
Luna dan Aria akan segera pulang setelah ibu Tio kembali ke ruangan Tio dirawat. Namun sebelum itu ada hal yang harus ditanyakan Luna yaitu penyebab Tio penuh luka dan sampai tidak sadarkan diri.
“Tapi sebelum itu, aku ingin menanyakan satu hal padamu, Tio.” Luna berbicara serius.
“Tanya apa lagi? Aku lelah jika berurusan denganmu.” Balasku
“Jahatnya, jadi selama ini begitu ya?” Luna menjadi kesal.
Aku takut saat melihat Luna marah. Aku tidak mau melanjutkan candaanku tadi, aku tidak mau Luna sampai benar-benar marah.
“Hehe, sedikit. Lalu apa yang ingin kamu tanyakan?” Aku mengalihkan topik pembicaraan.
“Sebenarnya apa yang terjadi hingga kamu tak sadarkan diri? Jawab dengan benar karena ini penting. Apa benar mereka menghajarmu? Kemarin aku dengar kami bilang mereka loh.” Tanya Luna serius.
Aria kemudian menjadi sangat antusias. Dia meletakkan smartphone miliknya di meja dan fokus mendengar.
Luna menatapku tajam, dia benar-benar ingin tahu kejadian sebenarnya. Karena aku kemarin kelepasan bilang mereka, ya mau bagaimana lagi. Aku harus bercerita kepada Luna yang sebenarnya.
“Hhaaahhh.. Iya benar mereka pelakunya.” Jawabku sambil menghela nafas.
“Lalu bagaimana mereka bisa lolos? Jika kamu dianiaya pasti ada orang yang melihat bukan? Jalan menuju rumahmu juga sedikit ramai.” Luna penasaran.
“Mereka tidak melakukannya di jalan saat aku pulang.” balasku sambil memejamkan mata.
Luna dan Aria langsung terkejut mendengarnya. Mereka berdua semakin penasaran dengan apa yang telah terjadi.
“Lalu?” Luna semakin ingin tahu.
“Mereka melakukannya di Battlefield. Kamu ingat saat kamu dan mereka tidak jadi battle royal? Saat itu aku dipaksa melayani mereka dengan monsterku yang seperti ini. Aku pun yakin akan kalah dan benar saja, dalam sekali serang monsterku langsung kembali ke bentuk kartu serta aku terpental cukup jauh. Di situ aku merasa kesakitan saat terpental, ditambah mereka memukuliku hingga seperti ini lalu meninggalkanku di Battlefield.” Jelasku sejelas-jelasnya.
Luna akhirnya mengerti kenapa luka yang ada di tubuh Tio begitu misterius. Tio yang sehat-sehat saja lalu keesokan harinya dia tiba-tiba sakit dan masuk ke rumah sakit dengan keadaan penuh luka. Jika mereka melakukan di Battlefield, wajar jika tidak dilihat oleh orang lain.
“Pantas saja mereka lolos. Ternyata ini yang mereka lakukan. Jika saja masih di sekolah aku pasti akan..” Luna geram lalu terhenti bicara.
“Sudah jangan berurusan lagi dengan mereka. Kamu tidak lihat aku menjadi seperti ini. Saat itu aku masih bersyukur bisa keluar dari Battlefield. Aku setengah sadar menahan sakit di badanku. Jika aku tidak keluar, mungkin aku akan mati.” Aku memotong pembicaraan Luna untuk mengingatkannya.
Luna akhirnya terbungkam. Dia diam tanpa kata setelah aku bilang seperti itu kepadanya. Bagaimanapun itu semua demi kebaikannya. Aku tidak ingin Luna merasakan hal yang sama sepertiku.
“Ya mau bagaimana lagi. Lagi pula mereka sudah dikeluarkan.” Luna menenangkan diri.
Kemudian ibu kembali ke ruangan setelah menerima telepon. Hari sudah semakin gelap, Luna dan Aria harus segera pulang. Mereka berdua segera pamit kepada ibu.
“Maaf merepotkan, barusan ibu ada telepon dari rekan kerja.” Kata ibu.
“Sama-sama bu, kalau begitu kami pamit pulang dulu. Hari semakin gelap.” Luna pamit.
“Oh sudah mau pulang ya, hati-hati di jalan nak.” Pesan ibu.
"Kami pulang dulu ya, Tio." Luna pamit juga kepadaku.
"Ya, terima kasih sudah dijenguk." Aku berterima kasih.
