
Bel istirahat siang telah berbunyi, semua siswa keluar dari kelas masing-masing untuk beristirahat. Di sini Aria teringat dengan buku yang dia pinjam dari Luna saat mengambil bekal di tas miliknya.
“Loh iya buku Luna masih kubawa. Hmm.. Kembalikan dulu saja kali ya sebelum makan, besok Minggu soalnya.” Ucap Aria.
Setelah Aria memutuskan untuk mengembalikan buku yang dia pinjam, Aria memasukkan kembali bekalnya ke dalam tas. Aria pun meninggalkan kelas dan menuju kelas Luna untuk mengembalikan buku itu terlebih dahulu.
Sampai di kelas Luna, Aria melihat siswa kelas itu sedang kembali dari berolahraga. Aria bertanya pada salah satu siswi perempuan karena dari tadi belum melihat Luna.
“Anu.. Permisi. Apa kamu melihat Luna? Aku ada perlu dengannya.” Tanya Aria kepada salah satu siswi.
“Oh, dia masih di lapangan bersama Tio tadi.” Jawab siswi itu.
“Masih di lapangan? Sedang apa memang?” Aria penasaran.
“Entahlah, hari ini dia dan Tio diberi tugas oleh pak guru, jadi mereka mengerjakan itu bersama. Hmm.. Mungkin belum selesai mengerjakan.” Jawab siswi itu lagi.
“Kalau begitu aku ke sana saja deh, terima kasih ya!” Ucap Aria.
Aria langsung berlari kencang menuju lapangan. Di pikirannya hanya memikirkan apa yang sedang mereka lakukan berdua? Aria ingin segera mengetahuinya, dia pun ingin cepat sampai ke sana.
Sementara itu, di bawah pohon aku dan Luna masih berdebat tentang bekal ini. Aku memang lapar, tapi tidak tiba-tiba juga seperti ini dengan santainya ada makanan yang memang telah disiapkan untukku. Apalagi ini masakan Luna, memang enak sih tapi aku malah menjadi sungkan karena kejadian yang dulu itu.
“Hoi ada acara apa ini kamu sampai bawa dua bekal?” Tanyaku
“Sudahlah makan saja, aku tidak sengaja bawa bekal lebih tadi.” Jawab Luna.
Mencurigakan, benar seperti apa yang sedang aku pikirkan tadi. Sudah jelas jika ini memang sengaja, aku tidak mau memakannya jika alasan yang sebenarnya tidak Luna beri tahukan.
“Tidak, aku tidak akan makan bekal ini.” Balasku.
Tak lama, perutku berbunyi. Aku memang lapar dan keroncongan, tapi apa yang harus aku lakukan sekarang? Makanan enak telah menungguku dan juga hari ini aku tidak dibuatkan bekal oleh ibu. Seseorang, tolong aku!
“Tuh kan kamu lapar, sudah tidak usah sungkan.” Ucap Luna sambil mulai makan.
“Baik aku akan makan, tapi dengan syarat kamu harus jujur. Kenapa hari ini kamu bawa dua bekal?” Tanyaku serius.
“Kan aku bilang aku tidak sengaja.” Jawab Luna lagi.
“Hei Luna, aku bukan anak kecil. Jangan bohong padaku, tidak mungkin bekal sebesar itu kamu tidak sengaja bawa dua. Jika masih tidak mau mengaku, lebih baik aku ke kantin saja.” Ancamku.
Aku bergegas berdiri, tapi Luna langsung memegang lengan bajuku. Aku tertahan oleh Luna, kemudian aku melihat ke arahnya. Luna langsung menghela nafas.
“Haaahh.. Ya sudah dari pada bekalku sia-sia. Tapi dengan syarat juga, kamu harus rahasiakan ini. Anggap kamu tidak tahu apa-apa, bagaimana?” Balas Luna.
“Oke, apapun itu akan aku rahasiakan.” Aku setuju.
“Jadi kemarin itu....” Luna menceritakan tentang kemarin.
Kemarin sewaktu istirahat, Luna didatangi oleh guru olahraga. Waktu itu Luna sedang bersama Aria di depan kelas Luna karena Aria sedang ingin meminjam buku.
“Luna, tunggu..!” Teriak Aria.
