HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 61: Kabar Buruk



Sampailah Luna dan Aria di depan rumah Tio. Aria sedikit kelelahan karena terlalu kencang mengayuh sepedanya, dia terlalu bersemangat tadi.


"Haahh.. Haahh.." Aria terengah-engah.


"Terima kasih Aria, kita sudah sampai." Luna turun dari sepeda.


Luna kemudian berjalan menuju ke rumah Tio. Aria juga turun dari sepeda dan menyetandarkan sepeda milik Luna itu. Setelah di depan pintu, Luna pun mengetuk pintu.


"Jadi ini rumahnya." Gumam Aria.


Tok.. tok.. tok.. (Suara ketukan pintu)


“Permisi.” Teriak Luna.


Beberapa kali Luna mengetuk pintu namun sama sekali tidak ada jawaban. Di sini malah Aria yang mulai merasakan keanehan.


“Aneh sekali!” Ucap Aria.


“Aneh kenapa?” Tanya Luna.


“Aku seperti memiliki firasat buruk tentang ini. Tio sakit dan juga rumahnya kosong, pasti ada sesuatu di balik ini.” Aria khawatir.


“Aku juga sebenarnya memikirkan itu selama di sekolah tadi. Ini tidaklah wajar, kemarin Tio masih baik-baik saja. Aku juga khawatir padanya.” Balas Luna.


Luna masih melanjutkan mengetuk pintu rumah Tio. Setelah berkali-kali mencoba namun tetap tidak ada jawaban, mereka berdua akhirnya menyerah.


"Pulang saja yuk. Tidak baik sesore ini mengetuk rumah orang berkali-kali." Luna mengajak Aria untuk pulang.


"Iya, lebih baik kita ke sini lagi besok." Aria setuju.


Luna kembali mengambil sepedanya dan Aria mengikutinya. Sesaat sebelum mereka memutuskan pulang, ada seorang bibi tetangga Tio lewat di depan rumah Tio dan memberi tahu kepada Luna dan Aria.


“Kalian berdua sedang apa?” Tanya bibi itu.


“Oh kami sedang mencari Tio, bi. Katanya dia sakit, jadi kami ingin menjenguknya. Namun rumahnya kelihatan kosong.” Balas Luna.


“Lho kalian tidak tahukah? Tio kan dirawat di rumah sakit.” Bibi itu memberi tahu.


Sontak mereka berdua terkejut mendengar berita dari bibi itu. Luna dan Aria tidak menyangka jika Tio bisa sampai ke rumah sakit.


“Apa..? Di rumah sakit, bi?” Luna terkejut.


“Dia kenapa, bi?” Sahut Aria dengan khawatir.


Bibi itu kemudian menjelaskan dengan sepengatahuannya karena bibi itu hanya sekilas mendengar keadaannya semalam.


“Kemarin dia jatuh pingsan saat pulang sekolah. Tubuhnya penuh dengan luka lebam kata ibunya.” Jelas bibi.


“Astaga..” Luna terkejut.


“Ya ampun..” Aria menutup setengah wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


“Jika kalian ingin menjenguknya lebih baik segera ke rumah sakit. Kondisinya cukup parah.” Saran bibi itu.


“Terima kasih banyak, bi. Kami akan segera ke sana, ayo Luna.” Aria berterima kasih kepada bibi itu dan langsung menarik Luna pergi.


“Oi tunggu Aria, sabar sedikit.” Protes Luna.


Aria segera menaiki sepeda dan menyuruh Luna segera naik. Mereka berdua bergegas menuju rumah sakit. Aria mengayuh sepeda dengan kencang kembali, karena ternyata keadaan lebih buruk dari yang mereka bayangkan.


Luna yang membonceng di belakang langsung mengeluarkan smartphone miliknya. Luna harus segera menelpon Andreas untuk memberi tahu hal ini.


Tuuuutttt... (Bunyi panggilan)


“Halo.” Andreas menjawab.


“Andreas gawat ini!” Luna berteriak panik.


“Aw.. Sakitnya telingaku. Pelan sedikit Luna! Apanya yang gawat? Jelaskan dengan tenang.” Balas Andreas dari telepon.


Andreas yang diteriaki Luna menyuruh agar Luna tenang terlebih dahulu. Suaranya di telepon sangat menganggu telinga Andreas.


“Tio kenapa?” Andreas mulai penasaran.


“Dia masuk rumah sakit. Kata tetangganya, Tio mendapat luka lebam di badannya. Aku dan Aria sedang menyusul ke rumah sakit. Segera ke rumah sakit jika sempat.” Jelas Luna.


