
“Ayo masuk." Astrid membuka pintu.
Kami sampai di depan ruang OSIS. Saat ini yang aku rasakan hanyalah gemetar dan gugup. Aku sama sekali tidak mengenal yang lain selain Luna. Astrid telah mempersilahkan kami untuk masuk. Perlahan kami pun memasuki ruangan.
“Pagi semua." Sapa Luna.
“Lama sekali kamu Luna." Sindir ketua OSIS.
“Hei, kami diberi undangan terakhir. Jadi jangan salahkan kami kalau datang paling akhir.” Balas Luna.
“Haha maaf, maaf. Aku hanya bercanda. Jadi ini orang yang kamu maksud?” Ketua OSIS tertawa lalu menanyakan tentang anggota baru.
“Iya, ini orangnya." Jawab Luna sambil menunjuk ke arahku.
Seorang laki-laki berambut pirang menyapa Luna dan ternyata dia adalah ketua OSIS. Ketua OSIS datang mendekatiku. Aku sedikit ketakutan di sini hingga tidak mampu berkata-kata lagi.
“Perkenalkan, aku Andreas. Aku ketua OSIS." Andreas menjabat tanganku
“A-anu..” Ucapku terbata-bata.
Aku kaget saat Andreas tiba-tiba menjabat tanganku. Saking gugupnya aku tidak mampu berbicara dengan jelas. Laki-laki ini terlihat berani dan menakutkan untukku.
“Hei Andreas, tolong mengerti sedikit." Sela Luna.
Luna kembali menolongku. Dia mendekat dan sedikit menjauhkan Andreas dariku. Luna juga memperingatkan Andreas.
“Biar aku yang mewakilinya. Dia Tio, teman sekelasku. Dia mempunyai masalah pribadi dan tidak terbiasa berkomunikasi dengan orang asing, jadi jangan terlalu merepotkan dirinya.” Luna menjelaskan keadaanku.
Terima kasih Luna, maafkan aku untuk saat ini. Aku harus tahu dengan sifat masing-masing terlebih dahulu agar nantinya bisa akrab seperti yang terjadi antara aku dan Luna.
“Ohh maaf-maaf. Aku benar-benar tidak tahu." Balas Andreas.
“Tidak kamu, tidak Astrid, kalian sama saja ya?" Luna sedikit kesal
“Hehehe." Astrid tertawa.
“Jangan tertawa kamu Astrid." Balas Luna kepada Astrid.
Astrid berlagak takut akan peringatan dari Luna. Seperti biasa, Astrid hanya menganggap Luna seperti sedang bercanda dengannya.
“Galaknya!" Sahut Astrid.
“Haha, kalau tidak seperti itu bukan Luna namanya." Andreas ikut-ikutan.
“Sudah, sudah. Kalian ini memang. Ayo segera mulai, kalau tidak, guru pengawas akan curiga dengan kegiatan kita. Hari ini sebenarnya kita dihitung membolos karena sebenarnya tidak ada rapat OSIS lagi untuk beberapa saat ke depan kan?" Ucap Luna dengan serius.
“Tepat sekali kamu Luna, semua yang kamu katakan itu benar. Baiklah, segera duduk di tempat kalian masing-masing." Andreas memberikan instruksi.
Andreas kembali duduk di tempatnya. Kami segera duduk di kursi yang telah disediakan. Layout ruang OSIS sedikit berbeda dengan yang aku bayangkan. Ternyata tatanan tempatnya dimulai dari meja Andreas dan samping kanan-kirinya ada sebuah meja panjang.
Kedua meja di samping meja Andreas saling berhadapan, Jadi anggota lain akan saling berhadapan nantinya. Aku duduk di meja sebelah kanan Andreas, tempat dudukku agak di tengah di samping Luna dan sampingku lagi ada Aria, gadis yang waktu itu. Dia duduk lebih dekat dari meja Andreas.
“Sebelum kita mulai, aku akan memperkenalkan semua anggota OSIS kepada Tio. Dan aku juga mengucapkan banyak terimakasih kepadanya karena mau bergabung dengan OSIS." Andreas memulai.
“Ba-baik..” Balasku gugup.
Andreas berdiri lalu memulai mengenalkan para anggota OSIS kepadaku. Dia memulai dari dirinya sendiri.
“Aku ulangi sekali lagi. Aku Andreas, posisiku di sini adalah selaku ketua OSIS." Andreas memperkenalkan diri secara formal.
