
“Ide apa itu?” Astrid bertanya keheranan.
Dengan semangat, Andreas mengatakan ide yang telah dia pikirkan.
“Kita akan lakukan simulasi!" Jawab Andreas.
“Simulasi?” Kevin belum mengerti.
“Kita akan melakukan duel dengan semua yang ada di sini, bagaimana?” Lanjut Andreas.
Ide Andreas cukup bagus. Simulasi sama saja dengan berduel. Hanya saja lawannya sudah ditentukan dan hanya bertujuan sebagai latihan. Ini tidaklah buruk.
“Menurutku itu hal yang cukup bagus. Ada baiknya kita melakukan duel antara anggota." Ryan sependapat.
“Tapi bagaimana kita melakukan simulasi itu sedangkan kita bertujuh?” Tanya Aria.
Aria mengajukan pertanyaan yang mengejutkanku. Baginya, aku telah dianggap menjadi anggota resmi. Bagaimana dia bisa menerimaku secepat itu? Namun maaf, kali ini aku tidak akan ikut.
“Anu.. Lebih baik aku tidak ikut. Kalian berenam saja." Aku menyela.
“Loh kenapa Tio?” Tanya Luna kepadaku.
Ini anak masih saja bertanya. Sebenarnya dia itu sadar atau tidak sih? Tidak mungkin aku mengikuti simulasi ini. Melawan Luna saja aku sudah tidak bisa apa-apa.
“Aku melawanmu saja sudah babak belur apalagi monster yang lain. Bisa jadi monsterku tidak bisa bertarung lagi nanti." Jawabku sedikit kesal.
“Eh iya, maaf, maaf. Benar juga katamu Tio, aku saja masih belum tahu kemampuan monster yang lain. Bisa saja Fox kalah di sini." Balas Luna.
Haduh, anak ini sudah tidak bisa diharapkan
Dia bahkan baru menyadarinya. Bagaimanapun, Luna tetaplah hebat. Buktinya dia dipilih oleh monster seperti Fox.
“Lalu apa yang akan kau lakukan Tio?” Tanya Ryan kepadaku.
“Lebih baik aku menonton saja. Mengamati duel juga sama saja belajar bukan?" Aku menjawab pertanyaan Ryan.
Ryan hanya tersenyum lalu menutup matanya. Dia terlihat sangat tenang, sungguh kepribadian yang luar biasa.
“Yang terpenting jangan berkecil hati Tio. Latih terus monstermu agar dia bisa menjadi kuat. Coba lihat skill deckmu sekali lagi. Lihat di bagian informasi monstermu." Balas Ryan.
Aku mengikuti saran Ryan. Aku melihat skill deckku dan menuju ke informasi tentang Hayase. Memangnya ada apa di situ?
"Sudah. Biasa saja." Ucapku sambil mengamati skill deck.
Ryan hanya menggeleng kepalanya. Dia kemudian berdiri dan datang menghampiriku.
"Bukan, Lihat bar EXP itu." Ryan menunjuk ke layar skill deck milikku.
Di bawah gambar Hayase ada sebuah garis kuning yang tertulis EXP. Aku baru melihatnya, bahkan aku tidak tahu itu apa?
*EXP: Poin Experience.
"Apa ini?" Tanyaku sambil melihat Ryan.
"Jika bar itu penuh maka monstermu akan mendapatkan kekuatan baru. Bar itu akan bertambah seiring dengan berapa banyaknya kamu menang duel. Bar itu hanya ada di monster level bawah, sedangkan di monster level atas tidak ada." Jawab Ryan menjelaskan.
Loh jadi benar jika monster level bawah bisa menjadi kuat. Akan tetapi aku lebih tertarik dengan penjelasan Ryan tentang bar EXP yang tidak ada di monster level atas.
"Tunggu, lalu bagaimana cara monster level atas mendapatkan kekuatan?" Tanyaku penasaran.
"Monster level atas mendapatkan kekuatan barunya dengan cara yang tidak biasa. Monster itu harus mencarinya seperti pecahan dewa itu dan juga pada momentum tertentu kekuatan baru bisa datang kapan saja ke monster level atas." Sahut Aria menjawab.
Kali ini penjelasan Aria terdengar merdu dan menenangkan. Jadi seperti itu, monster level atas lebih susah untuk mendapatkan kekuatan barunya di banding dengan monster level bawah. Sekarang aku mengerti.
"Jadi jangan pernah menyerah Tio." Ryan menyemangatiku.
“Iya.. Aku mengerti. Aku sudah tidak ada masalah soal monster. Aku percaya monsterku akan sekuat monster kalian suatu saat nanti!" Sahutku dengan semangat.
