
Aku masih tergeletak di Battlefield dengan keadaan babak belur. Hidungku mengeluarkan darah dan juga mataku hanya bisa terbuka sebelah saja karena di pukul oleh mereka. Pandanganku mulai berkunang-kunang, akan berbahaya bagiku jika masih berada di sini.
“Aku harus segera keluar dari sini.” Rintihku
Selagi aku masih sadar, aku harus bergegas keluar dari Battlefield. Aku tidak mau pingsan di sini, tidak akan ada seorangpun yang bisa menemukanku dengan keadaan seperti ini nantinya.
“Battle.. field..., Out...” Ucapku menahan sakit.
Aku kembali ke jalan tempatku dihadang oleh gerombolan Romi. Aku melihat ke sekeliling, tidak ada tanda-tanda kehadiran gerombolan itu lagi. Aku bersyukur karena bisa keluar dari Battlefield.
Sekarang aku harus mengeluarkan sisa tenagaku untuk pulang menuju rumah. Dengan perlahan aku berdiri sambil menahan semua rasa sakit di badanku. Aku mulai menyeret kakiku dan bergerak perlahan. Aku melanjutkan pulang ke rumah.
"I.. bu.., To.. long.. A.. ku.." Aku merintih kesakitan.
Entah bagaimana caranya, aku bisa sampai rumah dengan keadaanku yang seperti ini. Aku bersandar di pintu dan mengetuknya. Sungguh aku serasa ingin pingsan sekarang. Tapi untungnya aku sudah berada di depan rumah.
Tok.. tok.. (Suara ketukan pintu)
Brukkk... (Aku terjatuh pingsan)
Ibu Tio mendengar Suara ketukan pintu. Ibu Tio langsung berjalan menuju ke depan untuk membuka pintu.
“Ya sebentar.” Balas ibu Tio dari dalam rumah.
Alangkah terkejutnya ibu Tio saat mendapati Tio yang tergeletak di depan rumah. Ibu Tio langsung mendudukkan Tio, ternyata Tio sudah hampir pingsan.
“Astaga, kenapa kamu nak? Kenapa kamu babak belur seperti ini?” Ibu bertanya namun aku sudah hampir jatuh pingsan.
Aku samar-samar mendengar suara ibu. Ingin rasanya aku membalas dan juga memberi tahu ibu apa yang telah terjadi kepadaku, namun aku sudah tidak mampu lagi.
"I.." Aku jatuh pingsan di tangan ibu.
Aku sudah tertidur lelap dan rasa sakitku sudah tidak terasa. Aku bersyukur karena bisa sampai rumah untuk saat ini. Aku akan tidur sementara untuk menghilangkan semua rasa sakit yang kurasakan, aku sudah lelah menjalani hidup yang seperti ini.
Setelah mengetahui Tio pingsan, ibu Tio mencoba untuk tetap tenang. Ibu Tio kemudian membawa Tio ke kamarnya. Dia membaringkan Tio di tempat tidurnya sambil menangis melihat keadaannya.
“Ada apa denganmu nak? Kenapa bisa begini?” Tangis ibu Tio.
Ibu Tio kemudian melepaskan baju seragam Tio. Saat melepas bajunya, ibu Tio melihat sebuah kertas jatuh dari saku baju Tio.
“Apa ini?” Tanya ibu Tio
[Surat pernyataan. Mengenai kasus Tio yang hendak mendapatkan kekerasan dari para pem-bully Tio kemarin. Dengan ini kami para OSIS menutut para guru serta komite yang telah mengambil keputusan dengan mengeluarkan para pembully Tio secara sepihak. Dengan demikian, keputusan ini kami nilai akan membahayakan keselamatan Tio untuk kedepannya saat di luar sekolah. Karena Tio adalah anggota dari OSIS, maka kami mengajukan permintaan mutlak yang tidak dapat para guru serta komite bantah ataupun menolaknya. Dengan surat pernyataan ini, kedepannya keselamatan dari Tio merupakan tanggung jawab dari para guru serta komite yang telah bersalah. Semua kerugian yang Tio alami setelah keputusan ini akan menjadi tanggungan dari para guru. Surat ini akan memiliki dasar hukum yang kuat dengan tanda tangan dari para guru dan ketua OSIS sebagai pengaju keberatan. Surat ini akan sah setelah di tandatangani dan di cap oleh OSIS dan kepala sekolah]
Ibu Tio tidak menyangka jika semua ini akan terjadi. Pada akhirnya semua yang telah disembunyikan pasti akan terungkap juga.
