
“Aku haus!” Ucap Luna.
Selesai Luna makan, ternyata dia baru sadar jika dia lupa membawa air minum. Luna lalu membereskan kotak makannya dan berniat menuju kantin untuk membeli minuman.
“Ke kelas kakak ah!” Ucap Aria.
Di saat yang sama, Aria juga sedang berniat mengajak Airi ke kantin. Aria ingin mengajak kakaknya untuk membeli minuman kesukaannya. Aria kemudian bergegas menuju kelas Airi.
“Kak ayo ke kantin! aku mau beli minum nih.” Ajak Aria.
Sesampainya di kelas Airi, Aria langsung mengajak kakaknya itu. Namun ternyata Airi masih menikmati makan siangnya. Airi menyuruh Aria untuk ke kantin duluan.
“Kamu duluan deh, aku masih makan. Nanti aku susul.” Balas Airi.
“Yah, apa boleh buat. Aku duluan kak.” Lanjut Aria.
Aria pun meninggalkan kelas Airi. Dia pun berjalan sendirian menuju kantin sambil melihat-lihat isi dompetnya untuk mencari uang koin, Aria tidak ingin mengeluarkan dompetnya di kantin nanti karena takut ribet jika tidak menyiapkannya. Karena sudah pasti di kantin nanti akan antri dan Aria tidak ingin berlama-lama membeli minumannya.
Setelah sampai di kantin, Aria langsung memasuki kantin dan tak lama kemudian dia berputar arah dan bersembunyi di balik pintu. Aria dikejutkan oleh sesuatu yang baru saja dia lihat.
“Loh Tio dengan Astrid?” Aria terkejut.
Aria kaget saat memasuki kantin lalu melihat Tio dan Astrid sedang berduaan di satu meja. Aria pun langsung menjadi penasaran dengan apa yang sedang mereka berdua lakukan. Apakah mereka sedang kencan? Ataupun mereka sedang membahas sesuatu yang penting? Pikiran Aria langsung terisi oleh hal-hal aneh setelah dia juga melihat Tio dan Astrid makan bersama.
“Ihhh, mereka sedang apa sih!” Aria mengigit dompetnya.
Aria sudah gemas ingin mengetahui kenapa Tio dan Astrid makan bersama. Aria sangat penasaran dengan apa alasan di balik mereka berduaan di kantin seperti itu. Bahkan Astrid sekarang lebih dekat dari Luna maupun dirinya. Aria hanya bisa menggigit dompetnya saking gemasnya.
Tak lama kemudian Luna juga sampai di kantin. Dia melihat Aria yang sedang mengendap-endap mengintip di depan pintu kantin. Karena penasaran Luna pun menyapa Aria.
“Hoi Aria, sedang apa kamu? Malah di depan pintu seperti itu” Tanya Luna.
“Shhhh.. Bisa pelan tidak bicaranya? Nanti mereka akan melihat kita.” Aria meletakkan telunjuknya di bibir.
“Hah mereka siapa?” Luna bingung.
Aria langsung memegang tangan Luna dan menariknya. Aria mengajak Luna untuk mengintip ke dalam kantin.
“Tuh lihat!!” Aria memberitahu Luna.
Luna pun ikut terkejut setelah melihat Tio dan Astrid berduaan. Pada akhirnya Luna juga ikut-ikutan mengintip Tio dan Astrid yang sedang berduaan.
“A-aku tidak salah lihat bukan?” Luna memastikan.
“Aku tadinya juga berpikir begitu, tapi sayangnya ini kenyataan.” Balas Aria.
Luna dan Aria saling tumpang tindih mengintip ke dalam kantin, mereka berdua sudah sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi di sana.
“Lalu apa yang sedang mereka lakukan?” Luna ikut penasaran.
“Kalau aku tahu, aku tidak mungkin di sini dan mengintip mereka.” Jawab Aria.
“Apa mereka sebenarnya pacaran?” Luna mencoba menebak.
“Pa-pacar!! Ihh kamu ini Luna, jangan buat aku jantungan!” Aria menjadi kesal.
Setelah beberapa lama mereka mengintip, mereka berdua kedatangan Airi yang datang menyusul Aria. Akan tetapi Airi mendapati adiknya dan Luna sedang berada di depan pintu. Airi kemudian bingung dengan apa yang dilakukan oleh kedua orang ini. Kemudian Airi memiliki ide untuk mengagetkan keduanya.
