HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 7: Toko Game



Setelah beberapa saat berlari, aku pun berhenti dan menengok ke belakang. Sebenarnya, dalam hati aku merasa sedikit kejam pada Luna karena mengatakan hal seperti tadi, tapi semua itu untuk kebaikanku sendiri. Aku tidak ingin terjebak dalam hubungan sosial yang terlalu rumit, aku sudah cukup dengan itu semua. Untuk saat ini, sendirian adalah keputusan yang tepat untukku.


"Sudah hampir malam, aku harus cepat." Ucapku setelah melihat jam di smartphone.


Aku melanjutkan perjalanan ke toko game dengan berjalan, aku capek lari-lari tidak jelas seperti tadi. Aku segera bergegas karena hari sudah sangat sore, jam menunjukkan pukul 5.15 petang. Sebentar lagi gelap dan pasti ibuku akan sangat khawatir jika hari sudah malam namun aku belum juga pulang.


"Akhirnya sampai juga." Aku melihat ke arah toko game.


Aku tiba juga di toko game. Aku segera masuk lalu berkeliling mencari game yang sedang kucari. Namun anehnya, sudah 30 menit aku mencari masih saja tidak ketemu. Di mana gamenya? Aku sudah kesal mencarinya. Hari pun semakin malam, lebih baik aku menanyakan ke pemilik toko saja untuk yang lebih pasti. Aku berjalan menuju ke tempat kasir di mana paman pemilik toko itu berada.


“Paman, game yang baru rilis kemarin di mana ya? Aku sudah berkeliling mencari tapi tidak ketemu." Tanyaku.


Paman yang sedang memilah-milah kaset game itu melihat ke arahku. Beliau mengenalku karena aku adalah pelanggan tetap di toko ini. Ya mau bagaimana, toko yang paling dekat cuma ini saja. Paman itu memberitahuku jika kasetnya telah habis terjual.


“Oh ternyata kamu nak, pelanggan setiaku. Maaf game itu telah habis terjual sejak hari pertama, tapi kayaknya satu minggu lagi akan tersedia. Cobalah datang besok lagi." Balas pemilik toko.


Kesialan apa lagi yang menimpaku hari ini? Aku merasa seperti sedang dikutuk, kesialan datang bertubi-tubi hari ini. Padahal aku sudah capek-capek datang sampai ke sini.


“Tidak mungkin...” Balasku kecewa dan terduduk di lantai.


“Kenapa nak..?” Tanya pemilik toko.


Aku menjelaskan kepada Paman pemilik toko tentang kesialanku hari ini. Aku sudah tidak tahan lagi.


“Aku sengaja datang hari ini karena aku pikir dengan jeda satu atau dua hari sudah tidak antri. Namun kenyataannya malah aku kehabisan. Padahal aku sudah berjalan sangat jauh dan juga harus meladeni gadis aneh tadi. Juga aku berlari-lari untuk sampai ke sini dan itu semua sia-sia. Benar-benar hari ini aku sangat sial." Aku mengeluh.


Paman baru ingat, selama ini ternyata dia belum tahu di mana aku tinggal. Paman kemudian menanyakan itu padaku.


“Oh iya aku lupa bertanya padamu, memang rumahmu di mana?” Tanya paman pemilik toko.


“Oh rumahku berada di seberang SMA, arahnya berlawanan dari sini. Baiklah paman jika sudah habis lain kali aku ke sini lagi. Permisi." Jawabku.


Aku berdiri dan membersihkan celanaku yang sedikit kotor. Aku pamit lalu membuka pintu toko untuk segera pulang. Namun pemilik toko memanggilku untuk kembali, dia ingin menunjukkan sesuatu padaku.


“Tunggu sebentar jangan pulang dulu, tunggu di sini!" Kata pemilik toko.


Aku langsung menoleh ke paman. Kenapa dia tiba-tiba memanggilku?


“Ehh.. Ada apa paman?” Aku terkejut.


