
Luna kembali duduk di tempat duduknya dan meletakkan tasnya di atas meja. Tampak Luna menghela nafasnya, Luna kemudian mengeluarkan smartphone miliknya, dia terlihat menulis sesuatu.
"Semuanya, Tio telah berangkat sekolah! Keadaannya semakin membaik. Tetapi diam saja, jangan bilang-bilang jika aku memberi tahu!" Tulis Luna di grup chat OSIS.
Setelah itu, Luna meletakkan smartphonenya di meja. Dia hanya ingin membagikan kabar pagi ini ke semua anggota OSIS. Luna pun melanjutkan perbincangan dengan Tio.
Ketika aku sedang asyik mengobrol dengan Luna, tidak disangka ternyata seluruh anggota OSIS datang ke kelas. Itu membuatku terkejut, mereka satu-persatu muncul dari balik pintu kelasku.
"Tio!" Teriak Astrid.
"Akhirnya kamu berangkat juga!" Ucap Kevin.
“Yo Tio, syukurlah kamu sudah sembuh!” Sapa Andreas dari belakang.
“Anu.. Ini belum sembuh sepenuhnya.” Balasku
“Tetapi maafkan kami, seluruh sekolah telah mengetahui tentang apa yang kamu alami.” Lanjut Andreas memberi tahu.
“Jadi begitu rupanya, pantas saja semuanya menghindariku. Lalu kenapa kalian tahu aku sudah berangkat?” Tanyaku kepada Andreas.
“Ini Luna memberi tahu kami semua.” Sahut Ryan.
Aku langsung melihat ke arah Luna. Anak satu ini memang menyebalkan ternyata. Aku berangkat saja harus diberitahukan kepada semuanya.
“Sshhh... Aku sudah bilang kalian untuk diam bukan?” Bisik Luna.
“Luna...!!” Tatapku tajam.
“Hehe.. Maaf, maaf. Aku hanya ingin memberi kabar baik pada mereka. Jangan marah ya!” Balas Luna sambil menutup satu matanya.
Aku sudah tidak terkejut lagi dengan kelakuan Luna, aku hanya bisa menghela nafas. Lagipula sudah tidak ada yang harus aku tutup-tutupi lagi, seluruh sekolah telah mengetahui tentangku dan juga kasus yang kemarin telah terjadi.
“Sudah, aku tidak marah.” Jawabku tenang.
“Baiklah, kita lanjut nanti siang di ruang OSIS.” Ucap Andreas.
Ada agenda apa hari ini? Aku sampai tidak tahu kegiatan OSIS karena sudah berhari-hari tidak masuk sekolah.
“Ehh, ada apa?” Tanyaku penasaran.
“Kita akan membahas simulasinya. Pastikan kamu datang.” Jawab Andreas.
Ah simulasi ternyata! Aku baru ingat dengan kata-kata Luna saat di rumah sakit jika simulasi akan dilakukan secepatnya saat aku masuk sekolah. Aku senang sekali hari ini!
“Baik!” Jawabku dengan semangat.
"Kalau begitu kami kembali ke kelas terlebih dahulu, sudah mau bel masuk nih." Sahut Ryan
"Terima kasih kalian semua!" Balasku.
"Dadah!" Astrid melambaikan tangannya.
"Sampai nanti, Tio." Ucap Kevin.
"Ayo kalian semua, nanti kita telat kembali ke kelas." Tegur Andreas
Kemudian semuanya bubar kembali ke kelas masing-masing. Namun Aria masih berdiri diam di dekat Luna. Dia diam saja sedari tadi dan tidak bicara tentang apapun. Aku memutuskan untuk bertanya kepada anak satu ini.
"Kamu kenapa Aria?" Tanyaku.
"Tidak, aku hanya ingin bilang syukurlah kamu sudah sembuh. Aku terlalu malu mengatakannya ketika ramai-ramai seperti tadi." Jawab Aria.
"Dasar kamu, Aria." Sahut Luna.
"Oh jadi begitu, terima kasih ya!" Balasku.
"Baiklah aku kembali ke kelas dulu. Sampai nanti, dadah!" Ucap Aria malu-malu.
Aria berlari pergi sambil melambaikan tangannya, dia juga menutup wajahnya ketika keluar dari kelasku. Ada apa dengan anak itu? Setelah itu, bel pelajaran pertama pun berbunyi. Guru yang mengajar kemudian memasuki kelas.
“Oh kamu sudah masuk ternyata. Selamat bersekolah kembali Tio.” Ucap guru itu.
Aku hanya bisa mengangguk untuk membalasnya. Aku masih tidak berani berkata-kata di kelas ini. Semuanya menatapku dengan tatapan tidak menyenangkan seperti biasanya. Setelah itu, guru yang mengajar memulai pelajaran.
