HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 163: Simulasi Terakhir, Light Vs. Dark



Kami semua masuk ke Battlefield. Sekarang Andreas maupun Ryan sudah tidak lagi memata-matai musuh yang pasti akan mengawasi simulasi ini. Luna dan Aria menuju ke tengah medan pertarungan, Aria yang terlihat sedikit takut karena memang ini duel pertamanya sedangkan Luna pernah satu kali melawanku.


“Aku siap!” Ucap Luna.


“A-aku juga siap!” Balas Aria setelah memakai skill decknya.


[Skill deck ready]


“Duel!” Luna dan Aria serentak.


Luna memulai dengan pertama memanggil monsternya. Dengan cepat Luna mengeluarkan kartu Fox dan langsung membaca kalimat pemanggilnya.


“Aku memanggilmu, sang rubah pengendali petir. Mk II, Fox.” Luna memanggil Fox.


Rubah putih yang indah namun mematikan telah muncul di Battlefield. Aura listrik keluar dari seluruh tubuh Fox membuat sekitar Battlefield menggelar suara petir. Benar-benar rubah yang sangat berbahaya.


“Aku memanggilmu, sang penyihir kegelapan. Mk II, Mage.” Aria mengucapkan kalimat pemanggil.


Aria menyusul Luna dengan memanggil monsternya dan Aria memanggil Mage untuk pertama kalinya. Mage berbentuk sama seperti dengan Lancer, dia memiliki dua kaki dan dua tangan namun tanpa pedang. Mage memakai seperti jubah pada tubuhnya.


Terlihat Aria menarik sebuah kartu skill dari skill decknya. Ternyata Aria yang berniat memulai duel setelah Luna yang memulai memanggil monster tadi.


“Aku mulai. Skill aktif: Magic wand.” Aria mengaktifkan skill.


"Keluarlah wahai tongkatku" Mage mengeluarkan kekuatannya.


Sebuah tongkat sihir muncul dari tanah, Mage kemudian mengambil tongkat itu namun tidak ada apapun yang terjadi sesaat Aria mengaktifkan skill. Aku menjadi heran skill apa itu? Tidak ada efek apapun dari skill itu selain adanya tongkat saja.


“Mana efeknya?” Luna menunggu efek skill yang Aria aktifkan.


Karena biasanya setelah skill diaktifkan skill itu akan menimbulkan serangan ke lawan ataupun skill support yang seperti meningkatkan kekuatan, namun skill ini berbeda dan hanya memunculkan tongkat saja. Dari tadi Luna menunggu efek skill Aria untuk meng-counter serangan Aria.


“Skill itu hanya memanggil tongkat milik Mage. Tanpa tongkat itu, Mage tidak bisa menggunakan skill lainnya.” Fox memberi tahu Luna.


Fox kemudian sedikit menjelaskan kepada Luna apa sebenarnya skill itu. Ternyata tongkat milik Mage adalah syarat mutlak untuk mengeluarkan skill lainnya, jadi singkatnya tanpa tongkat itu Mage tidak bisa berduel. Di situ Luna mulai sedikit meremehkan skill yang baru Aria aktifkan itu.


“Loh tapi bukankah itu rugi satu skill? Lalu apa bedanya dia dengan monster Mark 1 kalau begitu?” Tanya Luna ke Fox.


“Tapi jangan remehkan dia, Mage bisa saja mengalahkan aku dengan hanya menggunakan tongkatnya saja!” Fox mengingatkan.


Tidak terima mendengar jika skill yang mengeluarkan tongkat Mage itu dipandang sebelah mata oleh Luna, Aria pun segera membalas perkataan Luna karena dia tidak boleh kalah hari ini.


“Fox benar, meskipun aku kehilangan 1 skill milikku tetapi di sini aku tidak akan menyerah. Aku harus menang!” Ucap Aria dengan serius.


Tangan Aria menempel pada skill decknya seperti apa yang dia pelajari di duel duel sebelumnya. Aria menunggu serangan dari Luna untuk bisa segera meng-counter serangan itu.


“Aku tidak tahu skill miliknya, kita aktifkan apa dulu ini?” Tanya Luna pada Fox.


Luna mulai berdiskusi dengan Fox apa yang harus dia lakukan untuk merespon skill milik Aria. Mengingat skill yang baru saja Aria aktifkan itu entah jenis apa tapi intinya baru kali ini ada skill yang seperti itu. Luna cukup kebingungan untuk memulai serangannya.


“Karena dia menggunakan skill itu, kalau begitu kita aktifkan Accelerate saja untuk sekarang.” Saran Fox.