“Ada apa kamu lari-lari begitu?” Tanya Luna.
“Kamu ada pelajaran bahasa inggris tidak hari ini?” Aria berbalik bertanya
“Ada, barusan selesai pelajarannya.” Jawab Luna.
“Pinjam buku dong, aku lupa bawa nih! Sehabis istirahat aku ada pelajaran bahasa inggris.” Lanjut Aria yang terengah-engah.
Luna kembali ke kelas untuk mengambil buku itu. Dia membuka tas miliknya lalu mencari buku bahasa inggris yang ingin dipinjam Aria. Setelah ketemu, Luna membawanya dan kembali menuju ke tempat Aria yang hanya berdiri di depan kelas karena tidak mau ikut masuk ke dalam.
“Nih!” Luna memberikan buku ke Aria.
“Syukurlah.” Aria lega.
Di saat Aria hendak kembali ke kelasnya, kemudian ada guru olahraga yang lewat lalu menyapa mereka berdua.
“Kalian berdua sedang apa?” Tanya guru olahraga.
“Oh ini pak, Aria sedang meminjam buku.” Jawab Luna.
“Iya pak, aku lupa bawa buku pelajaran berikutnya. Untung Luna ada pelajarannya hari ini.” Lanjut Aria.
“Oh begitu, sebenarnya bapak ada perlu sedikit dengan Luna.” Ucap guru olahraga.
Luna dan Aria saling tatap, Luna sedikit bingung kenapa pak guru ada perlu dengannya. Luna pun langsung menanyakannya.
“Denganku pak? Ada perlu apa ya?” Luna penasaran.
"Iya!" Balas guru olahraga.
“Oh, kalau begitu aku pamit dulu Luna dan pak guru. Aku kembalikan besok bukunya ya, Luna.” Aria kemudian berlari meninggalkan Luna.
Setelah Aria pergi, Luna kembali menanyakan keperluan pak guru tadi. Luna sedikit tidak menyangka jika akan dicari oleh pak guru seperti sekarang ini.
“Oh iya pak, ada perlu apa ya tadi?” Tanya Luna.
“Bisa tidak kamu besok bawa dua bekal?” Pinta guru olahraga.
“Dua bekal? Untuk apa pak?” Luna semakin penasaran.
Pak Indra pun sedikit melihat ke dalam kelas untuk memastikan ada atau tidaknya Tio di kelas. Ternyata Tio tidak ada di kelas, kemudian pak Indra melanjutkan pembicaraannya dengan Luna.
“Tio kan masih tahap pemulihan, aku ingin kamu besok menemaninya hingga pelajaran selesai. Bapak akan berikan nilai yang cukup bagus untuk kalian hanya dengan mengerjakan soal, bagaimana?” Guru olahraga memberikan tawaran.
“Aku bisa saja sih, tapi..” Luna terpotong bicara.
“Oke terima kasih nak Luna. Kalau sampai besok, bapak tunggu ya!” Potong guru olahragam
“Pak, aku kan belum bilang setuju.” Luna kesal.
Luna ingin protes tetapi pak guru sudah pergi menjauh. Mau tidak mau dia besok harus menyiapkan bekalnya karena pak guru dengan seenaknya memutuskan sepihak.
“... Begitu ceritanya.” Luna selesai menjelaskan.
“Pantas saja hari ini ibu tidak memberiku bekal, jadi kalian penyebabnya. Kalau begitu terima kasih bekalnya, aku makan ya!” Balasku.
Aku mulai membuka bekal yang di berikan Luna. Aku lapar, mau tidak mau aku harus makan ini. Aku juga harus menghargai usaha Luna setelah dia menceritakan itu semua. Tidak aku sangka pak Indra merencanakan ini semua, bahkan sampai ibu tidak memberikan aku bekal pagi ini.
Setelah berlari-lari, akhirnya Aria sampai juga di lapangan. Namun lapangan itu sudah sepi, Aria melihat ke sekeliling untuk mencari keberadaan Luna dan Tio.
“Loh katanya masih di lapangan, tapi tidak ada orang di sini!” Ucap Aria yang kelelahan.
Aria pun berjalan menuju ke tengah lapangan. Setelah itu dia mendengar suara orang dari balik semak-semak. Dengan perlahan Aria berjalan menuju sumber suara itu.