Aku sangat senang akhirnya aku bisa mengikuti pelajaran lagi seperti biasa. Yang lebih membuatku senang adalah aku akan segera melihat simulasi keenam orang itu. Baru monster milik Luna yang aku lihat. Aku penasaran dengan monster milik yang lainnya.
Waktu istirahat siang datang, Dengan semangat, Luna mendekatiku. Luna langsung mengajakku ke ruang OSIS.
“Ayo kita ke ruang OSIS!” Ajak Luna.
“Tunggu sebentar.” Balasku.
Aku merapikan buku di mejaku dan memasukkan kedalam tas terlebih dahulu. Kemudian tanganku ditarik Luna dan aku diajak Luna pergi ke ruang OSIS. Sesampainya di ruang OSIS, hanya ada Ryan di sini. Luna pun bertanya kepada Ryan.
“Loh yang lain ke mana?” Tanya Luna.
Ryan yang sedang bersantai menoleh ke arah kami berdua. Dia kemudian memberi tahu jika yang lain sedang pergi sebentar.
“Mereka sedang ke kantin, sebentar lagi juga kembali.” Jawab Ryan.
“Lah kamu kok malah di sini?” Lanjut Luna.
“Aku sedang malas berjalan, jadi aku nitip pada Andreas tadi.” Jawab Ryan sambil bermalas-malasan di meja.
Tiba-tiba perutku berbunyi karena keroncongan. Aku ingat jika pagi ini aku tidak makan banyak karena nafsu makanku belum pulih. Aku terlalu lelah berjalan jika harus ke kantin, punggungku sudah terasa pegal-pegal.
“Aku juga lapar, harusnya ke kantin dulu tadi. Aku sudah tidak kuat jika harus ke kantin.” Balasku sambil duduk di kursi.
Luna tidak tega dengan Tio, Bagaimana juga dia masih sakit dan tenaganya belum pulih sepenuhnya. Mendengar Tio yang sedang lapar, Luna langsung berinisiatif untuk pergi ke kantin segera.
“Oke, kamu tunggu sini. Aku akan ke kantin dan segera kembali. Aku juga akan membawakanmu sesuatu nanti.” Luna bergegas ke kantin.
“Eh, ini uangnya!” Teriakku.
“Nanti saja!” Teriak Luna sambil berlari.
Aku melihat Luna pergi dengan cepat tanpa membawa uang dariku. Aku pun akhirnya melanjutkan mengobrol dengan Ryan. Sekitar 10 menitan, semuanya kembali dari kantin. Luna dan Aria mengeluarkan sesuatu dan datang menghampiriku.
“Ini untukmu!!” Luna dan Aria serentak memberiku sebuah roti.
Luna terkejut dengan Aria yang tiba-tiba mengeluarkan sebuah roti. Padahal Aria tidak dititipi oleh Tio tadi.
“Loh kamu juga beli untuk Tio?” Tanya Luna pada Aria.
“Tadi kan kamu bilang Tio lapar, jadi aku beli 1 untuknya.” Jawab Aria.
“Kan aku sudah beli 2!” Lanjut Luna.
“Ya kan aku tidak tahu, biasanya kamu juga makan 2 roti kan?” Balas Aria.
“Eh, iya juga ya. Lalu bagaimana ini?” Luna meminta pendapat.
Mereka berdua malah berdebat dengan roti. Kebetulan aku sangat lapar sekarang, ada baiknya aku menerima roti dari mereka berdua agar tidak ada perdebatan antara mereka.
“Sudah, aku terima semuanya. Terima kasih untuk kalian.” Sahutku.
Aku mengambil kedua roti itu. Tidak lupa aku juga mengganti roti-roti ini, bagaimanapun mereka membelinya dengan uang.
“Ini untuk kalian!” Aku memberi mereka berdua uang.
“Eh tidak usah!” Balas Luna.
“Iya, tidak usah uangnya.” Aria setuju dengan Luna.
“Tidak, aku ingin kalian menerimanya. Aku tidak ingin menjadi laki-laki yang memanfaatkan kebaikan dari gadis. Aku bukan tipe orang seperti itu. Jika kalian tidak menerimanya, lebih baik aku kembalikan roti ini lalu pergi ke kantin untuk membelinya sendiri.” Tegasku.
Luna dan Aria saling memandang. Kemudahan mereka mengangguk satu sama lain. Mereka sepakat untuk menerima uangnya. Aku tidak ingin memanfaatkan kebaikan orang lain, jadi aku harus mengganti uang mereka.
“Baiklah kalau begitu.” Ucap Luna.
“Apa boleh buat! Kami terima uangnya.” Lanjut Aria.
“Nah kalau begitu kan enak, aku terima rotinya.” balasku.