
“Apa Andreas akan baik-baik saja nanti?” Tanyaku pada Luna.
Aku kembali ke kelas bersama dengan Luna. Karena aku sedikit takut dengan apa yang akan Andreas lakukan nanti, aku jadi sedikit khawatir. Aku bertanya kepada Luna karena aku ingin tahu bagaimana pendapatnya.
“Aku hanya bisa berdoa agar dia baik-baik saja.” Jawab Luna.
“Apakah itu saja cukup? Yang dia akan hadapi adalah pemegang monster dewa, kamu ingat kan?” Lanjutku dengan nada sedikit keras.
Kemudian Luna berhenti berjalan. Dia langsung membalas kata-kataku dengan tegas. Tatapannya juga berubah menjadi serius.
“Ingat, aku bahkan sangat ingat. Lalu apa yang akan kita lakukan? Membantu Andreas? Bahkan aku pun tidak yakin bisa melawannya. Lalu apa kamu mau bertarung melawannya dan membantu Andreas?” Balas Luna lebih keras.
Aku pun langsung terpukul oleh kata-kata Luna. Bodohnya aku saat aku menghawatirkan orang lain namun diriku sendiri tidak dapat melakukan apapun. Andreas melakukan itu karena memang desakan atas dia terpilih menjadi partner Lancer, mau tidak mau dia harus segera menghentikan monster pecahan Hydron itu.
Aku hanya bisa terdiam melihat Luna yang setengah marah kepadaku. Aku tidak akan membalasnya dengan marah juga, kali ini aku yang salah.
Fox keluar menjadi bentuk fairy lalu menenangkan Luna. Bagaimana juga Fox sangat paham dengan apa yang sedang Luna rasakan sekarang. Luna sangat ketakutan dan menurut Fox itu wajar karena lawan bukanlah lawan yang sepadan baginya.
“Sabar Luna, dinginkan pikiranmu! Janganlah emosi seperti itu.” Ucap Fox.
“Fox benar. Bodohnya aku, aku minta maaf Luna.” Aku langsung membalas Luna.
“Loh kenapa minta maaf?” Tanya Luna.
Aku harus menyadari kesalahanku sendiri dan aku harus segera meminta maaf. Ternyata seperti ini rasanya membuat orang menjadi marah, sungguh tidak menyenangkan.
“Aku telah membuatmu marah karena aku baru sadar betapa bodohnya aku. Bahkan aku sendiri tidak memiliki nyali sebesar Andreas namun aku malah menghawatirkan nya. Harusnya aku mendukungnya dan juga mem-backup jika terjadi sesuatu yang buruk.” Jawabku sambil menundukkan kepala.
Luna langsung tersenyum setelah mendengar itu, dia sangat tidak menyangka jika Tio bisa melakukan hal itu. Tio menyadari kesalahan yang bahkan menurut Luna itu bukan salahnya. Luna tadi hanya terbawa oleh rasa takutnya sehingga dia terlihat sedang marah kepada Tio.
“Tidak, aku tidak marah sama sekali padamu. Justru aku malah senang mendengarnya.” Balas Luna.
“Hah, kok malah senang?” Aku tidak mengerti apa yang di maksud Luna.
“Karena kamu sedikit berubah sekarang. Kamu akhirnya bisa mengerti tentang orang yang ada di sekitarmu. Yang terpenting kamu menghawatirkan orang lain tentang keselamatannya, bagiku itu sudah cukup bagus. Kepedulianmu kepada teman-temanmu telah tumbuh.” Jawab Luna.
Astaga! Sejak kapan aku menjadi memalukan seperti ini? Bahkan aku sendiri tidak menyadarinya, apa benar aku sudah sedikit memperhatikan mereka. Ah, aku malu sekali !
“Uwaaaa... Memalukannya aku! Aku menyesal telah berkata begitu.” Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.
“Haha.. Ayo segera ke kelas, nanti telat loh!” Ajak Luna sambil berlari.
"Tunggu! Aku tidak bisa berlari.." Balasku.
"Aku tinggal loh!" Teriak Luna yang sudah menjauh.
