
“Baik semuanya kita akan lakukan pemanasan terlebih dahulu.” Instruksi guru olahraga.
Pak Indra memimpin barisan di lapangan untuk melakukan pemanasan. Terlihat beliau memulai pemanasan lalu diikuti oleh para siswa sekelasku.
Ya, hari ini adalah hari Sabtu, jadwal bagi kelasku pelajaran olahraga. Kondisiku saat ini masih belum pulih. Aku hanya bisa melihat mereka semua berolahraga dari bawah pohon yang biasanya aku naiki.
Aku masih belum berani untuk naik ke atas pohon, jadi untuk kesembuhanku lebih baik aku duduk di bawah pohon sambil melihat yang lain berolahraga. Toh maupun aku saat sehat atau sedang sakit itu sama saja, aku tidak akan mengikuti pelajaran olahraga. Tapi tunggu sebentar, lalu bagaimana aku mengganti pelajaran hari ini? Aku kan sedang sakit.
"Haduh, tugasku dalam mengganti pelajaran olahraga akan semakin banyak nantinya!" Aku sedikit khawatir.
Aku juga teringat dengan pelajaran olahraga yang tidak aku ikuti sewaktu aku masih di rumah sakit. Entah materi apa yang sudah aku lewatkan kemarin aku benar-benar tidak tahu karena aku tidak belajar pada hari itu, ya karena aku masih pingsan sih.
Sedangkan di lapangan, pak Indra berjalan mendekati Luna yang sedang pemanasan. Pak Indra kemudian bertanya sesuatu kepada Luna apakah Luna membawa yang pak Indra minta.
“Luna, kamu bawa yang bapak pesan kemarin?” Tanya pak Indra.
Luna berhenti melakukan pemanasan lalu melihat ke arah pak Indra yang sedang bertanya kepadanya. Luna tidak melupakan yang pak Indra minta kemarin.
“Bawa pak, tapi tunggu dulu! Kenapa bapak menyuruh saya membawa bekal dua porsi? Satunya untuk siapa?” Luna berbalik bertanya.
“Oh ya sudah kalau kamu bawa, sana segera ambil!” Suruh pak Indra.
Pertanyaan Luna tidak dijawab oleh pak Indra. Karena masih penasaran, Luna memaksa agar pak Indra menjawab pertanyaannya terlebih dahulu.
“Jawab dulu pak sebelum menyuruhku mengambilnya, untuk apa saya membawa dua bekal hari ini?” Luna meminta penjelasan.
Pak Indra kemudian melihat ke sekeliling, beliau tidak ingin siswa lain mengetahui apa yang sedang beliau rencanakan. Pak Indra kemudian memberi tahu Luna dengan pelan agar tidak diketahui oleh siswa lain.
“Bapak ingin kamu menemani Tio hari ini, jadi bapak suruh kamu bawa dua bekal hari ini.” Jawab pak Indra dengan pelan.
“Oh jadi begitu, lalu bagaimana dengan pelajaran hari ini pak? Saya tidak mau dianggap membolos.” Tanya Luna.
“Nanti kalian akan bapak kasih soal, kalian hanya cukup mengerjakan soal itu hari ini. Adil bukan?” Jawab guru olahraga.
Luna memikirkannya kembali. Kalau dipikir-pikir, Luna sudah memenuhi apa yang pak Indra minta dengan membawa dua bekal hari ini. Lalu timbal balik dari pak Indra adalah menemani Tio hari ini. Luna melihat ke arah pohon yang biasanya Tio berada, Tio tidak terlihat sedang di atas pohon. Hanya terlihat kakinya yang terlihat karena Tio sendiri tertutup semak yang ada di sekitar pohon itu. Luna merasa kasihan jika Tio sendirian.
“Hmm.. Oke deh, saya setuju pak!” Luna setuju.
“Kalau begitu kamu sekarang ambil bekalmu dan bapak akan mengambil soal untuk kalian serta pulpen agar kalian tidak perlu lagi membawa pulpen sendiri. Kita bertemu di dekat gudang saja nanti. Bapak tidak ingin siswa lain berpikir kalau kalian sedang pacaran.” Lanjut pak Indra.