“Jadi seluruh guru sudah tahu tentang kasus ini.” Ucap ibu Tio sambil melihat surat pernyataan.
Setelah membaca surat pernyataan itu, ibu Tio mengerti kenapa Tio menjadi seperti ini. Para pem-bully Tio dikeluarkan dari sekolah karena telah ketahuan mem-bully Tio. Ibu Tio juga langsung tahu pasti mereka juga yang telah membuat Tio babak belur seperti ini. Karena keadaan tubuh Tio penuh luka pukul, ibu Tio langsung memanggil rumah sakit untuk memeriksakan keadaan Tio.
Tuuuuttt.. tuuuuttt.. (Suara panggilan telepon)
"Halo rumah sakit di sini. Ada yang bisa kami bantu?" Tanya resepsionis rumah sakit dari telepon.
"Bisa tolong kirimkan ambulan ke rumah saya sus? Anak saya pingsan, dia tergeletak di depan rumah tadi. Mungkin dia habis kecelakaan dan sekarang tak sadarkan diri." Jawab ibu Tio.
"Silahkan sebut alamatnya bu, ambulans akan siap menuju ke tempat anda." Sahut resepsionis rumah sakit.
"Baik sus." Balas ibu Tio
Ibu Tio kemudian memberikan alamat rumah kepada resepsionis. Kemudian di katakan oleh resepsionis jika ambulans akan tiba 15 menit dari sekarang. Setelah telepon usai, ibu Tio mempersiapkan baju ganti untuk dibawa ke rumah sakit.
Tak lama kemudian ambulans datang. Ibu Tio mempersilahkan petugas medis untuk membawa Tio ke dalam ambulan. Sebelum itu, petugas medis memeriksa keadaan Tio sebelum dinaikkan ke ambulans. Kemudian salah satu petugas medis membawa sebuah tempat tidur dorong, Tio kemudian dinaikkan ke tempat tidur itu lalu dibawa masuk ke ambulan. Ambulans pun menyalakan sirine lalu bergegas menuju rumah sakit. Di dalam ambulan, ibu Tio hanya bisa melihat Tio yang pingsan. Tio terlihat sangat menyedihkan.
Di rumah sakit, Tio langsung diperiksa di unit gawat darurat. Dokter yang memeriksa khawatir dengan keadaan Tio yang seperti itu, pemeriksaan lebih lanjut pun di lakukan. Kali ini Tio di bawa ke ruang ronsen untuk melihat ada luka di dalam atau tidak. Hasilnya, Tio mendapat retak tulang belakang dan retak tulang bahu. Dokter segera mengambil tindakan medis. Setelah selesai, dokter memberi tahu ibu Tio tentang keadaan anaknya
“Bagaimana keadaan Tio, dok?” Tanya ibu Tio khawatir.
Dokter itu membuka maskernya sebelum menjawab pertanyaan dari ibu Tio. Syukurlah anaknya selamat.
“Syukurlah dia selamat, namun sayang sekali dia mengalami retak tulang belakang dan bahunya.” Jawab dokter
“Ya ampun..” Ibu Tio sedikit syok mendengarnya.
Ibu Tio tidak mengira keadaan Tio separah ini. Pantas saja jika Tio pingsan, patah tulang pasti sangat membuatnya kesakitan. Apalagi Tio juga memaksakan diri hingga sampai ke rumah, namun ibu Tio sangat bersyukur Tio bisa sampai ke rumah. Kalau tidak, entah bagaimana keadaan Tio nantinya. Ibu Tio tidak bisa lagi membendung kesedihannya.
“Sebaiknya ibu segera melengkapi administrasi agar kami bisa menangani anak ibu lebih lanjut.” Lanjut dokter.
“Baik dok.” Balas ibu Tio.