HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 150: Kalah



Melihat Hound yang terpukul ke belakang lalu posisi berdirinya masih belum sempurna, aku langsung memanfaatkan itu untuk meng-counter serangan tadi.


“Skill aktif, Ultimate: Searing flames.” Aku langsung mengaktifkan skill ultimate.


“Sial, Hound cepat menghindar!” Reza mulai panik.


Hound tidak memiliki waktu untuk menghindar. Hound terjebak dalam semburan api yang terus menerus dikeluarkan oleh Hayase. Hound terbakar di dalam skill ultimate milik Hayase, meskipun sama-sama beratribut api tapi duel tetaplah duel. HP Hound sekarang hanya tersisa 20 persen akibat efek burn dari skill ultimate milik Hayase.


Sementara itu, Reza tidak boleh tinggal diam melihat Hound yang terpojok akibat serangan tadi. Reza tidak ingin memperpanjang duel ini karena mungkin saja dia bisa kalah dari monster Mark 1.


“Aku bisa kalah jika terus diberi efek burn seperti ini. Kali ini aku akan serius kak, aku harap kakak tidak menyesal karena aku sebenarnya tadi tidak ingin menggunakan skill yang akan aku aktifkan ini.” Ucap Reza padaku.


Terlihat Reza menarik kembali kartu yang dia kembalikan ke skill decknya tadi. Aku tidak tahu skill apa itu, yang jelas aku harus bersiap melawannya karena sekarang aku tidak memiliki skill pertahanan.


“Aku akan terima apa yang akan terjadi, tapi untuk sekarang aku unggul.” Balasku.


Aku sedikit menyinggung tentang keunggulanku sekarang. Dengan HP Hayase yang masih penuh, aku sangat yakin jika serangannya tidak akan langsung bisa menghabiskan seluruh HP yang tersisa.


“Tidak lagi setelah ini. Skill aktif, Ultimate: Hound mate.” Reza mengaktifkan skill ultimate.


“Apa? Kamu mengaktifkan skill ultimate di saat aku masih bisa menghindar seperti ini?" Tanyaku.


Ternyata skill yang tidak ingin digunakan oleh Reza adalah skill ultimate milik Hound. Aku pun mempertanyakan kenapa Reza dengan santainya mengeluarkan skill utimate miliknya tanpa takut meleset.


“Kita lihat kak, apakah kakak bisa menghindari seranganku kali ini?” Reza sedikit menyombongkan diri.


“Guk.. Guk..” Hound menggonggong.


Muncul dua anjing api yang ukurannya sedikit lebih kecil dari Hound. Reza pun melanjutkan berbicara menjelaskan tentang skill ultimate yang baru saja dia aktifkan.


“Hound mate memanggil bala bantuan anjing api, ingat kak tadi aku sudah mengaktifkan Fire power. Skill itu juga akan diaplikasikan ke bala bantuan yang baru saja aku panggil!” Lanjut Reza.


Sekarang aku yang tercengang ketika mendapati skill ultimate milik Reza, ternyata skill itu bukanlah skill serangan biasa namun memanggil anjing lain untuk melawan musuh.


“bukankah itu main keroyokan!” Protesku


Sekarang aku paham kenapa Reza dengan santainya mengeluarkan skill ultimate miliknya dan juga aku tahu kenapa Reza tidak menginginkan menggunakan skill itu. Reza sudah tahu jika duel ini nantinya semakin tidak adil jika memanggil bala bantuan seperti sekarang, namun malah aku protes dengan keputusanku sendiri.


“Tadi aku sudah tidak ingin menggunakan skill ini karena bagiku juga sedikit tidak adil. Namun kakak malah tidak setuju, jadi terimalah keputusan kakak tadi.” Balas Reza.


Ya, memang aku tidak setuju jika Reza mengurangi jumlah skillnya. Tapi apa boleh buat, semua sudah terlambat. Keputusan yang kuambil tadi adalah sebuah kesalahan besar. Aku harus melawan semuanya sekaligus sekarang.


Hound menyuruh dua anjingnya untuk menyerang Hayase. Gerakan dua anjing api itu sangatlah cepat ditambah lagi dua anjing itu bisa menggunakan skill Fire smash berkali-kali untuk menerjang Hayase. Aku tidak boleh diam, jika seperti ini terus maka aku bisa saja kalah. Masih ada dua skill yang bisa aku gunakan karena yang lain masih dalam waktu cooldown. Aku harus mencobanya.


