
“Jadi selama ini kamu di-bully?” Tanya Andreas.
“Benar, itulah yang terjadi padaku." Jawabku pelan.
“Kenapa kamu tidak bercerita kepada kami dari awal?” Lanjut Andreas dengan nada kasar.
Aku benar-benar emosi kali ini. Aku menjawab pertanyaan Andreas dengan nada sopan namun dia malah membalasnya dengan kasar. Kali ini aku tidak akan tinggal diam.
“Sudah aku bilang bukan! Itu akan membuat keadaanku semakin buruk." Balasku dengan nada keras.
“Tapi tidak seperti ini juga Tio." Andreas sedikit kecewa.
“Setiap orang pasti punya masalah bukan? Masalahku adalah masalah yang tidak bisa diceritakan kepada orang lain. Kamu pasti juga punya bukan?” Balasku dengan serius.
Aku berbalik memaki Andreas. Dia sama sekali tidak berhak ikut campur dalam masalahku. Yang hanya bisa dia lakukan hanyalah memaksakan kehendaknya kepada orang lain.
“Itu.. Anu..” Andreas kebingungan.
Andreas tidak bisa membalas lagi perkataanku. Tentu aku tidak berhenti sampai di sini. Aku harus memberikan sedikit pelajaran untuknya.
“Lalu kenapa kamu memaksa orang lain untuk bercerita masalah pribadinya? Jika orang itu memang tidak mau menceritakannya. Aku tadi bercerita hanya untuk menjelaskan apa yang terjadi denganku. Bukan berarti aku mau bercerita panjang lebar tentang ini. Aku sama sekali tidak berniat bercerita kepada siapapun. Cukup Luna dan guru olahraga yang tahu secara detail. Berhenti menanyaiku tentang hal ini." Aku emosi kepada Andreas.
Aku dan Andreas berseteru kembali. Suasana di ruang OSIS menegang kembali. Semuanya diam, lalu kemudian Ryan dengan inisiatif mencairkan suasana.
“Hey Luna, cepat beli minuman." Suruh Ryan.
“Heeeehhh.. Kok aku?” Tanya Luna yang sedikit tidak terima.
“Lalu siapa lagi? Ide siapa yang menyuruh kami ke lab IPA tadi?” Lanjut Ryan menanyai Luna.
Luna menjadi bingung sendiri, dia sudah mati langkah ketika berbicara menghadapi Ryan. Mau tidak mau Luna harus menuruti Ryan.
“Itu.. Anu.. Ya sudah, mana uangnya?” Balas Luna meminta uang.
“Uangmu lah. Kan tadi kamu yang menyuruh." Ryan sedikit tersenyum.
Luna hanya bisa menggembungkan pipinya, dia kesal dengan Ryan. Luna kemudian mengeluh kepada Ryan.
“Astagaa... Sudah disuruh beli, masih pakai uangku. Kejam sekali kamu Ryan." Luna cemberut.
“Hehe bercanda, ini uangnya." Ryan memberikan Luna uang.
Luna menerima uang dari Ryan. Dia kemudian menghitung uang-uang koin itu semua, semua uang itu ternyata cukup untuk membeli 7 kaleng minuman.
“Lalu kalian mau minum apa?” Tanya Luna.
“Aku soda saja." Jawab Ryan.
“Aku juga." Sahut Kevin.
“Aku jus jeruk." Aria memesan minuman kesukaannya.
“Aku isotonik saja, capek berlari-lari tadi." Keluh Astrid.
Empat pesanan sudah dikantongi Luna, kalau dia sih terserah dia nantinya mau beli apa. Sekarang tinggal kedua orang yang sedang bertengkar ini. Luna harus dengan hati-hati bertanya kepada mereka.
“Lalu Andreas dan Tio mau minum apa?” Tanya Luna.
Aku masih dalam keadaan emosi tinggi, tanpa sadar aku menjawab Luna dengan nada tinggi.
“AKU TERSERAH!" Balasku.
Luna tersentak mendengar jawabanku. Aku kemudian mengalihkan pandanganku dari Luna.
“Baiklah tunggu sebentar, aku segera kembali." Luna bergegas membeli minuman.
Luna meninggalkan ruang OSIS, namun suasana masih saja canggung. Semuanya diam hingga ruangan menjadi hening, bahkan suara kipas angin saja terdengar cukup keras karena heningnya. Ryan berjalan menuju pintu, kemudian Ryan memutuskan untuk keluar ruangan.
