HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 136: Offline



“Haaahh.. Gara-gara kakak tadi aku hampir saja telat masuk sekolah.” Keluh Reza.


Sepulang sekolah, Reza datang ke rumah kakek. Dia langsung mengeluh padaku tentang tadi pagi. Karena memang tadi pagi aku sangat membutuhkan dirinya dalam menjelaskan semuanya kepada kakek dan nenek. Aku merasa sangat berterima kasih kepadanya dan sekarang aku tidak enak atas kejadian tadi pagi, aku pun meminta maaf pada Reza.


“Iya, iya, aku minta maaf soal tadi pagi. Aku juga berterima kasih karena kamu ikut menjelaskan pada kakek dan nenek tadi.” Balasku berterima kasih kepada Reza


“Tidak masalah kak, aku juga berterima kasih karena kakak dan bibi telah menjelaskan semuanya dan akhirnya kakek dan nenek percaya dengan ceritaku dulu tentang Battlefield dan juga monster.” Reza berterima kasih kembali.


Aku heran dengan anak ini, tadi dia mengeluh kepadaku namun sekarang malah berterima kasih karena kejadian tadi pagi. Kira-kira kepala Reza tadi terbentur apa ya? Aku benar-benar tidak tahu lagi apa yang sedang dipikirkannya sekarang.


Aku pun berusaha melupakannya, sekarang aku ingin bermain game untuk menyegarkan pikiran. Aku ingin berpindah ke kamar, tapi aku tidak melupakan untuk mengajak Reza bermain.


“Ya sudah kalau begitu. Aku mau main game, mau ikut?” Tanyaku.


“Lah memang itu tujuanku ke sini, kapan lagi aku bisa main game jika kakak tidak datang kemari.” Jawab Reza.


"Ya sudah, ayo pindah ke kamarku." Ajakku.


Dasar anak satu ini hanya ingin bermain game ketika aku datang ke sini. Tunggu, tapi aku juga tidak bisa protes kepada Reza. Kalau diingat-ingat lagi yang mengajarinya bermain game adalah aku. Malah aku yang lebih sering memainkannya. Aku menyesal telah mempermasalahkan hal itu padahal aku sendiri lebih parah.


Sesampainya di kamar, aku mengeluarkan semua peralatan bermain game yang masih terbungkus rapi karena aku sama sekali belum memainkannya sejak kemarin.


“Sebentar aku pasang kabelnya dulu.” Balasku.


"Cepat kak, aku tidak sabar lagi!" Sahut Reza dengan sangat antusias.


Reza memang seperti itu. Jika aku datang ke rumah kakek dia akan lebih sering datang ke rumah ini untuk bermain game bersamaku, bahkan tidak jarang dia menginap dan tidur bersamaku. Paman dan tante tidak pernah melarang Reza untuk bermain game karena mereka sudah percaya padaku.


"Tunggu! Tugas rumahmu sudah selesai belum?" Tanyaku.


"Sudah aku kerjakan di sekolah tadi." Jawab Reza.


"Ya sudah." Aku merasa lega.


Aku selalu menyuruh Reza untuk belajar atau mengerjakan PR terlebih dahulu jika ingin ikut bermain game, jika tidak aku pun tidak akan mengizinkan dia untuk masuk ke kamarku. Aku selalu menasehati Reza agar tetap mengutamakan belajar, karena game hanyalah hiburan semata.


Setelah aku mengeluarkan konsol gameku dari tas lalu memasang kabel power dan menghubungkan kabel video ke televisi akhirnya kami siap untuk bermain. Aku mengeluarkan tempat kaset yang masih ada di dalam tas lalu menceritakan ke Reza jika aku memiliki game baru yang bagus.


“Aku punya game baru nih, bagus lagi!” Aku memperlihatkan sebuah kaset kepada Reza.


“Benarkah? Game apa itu?” Tanya Reza penasaran.


“Petualangan, nanti deh kamu lihat sendiri. Game ini bisa untuk 2 orang kok.” Jawabku.