Dasar anak itu, aku kan masih dalam masa pemulihan jadi aku tidak boleh berlari. Aku segera berjalan cepat untuk mengejar Luna. Akhirnya aku sampai di kelas, kemudian pelajaran pun berlanjut.
Di sore ini, Andreas keluar dari kelasnya agak terlambat dari biasanya. Ryan bahkan sudah menuju ke ruang OSIS beberapa saat lalu. Saat Andreas keluar kelas untuk menuju ruang OSIS, dia bertemu dengan Airi yang baru saja berganti baju untuk aktivitas tenis.
“Eh kak Airi!” Sapa Andreas.
“Sudah aku bilang kan kalau jangan panggil aku kak, kita kan seumuran. Dulu waktu di luar negeri juga kamu memanggilku Airi.” Airi kesal.
“Hehe.. Dulu kan kita masih kecil. Setelah aku pindah ke sini dan mengetahui jika kakak satu tingkat di atas aku dan Aria, jadi lebih baik aku ikut-ikutan memanggil kak Airi saja.” Andreas tertawa.
“Dasar kamu ya!” Balas Airi.
Andreas kemudian melihat ke sekeliling, dia memastikan untuk tidak diawasi ataupun diikuti oleh orang asing yang tidak dia kenal. Setelah tidak ada siapapun, Andreas kembali melihat ke Airi yang ada di depannya.
“Lalu kakak mau kegiatan klub?” Tanya Andreas.
“Iya, ini baru saja selesai ganti. Kalian tidak ada kegiatan memangnya?” Jawab Airi lalu berbalik bertanya.
“Oh kami ada rapat kecil hari ini.” Jawab Andreas.
“Oke deh, semangat ya. Aku mau tenis dulu.” Airi kemudian berlari sambil melambaikan tangannya.
Airi langsung pergi meninggalkan Andreas, dia hanya bisa melihat ke arah Airi yang berlari menjauh.
“Harusnya aku yang bilang begitu.” Ucap Andreas.
Airi telah pergi, Andreas melanjutkan berjalan menuju ke ruang OSIS. Andreas tetap siaga dengan lingkungan sekitarnya, dia melihat sekeliling sembari memastikan keamanannya.
Sampai di ruang OSIS, semuanya sudah lengkap. Andreas duduk di tempatnya dan langsung memulai pembahasan tentang rencana hari ini.
“Sampai detik ini tidak ada yang berbicara dengan orang asing bukan?” Andreas memastikan.
Kami semua di ruangan menggelengkan kepala. Kami datang langsung ke ruang OSIS tepat setelah bel berbunyi sesuai instruksi Andreas. Karena sebelumnya Andreas menghimbau untuk segera ke ruang OSIS tanpa menunggu dan mengobrol kepada siapapun.
“Kalau begitu kemungkinan rencana kita berhasil akan sangat besar. Rencana kita akan gagal jika memang orang itu sangat waspada atau rencana kita memang sudah bocor entah bagaimana itu. Aku akan tegaskan, aku akan baik-baik saja. Aku tidak akan memaksakan diri untuk melawannya. Jika aku memang tidak mampu, aku akan kembali ke kalian dan kita akan segera mundur.” Andreas bicara panjang lebar.
Setelah Andreas bilang seperti itu, aku menjadi sedikit tenang. Tidak, tidak hanya aku tapi semuanya juga tampak terlihat lega. Akhirnya Andreas membahas apa yang seharusnya dia lakukan dan juga apa yang dia harus takutkan.
“Kalau kamu bilang begitu, bisa di bilang kami lega mendengarnya.” Sahut Ryan.
“Itu baru pemimpin kita!” Seru Astrid.
Aku pun setuju dengan mereka berdua. Harusnya memang seperti itu seorang pemimpin. Andreas telah mempercayakan lini belakang kepada kami semua, dia bilang akan kembali jika dalam keadaan berbahaya. Itu artinya keberadaanku dan juga yang lainnya saat menonton duel nanti diikutkan untuk menjaga situasi saat di Battlefield. Aku sedikit senang saat mengetahuinya.
“Kalau begitu, simulasi kedua akan kita mulai.” Ucap Andreas.