HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 34: Kunjungan Tak Terduga



“Aku pulang!" Aku memasuki rumah sambil menyeka keringat.


Akhirnya sampailah aku di rumah. Hari yang melelahkan berakhir dengan nilai yang cukup bagus. Aku melepas sepatuku dan meletakkan di tempatnya. Aku masuk dan menuju dapur membawa kantong plastik berisi barang belanjaan.


Sebelum aku pergi ke sekolah, ibu menyuruhku agar mampir ke minimarket untuk membeli bumbu dapur. Karena ibu harus mencuci pakaian dan membersihkan rumah, maka sebagai gantinya aku yang membeli sekalian keluar ke sekolah.


“Bu ini titipannya tadi." Aku menyerahkan kantong plastik ke ibu


“Oh sudah pulang ternyata, uangnya kurang tidak?” Tanya ibu.


“Kembaliannya ada di dalam kantong plastik belanjaan. Aku mau segera mandi bu, aku lelah sekali sekarang." Jawabku.


“Baik, terima kasih banyak nak." Balas ibu.


Aku melangkah menuju kamar dan segera ingin mandi. Jujur aku capek sekali hari ini setelah berlari-lari dan pulang jalan kaki kepanasan juga. Tubuhku sudah gerah dan lengket karena keringat, namun belum sempat aku sampai kamar ada suara orang mengetuk pintu.


Tok.. tok.. tok.. (Suara ketukan pintu)


“Permisi..” Terdengar seseorang mengucap salam


Siapa lagi itu? Saat aku ingin membukakan pintu, ibu sudah berjalan menuju ke ruang depan sambil menjawabnya.


“Ya sebentar." Balas ibu.


Aku melanjutkan masuk ke kamar. Mungkin itu tamunya ibu atau tetangga sebelah. Pokoknya aku ingin mandi dan segera istirahat.


Ibu Tio membukakan pintu dan melihat seorang gadis. Ibu Tio belum pernah melihat gadis ini, apalagi penampilannya yang mencurigakan. Ibu Tio menanyakan keperluannya kemari.


“Ya, ada perlu apa?” Tanya ibu Tio.


“Apa benar ini rumah Tio?” Balas gadis itu.


“Ini memang rumah Tio, tapi apakah Tio yang kamu cari tidak salah orang atau salah rumah?” Tanya ibu Tio memastikan.


“Tidak bu, aku sama sekali tidak salah orang." Jawabnya sedikit gugup.


Ibu Tio merasakan keanehan. Tio tidak memiliki teman bahkan seorang gadis sekalipun. Tio tidak pernah bercerita tentang apapun akhir-akhir ini dan sekarang ada seorang gadis yang tiba-tiba datang ke rumah.


“Tunggu, Tio itu tidak memiliki teman. Jadi ibu rasa ini sedikit tidak mungkin jika ada yang mencarinya." Balas ibu Tio.


Gadis itu mulai kebingungan. Gadis itu tidak dapat menjawab pertanyaan dari ibu Tio. Gelagat gadis itu mencurigakan sehingga membuat ibu Tio langsung memanggil Tio yang ada di dalam.


“Tio.. cepat kemari. Ada seseorang yang katanya mencarimu ini." Teriak ibu dari depan


Aku baru saja melepas bajuku. Apa boleh buat aku harus memakainya lagi. Ada yang mencariku? Siapa?


“Siapa bu? Lagipula mau apa dia mencariku?" Jawabku


"Cepat ke sini sekarang, ibu juga ingin tahu." Teriak ibu lagi.


"Iya, iya. Aku ke sana." Aku datang menghampiri ibu.


Aku berjalan keluar kamar lalu menuju kedepan. Setelah melihat siapa yang datang, aku pun kaget dan tidak percaya jika dia bisa sampai ke rumahku.


“Eeeeeeehhhhhhhh... Lu-Lu-Luna..!” Ucapku dengan kaget.


Ibu menatap tajam ke arahku. Aku lupa jika aku ingin membicarakan tentang Luna kepada ibu. Sekarang ibu malah mencurigaiku.


“Loh jadi kamu kenal?” Tanya ibu dengan serius.


“Ke-kenal bu, dia teman sekelasku." Jawabku sedikit takut.


“Ajak dia masuk, ibu butuh penjelasan tentang ini." Ibu mulai serius.


Ibu bergegas masuk ke dalam rumah. Wajah ibu tidak terlihat marah hanya saja ibu ingin tahu siapa gadis yang datang ke rumah saat ini.


Aku melihat ke arah Luna, terlihat lusuh sekali dan badge OSIS di kepalanya itu membuat penampilannya semakin aneh. Sudah rambutnya acak-acakan di tambah penampilan aneh, bagaimana ibu tidak curiga padanya.