Luna dan Aria melambaikan tangannya dan keluar dari ruangan. Mereka berdua berjalan menuju parkiran. Setelah berjalan cukup jauh menuju parkiran, Aria teringat sesuatu. Dia seperti kekurangan satu barang di kantongnya.
“Aduh, smartphoneku ketinggalan!” Aria panik.
“Kamu ini ya. Segera ambil, aku tunggu di sini.” Balas Luna
Aria pun berlari kembali menuju ruangan Tio dirawat. Bisa-bisanya dia meninggalkan smartphone miliknya karena terlalu antusias mendengarkan pembicaraan Luna dengan Tio tadi. Aria membuka pintu ruangan tempat Tio dirawat lagi, dia masuk dan langsung bertemu ibu Tio.
"Aria?" Ucapku kaget.
“Loh ada apa nak, kok kembali lagi?” Tanya ibu.
“Maaf bu, smartphone milikku tertinggal di meja.” Jawab Aria ngos-ngosan.
“Syukurlah.” Aria senang menemukan smartphone miliknya.
“Lain kali hati-hati, untung tertinggal nya di sini.” Aku mengingatkan.
“Iya, terima kasih.” Aria berterima kasih.
“Iya sama-sama.” Balasku.
Ketika Aria ingin pergi, dia teringat akan sesuatu. Dan mumpung tidak ada Luna, ini adalah kesempatan langka untuk meminta nomor telepon Tio. Aria tidak mau melewatkan kesempatan berharga ini.
“Anu...” Aria malu ingin bicara.
“Ada apa Aria?” Tanyaku.
“Boleh aku minta nomormu? Agak curang jika hanya Luna yang punya.” Aria memegang smartphonenya untuk menutupi bagian mulutnya.
Memang sih hanya baru Luna yang memiliki nomorku, namun kenapa Aria juga meminta nomorku? Karena tadi dia bilang tidak adil jadi terpaksa aku memberikan nomorku kepadanya.
“Sini.. Biar aku tulis.” Aku menyodorkan tanganku.
Aria memberikan smartphone miliknya, aku pun menerimanya. Lalu aku menulis nomorku di smartphone milik Aria dan kemudian aku simpan di kontak.
“Nih sudah.” Aku mengembalikan smartphone Aria.
“Terima kasih banyak. Kalau begitu aku pamit, sampai jumpa lagi bu, dah Tio.” Aria berlari meninggalkan ruangan.
Keluar dari ruangan Tio, Aria kemudian berhenti sejenak dan melihat nomor Tio di kontak smartphonenya. Aria mengedit nama kontak Tio dengan menambahkan dua buah emoticon hati di awal dan akhir namanya. Aria pun merasa senang sekali.
"Akhirnya.." Aria tersenyum lega.
Luna mondar-mandir menunggu kedatangan Aria. Itu cukup lama jika hanya untuk mengambil smartphonenya. Kemudian dia melihat Aria yang sedang berlari, akhirnya anak satu ini datang juga.
“Kamu ini lama sekali.” Keluh Luna.
“Maaf, maaf. Tadi smartphoneku tertutup kantong apel. Butuh waktu untuk mencarinya.” Aria beralasan.
“Lalu ketemu?” Tanya Luna.
“Ini, syukurlah masih ada.” Aria menunjukkan smartphonenya.
“Baiklah jika ketemu, ayo segera pulang.” Ajak Luna.
“Yuk!” Balas Aria.
Luna bergegas mengambil sepedanya di parkiran. Mereka berdua pulang ke rumah, Luna pun mengantar Aria sampai rumahnya. Saat di rumah Aria, mereka sudah disambut Airi.
“Airi, nih aku mengembalikan Aria.” Canda Luna.
“Oke, terima kasih ya!” Balas Airi.
Aria turun dari sepeda sambil cemberut mendengar candaan Luna dengan kakaknya. Airi kalau sudah ketemu Luna pasti Aria akan selalu kena.
“Mengembalikan, memangnya aku barang apa?” Aria cemberut.
“Hehe, baiklah aku pulang dulu. Sampai besok.” Luna pamit.
“Hati-hati ya.” Balas Airi.
“Oke, dah.” Luna pergi sambil melambaikan tangannya.
“Dadah.” Aria membalas melambaikan tangannya.
Hari ini adalah hari terbaik bagi Aria. Wajah senang masih terpancar di wajah Aria. Pada akhirnya dia bisa juga mengejar Luna sejauh ini.