
Kepala sekolah menerima kopian surat pernyataan dari Andreas. Kepala sekolah dan para guru yang tergabung di komite sekolah hanya bisa menyesalinya.
“Kami semua sungguh menyesal.” Ucap kepala sekolah.
Andreas menekankan kembali agar para komite bertanggung jawab sesuai dengan perjanjian jika hal yang tidak diinginkan terjadi. Usaha Andreas akhirnya tidak sia-sia.
“Sesuai seperti di perjanjian. Jika terjadi apa-apa dengan Tio, kalianlah yang akan bertanggung jawab. Kalian jangan lari dari masalah.” Andreas mengingatkan.
“Baiklah kami mengerti, kami tidak akan lari.” Balas kepala sekolah.
Kepala sekolah dan para guru telah menyesali perbuatan mereka. Mereka telah mengakui kalau mereka telah salah langkah dalam mengambil keputusan. Rapat telah usai dan hasil telah didapat. Setidaknya aku sedikit mendapatkan jaminan keamanan meski aku tidak tahu nanti pada akhirnya. Setelah ini, kami para OSIS berpisah dan masuk ke kelas masing-masing untuk mengikuti pelajaran.
“Terima kasih semuanya. Mari kita kembali ke kelas untuk belajar kembali.” Seru Andreas di depan ruang rapat.
“Baik..” Balas semuanya.
“Oh iya Tio, ini untukmu.” Andreas memberikan kopian dari surat pernyataan
Sebelum kami berpisah, Andreas memberiku kopian surat itu. Aku menerima surat itu dari Andreas dan membacanya sedikit. Setelah itu aku melipatnya dan memasukkan ke dalam saku baju.
"Terima kasih Andreas." Aku berterima kasih.
“Lalu setelah ini jaga dirimu sebaik mungkin. Kami sudah tidak bisa melindungimu saat kamu pulang dari sekolah atau saat sedang di luar sekolah. Baiklah kita ketemu besok saat simulasi.” Andreas melambaikan tangan dan pergi meninggalkanku.
Di sini aku merasa sedikit berdosa pada Andreas. Dia telah menolongku tadi namun aku masih teringat saat kita berdebat. Aku hanya berterimakasih saja kepadanya tadi, aku harus meminta maaf besok.
“Ayo, kita juga kembali ke kelas.” Ajak Luna.
Aku terlalu fokus melihat Andreas dan yang lainnya pergi. Selain aku dan Luna, para anggota OSIS kembali ke ruang OSIS terlebih dahulu untuk mengembalikan printer dan laptop yang dibawa Aria.
“Ayo..” Balasku.
Aku dan Luna juga memutuskan untuk segera masuk ke kelas karena rapat sudah selesai. Kami berjalan berdua menuju ke kelas. Sesampainya di depan kelas, Luna mengetuk pintu kelas. Guru yang mengajar mempersilahkan kami masuk dan kami duduk di tempat duduk masing-masing. Kami semua melanjutkan pelajaran seperti biasa.
Aku sama sekali tidak bisa fokus ke pelajaran. Yang aku hanya bisa pikirkan hanyalah bagaimana aku kedepannya. Romi dan yang lainnya pasti tidak akan mengampuniku lagi. Aku hanya bisa meihat buku dan juga pulpen yang sedang aku pegang. Aku merasa menyesal telah terlahir menjadi orang yang pintar. Kepintaran hanya membuatku menjadi tidak disukai oleh banyak orang. Aku benci itu.
"Akankah aku akan baik-baik saja?" Tanyaku pada diri sendiri.
Waktu pulang sekolah tiba, bel tanda akhir sekolah hari ini telah berbunyi. Semua siswa mulai meninggalkan sekolah satu persatu. Aku merapikan buku dan alat tulisku ke dalam tas, aku pun memutuskan segera pulang. Aku berjalan keluar kelas, sebenarnya aku juga sedikit takut tentang apa yang Andreas khawatirkan. Aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi padaku saat di luar sekolah, tapi aku mencoba tidak berpikiran buruk lalu aku melanjutkan pulang ke rumah.
Aku berjalan menuju gerbang depan. Aku berhenti di gerbang lalu melihat ke kanan dan ke kiri. Jalanan sudah sepi, siswa lain juga sudah pulang dan hari sudah sore. Aku melanjutkan berjalan sambil menahan rasa takutku. Aku mencoba berpikiran positif agar aku bisa baik-baik saja sampai ke rumah.
