
“Aku pulang!” Ucapku ketika sampai rumah.
Di jalan tadi aku masih berpikir apa yang aku harus lakukan dengan pulsa sebanyak ini?. Aku berjalan ke dapur untuk menemui ibu terlebih dahulu.
“Ibu masih memasak?” Tanyaku.
“Eh sudah pulang kamu? Sebentar lagi matang. Segera mandi, sepertinya airnya sudah siap.” Jawab ibu.
“Ya sudah, aku mandi dulu deh.” Balasku.
Aku segera berbalik badan dan menuju ke kamarku. Namun tiba-tiba ibu memanggilku.
“Tunggu sebentar!” Sahut ibu.
“Ada apa lagi bu?” Tanyaku kembali.
“Kenapa kamu pulang-pulang cemberut begitu? Ada apa?” Balas ibu.
Aku langsung mengeluarkan smartphone milikku dan membuka pesan yang masuk tadi. Sepertinya aku memang harus membahasnya dengan ibu. Aku sedang bingung sekarang, aku butuh pendapat ibu.
“Haaaahh.. Bagaimana aku bisa tenang jika mendapatkan hal seperti ini.” Jawabku sambil menunjukkan smartphoneku.
Aku menunjukan pada ibu bahwa ada kiriman pulsa yang jumlahnya cukup banyak bagiku. Ibu pun melihat dan juga tidak percaya, malah menuduhku yang tidak-tidak.
“Lah banyaknya, dapat dari mana kamu pulsa sebanyak ini? Dan juga di pemberitahuannya dari mobile banking, apa kamu mencuri dari temanmu?” Tanya ibu dengan serius.
“Mana mungkin semua itu bisa terjadi, dan juga jika aku melakukannya kenapa juga aku memberitahu ibu tentang ini?” Jawabku.
“Astaga, maafkan ibu nak. Lalu dari mana asalnya pulsa sebanyak itu?” Ibu penasaran.
“Tadi sebelum pulang aku membantu temanku yang smartphonenya mati karena kehabisan baterai. Dia tidak bisa menghubungi supir yang menjemputnya, jadi aku pinjamkan smartphoneku agar dia bisa menelepon jemputannya itu. Setelah itu dia hanya bilang akan dia ganti, tapi malah sebanyak ini yang dia beri.” Jelasku.
Aku menceritakan kepada ibu apa adanya. Ibu pun terlihat seperti sedang mengira-ngira tentang situasi yang aku ceritakan tadi.
“Dia orang kaya? Soalnya ibu dengar kata jemputan tadi.” Tanya ibu.
“Sepertinya iya, mobilnya sangat mewah tadi. Lalu menurut ibu bagaimana dengan ini? Aku merasa tidak berhak menerimanya.” Aku meminta saran kepada ibu.
“Lebih baik dikembalikan nak.” Saran ibu.
Aku juga berpikiran seperti ibu, memang sebaiknya aku mengembalikannya. Bagaimana juga sebanyak ini belinya juga pakai uang. Namun sekarang aku menjadi bingung.
“Aku harus mengembalikan menggunakan apa? Uang sakuku satu bulan saja belum bisa menggantinya.” Aku murung
“Sebentar.” Ibu pergi meninggalkanku.
Aku duduk di kursi dapur sambil menunggu kembali ibu. Aku hanya bisa memandangi layar smartphoneku sekarang. Apa yang harus aku lakukan dengan pulsa sebanyak ini?
Ibu Tio kemudian menuju kamarnya, beliau teringat dengan uang pemberian kepala sekolah kemarin. Ibu Tio mengambil sejumlah uang lalu memasukkan ke dalam amplop dan bergegas kembali ke dapur.
Aku yang sedang bermalas-malasan di meja dapur melihat ibu kembali. Aku pun kembali duduk ke posisi semula.
“Ini nak uang yang ibu sudah masukkan amplop. Kembalikan padanya jika memang menurutmu itu terlalu banyak.” Ibu memberiku uang.
“Tapi bagaimana dengan kita? Bukankah kita juga butuh uang?” Tanyaku.
“Uang itu tidaklah cuma-cuma, ibu akan memotong setengah dari uang sakumu selama satu bulan. Bagaimana?” Jawab ibu.
Aku berpikir keras di sini. Jika aku tidak mengembalikan, aku terlalu serakah dengan orang yang bahkan aku baru kenal. Tetapi jika aku mengembalikan, aku harus bertahan dengan uang saku yang hanya setengah dari biasanya.
