HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 43: Bahaya Yang Akan Datang



“Ada apa sebenarnya, Andreas?” Luna memulai bertanya.


“Kalian pasti sudah tahu dari para monster kalian masing-masing bukan?” Balas Andreas.


Heh, tahu tentang apa? Monsterku tidak bisa bicara dan dia tidak memberitahu apapun. Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Andreas bicarakan sekarang.


“Ya memang, tapi kenapa sampai harus dibuat pertemuan seperti ini?" Luna meminta penjelasan.


Andreas kemudian mengeluarkan skill deck miliknya. Skill deck Andreas berwarna merah, jadi dia pengendali monster api juga sepertiku. Semua orang termasuk aku juga ikut mengeluarkan skill deck.


“Pertama, lihat skill deck kalian terlebih dahulu." Lanjut Andreas.


Kami semua melihat skill deck masing-masing. Aku sendiri tidak paham kenapa harus melihat skill deck di sekolah hingga sampai perkara monster harus dibuat rapat. Berarti rapat hari ini tidak ada hubungannya dengan sekolah. Mereka malah membahas tentang monster, ada apa sebenarnya?


“Sudah. Memang ada apa dengan skill deck ini?” Tanya Luna lagi.


Luna sedari tadi memimpin pembahasan dengan terus bertanya. Aku sendiri tidak tahu dengan yang mereka bahas. Aku kemudian melihat ke arah Ryan, Kevin, Astrid dan Aria. Mereka tenang tanpa ada pertanyaan, apa yang sebenarnya mereka sembunyikan?


Mereka semua seperti sudah tahu inti dari rapat ini termasuk Luna yang sedari tadi bertanya. Apa hanya aku yang sama sekali tidak tahu dengan yang mereka bicarakan? Andreas mulai menjelaskan lagi untuk apa mereka semua melihat ke skill decknya masing-masing.


“Kalian masuk ke menu Rank dan lihat ranking di skill deck kalian." Andreas melanjutkan penjelasannya.


Lalu mereka semua mengecek menu rank seperti yang Andreas katakan. Aku juga ikut-ikutan melihatnya karena penasaran. Ternyata ada menu rank di skill deck, bahkan aku baru mengetahuinya.


"Ini..!!" Aku terkejut.


Saat aku melihat ke skill deck, aku menemukan keanehan yang aku sendiri tidak paham untuk menyampaikannya. Lebih baik aku diam dan mendengarkan mereka semua. Aku yakin Andreas pasti juga menyadarinya.


“Apa kalian menemukan sesuatu?” Tanya Andreas.


“Apa yang kamu maksud adalah rank 1 ini Andreas?” balas Ryan yang mengajukan pertanyaan.


“Benar sekali." Jawab Andreas.


Mereka semua melihat rank 1 di skill deck masing-masing. Di sana tertera nama Stalker dengan jumlah kemenangan yang cukup banyak. Data dan monsternya pun tertera tanda tanya (?) di skill deck. Itulah yang aneh menurutku.


Aku dan monsterku saja tertera nama orang asli dan juga nama monster dengan jelas di skill deck. Sedangkan rank 1 namanya Stalker dan monsternya (?), itu cukup aneh. Bagi mereka semua selain Andreas mungkin mengira ini adalah hal biasa, tapi setelah Andreas menjelaskan mereka pun menjadi terkejut dan terheran-heran.


“Lalu ada apa dengan rank 1 ini?” Tanya Astrid


“Kalian tidak menemukan hal aneh di sini?” Jawab Andreas sambil menunjuk skill decknya.


“Aku tidak menemukannya." Balas Luna.


“Aku juga sedikit tidak paham dengan ini." Tambahku.


Aku bukannya tidak menemukannya, aku hanya saja belum paham dengan apa yang mereka bahas. Ini memang janggal, tapi aku sendiri juga tidak bisa berkata lebih.


“Aku juga belum mengerti dengan maksudmu Andreas." Kevin juga belum paham.


“Haduhh.. Memang kalian ini. Bagaimana denganmu Aria?" Tanya Andreas ke Aria.


Andreas terlihat menaruh harapan ke Aria. Dia berharap Aria paham dengan yang dia maksud sekarang.


“Cukup bagus Aria. Lalu bagaimana denganmu Ryan? Aku sedikit berharap denganmu." Andreas bertanya ke Ryan.


