
Klek.. (Suara pintu)
Pintu ruangan terbuka. Setelah menunggu cukup lama akhirnya pemeriksaan Tio pun selesai. Dokter keluar ruangan dan langsung ibu Tio menghampiri dokter itu.
"Bagaimana keadaannya, dok?" Tanya ibu Tio.
“Syukurlah kondisi anak ibu sudah normal. Kita hanya tinggal menangani retak tulangnya saja. Untuk sementara dia dilarang banyak bergerak. Kami juga baru saja memberinya obat. Kita akan lihat perkembangannya nanti.” Jawab dokter.
“Syukurlah.. Terima kasih, dok.” Balas ibu Tio sambil menundukkan kepalanya.
Dokter dan semua suster meninggalkan ruangan ICU. Ibu Tio dan Luna kembali masuk ke dalam untuk melihat keadaan Tio kembali. Hari mulai pagi, jam menunjukkan pukul 5 pagi. Luna bergegas ganti baju dan pulang untuk mengambil buku pelajaran. Ketika Luna sudah ingin pulang, dia melihat Tio yang kembali memejamkan matanya.
“Tio..!” Luna memanggilku.
Aku sengaja diam saja dan menutup mataku. Setelah minum obat dari dokter tadi tubuhku menjadi lemas dan membuatku mengantuk.
“Oii Tio..!” Luna memegang lengan tanganku.
Ah berisik sekali anak satu ini memang. Terpaksa aku membuka mata yang sudah ngantuk ini. Kalau tidak dibalas nantinya dia tidak akan berhenti dan hanya mengganggu saja.
“Haa.. Ada apa?” Balasku lemas.
“Oh aku kira pingsan lagi kamu.” Luna sedikit khawatir.
Ternyata dia juga memperhatikanku, aku saja sampai tidak berani memejamkan mataku meski sangat mengantuk. Aku takut tidak sadarkan diri lagi dan mimpi aneh seperti tadi.
“Tidak, aku hanya mengantuk setelah minum obat. Rasanya aku ingin tidur.” Jawabku menenangkan Luna.
“Ya sudah, aku pulang dulu. Sudah pagi nih, aku harus sekolah.” Luna pamit.
“Hmm.. Hati-hati.” Balasku setengah sadar.
Aku melanjutkan tidur namun masih susah terpejam. Mata ini sungguh berat untuk tersadar dan berat juga untuk tidur. Aku sudah tidak tahu lagi, yang paling penting aku harus mencoba tidur. Efek obatnya sudah terasa, sakitku hilang dan sekarang rasa ngantuk yang luar biasa ini muncul.
Lalu Luna juga berpamitan dengan ibu Tio. Dia mengambil tas miliknya dan memakai sepatunya. Luna siap untuk pulang.
“Aku pamit pulang dulu, bu.” Luna berpamitan dengan ibu Tio.
Ibu Tio berdiri dari sofa tempatnya duduk. Ibu Tio sangat terbantu dengan adanya Luna semalam. Ibu Tio bisa pulang mencuci dan mengambil baju bersih dengan perasaan tenang karena ada yang menunggu Tio di rumah sakit.
“Terima kasih banyak lo nak, ibu sangat terbantu.” Balas ibu Tio.
“Tidak apa-apa bu. Aku juga senang bisa melihat Tio yang sudah sadar.” Lanjut Luna.
Luna berjalan menuju pintu dan ibu Tio mengantarnya. Luna juga bilang jika mungkin nanti sore dia akan datang lagi menjenguk Tio.
“Hati-hati di jalan ya nak. Jalanan masih gelap jam segini.” Ibu Tio mengingatkan Luna.
“Iya bu, aku akan berhati-hati. Oh iya, mungkin nanti sore aku ke sini lagi tapi tidak menginap.” Balas Luna.
“Baiklah kalau begitu, datanglah kapan saja nak.” Ibu Tio tersenyum.
Mereka berdua saling melambaikan tangan. Luna berjalan menjauh dari ruangan ICU, ibu Tio pun segera kembali ke dalam untuk melanjutkan tidur sebentar. Hari masih gelap dan semuanya heboh di kegelapan malam itu, namun yang terjadi adalah hal baik.
"Ngantuk!" Ucapku pelan sambil memejamkan mata.
Aku hanya mendengar samar pembicaraan Luna dengan ibu. Aku pun melanjutkan tidur karena sudah ngantuk sekali karena efek obat tadi.