Aku asal coba untuk melakukan dual skill, akan tetapi tidak disangka-sangka percobaanku berhasil. Tubuh hayase melingkar, kepala dan ekornya saling menyatu lalu berputar(spin) seperti roda dan mengakibatkan dua anjing api milik Hound terpental. Aku sedikit penasaran berapa lama waktu dua anjing api itu bisa bertahan setelah dipanggil tadi.


Sembari berputar, kaki-kaki Hayase mengeluarkan banyak belati yang diluncurkan ke arah Hound karena dua anjing api itu tidak bisa ditarget karena mereka adalah ultimate bukan monsternya. Karena posisi Hayase sedang berputar maka dagger yang diluncurkan kecepatannya menjadi dua kali lipat dari skill biasanya.


“Sayang sekali kak!” Ucap Reza.


Dua anjing api tadi menghalangi seranganku. Karena dua anjing itu tidak memiliki HP jadi skillku bisa dengan mudah dihalau. Aku benar-benar tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Kedua anjing api itu benar-benar mengganggu karena aku tidak bisa menyerang Hound secara langsung.


"Sial!" Balasku.


Aku tidak menyangka jika kesenanganku akan dual skill yang berhasil itu cuma sampai di sini. Sekarang skillku dalam keadaan cooldown semua sedangkan Reza kemungkinan masih memiliki skill lain.


“Ultimateku akan segera berakhir, dengan ini aku akan akhiri duel ini. Skill aktif: Fire tail.” Reza mengaktifkan skill.


Sudah kuduga jika Reza masih memiliki skill mengingat monsternya adalah mark 2. Hound langsung menghampiri Hayase yang masih berputar kemudian menebaskan ekornya dan membuat Hayase tersungkur. HP Hayase turun setengah setelah itu, namun semua belum berakhir. Dua anjing api itu menerjang Hayase yang tersungkur lalu setelah itu meledak. Serangan itu membuat HP Hayase habis, Hayase pun kembali ke bentuk kartu.


“Sial, aku kalah lagi!” Ucapku sedikit kesal.


Dan benar saja, aku kalah. Aku mengambil kartu Hayase. Setelah itu Hound juga kembali ke bentuk kartu, Reza pun mendatangiku.


“Kalau bukan karena ultimateku tadi, aku mungkin bisa saja kalah.” Balas Reza.


Aku melihat ke arah Reza. Memang benar apa yang dikatakan dirinya mengingat keunggulanku di awal duel tadi. Memang benar skill ultimate memegang pengaruh penting dalam duel dan aku senang Reza menggunakan itu. Karena sekarang aku merasa kalah dengan terhormat.


“Iya sih, tapi aku senang! Dengan ini duel kita tadi sportif karena tidak ada yang diuntungkan maupun dirugikan. Aku juga banyak belajar dari duel tadi, meskipun hanya latihan tapi aku tetap harus berterima kasih padamu.” Ucapku ke Reza.


“Aku juga berterima kasih, dengan duel tadi aku akhirnya bisa melakukan kombo yang memang sejak lama aku rencanakan.” Lanjut Reza.


Aku baru ingat, ini pertama kalinya Reza masuk ke Battlefield lagi dan juga pertama kali berduel. Ternyata dia seperti Kevin yang sudah menganalisa kemungkinan-kemungkinan untuk berduel. Aku sekarang bangga dengan adikku yang cukup beruntung mendapatkan monster level tinggi ini.


“Oh begitu rupanya! Jadi kamu sudah merencanakan serangan-serangan tadi?” Aku kesal namun bercanda.


“Hehe, habisnya tidak ada lawan sepadan untukku. Jadi aku hanya bisa berangan-angan saja tentang serangan tadi.” Balas Reza.


“Kenapa memang? Kan kamu bisa saja duel di Battlefield dengan monster sekuat itu?” Tanyaku.


“Akan kujelaskan semuanya nanti. Sekarang ayo kita keluar dari sini, urusan kita sudah selesai di Battlefield.” Ajak Reza pulang.


“Baiklah, ayo pulang!” Ucapku setuju


“Battlefield, Out.” Aku dan Reza keluar dari Battlefield.