
“Nak bangun!” Ibu membangunkanku.
“Ahh, masih ngantuk bu.” Balasku yang masih tidur.
“Kita sudah hampir sampai nak!” Lanjut ibu.
“HAH..!” Aku langsung membuka mata lebar-lebar.
Tanpa sadar, aku tertidur pulas. Aku melihat ke luar jendela ternyata memang hampir sampai di desa kakek. Pemandangan ini sangat familiar bagiku. Karena jarak ke stasiun diperkirakan sekitar 6 menit lagi, ibu dan aku berinisiatif untuk mengeluarkan barang-barang dari bagasi atas supaya nanti tidak terburu-buru dan tidak ada barang yang tertinggal.
"Sudah semua bu?" Aku memastikan.
"Sudah nak, di atas tidak ada barang bawaan kita lagi." Jawab ibu.
Semua barang bawaan kami letakkan di atas tempat duduk lalu tidak ada lagi yang tersisa di bagasi. Aku juga mengecek barang bawaanku sendiri, smartphone dan juga koper ada semua. Kereta pun sampai di sebuah stasiun di kota kecil. Hanya di sini pusat semuanya karena hampir sekeliling kota kecil ini adalah pedesaan.
Kereta berhenti, karena semua barang bawaan kami telah siap dibawa maka kami keluar duluan daripada penumpang lainnya yang turun di kota kecil ini. Aku keluar kereta dan menghirup udara segar di sini, udara yang hampir jarang dirasakan di kota tempat kami tinggal. Walaupun rumah kami di dekat persawahan, tetapi tetap saja udara di sini lebih segar dan sejuk.
“Aahh, akhirnya sampai juga.” Ucapku sambil meregangkan badan.
“Jangan bersantai dulu. Ayo segera cari bus, kalau kita ketinggalan bisa-bisa kita menginap di sini seperti dahulu.” Ibu mengingatkan.
Aku terbawa suasana ketika aku sadar telah sampai. Karena di sini tidak ada taksi dan hanya ada sebuah terminal bus, kami pun tidak bisa bersantai. Aku melihat jam yang ada di stasiun, sekarang pukul 4 sore. Lalu aku berjalan bersama ibu menuju papan informasi bus yang ada di stasiun. Aku mencari bus yang menuju ke desa kakekku ternyata hanya tinggal satu nanti jam 4:25. Ibu pun segera mengajak aku ke terminal untuk menaiki bus itu.
"Ayo nak cepat!" Ajak ibu.
Seperti yang ibu bilang tadi, kami memiliki pengalaman buruk dulu saat kami tiba di stasiun. Karena aku harus ke toilet namun saat itu antri, kami tertinggal bus terakhir saat itu dan harus menginap di terminal selama semalaman. Kami hanya memiliki 1 keluarga saudara di sini yaitu keluarga paman adiknya ibu. Di sini aku juga hanya memiliki 1 saudara laki-laki, dia adalah anak paman. Saudaraku ini sangat baik padaku, maka dari itu setiap aku liburan pasti aku meminta untuk pulang ke rumah kakek.
Namun kekurangan di sini hanyalah lambatnya koneksi internet. Saudara di sini juga kebanyakan tidak memiliki smartphone, hanya anak paman yang memiliki smartphone. Meskipun begitu, walaupun kami mengabari jika kami pulang mereka tidak bisa menjemput kami karena tidak memiliki kendaraan. Maka dari itu waktu itu kami terpaksa menginap karena sudah tidak ada kendaraan lain, lalu sejak itu aku tidak ingin mengulanginya.
"Masih sempat!" Ucapku terengah-engah.
Kami tiba di terminal dan aku masih melihat bus tujuan desa kakek masih terparkir. Ibu segera membeli tiket bus di loket jurusan yang kami tuju. Setelah kami mendapatkan tiket, kami pun naik ke bus.