"Tapi kenapa dengan penampilanmu Luna? Berantakan sekali dirimu." Tanyaku ke Luna.


“Oh maafkan aku. Ini-ini.. Ah ini susah untuk dijelaskan." Jawab Luna.


Luna kemudian mulai merapikan diri. Luna melepas badge OSIS yang ada di keningnya kemudian mengambil ikat rambut yang dia kantongi di sakunya. Luna menguncir rambutnya seperti biasanya, kuncir samping dan memasang badge OSIS di lengannya.


Setelah Luna merapikan diri, meskipun tidak rapi-rapi amat. Aku mengajaknya untuk masuk ke dalam. Aku yakin kali ini ibu tidak akan melepaskan Luna.


"Ayo masuk dulu, ibuku sudah menunggu di dalam." Ajakku.


"Ba-baik." Balas Luna dengan nada lemas.


Aku membuka pintu kemudian mempersilahkan Luna untuk masuk. Luna melepas sepatunya dan mengikuti aku masuk. Aku kemudian menyuruh Luna duduk di sofa ruang depan sembari aku memanggil ibuku.


"Permisi." Ucap Luna


"Duduk dulu, aku akan panggilkan ibuku." Balasku ke Luna.


"Iya terima kasih." Lanjut Luna.


Luna kemudian duduk di sofa depan. Aku menuju ke dapur untuk memanggil ibu. Sesampainya di dapur, ibu ternyata sedang membuat minuman untuk Luna. Aku memberi tahu ibu jika Luna sudah di ruang depan. Ibu segera membawa minuman itu dan bergegas ke ruang depan.


"Bu, Luna sudah di ruang depan." Aku memberi tahu ibu.


"Baik, ibu sebentar lagi selesai." Balas ibu.


Aku dan ibu menuju ke ruang depan. Sesampainya di ruang depan, ibu menurunkan minuman dari baki ke atas meja. Ibu mulai duduk di depan Luna saling berhadapan, sedangkan aku duduk di kursi sisi samping mereka berdua.


“Maafkan aku bu, aku belum memperkenalkan diri. Aku Luna, teman samping tempat duduk Tio." Luna memperkenalkan diri.


"Oh nak Luna, namanya bagus. Silahkan jika ingin mengobrol dengan Tio, ibu sementara akan mendengarkan kalian." Balas ibu.


Melihat Luna, ada beberapa hal janggal yang aku sadari. Pertama dari sepatunya, untuk apa dia memakai sepatu lari? Dan yang kedua pakaian olahraga sekolah, apa yang dia lakukan sampai harus memakai itu di hari minggu? Tapi yang harus aku tanyakan terlebih dahulu adalah tentang dia tahu darimana rumahku.


“Luna, kenapa kamu bisa sampai sini? Perasaan aku belum pernah memberitahu kepadamu tentang rumahku.” Tanyaku ke Luna.


Luna dengan cepat berbalik bertanya. Dia sudah tidak tahan lagi.


“Aku akan menjawabnya setelah kamu menjawab semua pertanyaanku. Mungkin saat aku bertanya nanti kamu akan mendapatkan jawaban dari pertanyaanmu itu." Balas Luna.


Aku sedang tidak ingin berdebat dengan Luna di depan ibu. Aku memutuskan untuk mengalah kali ini, karena ibu sangat antusias mendengarkan pembicaraan kami berdua. Aku tidak ingin membuat pandangan ibu ke Luna menjadi jelek.


“Lah kan aku yang bertanya dulu." Lanjutku.


“Pokoknya kamu harus menjawab pertanyaanku terlebih dahulu, kalau tidak aku akan marah." Luna cemberut.


“Baik, baik. Hari ini aku sangat lelah. Aku sudak tidak sanggup bertengkar denganmu. Lalu kamu mau bertanya tentang apa?" Balasku.


"Pertama-tama aku pinjam tanganmu sebentar." Ucap Luna.


Aku menuruti apa kata Luna. Tiba-tiba Luna mencubit tanganku cukup keras, aku pun terkejut.


“Aw-aw.. sakit. Kamu ini memang." Aku kesakitan.


“Curang, jadi ini kenapa kamu kemarin tidak dimarahi oleh pak Indra. Jadi di hari minggu seperti ini kamu mengganti pelajaran olahraga?” Luna sedikit kesal.


“Jadi kamu melihatnya tadi?” Tanyaku.


“Iya, aku melihatnya dengan jelas. Aku meminta penjelasan darimu tentang ini. Aku ingin penjelasan yang sejelas-jelasnya." Jawab Luna.


“Hhaaaahhh.. Apa boleh buat, aku akan jelaskan. Berurusan denganmu memang sangat merepotkan ya?" Balasku sedikit mengeluh.