“Aku ke toilet sebentar." Ryan meninggalkan ruang OSIS.
Ryan tidak tahan dengan keadaan ruang OSIS yang seperti itu. Ini baru pertama kalinya ruang OSIS hening karena perselisihan. Ryan kemudian mengingat pertama kalinya dia bertemu dengan Andreas, Ryan kala itu juga merasa seperti Tio. Sikap Andreas yang tidak mampu memahami orang lain dengan baik sudah mampu Ryan hadapi. Ryan maklum dengan keadaan Andreas yang berasal dari keluarga kaya, semua keinginannya pasti akan terpenuhi dengan mudah.
Sesampainya Luna di mesin penjual minuman, dia mengambil kantong plastik di samping mesin itu. Luna mulai memasukkan uang dan membeli satu-persatu pesanannya.
“Emm.. Tadi Andreas, Kevin dan Ryan pesan soda, berarti soda 3." Ucap Luna.
Luna memasukkan uang seharga 3 soda. Kemudian 3 kaleng soda keluar dari mesin, Luna memasukkan soda-soda itu kedalam kantong. Kemudian Luna mengambil kantong plastik lagi dan mulai membeli lagi.
“Astrid isotonik kan? Dan Aria jus jeruk." Lanjut Luna.
Luna kembali memasukkan uang dan memilih isotonik, kemudian 1 kaleng isotonik keluar. Lalu Luna memasukkan isotonik itu kedalam kantong kedua, kantong plastik kedua berisi pesanan para gadis. Luna melanjutkan memasukkan uang dan memilih jus jeruk untuk Aria, kemudian 1 kaleng jus jeruk keluar dan Luna kembali memasukkannya ke kantong.
“Lalu tinggal aku dan Tio, beli apa ya enaknya?” Pikir Luna.
Karena Tio bilang terserah dan Luna belum memutuskan mau beli apa, dia pun sedikit bingung. Lalu Luna teringat saat dia membuntuti Tio pulang, saat itu Tio membeli soda.
“Baiklah kalau begitu, Tio soda dan aku green tea saja." Pilih Luna.
Luna mengambil kantong plastik yang ketiga dan membeli 1 kaleng soda dan 1 kaleng green tea. Luna memisahkan pesanan Tio dari yang lainnya. Dia tidak ingin memperkeruh keadaan di ruang OSIS, jika pesanan para laki-laki di campur tidak baik untuk Tio nantinya. Dengan begitu, Luna akan mudah memberikan semua pesanan ke masing-masing orang. Setelah Luna selesai membeli semua minuman, dia terkejut dengan keberadaan Ryan di samping mesin
“Pesanan lengkap waktunya kemba... Huuuwaaaaaaa.... Hantu!!" Luna berteriak saat ingin kembali menuju ruang OSIS.
Dengan percaya diri Ryan bersandar di samping mesin penjual minuman. Luna yang baru saja menoleh langsung terkaget dengan keberadaan Ryan.
“Hoi jangan teriak-teriak." Ryan menegur Luna
“Dengkulmu itu jangan teriak-teriak! Bisa tidak sih satu hari saja tidak usil." Luna kesal dengan Ryan.
“Aku tidak usil. Hanya saja aku tidak tahan dengan suasana di sana. Jadi aku memutuskan untuk mengikutimu pergi sekalian mencari udara segar.” Balas Ryan.
Luna kemudian tertunduk lesu teringat kejadian di ruang OSIS. Luna juga merasa tidak nyaman karenanya.
“Aku pun begitu, aku sudah tidak bisa melakukan apa-apa di sana tadi. Aku beruntung saat disuruh keluar membeli minuman, aku bisa sedikit memenangkan diri setelah dibentak Tio. Kamu jangan mengalihkan pembicaraan, hampir saja jantungku copot barusan." Luna mengeluarkan keluh kesahnya.
"Iya, iya. Aku minta maaf. Lagipula tadi itu sengaja." Balas Ryan
"Ryan..!" Luna memasuki mode kesal.
"Sudah jangan marah begitu. Aku hanya bercanda." Ryan menenangkan Luna.
"Haaaah... Ayo kita kembali, keburu tidak dingin nanti minuman ini." Ajak Luna.