"Heh..!" Aku terkejut.
Namun ternyata aku salah. Saat aku melewati tempat sepi, kekhawatiran Andreas pun menjadi nyata. Aku dihadang oleh Romi dan teman-temannya yang dikeluarkan, mereka berdiri berjajar di depanku.
“Beruntung sekali kita bertemu dengan anak sial ini.” Ucap Romi sambil mengepalkan tangannya.
"Selamat sore tuan." Sindir seorang anak.
“Karena kamu, kami semua telah dikeluarkan dari sekolah tahu tidak?” Anak yang lain emosi kepadaku.
“Ternyata kamu tidak hanya merenggut perhatian dari guru dan orangtua kami, kamu juga menghancurkan masa depan kami.” salah satu anak mendekatiku.
“Mau apa kalian?” Tanyaku gemetar.
Aku ketakutan, ini tidak main-main lagi. Mereka pasti merencanakan sesuatu yang jahat kepadaku.
“Pertama siapkan skill deckmu, kita akan selesaikan di Battlefield. Aku tidak ingin ada yang melihat.” Jawab Romi.
Mereka semua memasang skill deck milik mereka masing-masing. Aku pun terpaksa mengikuti perintahnya. Aku mengambil skill deck di dalam tas lalu memasang skill deck milikku di tangan kananku.
"Sesuai perintahmu." Balasku setelah memakai skill deck.
Romi hanya tersenyum. Sudah jelas ini ada apa-apanya, di Battlefield nanti mereka bisa saja berbuat sesuatu. Namun jika aku tidak menurutinya pun pasti akan terjadi sesuatu juga kepadaku.
“Baiklah semua sudah selesai, kita masuk ke Battlefield.” Lanjut Romi.
“Battlefield, In” Semuanya.
Kami semua masuk ke Battlefield, kami tiba di Battlefield tanah. Aku melihat skill deck milik Romi yang berwarna coklat, ternyata monsternya adalah monster beratribut tanah. Ini gawat, Romi akan mendapat buff dari Battlefield ini. Kemudian Romi menjelaskan semuanya padaku.
“Baik, kita akan battle royal di sini.” Jelasnya.
“Battle royal?!” Tanyaku sedikit terkejut.
Tunggu, battle royal katanya? Aku tahu dari game kalau battle royal adalah permainan duel antara kelompok dengan kelompok. Dan sekarang Romi mengajak berduel dengan sistem battle royal, kelompoknya melawan diriku yang sendiri.
“Kamu akan melawan kami semua. Karena perempuan itu tidak ada di sini, jadi kami tidak akan bermain-main lagi.” Jawab Romi.
“Selain itu di sini tidak akan ada yang melihat. Jika kamu kalah, maka terimalah balasanmu.”.Ucap salah satu anak.
Habislah aku. Sudah kuduga pasti mereka merencanakan sesuatu. Tidak akan ada lagi yang bisa menolongku sekarang.
Mereka semua memanggil keluar monster mereka. Di sini aku akan melawan delapan orang. Aku sudah memiliki firasat buruk tentang ini. Aku mengeluarkan monsterku dengan perasaan putus asa.
"Aku memanggilmu, Hayase." Aku memanggil Hayase
Bahkan kalimat pemanggilku saja sampai tidak lengkap aku ucapkan. Namun Hayase tetap keluar menjawab panggilanku. Hayase sudah berada di depanku sekarang, meskipun aku tahu semua tetap akan sia-sia.
"Uuuggh.." Aku terlempar ke belakang dan berguling-guling di tanah.
Dan firasat itu benar adanya. Aku langsung kalah di terjang oleh kekuatan delapan monster milik mereka. Aku terlempar dan monsterku langsung kembali ke bentuk kartu. Mereka mendatangiku yang tergeletak di tanah sambil tertawa terbahak-bahak.
"Rasakan ini."
"Kau pantas untuk mati."
"Ini belum ada apa-apanya dibandingkan kami."
Kemudian mereka memukuliku tanpa rasa ampun. Aku babak belur dan mereka langsung pergi keluar meninggalkan Battlefield.
Sakit, ini benar-benar sakit. Aku belum pernah merasakan ini sebelumnya. Aku terkapar di sini, bahkan untuk berdiri saja aku sungguh tidak sanggup.
“Kenapa aku begitu lemah.” Aku mengerang kesakitan.