“Lalu kita mulai dengan barisan di sebelah kiriku. Pertama-tama, aku mulai dari Ryan, Dia adalah wakil ketua di OSIS." Andreas memperkenalkan Ryan.
Ryan berdiri lalu memperkenalkan dirinya sendiri.
“Perkenalkan, aku Ryan. Semoga kita bisa bekerjasama ke depannya." Ryan menyapaku.
Laki-laki berambut abu-abu menyapaku. Dia Ryan, wakil ketua OSIS. Berbeda dengan Andreas yang bersikap lebih berani dan tegas, Ryan sepertinya adalah orang yang tenang. Terlihat dari nada bicaranya yang berwibawa, aku jadi segan terhadapnya.
“Sama-sama. Salam kenal juga." Aku berdiri lalu menundukkan kepala kepada Ryan.
Aku memutuskan untuk tetap berdiri sementara, karena jika aku duduk maka aku akan duduk dan berdiri lalu mengulanginya sampai akhir. Andreas melanjutkan lagi, kali ini orang yang ada di samping Ryan.
“Kemudian di sampingnya ada Kevin, dia menjabat sebagai manajemen klub sekolah. Kevin juga merangkap Event organizer untuk acara-acara di sekolah kita." Andreas memperkenalkan Kevin
“Hai, Aku Kevin dari kelas 1. Salam kenal." Kevin menundukkan kepalanya
Laki-laki berambut merah memperkenalkan diri, dia adalah Kevin. Dia hebat, baru kelas 1 tapi berani mengambil posisi yang sangat berat bagiku.
“Ya, salam kenal juga." Balasku.
Yang kali ini tidak usah Andreas perkenalkan juga tidak apa-apa. Di samping Kevin, Astrid duduk di sebelahnya. Andreas kemudian memperkenalkan Astrid.
“Lalu lanjut di samping kevin ada bendahara kita, Astrid." Andreas memperkenalkan Astrid.
Astrid dengan gaya yang terlalu aktif seperti tadi berdiri dan kembali memperkenalkan dirinya kepadaku.
“Salam kenal. Selama di sini harap biasakan dengan sikapku yang seperti ini ya." Ucap Astrid.
“A-akan ku coba." Balasku gugup.
Berurusan dengan Luna sudah merepotkan, sekarang tambah satu lagi. Semoga aku masih tidak apa-apa saat di sini nantinya.
Barisan seberang mejaku sudah selesai. Sekarang giliran Andreas mengenalkan Aria kepadaku. Entah kenapa gadis yang bernama Aria ini rasanya seperti membuatku tenang. Tidak seperti Luna dan Astrid, yang satu ini sama sekali tidak mengganguku.
“Lalu di sampingmu ada Aria. Dia adalah teman semasa kecilku saat di luar negeri. Karena aku berasal bukan dari sini, jadi hanya dia orang yang pertama aku kenal. Aria menjabat sebagai sekretaris kita." Andreas memperkenalkan Aria.
"Andreas, jangan ceritakan juga soal masa lalu saat kamu menjelaskan." Keluh Aria dengan pelan.
Aku sungguh tidak menyangka, ternyata Aria dan Andreas teman masa kecil. Mulai sekarang aku akan berhati-hati terhadap Aria.
“Sa-salam kenal." Aria menutup setengah bawah wajahnya dengan buku catatan sambil memperkenalkan dirinya.
“Iya sama-sama, salam kenal juga.” Balasku tersenyum.
Aku kembali duduk karena yang tersisa hanyalah Luna. Kalau ini sih sudah tidak perlu lagi diperkenalkan.
”Lalu setelah ini... Mungkin tidak penting." Andreas mengerjai Luna.
“Hei kamu ini ya!" Luna kesal dengan Andreas.
“Haha, lah kalian kan sudah saling kenal. Jadi untuk apa aku memperkenalkan dirimu lagi? Lagipula posisi kalian sama." jelas Andreas sambil tertawa.
“Aku sedikit kesal mendengarnya, tapi apa boleh buat. Aku harus lebih sabar lagi kali ini." Luna menenangkan dirinya sendiri.
Andreas kembali duduk setelah memperkenalkan semua anggota OSIS. Setelah itu, tatapan Andreas menjadi tajam dan serius. Aku sudah menduga jika dia adalah orang yang menakutkan. Hanya dia yang membuatku kurang nyaman di tempat ini.
“Baiklah sudah semua. Mari kita mulai rapat hari ini." Ucap Andreas dengan serius.