Aku tidak boleh lari lagi, aku tetap harus mengembalikannya. Ngomong-ngomong soal uang saku yang hanya setengah bisa diakali nanti. Sekarang solusi yang benar sudah ada di depan mata.
“Ini uangnya.” Ibu memberikan uang itu.
“Terima kasih bu.” aku berterima kasih.
“Sama-sama. Ya sudah sana mandi, ibu mau lanjut masak.” Balas ibu.
Aku bergegas menuju kamar. Aku mengecek jumlah uangnya ternyata sama dengan jumlah pulsa yang dikirim Astrid. Aku memasukkan uang itu kembali ke dalam amplop lalu aku taruh di dalam tas agar aku tidak lupa membawanya besok.
Keesokan harinya, aku berangkat sekolah lebih pagi dari biasanya. Aku telah menyetel alarm lebih awal pagi ini karena aku ingin bertemu dengan Astrid tanpa harus ke kelasnya, jadi aku berencana menemui Astrid di gerbang sekolah. Jika aku harus ke kelasnya mana berani, lalu jika aku mengembalikan uang ini di ruang OSIS pasti akan sangat tidak enak.
Sesampainya aku di gerbang sekolah, jam tanganku pun menunjukkan belum ada pukul 6 pagi. Aku berdiri agak jauh dari gerbang. Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian atau malah para siswa salah mengira jika pihak sekolah telah membeli patung baru untuk menghias gerbang sekolah.
Beberapa saat aku menunggu akhirnya mobil yang mengantar Astrid telah tiba dan berhenti di depan gerbang. Terlihat Astrid keluar turun dari mobilnya.
“Terima kasih banyak pak.” Astrid turun dari mobil.
Astrid menutup pintu mobilnya. Mobil itu pun pergi dan Astrid ingin segera menuju ke kelas. Namun ada orang yang memanggilnya. Astrid menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
“Astrid!!” Panggilku.
Astrid menoleh ke arahku, dia berhenti berjalan setelah mendengar panggilanku. Namun saat dia melihat aku yang memanggil, Astrid malah menjadi gugup sendiri.
“E-ehhh.. Ada Tio rupanya! A-a-ada apa pagi-pagi begini memanggilku?” Balas Astrid dengan gugup.
Pandangan Astrid sama sekali tidak mengarah padaku. Matanya melirik kesana-kemari, aku semakin curiga kepadanya.
“Aku ingin tanya, benar kamu mengirimkan pulsa padaku kemarin?” Tanyaku.
“Pu-pulsa..? Pulsa apa ya?” Astrid berusaha menghindar.
“Jawab dengan jujur! Aku tidak ingin kamu berbohong.” Balasku serius.
Astrid ketakutan di sini, mau tidak mau dia harus mengaku. Tio sudah curiga kepadanya dan Astrid tidak ingin membuatnya marah.
“Iya, aku yang mengirim.” Jawab Astrid.
Aku kemudian melepas tasku dan membukanya, aku mengambil amplop yang telah kusiapkan kemarin malam lalu segera memberikan amplop itu ke Astrid.
“Ini untukmu!” Aku memberikan amplop pada Astrid.
“Eh apa ini?” Tanya Astrid.
“Sudah, terima dulu!” Aku memaksa Astrid untuk menerima amplopnya.
Astrid pun menerima amplop itu karena takut Tio akan marah. Setelah Astrid menerima, dia kaget saat melihat isi amplop itu.
“Eh uang!! Untuk apa?” Astrid terkejut.
“Pulsa yang kamu kirim terlalu banyak, aku tidak berhak menerimanya.” Balasku.
“Tapi kan itu untuk mengganti yang kemarin.” Lanjut Astrid.
“Pulsa yang kemarin saja tidak habis saat kamu pakai, jadi aku harus mengembalikan apa yang bukan hak ku. Jika kamu benar ingin mengganti yang kemarin, ganti dengan cara lain atau setidaknya dalam jumlah yang wajar.” Jelasku.
Di sini Astrid hanya bisa terdiam. Di benaknya secara tidak langsung dia telah merendahkan Tio dengan mengirimkan pulsa sebanyak itu dan juga dia ternyata membuat sebuah masalah untuk Tio tanpa sepengetahuan dirinya.