Luna tidak berpikir dua kali lagi, dia langsung menarik skill Accelerate dari skill decknya.


"Wahai petir, berikan aku kecepatan." Fox mengeluarkan kekuatannya.


Luna menerima saran dari Fox, giliran pertama mereka tidak saling serang. Fox mengeluarkan aura yang menandakan kecepatan geraknya naik.


Sementara itu dari sudut pengamat. Terjadi pembahasan serius tentang simulasi terakhir ini.


“Mereka tidak saling serang rupanya!” Ucap Ryan.


“Ya, Luna memilih berhati-hati karena skill serangan Aria belum dilancarkan. Aku sedikit ragu dengan keputusan Luna bermain aman. Bagiku kecepatan gerak adalah segalanya dan dia malah mengaktifkan skill itu di awal tanpa dengan skill kombinasi. Berarti Luna telah membuang satu kesempatan memberikan damage besar.” Pendapat Andreas.


Andreas sedikit merasa pesimis dengan cara berduel Luna. Sebagai pemilik monster yang memiliki kecepatan yang sangat berbahaya, Andreas tahu betul jika Luna telah melakukan kesalahan. Padahal skill Accelerate milik Luna seharusnya bisa digunakan di waktu yang sangat benar-benar menentukan.


“Skill aktif: Magic attack.” Aria mengaktifkan skill.


"Keluarlah wahai kegelapan di dalam tongkatku." Mage mengeluarkan kekuatannya.


Tongkat yang dipegang Mage mengeluarkan laser kegelapan untuk menyerang Fox. Ternyata benar tongkat milik Mage adalah inti dari kekuatannya. Luna langsung merasa bisa memenangkan duel ini karena pihak lawan telah merugi satu skill.


“Skill aktif: Lightning slash.” Luna membalas.


"Terimalah amarah langit ini, tebasan petir." Fox mengeluarkan kekuatannya.


Tebasan petir diluncurkan oleh Fox. Skill dari Luna membelah laser milik Mage, serangan Luna meluncur langsung ke Mage. Namun Mage memberikan kejutan.


Blar.. blar.. blar.. (Suara ledakan)


Mage menggunakan tongkatnya untuk menangkis serangan Luna. Semuanya langsung terkejut melihatnya. Karena di sisi Aria, dia tidak mengaktifkan skill apapun.


“Ba-bagaimana bisa? Kamu tidak mengaktifkan skill apapun tapi bisa menangkis seranganku?” Luna tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


“Hebat sekali, kenapa bisa?” Astrid kagum.


Baru kali ini dan baru duel ini terjadi. Dengan santai Mage mengayunkan tongkat miliknya dan bisa meng-counter skill milik Fox tanpa harus menggunakan skill bertahan. Ada apa sebenarnya? Apa yang telah terjadi barusan?


“Biar aku yang jelaskan. Tongkat ini adalah skill permanen selama aku berduel, selain itu tongkat ini bisa menangkis skill lawan jika aku tepat menggunakannya. Skill pasif itu juga ada cooldownnya sendiri jadi aku tidak bisa dengan sering menggunakannya.” Jelas Mage.


Mage langsung menjelaskan kepada semuanya apa sebenarnya tongkatnya itu. Setelah mengetahui fakta dari tongkat Mage, ternyata skill itu bukanlah kerugian seperti yang dipikirkan oleh Luna. Justru itu kebalikannya, skill tongkat milik Mage adalah skill yang paling unik dari semua monster yang ada di sini.


“Jadi selain aku tidak dapat menggunakan skill lain tanpa tongkat itu, tongkat itu juga berfungsi sebagai pertahanan.” Tambah Aria.


Aria juga langsung sedikit percaya diri menjelaskan kepada semuanya karena memang skill miliknya itu bukanlah skill yang bisa dipandang sebelah mata.


“Jadi itu kenapa tadi tidak terjadi apa-apa setelah Aria memanggil tongkat itu.” Aku mulai paham.


Di sini aku juga cukup memahami dengan skill milik Aria itu. Pantas saja jika tidak ada efek tertentu dari tongkat itu karena memang tongkat itu memiliki skill pasif yang sangat membantu dalam duel.


“Hebatnya tongkat itu bisa menjadi pertahanan darurat ketika diserang. Tongkat itu benar-benar menjadi inti duel dari Mage.” Sahut Andreas.


Kembali ke medan pertempuran, di sini Aria yang cukup percaya diri akan kekuatannya menarik sebuah kartu skill yang akan diaktifkan untuk membalas serangan Luna.


“Bersiaplah Luna. Skill aktif: Magic orb.” Aria mengaktifkan skill.