
“Lalu bagaimana ini?” Ibu menjadi sedikit takut.
Bukan hanya ibu, aku pun ketakutan sekarang. Yang hanya aku pikirkan sekarang adalah keselamatan para anggota OSIS. Masalah ini adalah masalah yang menyangkut diriku, bisa saja mereka semua juga ikut terseret seperti orang-orang yang hilang itu.
Aku memikirkan langkah apa yang aku akan lakukan sekarang. Aku terpikir untuk pergi dari rumah, tapi ke mana? Oh iya, ada satu tempat untuk mengasingkan diri dari kota ini. Tempat familiar dan juga sangat jauh, para anggota OSIS tidak mungkin bisa menemukanku sementara waktu.
“Aku ingin pergi dari sini untuk sementara. Ayo kita ke rumah kakek bu.” Ajakku
“Untuk apa kita ke sana nak? Masalah ini tidak ada hubungannya dengan kamu bukan?” Tanya ibu.
“TENTU SAJA ADA BU...” Aku membentak ibu.
Ibu langsung terduduk lemas setelah aku membentaknya. Aku langsung tersadar, apa yang telah barusan aku lakukan? Apa aku bodoh, aku membentak ibuku sendiri hanya karena masalah ini. Aku langsung meminta maaf pada ibu untuk hal ini, karena ibu meneteskan air mata sekarang.
“Maafkan aku bu, aku terbawa emosi.” Aku terduduk di lantai dan meminta maaf kepada ibu.
“Tidak apa-apa nak, ibu juga salah. Harusnya ibu menanyakan dulu apa hubungannya masalah ini denganmu tadi. Ini hanyalah kurangnya pemahaman antara kita.” Ibu mengelap air matanya.
Aku juga lupa jika aku harus menjelaskan alasanku pergi dari rumah. Itu karena aku terlalu khawatir dengan apa yang sedang aku takutkan sekarang. Melihat ibu yang begitu sedih karena ulahku, tanpa berpikir lagi akan aku jelaskan kepada ibu semuanya.
“Aku akan jelaskan kenapa masalah ini sangat bersangkutan denganku. Ibu tahu bukan jika aku ada beberapa teman sekarang. Mereka baik padaku, mereka tidak menjahatiku dan mereka peduli padaku. Jika aku masih di sini, jika mereka menghilang seperti anak-anak itu lalu apa yang harus aku lakukan? Kehilangan teman-temanku sekarang bahkan akan lebih menyakitkan daripada apa yang selama ini aku alami bahkan lebih menyakitkan daripada aku masuk rumah sakit kemarin. Sekarang apa ibu paham? Ayo bu kita pergi..” Aku meneteskan air mata sambil bersujud kepada ibu.
Aku begitu memohon kepada ibu, aku sangat takut sekarang. Bahkan aku sampai bersujud kepada ibu sambil menangis. Aku meminta dengan sangat agar ibu mau pergi ke rumah kakek. Aku tidak mau jika masih di sini dengan keadaan yang seperti ini.
“Bangun nak, sudahi kamu bersujud begitu. Ibu paham, sangat paham.” Ibu ikut menangis.
Aku mengangkat kepalaku lalu menatap ke arah ibu. Aku melihat wajah ibu yang meneteskan air mata. Saat ini adalah saat-saat yang sangat emosional bagiku. Ibu mengelus-elus rambutku sambil menangis melihatiku. Pada akhirnya ibu setuju dengan rencana kepergianku ini.
“Ibu akan menelepon guru olahragamu terlebih dahulu untuk mengurus ijin sekolahmu setelah itu kita akan pergi ke rumah kakek. Kamu lebih baik mengemasi barang-barang yang ingin kamu bawa.” Lanjut ibu.
“Baik bu.” Balasku sambil mengelap air mataku.
Pas sekali, saat itu juga smartphone milik ibu berdering. Ada telepon masuk dan yang menelepon kebetulan adalah guru olahraga. Padahal ibu baru saja ingin menelepon beliau.