Luna mengambil sepedanya di parkiran. Dia kemudian menaiki sepedanya dan mulai mengayuh. Karena ini masih sangat pagi, jalanan masih gelap dan sepi. Hawa dingin juga sangat terasa. Luna mengayuh sepedanya sedikit lebih cepat karena dia sedikit takut jika masih sesepi ini.
"Aku harus cepat!" Luna mempercepat mengayuh sepedanya.
Tok.. tok.. tok.. (Suara ketukan pintu)
“Bu.. Ibuuu.. Bangun, bu.” Teriak Luna sambil menoleh kanan dan kiri.
Belum ada jawaban dari ibunya. Luna masih mengetuk pintu rumahnya berkali-kali. Di luar gelap dan itu membuat Luna merinding. Setelah Luna mencoba berkali-kali, ibunya akhirnya bangun.
“Ya, sebentar.” Sahut ibu Luna dari dalam rumah.
Luna sangat bersyukur ibunya sudah bangun. Lampu ruang depan menyala, Luna menghentikan mengetuk pintunya dan dia sedikit mundur ke belakang. Kemudian ibu Luna membukakan pintu.
“Loh Luna, pagi sekali kamu pulang?” Tanya ibu Luna yang masih mengantuk.
“Ya kan aku harus sekolah. Aku belum mandi dari kemarin, aku juga belum menjadwal buku pelajaran hari ini.” Balas Luna sambil memasuki rumah.
“Oh begitu. Lalu bagaimana keadaan Tio?” Tanya ibu Luna bertanya kembali sambil menutup pintu.
“Syukurlah dia sudah sadar, aku senang karena aku bisa melihatnya saat sadarkan diri tadi.” Jawab Luna.
“Ya sudah, ibu akan menyiapkan air panas untukmu.” Lanjut ibu Luna.
“kalau begitu aku akan menjadwal buku pelajaran dulu”, balas Luna
Luna bergegas naik ke kamarnya dan menyiapkan buku-buku untuk hari ini. Setelah ibunya memanggil Luna jika air sudah siap, Luna bergegas mandi.
Ibu Luna mulai beraktivitas di dapur untuk membuat sarapan. Luna selesai mandi kemudian menyetrika kembali seragamnya yang kemarin karena sedikit kusut. Tidak lupa Luna memakai pewangi baju, tidak lucu jika seragamnya bau keringat. Setelah selesai, Luna memakai seragamnya lalu turun ke bawah untuk sarapan. Luna menikmati sarapannya sambil menonton televisi, karena hari masih pagi dia tidak sarapan di meja makan seperti biasanya. Setelah cukup lama dan pagi juga cukup terang, Luna memutuskan untuk berangkat ke sekolah.
“Aku berangkat..” Teriak Luna.
Luna kembali mengayuh sepedanya menuju sekolah. Ketika sampai di sekolah, dia bertemu dengan Aria dan Airi yang berdiri berdua di depan gerbang sekolah. Luna berhenti untuk menyapa mereka.
“Loh kalian sedang apa di sini pagi-pagi begini?” Tanya Luna.
“Tentu saja kami menunggumu datang.” Jawab Airi sambil mengucek matanya karena ngantuk.
“Hah?.. Menungguku? Ada apa kalian menungguku?” Tanya Luna kembali.
“Nah, tanya saja pada Aria.” Balas Airi dengan lemas.
Luna kemudian menanyakan kepada Aria, dia sedikit penasaran dengan apa tujuan mereka berdua menunggu kedatangannya.
“Ada apa Aria?” Tanya Luna kepada Aria.
Dengan malu-malu, Aria mulai bertanya kepada Luna.
“Anu.. Bagaimana keadaan Tio pagi ini?” Tanya Aria.
“Oh dia sudah tidak apa-apa. Saat aku pulang dia hanya tertidur karena diberi obat oleh dokter.” Jawab Luna.
“Syukurlah.” Aria merasa lega.
Airi yang mengetahui nama dari orang yang di rumah sakit itu langsung mengungkit lagi kejadian semalam. Karena Aria berisik sekali semalam, Airi jadi susah tidur.
“Ohoo.. jadi laki-laki itu namanya Tio. Asalkan kamu tahu Luna, dia tidak tidur sampai pagi setelah membaca pesanmu. Aku juga malah terbangun karena dia heboh sendiri. Aku masih ngantuk jadinya.” Keluh Airi.
“Kakak, aku kan sudah minta maaf.” Aria cemberut
“Memang dasar anak satu ini ya.” Luna menggeleng kepalanya.