Mendengar itu, giliran Andreas yang berteriak di telepon. Luna pun menjauhkan smartphone miliknya dari telinga


“Apa katamu? Baiklah, aku masih di sekolah bersama Ryan dan Astrid. Aku akan segera ke sana, namun ada hal yang harus aku lakukan terlebih dahulu.” balas Andreas dengan nada tinggi.


“Keras sekali.. Baiklah kalau begitu, sampai nanti.” Keluh Luna lalu menutup panggilan.


Selesai menelepon, Luna kembali memasukkan smartphonenya ke dalam tas. Luna juga melihat ke arah Aria yang masih dengan kencang mengayuh sepeda, keringatnya bercucuran. Melihat Aria yang mulai berkeringat, Luna menjadi sedikit kasihan padanya. Luna menawarkan untuk bergantian.


“Aria, mau gantian?” Luna menawarkan diri.


“Tidak, aku masih kuat. Kita harus segera sampai sana.” balas Aria dengan nafas terengah-engah.


Mereka berdua melanjutkan perjalanan ke rumah sakit. Dengan tenaga yang masih tersisa, Aria akan mengeluarkan semuanya demi cepat sampai ke rumah sakit. Padahal rumah sakit cukup jauh jaraknya, Luna sedikit tidak enak pada Aria.


Sementara itu di sekolah, setelah Andreas mendengar kabar itu wajahnya menjadi serius karena marah. Kemudian Andreas memberitahukan kabar buruk ini kepada Ryan dan Astrid.


“Siapa tadi yang menelpon?” Tanya Astrid.


“Luna, dia memiliki kabar buruk untuk kita.” Balas Andreas.


“Kabar buruk?” Astrid memiringkan kepalanya.


Andreas memejamkan matanya sebelum memberi tahu Astrid dan juga Ryan. Dia membuka kembali matanya dan sekarang berubah menjadi tatapan tajam yang sangat serius.


“Tio berada di rumah sakit. Kata Luna, Tio mendapatkan luka lebam di tubuhnya.” Lanjut Andreas dengan nada dingin.


“Kamu tidak sedang bercanda bukan?” Ryan terkejut dan memastikan.


“Mendengar suara Luna yang sedang panik apakah dia juga sedang bercanda? Luna juga sekarang sedang menuju ke rumah sakit. Luna lebih tahu tentang Tio lebih banyak daripada kita, setidaknya aku mempercayainya.” Jelas Andreas.


Ryan yang tadi berdiri karena terkejut kemudian dia kembali duduk sambil menenangkan dirinya. Ryan tidak habis pikir kekhawatiran semuanya pada akhirnya akan terjadi padanya.


“Jadi kalau begitu..” Ryan mulai berpikir.


“Ya, pasti karena ulah mereka. Ayo kita ke ruang kepala sekolah.” Ajak Andreas.


Andreas, Ryan dan Astrid bergegas menuju ruang kepala sekolah. Andreas menjadi tidak banyak berbicara, nadanya dingin seperti orang marah. Ryan dan Astrid mengikutinya dari belakang, mereka bertiga menuju ke ruang guru untuk mencari kepala sekolah. Dengan raut wajah serius, Andreas mengetuk pintu ruangan itu.


Tok.. tok.. tok.. (Suara ketukan pintu)


“Ya silahkan masuk.” Jawab kepala sekolah.


Andreas tahu jika jam segini para guru belum pulang dari sekolah karena harus mengerjakan beberapa hal terlebih dahulu sebelum pulang. Mereka bertiga memasuki ruangan setelah dipersilahkan masuk. Ryan menutup pintu dan berjaga di depannya untuk antisipasi.


“Ada apa ini?” Tanya kepala sekolah.


“Segera kumpulkan semua guru yang bertanda tangan kemarin.” Andreas menatap tajam kepala sekolah.


“Ada apa lagi? Bukankah kemarin sudah ada perjanjian?” Balas kepala sekolah.


“Ya, karena itulah kami ke sini. Jika bapak tahu, Tio sekarang ada di rumah sakit. Dan parahnya dia luka-luka di badannya.” Dengan tegas Andreas memberitahu kepala sekolah.


Kepala sekolah seolah tidak percaya dengan kata-kata Andreas. Wajah kepala sekolah berubah menjadi ketakutan.


“Kamu bohong bukan?” Kepala sekolah berusaha menyangkal.


Brakk.. (Suara gebrakan meja)


“Ini bukan waktunya bercanda. Apa bapak tidak melihat aku sedang serius seperti ini?” Andreas menggebrak meja.


“Sa-saya minta maaf. Baik akan segera saya panggil mereka.” Jawab kepala sekolah.


Andreas berhasil mengumpulkan semua yang bertanggung jawab sembari menunggu info lebih lanjut dari Luna. Kali ini Andreas akan melakukan sesuatu sebagai permohonan maaf kepada Tio.