“Bus segera berangkat, bus segera berangkat.” Teriak supir bus
Aku mengambil dua tas besar berisi baju dan barang bawaanku yang lain lalu menuju ke supir bus yang berteriak tadi. Aku kemudian memintanya memasukkan barang bawaan kami ke dalam bagasi.
“Anu.. Maaf pak.. Minta tolong untuk dimasukkan ke bagasi.” Ucapku pelan.
“Oh sini nak!” Balas bapak supir.
Aku menyodorkan barang bawaanku ke pak supir itu. Bapak itu dengan sigap dan perlahan memasukkan tas kami ke bagasi bus. Aku dan ibu membawa sisanya ke dalam bus. Setelah itu kami naik dan bus ini segera berangkat.
Karena ini bus bukan kereta, kami bebas memilih tempat duduk yang kami suka selagi kami memiliki tiket. Jika menaiki bus, aku paling senang duduk di paling ujung belakang sebelah kanan karena tempat itu benar-benar menenangkan. Selain tidak ada lalu lalang orang lewat, kecuali turun dari bus, alasanku memilih tempat itu adalah aku tidak terganggu lagi jika ada orang yang ada di belakangku. Kondisi bus cukup sepi dan kebetulan tempat duduk yang aku incar kosong. Aku segera mengajak ibu duduk di sana.
"Ayo duduk di sana bu, mumpung kosong!" Aku menunjuk ke arah tempat duduk yang aku incar.
"Iya, iya. Ayo duduk di sana!" Balas ibu.
Aku segera duduk dan tempat duduk ternyaman telah aku amankan. Tak lama kemudian bus pun berangkat dan mulai meninggalkan terminal. Aku melihat pemandangan sore desa ini. Ini langkah terakhir untuk sampai di rumah kakek. Perlahan tapi pasti, kami akan segera sampai di sana.
Aku melihat ke luar jendela. Matahari terbenam di sini tampak lebih indah karena tidak tertutup oleh gedung-gedung. Aku sangat menikmati perjalanan hari ini sampai aku lupa sebenarnya aku sedang menghindari masalah. Tapi itulah sebenarnya tujuanku kemari, sejenak melupakan sesuatu yang aku khawatirkan.
"Kakek, kami datang." Ucapku pelan.
Aku masih menikmati perjalanan sore sambil melihat persawahan yang sangat luas membentang di sepanjang jalan. Aku juga merasakan sedikit rusaknya jalan yang dilewati bus ini. Semua itu wajar karena ini di desa, namun entah kenapa rasanya ketika aku di sini begitu menyenangkan.
Aku sudah cukup melihat-lihat pemandangan. Aku sekarang teringat dengan Hayase, aku mengeluarkan kartunya dari saku lalu kemudian melihatnya.
"Hayase, kita pergi jauh!" Ucapku.
Aku sedikit berusaha mengajak Hayase berbicara. Meskipun sangat tidak mungkin dia akan membalas tapi setidaknya aku tidak melupakan keberadaannya hanya karena dia monster Mark 1. Jujur sekarang aku sedikit bangga kepadanya karena berkat dia aku bisa bertemu dengan banyak hal, entah itu baik ataupun buruk seperti sekarang.
Tanpa adanya Hayase, aku mungkin hanya akan menjadi orang biasa seperti Airi. Namun berbeda dengan Airi, aku tidak menikmati hidup sebahagia dirinya. Maka dari itu, karena ada Hayase aku bisa mengenal Battlefield, teman-temanku dan juga aku mengenal rasa sakit yang sebenarnya seperti kemarin. Aku hanya berharap suatu saat nanti Hayase akan berubah menjadi hebat, itu saja keinginanku.
Hari semakin sore, setelah satu jam perjalanan akhirnya kami sampai di halte bus di dekat desa kakekku. Aku dan ibu turun dari bus lalu tidak lupa untuk mengambil tas yang ada di bagasi. Semua barang lengkap dan tidak ada yang tertinggal, bus kembali berjalan untuk menuju tujuan berikutnya. Aku dan ibu hanya tinggal berjalan beberapa ratus meter untuk sampai di rumah kakek.