“Hoii..!!” Airi berteriak.
“Huwaaa..” Aria dan Luna serentak.
Luna dan Aria langsung menoleh ke belakang dan mendapati Airi yang ternyata bikin kaget barusan. Mereka berdua kompak memarahi Airi.
“Astaga kakak..!!” Aria kaget.
“Dasar kamu ya!” Lanjut Luna.
Aria dan Luna kemudian menarik Airi untuk ikut mengintip. Seperti deja vu ketika Aria menarik Luna untuk mengintip tadi.
“Tuh lihat!!” Ucap Luna.
“Oh begitu rupanya.” Airi menanggapi dengan santai.
Kemudian mereka bertiga melanjutkan mengintip. Aria lalu bertanya kepada kakaknya.
“Kak Airi, menurut kakak mereka sedang apa?" Tanya Aria
Tidak ada jawaban dari Airi. Aria pun memanggil Airi lagi.
“Kak..!!” Aria sambil menoleh ke belakang.
Aria kaget karena Airi tidak ada di situ. Ke mana perginya kakaknya yang barusan ada di belakangnya?
“Loh kakakku mana?” Tanya Aria.
“Lah itu masuk.” Jawab Luna.
“Ihhhh kakak, sejak kapan dia masuk ke dalam sana?” Aria semakin kesal.
Di sisi lain...
Aku telah selesai makan, namun aku merasa air minumkku kurang karena sudah habis sebelum makananku habis. Leherku sedikit seret karena belum minum lagi, karena suasana juga cukup panas aku memutuskan untuk membeli minuman lagi.
“Ah panasnya! Aku mau tambah minum dulu deh.” Ucapku.
“Mau aku pesankan lagi?” Astrid menawarkan.
“Tidak usah, aku bawa uang kok. Aku akan beli minuman kalengan saja.” Balasku.
Aku kemudian meninggalkan Astrid untuk membeli minum lagi, tapi sayangnya aku harus sedikit mengantri karena ada beberapa orang yang ingin membeli minuman juga. Aku kemudian berdiri di belakang barisan.
Kemudian setelah itu, Astrid ternyata didatangi oleh Airi. Airi pun langsung menggoda Astrid yang melihatnya sedang berduaan.
“Ehm.. Sedang berduaan nih!!” Goda Airi.
“Eh ada kak Airi. Hmm berduaan apa ya?” Astrid berusaha menutupi.
“Sudah, aku sudah lihat semuanya kok!” Balas Airi.
"Heh!!" Astrid terkejut.
Astrid tidak menyangka jika Airi melihatnya berdua dengan Tio. Di sini dia harus meminta Airi untuk merahasiakannya, Astrid tidak ingin Luna dan juga Aria melihatnya.
“Anu jangan bilang siapa-siapa ya kak!! Aku hanya ingin berterima kasih pada temanku, itu saja. Jangan sampai Luna dan Aria tahu.” Astrid memohon.
“Sayangnya aku tidak bisa.” Jawab Airi sembari memejamkan matanya.
“Loh kenapa kak?” Astrid kaget.
“Lihat di depan pintu, mereka dari tadi ada di sana. Bahkan sebelum aku sampai di sini.” Airi memberi tahu Astrid.
Kemudian Astrid melihat ke pintu kantin dan langsung salah tingkah saat melihat ada Luna dan Aria di sana. Astrid melihat ada dua kepala yang sedang mengintip ke dalam, Astrid langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
“Anu.. Bagaimana ini kak? Adikmu dan Luna ada di sana?” Tanya Astrid ketakutan.
“Hehe, pikirkan sendiri ya!! Uups.. Lebih baik aku juga segera pergi, sebelum ada yang salah mengira aku adalah Aria lagi. Daaahh.. Semoga kamu tidak apa-apa setelah ini.” Goda Airi lagi.
“Kak.. Kakak.. Kak Airi, Tolong aku!!” Lanjut Astrid dengan memohon.
Airi hanya melambaikan tangannya lalu bergegas pergi sebelum laki-laki itu salah mengira dirinya adalah Aria. Setelah ini, Astrid harus memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk menghadapi Luna dan Aria.