Ryan yang sedari tadi diam dan mengamati sepertinya dia sudah mengetahui apa yang di maksud Andreas. Ryan pun mengemukakan pendapatnya.


“Yang jelas adalah, kenapa bisa info monsternya tidak diketahui. Tanda tanya di sini bukankah sedikit aneh? Jika kita memanggil monster kita harus membaca kalimat pemanggil bukan? Dan saat kita memanggil monster, pasti kita menyebut nama monster itu bukan? Bahkan saat kita masuk di Battlefield pertama kali, kita sudah memanggil monster kita masing-masing." Jelas Ryan.


Semua orang termasuk aku selain Andreas dan Ryan terkejut. Mereka semua baru tersadar akan hal itu, dan apa yang aku pikirkan sejak tadi terjawab oleh Ryan. Mungkin hanya aku yang tidak memanggil monster saat di Battlefield, namun ketika berduel dengan Luna aku membaca dengan jelas kalimat pemanggil Hayase. Dan sejak itu Hayase muncul di skill deck sebagai monster utamaku. Ini aneh, duel sebanyak ini tapi monsternya tidak diketahui. Tidak, menurutku ada yang lebih aneh dari ini.


“Bagus sekali, kamu memang bukan orang biasa Ryan. Wajar kamu di tunjuk menjadi wakil OSIS." Balas Andreas.


“Benar juga kata Ryan. Bahkan Fox di sini tertera info dan gambar monsternya." Luna baru sadar saat melihat info di skill deck miliknya.


Aku sudah tidak tahan. Setidaknya aku akan sedikit bertanya, aku tidak ingin dikira patung di sini. Aku akan menanyakan sedikit tentang yang telah dibahas tadi.


“Lalu kenapa di sini bisa tidak terindentifikasi? Bukankah skill deck bukan buatan manusia? Kemungkinan untuk di hack sangatlah mustahil." Pikirku


“Aku setuju dengan Tio. Walau aku ahli di bidang komputasi, aku pun berpikir tidak mungkin kita bisa meng-hack skill deck ini." Kevin setuju denganku.


Aku senang saat ada yang mendukung argumenku. Baru kali ini aku merasa di hargai seperti ini. Ternyata Kevin orang yang baik.


“Tapi semua itu baru setengah benar." Andreas kembali mengeluarkan pendapatnya.


Inikah yang akan Andreas ungkap? Apakah Andreas juga berpikiran sama denganku untuk saat ini. Aku memutuskan untuk mendengarkan lagi sekarang. Aku akan kembali diam mendengarkan mereka memecah misteri ini.


“Apa maksudmu baru setengah?" Ryan terkejut.


“Jadi ada lagi?” Astrid sedikit kaget.


“Ya, BAGAIMANA DIA BISA MENDAPATKAN NAMA STALKER SEDANGKAN KITA SEMUA MENGGUNAKAN NAMA ASLI DI SKILL DECK KITA." Ucap Andreas dengan nada keras.


Sontak semua orang yang di ruang OSIS terkejut. Bagaimana tidak, bahkan Stalker untuk nama asli seseorang saja hampir tidak mungkin digunakan. Semuanya yang ikut pertemuan baru tersadar akan hal ini. Inilah yang aku maksud lebih aneh tadi.


“Benar juga katamu." Ryan tidak habis pikir


“Aku juga baru menyadarinya." Astrid tidak menyangka.


“Untuk sebuah nama asli seseorang, itu tidaklah mungkin." Ucap Luna.


“Foto orang itu pun tertutup hoodie yang dipakainya. Aku jadi sedikit penasaran." Aria memandangi skill decknya.


“Jadi dia tidak hanya menyembunyikan info monsternya, bahkan identitas aslinya pun dia bisa sembunyikan." Kevin terlihat berpikir.


“Aku jadi sedikit paham dengan pertemuan kali ini. Ini bukanlah hal sepele." Kata Ryan.


“Benar kamu Ryan. Bahkan menurutku ini sama pentingnya dengan urusan OSIS." Balas Aria.


Semua anggota OSIS tidak menyangka dengan temuan mereka. Namun aku masih tidak bisa berkata apa-apa di sini. Aku masih belum menemukan tujuan mereka untuk apa menyelidiki orang rank 1 itu.


“Lalu apa yang akan kita lakukan setelah ini Andreas?” Tanya Luna kebingungan.


“Sudah jelas bukan? Kita harus mencari orang ini." Jawab Andreas.