“Ibu angkat telepon dulu ya, kebetulan sekali gurumu menelepon.” Ucap ibu.
Aku lalu memilih-milih pakaian yang ingin aku bawa, karena aku berencana tinggal di rumah kakek untuk waktu yang belum aku tentukan sama sekali jadi aku harus membawa cukup banyak pakaian. Aku mengeluarkan hampir semua pakaianku dari lemari. Aku pun memilihnya satu persatu sambil aku tata ke dalam koper.
"Baju, sudah. Celana, sudah. Hmm.. Apa lagi ya?" Aku berpikir di depan lemari baju.
Setelah aku selesai memilih-milih pakaian, aku sepertinya melupakan satu hal. Sebuah benda yang biasanya aku bawa jika ke rumah kakek. Konsol game! aku harus membawanya. Benda itu tidak boleh absen ketika aku pulang kampung. Karena di sana tidak ada hiburan sama sekali.
"Ah, konsol game! Bisa-bisanya aku melupakannya." Aku tersadar.
Aku menuju ke televisi di kamarku. Aku melepas semua kabel yang terhubung ke konsol game milikku ini. Lalu aku membungkus konsol gameku dengan kain yang tebal agar tidak terbentur atau rusak selama perjalanan nanti. Langkah selanjutnya adalah memasukkan semuanya ke dalam koper.
Saat aku sedang menata barang bawaanku, aku teringat tentang smartphoneku. Untuk smartphone mulai malam ini akan aku matikan agar tidak ada orang yang bisa menghubungiku. Aku tidak ingin para anggota OSIS menghubungiku nantinya. Belum lagi jika smartphoneku menyala, lokasiku akan dengan mudah diketahui dengan GPS. Untuk menghindari itu semua, terpaksa aku tidak menggunakan smartphone milikku ketika di desa nanti.
"Yosh.. Smartphone sudah mati. Aku siap pergi sekarang." Ucapku
Smartphone sudah kumatikan. Maafkan aku semuanya, aku melakukan ini semua juga demi kalian. Jika aku tidak pergi maka semua orang akan semakin membenciku karena akan menganggap aku sebagai penyebab kehilangan mereka. Walaupun saat aku pergi juga kemungkinan mereka yang tidak menyukaiku akan tetap berpikiran seperti itu, tapi aku tidak akan langsung mendengar kata-kata yang menusuk dari mereka secara langsung. Aku benar-benar harus pergi. Aku mengantongi smartphoneku lalu melanjutkan mengemasi barang-barangku ke dalam koper.
Sementara itu, ibu Tio di luar sedang menjawab panggilan telepon dari guru olahraga tadi. Ibu Tio menekan tombol jawab di smartphonenya.
“Ya halo pak, barusan saya mau telepon bapak karena ada sedikit urusan.” Jawab ibu Tio.
“Halo bu! Iya saya menelepon ibu juga karena saya ingin memastikan kalau Tio baik-baik saja kan? Barusan saya melihat berita di televisi jika anak-anak yang dikeluarkan dari sekolah menghilang, saya jadi khawatir dengan Tio.” Tanya guru olahraga.
“Iya dia baik-baik saja pak, dia ada di rumah sekarang.” Jawab ibu Tio.
“Dia tidak terlibat dengan masalah ini kan?” Tanya guru olahraga lagi.
“Tidak pak, saya juga barusan diberi tahu tentang berita di televisi tentang masalah ini. Tio bahkan ketakutan saat mendengarnya.” Balas ibu Tio.
“Syukurlah kalau begitu, lalu ibu tadi ada apa ingin menelepon saya?” Tanya guru olahraga.
Mungkin inilah waktu yang tepat untuk memberi tahu guru olahraga tentang rencana kepergian Tio ke rumah kakeknya. Karena ibu Tio juga harus tetap mengurus izin sekolah Tio selama dia pergi. Ibu Tio memutuskan untuk meminta pertolongan guru olahraga untuk mengurus izinnya.
“Sebenarnya....” Ucap ibu Tio.