Kembali ke topik pembahasan. Mereka melanjutkan lagi rencana simulasi yang akan di lakukan.
“Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?” Tanya Kevin ke Andreas
“Elemen yang berlawanan?” Luna terlihat berpikir.
Andreas menjelaskan apa itu elemen yang berlawanan.
"Dari keenam elemen yang ada, elemen itu terbagi menjadi 3 yang saling berlawanan. Api berlawanan dengan air, Tanah berlawanan dengan angin dan terakhir cahaya berlawanan dengan kegelapan. Karena aku api, maka aku akan melawan air. Jadi aku akan melawan Astrid." Jelas Andreas.
“Oh begitu rupanya, jadi elemen yang saling berlawanan." Luna mulai paham.
“Lalu angin akan melawan tanah, Ryan akan melawan Kevin. Lalu cahaya akan melawan kegelapan, Luna akan berhadapan dengan Aria." Lanjut Andreas.
“Lalu bagaimana dengan tempatnya? Bukankah di Battlefield tempat duel bisa memberikan buff ke monster?” Tanya Luna.
Andreas dengan tersenyum membalas pertanyaan Luna. Andreas bahkan sudah menyiapkan tempat untuk duel simulasi mereka.
“Aku sudah menyiapkannya! Pakai skill deck kalian, kita akan masuk ke Battlefield sekarang." Andreas memakai skill decknya.
Semua bertanya-tanya, pada akhirnya kami semua memakai skill deck masing-masing.
"Siap semua? Kita akan ke Battlefield." Ucap Andreas.
Semua mengangguk kepada Andreas. Kami semua masuk ke Battlefield bersama-sama.
“Battlefield, In." Semuanya.
Setelah memasuki Battlefield, kami semua tiba di padang rumput yang pertama kali kami datang ke sini. Bagaimana bisa?
Andreas menjelaskan sedikit tentang padang rumput ini. Bahkan kami semua baru mengetahuinya dari Andreas.
“Ini adalah Battlefield netral. Tempat ini tidak memihak atribut manapun. Kita akan berduel disini secara adil." Jelas Andreas.
“Ini tempat kita pertama datang ke Battlefield." Astrid terkagum.
“Jadi ruang OSIS tadi adalah pintu menuju Battlefield netral? Persiapanmu sungguh matang, salut Andreas." Ryan sedikit memuji Andreas.
“Lalu kita akan mulai duel sekarang?” Tanya Luna.
“Tidak, kita hanya survei tempat. Kita harus kembali ke ruang OSIS sekarang juga." Balas Andreas.
“Loh kenapa? Katanya kita mau simulasi." Tanya Astrid.
Andreas kemudian maju beberapa langkah dari semua. Dia melihat ke sekeliling, Andreas berbalik badan kemudian mengingatkan tentang strategi.
“Kita tidak boleh memulai kegiatan yang memancing kedatangan musuh. Mungkin musuh saat ini sedang mengawasi kita. Kita akan menyusun rencana lebih lanjut." Jelas Andreas
“Benar juga kata Andreas, aku setuju." Balasku.
Ini pertama kalinya aku bisa setuju dengan Andreas. Karena tanpa rencana yang matang maka ini semua akan menjadi sia-sia. Aku menjadi penasaran, apa yang akan terjadi ke depannya nanti.
“Baiklah, ayo kembali." Ajak Ryan.
“Battlefield, Out." Semuanya.
Kami semua kembali menuju ruang OSIS. Kami harus menyusun kembali rencana kami dengan sangat matang.
“Baiklah ini rencanaku. Kita akan lakukan simulasi ini selama tiga minggu." Usul Andreas.
“Tiga minggu katamu?” Luna terkejut.
“Hei Luna, biasakan mendengarkan sampai akhir." balas Andreas
“Hehe. Maaf, maaf." Luna tertawa.
Andreas menjelaskan apa yang di maksudnya tiga minggu. Bukan selama tiga minggu, tetapi tiga hari di antara tiga minggu itu.
“Kita akan lakukan simulasi di hari kamis setelah kita pulang sekolah. Selama tiga minggu kita pilih hari kamis untuk melakukan 1 kali simulasi." Jelas Andreas.
“Alasannya?” Tanya Kevin.
“Kamis adalah hari sibuk bukan? Jika musuh kita sudah bekerja sangatlah tidak mungkin dia muncul pukul 3 sore di Battlefield. Dan jika musuh kita masih sekolah, bukankah seluruh sekolah di kota menerapkan hari kamis sore untuk kegiatan klub masing-masing. Aku sudah mengumpulkan data semua klub dan hampir semua siswa sekolah kita ikut kegiatan klub. Jadi untuk sekolah kita aman." Andreas menjelaskan alasannya.