“Pa-pa-pacaran.. Haaahh.. Bapak jangan bercanda seperti itu.” Luna canggung.
“Haha.. Maaf, maaf. Ya sudah, bapak pergi dulu.” Balas pak Indra sambil berjalan menjauh.
“Pacaran.. Itu tidak mungkin bukan? Kami kan cuma berteman.” Ucap Luna.
Kemudian Luna kembali ke kelas untuk mengambil bekal yang dia bawa. Setelah itu dia berjalan menuju ke gudang olahraga dan berdiri di situ. Tak lama kemudian pak guru datang sambil membawa kertas soal.
“Ini kalian kerjakan dan kumpulkan di akhir jam pelajaran nanti.” Pak Indra memberi kertas soal dan pulpen.
Luna menerima kertas soal beserta pulpen dari pak guru dengan tangan kanannya. Tangan kirinya menenteng bekal yang Luna sudah bawa tadi. Luna tidak sempat membaca soal-soal yang diberikan karena repot.
“Baik pak! Saya dan Tio akan segera mengerjakannya. Kalau begitu saya ke sana dulu.” Pamit Luna.
“Tolong ya Luna untuk hari ini. Bapak tidak bisa menemaninya.” Ucap pak Indra.
“Tidak masalah pak, saya permisi.” Luna menundukkan kepalanya.
Setelah itu Luna berlari menuju pohon yang biasanya Tio berada. Guru olahraga pun kembali menuju kumpulan para siswa yang telah selesai melakukan pemanasan. Salah satu siswa pun bertanya kepada guru olahraga
“Pak bukankah itu curang, bukankah bapak terlalu mengistimewakan Tio?” Tanya salah satu siswa.
Sesampainya di lapangan, ternyata para siswa sudah mengetahuinya. Mendengar pertanyaan itu, pak Indra sedikit merasa bersalah. Meski begitu, beliau tidak menginginkan semangat seorang siswa dalam belajar meredup. Seorang guru harus mengajarkan apa yang memang harus dia ajarkan dengan cara apapun ke semua siswa tanpa terkecuali.
“Bapak sama sekali tidak membedakan siswa satu dengan yang lainnya. Semua siswa di sekolah ini bapak anggap setara.” Jawab pak Indra.
“Tapi buktinya bahkan Luna saja bapak suruh menemani dia.” Lanjut siswa itu.
“Sekarang bapak tanya, apakah kalian semua disini pernah merasakan di-bully?” Tanya pak Indra.
Seluruh siswa saling menatap satu sama lain lalu menggelengkan kepalanya.
“Lalu apakah kalian juga pernah disakiti oleh orang yang tidak suka pada kalian hingga masuk rumah sakit?” Tanya pak Indra lagi.
Semuanya menggeleng kepalanya lagi, mereka semua kemudian menjadi diam saja.
“Jika kalian tahu saja, Tio selama ini selalu mengganti pelajaran olahraga di hari Minggu bersama bapak. Bapak hanya menginginkan anak itu tetap bersekolah meskipun dia tidak memiliki teman. Bapak selalu bersedia datang ke sekolah di hari Minggu karena semangatnya bersekolah masih tinggi. Lagipula dia baru saja keluar dari rumah sakit, bapak sengaja meminta Luna untuk menemaninya ya karena memang hanya Luna yang dekat dengan Tio, bapak ingin Tio segera sembuh. Khusus untuk hari ini, mereka berdua sudah bapak beri soal untuk dikerjakan dan juga dikumpulkan langsung di siang nanti, bapak sudah membuatnya adil.” Jelas pak Indra.
Para siswa menjadi merenung ketika dinasihati pak guru. Pak guru seperti sedang marah kepada mereka semua, para siswa itu kemudian meminta maaf kepada pak guru.
“Maafkan saya pak, saya sungguh tidak tahu.” Ucap siswa tadi
“Sudah, sudah. Ayo kita segera mulai pelajaran hari ini!” Ajak pak Indra.
Para siswa pun kemudian melakukan kegiatan olahraga mereka. Sedangkan untuk Luna hari ini mendapatkan tugas yang sedikit menyenangkan baginya.