Aku memasukkan kaset game yang terakhir aku beli itu. Namun setelah aku memasukkan kasetnya aku baru teringat sesuatu.


Di layar televisi tertulis jika hanya ada pilihan untuk bermain offline karena tidak adanya koneksi internet. Aku sendiri tidak bisa berharap lebih dengan koneksi internet di desa, kecepatan jaringannya sangat payah.


“Yah aku lupa di sini tidak ada koneksi internet, menggunakan smartphone untuk dijadikan hotspot juga sama saja tidak berguna.” Gerutuku.


“Terus bagaimana ini kak?” Reza sedikit murung.


Aku pernah mencoba mode offline sekali dan gamenya tidak buruk, bahkan menurutku lebih bagus karena tidak harus party dengan player lain. Tidak ada kata makian dan saat bermain game terlihat sangat bersih dan nyaman tanpa harus bergantung kepada orang lain dan juga jaringan internet.


“Offline-nya juga bagus kok, hanya saja peta petualangannya lebih pendek dari yang online. Kalau online kita bisa bermain dengan lebih banyak orang saja.” Aku memberitahu Reza.


“Oh jadi itu fungsinya online.” Reza paham


“Iya, kalau offline karakter yang tidak dipilih oleh player akan dijalankan otomatis oleh A.I. jadi sedikit tidak efisien. Berbeda dengan player semua, kita bisa berkoordinasi dengan masing-masing karakter.” Jelasku


“Ayo kak cepat main, aku penasaran!” Reza mulai antusias.


Aku segera memulai gamenya walaupun hanya bisa offline. Sekarang saatnya kami memilih karakter yang akan digunakan untuk bermain. Aku seperti biasa menggunakan karakter support sedangkan Reza tanpa diduga dia memilih karakter damage, di sini tugas Reza lebih berat karena dia harus menembaki musuh dan bos secara terus menerus.


Aku tidak menunda-nunda lagi, setelah pemilihan karakter selesai aku langsung memulai gamenya. Reza dibuat takjub oleh grafis game ini karena dia belum pernah memainkan game yang seperti ini. Aku pun mulai maju serta mengarahkan Reza untuk mengikutiku.


"Sini Reza, ikuti aku!" Aku mengarahkan Reza


"Siap kak!" Balas Reza.


"Jangan lupa tembaki monsternya!" Aku mengingatkan.


"Oke." Reza begitu bersemangat.


Reza mulai pandai di game ini, stage demi stage kami lewati dan juga stage bos bisa kami lewati satu persatu. Dia hebat dalam mengendalikan karakter damager, serangannya kebanyakan mengenai musuh. Setelah 3 jam kami bermain akhirnya kami sampai di bos terakhir, ini adalah stage yang susah


“Ini bos terakhir, hati-hati! Siaga di belakangku agar aku bisa cepat menyembuhkan nyawamu.” Aku mengingatkan Reza.


“Baik kak, aku akan berhati-hati.” Balas Reza dengan semangat.


Stage terakhir dimulai. Meskipun namanya stage offline tetapi stage ini sebenarnya bisa dimainkan online bersama player lain. Aku menerapkan apa yang selama ini aku pelajari di stage ini, aku harus mengikuti ke mana pun karakter tank pergi. Karena karakter tank biasanya berada paling depan dan tanpa dia bos akan lebih mudah menghabisi karakter damage sehingga game akan berakhir dengan kekalahan.


"Sini cepat ke tempatku!" Aku menyuruh Reza mendekat.


Aku menyuruh reza mengikutiku karena dengan kemampuan karakter support aku bisa menyembuhkan karakter lain yang berada di sekitarku dengan jarak tertentu, itu akan memudahkan jika karakter tank dan damage terluka jadi aku bisa menyembuhkan mereka sekaligus. Di sini Reza mengikuti saranku, dia berada di belakangku sambil menembaki bos dengan senjata panahnya. Game selesai dan berakhir dengan kemenangan kami. Reza terlihat puas dan senang sekali.


“Wih seru sekali kak!” Ucap Reza.


“Kan sudah aku bilang, meskipun offline game ini masih tetap seru.” Balasku.