Pemilik toko tidak membalas lalu segera masuk ke ruangannya. Terdengar bunyi kardus yang dibuka satu-persatu dan barang-barang yang dikeluarkan berserakan. Aku ingin tau sebenarnya paman itu sedang apa di dalam?


"Berisik sekali, seperti mencari sesuatu yang penting." Batinku


“Nah ketemu, ini untukmu!" Pemilik toko menyodorkan sebuah kaset game.


Ini kan, ini kan! Kaset ini yang aku cari. Katanya sudah habis tapi ini masih ada satu. Aku sungguh beruntung kali ini, serasa kutukannya menghilang.


“Loh ini masih ada paman, katanya tadi sudah habis. Berapa harganya?" Tanyaku dengan raut senang.


Aku kemudian membuka dompetku untuk mengambil uang yang akan aku gunakan membayar kaset ini. Namun paman menyuruhku untuk mengambilnya.


“Sudah ambil saja, tidak usah membayar. Sebenarnya kaset itu adalah kaset demo untuk contoh permainannya kemarin. Karena itu barang gratisan dari supplier, jadi aku berikan saja padamu. Kualitas kaset itu juga lebih baik dari versi yang dijual. Karena itu untuk demo jadi kasetnya lebih kuat untuk jangka panjang." Jelas pemilik toko.


Heh..? Gratis? Kaset demo?. Kalau dilihat-lihat memang sedikit beda cover kotaknya dengan yang dijual setelah aku bandingkan di banner promosinya. Aku membuka kasetnya dan bagian belakang kaset ini berwarna hitam bukan berkilau seperti biasanya.


“Tapi paman....” Aku terhenti berkata.


Paman dengan cepat memotong pembicaraan. Dia ingin aku segera pulang.


“Sudah ambillah dan segera pulang. Kamu pasti sudah ditunggu orangtuamu karena selarut ini kau belum juga pulang dari sekolah. Anggap saja itu adalah ucapan terimakasihku karena kamu sering belanja di sini." Potong pemilik toko.


Ya memang aku masih memakai seragam sekolah sih, paman ada benarnya juga. Tapi tidak apa-apakah jika aku mengambil kaset ini secara gratis? Aku akan menanyakannya sekali lagi.


"Benarkah aku tidak perlu membayar paman? Lalu apakah game ini sama seperti game yang dijual?" Tanyaku memastikan.


"Iya, bawa saja. Game itu 100% sama dengan yang dijual, jadi kamu tidak perlu khawatir." Jawab paman.


Aku sangat senang mendengarnya. Akhirnya hari ini aku mendapatkan apa yang aku inginkan dan gratis pula. Seperti kejatuhan bulan saja aku malam ini.


“Terima kasih banyak paman, aku pasti akan datang lagi ke sini.” Aku berterima kasih.


"Sama-sama, aku juga berterimakasih karena kamu sering jajan di sini." Balas paman.


"Kalau begitu aku pamit pulang dulu paman." Pamitku


Pemilik toko membalas dengan melambaikan tangannya. Aku keluar dari toko sambil senyum-senyum sendiri mengelus-elus kotak kaset game yang baru saja aku dapatkan.


Sesampainya di luar, aku mengeluarkan smartphoneku. Aku pun segera bergegas pulang karena sekarang sudah pukul 7 malam, ibu pasti khawatir. Aku memasukkan kaset game ini ke dalam tas. Setelah itu aku mulai berlari pulang.


Aku tidak boleh membuat ibu khawatir, karena hanya ibu saja orang tuaku yang tersisa. Tanpa ibu, entah akan jadi apa aku ini. Aku tidak memiliki kekuatan untuk melawan mereka yang tidak suka padaku dan hanya ibu yang bisa melindungiku selama ini dari pem-bully-an. Ibu yang telah memberiku rasa aman.


Entah harus bagaimana aku membalas kebaikannya itu, tapi suatu saat aku pasti akan membalas semua yang telah ibu berikan kepadaku. Karena aku sangat menyayangi ibuku, setidaknya aku akan menjadi yang seperti ibu mau untuk saat ini.