuk mematikan smartphone miliknya. Kemudian, smartphone kami benar-benar mati dan kami tidak akan bisa dihubungi siapapun.
"Ah, lelah sekali punggungku." Keluhku.
Entah kenapa punggungku begitu lelah, aku pun menyandarkan punggungku di kursi tunggu dan bersantai. Meskipun sekitar 30 menit lagi keretanya datang, aku tidak mau jika nanti aku terhambat ketika menaikkan barang bawaan ke kereta. Sekarang hanya ada aku dan ibu, aku harus istirahat sejenak.
"Ayo nak, kita bersiap!" Ibu mulai berdiri.
"Baik, bu." Balasku
"Sini nak kopernya, biar ibu simpan di atas." Ucap ibu.
Setelah ketemu, ibu menata barang bawaan di bagasi di atas tempat duduk. Aku tidak bisa menaikkan semuanya ke atas, aku hanya bisa memberikan barang bawaan untuk ibu tata di bagasi. Setelah selesai, aku pun mulai duduk di tempatku di pinggir jendela. Karena ini kereta kelas bisnis, tempat duduknya hanya ada dua baris di kiri dan dua baris di kanan, semuanya menghadap kedepan. Dengan begini aku bisa tenang selama perjalanan karena di sampingku hanya ada ibu.
Kereta mulai berjalan, akhirnya aku pergi juga dari kota ini. aku menempelkan kepalaku di jendela kereta sambil melihat pemandangan. Ibu yang melihatku mengelus rambutku.
“Kamu masih terpikir tentang mereka?” Tanya ibu.
Aku menoleh ke arah ibu, bagaimana aku tidak terpikirkan oleh hal itu. Meskipun semuanya hanya perkiraan tapi aku merasakan sesuatu yang sangat kuat di dadaku. Aku pernah merasakan dadaku berdebar seperti ini, namun saat aku mengingatnya aku malah lupa. Intinya, aku sangat yakin jika Battlefield berkaitan erat dengan hilangnya anak-anak itu.
“Kalau itu jelas bu, sekarang yang aku pikirkan hanyalah menjauh.” Jawabku.
“Jangan terlalu dipikirkan. Khawatir boleh tapi jika berlebihan itu tidak baik.” Lanjut ibu.
Ibu benar, aku tidak boleh terlalu khawatir sekarang. Yang seharusnya aku lakukan hanyalah menenangkan pikiran di desa. Aku hanya bisa berharap mereka semua ketemu, meskipun mereka jahat kepadaku tapi tidak seharusnya aku senang dengan hilangnya mereka. Ternyata rasa nyaman berhari-hari kemarin karena mereka semua menghilang, aku benar-benar tidak menyangka.
“Iya bu, aku mengerti.” Balasku.
Ibu pun hanya tersenyum membalasku. Kemudian ibu mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya. Ternyata ibu mengeluarkan camilan dan membukanya.
“Mau camilan?” Ibu menawarkan.
Ibu sekarang sedang makan wafer coklat, itu makanan kesukaan ibu. Dari dulu ibu sangat menyukai hal yang manis-manis, tapi aku malah lebih suka makanan yang cenderung gurih dan pedas.
“Tidak ah, untuk ibu saja.” Aku menolak tawaran ibu.
“Apa boleh buat!” Ucap ibu.
Ibu mulai berdiri dan menaruh camilannya di tempat duduk. Ibu kemudian membuka bagasi di atas kami. Dia membuka tas besarnya dan terlihat sedang mencari sesuatu. Ibu kemudian mengambil sesuatu dari sana.
“Ini keripik kentang, ibu sengaja sudah menyiapkannya.” Ibu memberiku sebungkus keripik kentang.
“Kenapa tidak dari tadi.” Balasku.
Aku menerima pemberian ibu. Ibu menutup kembali bagasi lalu kembali duduk. Aku membuka cemilanku lalu memakannya sambil menikmati pemandangan pagi di luar kereta.
"Selamat tinggal." Batinku.
Hanya itu yang dapat aku katakan. Aku sudah semakin menjauh dari kota dan untuk kedepannya aku tidak tahu lagi akan bagaimana. Mungkin aku adalah pengecut yang memilih kabur dari masalah, ya memang aku sendiri merasa sebagai pengecut. Aku belum berani menghadapi tuduhan-tuduhan yang tidak enak di dengar karena pasti semuanya akan menyalahkanku nantinya.
Maafkan aku teman-teman, mungkin baru kali ini aku menyebut mereka dengan teman-teman karena biasanya aku masih menyebut mereka dengan para anggota OSIS. Meskipun tidak di dengar oleh mereka, namun maaf untuk saat ini aku memang harus pergi.