HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 33: Mengikuti



Luna mengayuh sepedanya sambil mencari arah ke mana Tio pergi. Dia sama sekali tidak tahu arah di mana rumah Tio. Luna hanya tahu jika Tio pulang berlawanan arah dengannya. Luna hanya berharap menemukan Tio sebelum ada persimpangan.


“Akhirnya ketemu!!" Luna terlihat senang.


Setelah beberapa lama mencari, akhirnya Luna menemukan Tio yang kebetulan berjalan pulang. Untungnya Tio berjalan kaki, jadi Luna bisa cukup cepat mengejarnya. Luna segera turun dari sepeda dan menuntun sepedanya. Dia mengikuti dari jarak yang cukup jauh dan lumayan aman.


Luna mengikuti ke mana saja Tio pergi. Saat menemukan persimpangan jalan, Luna langsung mempercepat gerakannya. Luna menyandarkan sepedanya di tembok dan mengintip ke arah Tio berbelok sebelum dia mengikuti Tio lagi. Luna harus pastikan dia aman dan tidak mencurigakan.


“Aku harus hati-hati, aku tidak ingin ketahuan." Ucap Luna dari balik tembok pagar.


Ini adalah pertama kalinya Luna melakukan hal yang memalukan baginya. Bagaimana tidak, saat ini dia sedang mengikuti seorang laki-laki pulang kerumahnya. Jika Luna ketahuan tentu akan jatuh harga dirinya sebagai seorang gadis. Luna mau tidak mau harus melakukannya, ada hal penting juga yang dia ingin sampaikan ke Tio.


Ketua OSIS memberikan pengumuman jika komisi kedisiplinan harus ditambah satu orang lagi. Luna belum efektif menjalankan tugasnya seorang diri. Namun Luna juga tidak ingin bekerja dengan orang yang belum akrab dengannya. Luna berencana mengajak Tio untuk hal itu.


Sebenarnya Luna juga sedikit pesimis jika Tio mau ikut masuk ke OSIS, tapi Luna harus mencoba terlebih dahulu. Untuk mau tidaknya biarlah urusan nanti. Justru dengan ini Luna ingin membawa Tio ke tempat yang aman. Selama di OSIS, Luna sangat yakin para pengganggu Tio tidak akan berani bertindak seperti kemarin.


Tetapi Luna juga tidak akan memaksa nantinya, dia hanya menginginkan partner bertugas yang akrab dengannya. Luna juga tidak ingin memanfaatkan kemenangan kemarin untuknya memaksa Tio jika tidak mau masuk OSIS. Luna hanya ingin menyampaikan niat baiknya nanti.


Luna masih mengikuti Tio dari belakang. Tidak lama kemudian, dia melihat Tio memasuki minimarket. Luna pun segera mencari tempat bersembunyi lagi. Dia sedikit kerepotan karena harus membawa sepedanya, tapi jika dia tidak bawa sepeda mana bisa dia mengejar Tio sejauh ini. Mau tidak mau dia harus sedikit kerepotan.


Luna mengawasi dari balik tiang listrik menunggu Tio keluar dari minimarket. Hari semakin siang dan itu membuat Luna menjadi sedikit berkeringat. Apalagi saat dia sadar jika dirinya belum mandi.


“Ya ampun keringatku, semoga aku tidak bau keringat nanti." Keluh Luna.


Baru kali ini Luna merasa jorok. Dia sudah tidak percaya diri karena berkeringat. Luna sebenarnya sudah risih, tapi dia harus mengutamakan tujuannya untuk hari ini dan mengabaikan hal-hal yang mengganggunya saat ini.


Tio pun keluar dari minimarket sambil membawa sekantong plastik belanjaan. Tio kembali melanjutkan perjalanannya pulang. Luna menunggu dan mengatur jarak dan memastikan lagi dia aman. Luna menoleh ke sekitar dan tidak ada orang yang dia kenal di daerah sini. Luna kembali mengikuti Tio pergi.


"Yosh.. Aman!" Luna keluar dari persembunyiannya.


Deg-degan, rasa malu dan takut bercampur aduk, itulah yang saat ini Luna rasakan. Apa yang dia pikirkan sampai dia harus melakukan sejauh ini? Apa jawaban yang akan dia dapat saat dia bisa bertanya nanti? Pikiran Luna sudah benar-benar kosong dan dia akan memikirkan semua itu nanti.


Rintangan datang, jalan yang dilalui Tio melewati taman yang cukup ramai. Di titik ini Luna harus melakukan dua hal, yang pertama jangan sampai kehilangan jejak dan yang kedua jangan sampai ada yang mengenalnya.


Dengan refleks, Luna melepas kuncir rambutnya dan melepas badge OSIS nya. Luna mengantongi kuncir rambutnya agar tidak hilang lalu memakai badge OSIS-nya di keningnya dengan keadaan terbalik. Selain untuk menyembunyikan tulisan badgenya, badge OSIS itu cukup panjang sehingga bisa menyembunyikan identitasnya. Luna juga mengacak-acak rambutnya agar tidak ada yang mengenalnya. Sungguh berantakan sekali Luna hari ini.


"Jeleknya diriku sekarang." Luna berkaca di smartphone miliknya.


Luna melihat ke arah Tio lagi. Misi pertama sukses karena dia juga tidak kehilangan jejak Tio. Luna masih bisa melihat posisi Tio di depannya. Dia melihat Tio berhenti membeli minuman soda di mesin penjual otomatis. Kemudian Tio melanjutkan berjalan kembali. Sekarang tinggal misi kedua, semoga Luna tidak dikenali oleh orang lain.


“Hausnya, ada baiknya aku beli juga." Luna menyeka keringatnya


Saat Luna sampai di mesin penjual minuman dia juga ingin membelinya. Luna sudah menahan haus sejak tadi. Dengan cepat dia memasukkan koin ke mesin itu dan memilih jus jeruk. Tak lama kemudian, satu kaleng jus keluar dari mesin itu. Luna mengambilnya dan membuka minumannya sebelum kembali mengikuti Tio.


Luna meminum jus jeruk yang baru saja dia beli. Segar dari jus itu melewati tenggorokan Luna yang sudah kering.


"Aah segarnya. Untung saja aku beli tadi." Luna merasa lega.


Tio masih terlihat. Setelah melewati taman dia kemudian berbelok ke kiri. Luna berhenti sejenak di persimpangan. Menurut sepengetahuannya, jalan itu sepertinya menuju ke persawahan. Untuk memastikan, Luna membuka Maps di smartphone miliknya.


"Gawat.." Ucap Luna.


Tantangan terbesar telah datang. Jalan yang dilalui Tio melewati persawahan. Jalan lurus dan tanpa adanya pohon membuat Luna sedikit kebingungan. Jika sampai Tio menoleh kebelakang habislah sudah riwayat Luna. Dia pasti akan ketahuan.


"Aku akan berhenti dulu di sini. Lagipula jalan ini lurus, aku hanya akan melihat ke mana dia akan berbelok." Ucap Luna.


Luna memutuskan berhenti. Dia kemudian menaiki sepedanya untuk bersiap mengejarnya nanti. Karena jalan ini lurus dan lagipula ini di tengah persawahan, jadi saat dia melihat Tio berbelok dia bisa langsung mengayuh sepedanya. Dia menunggu dari kejauhan dan fokus melihat Tio yang sedang berjalan di persawahan.


Tak lama kemudian, Tio terlihat berbelok. Dengan cepat Luna langsung mengayuh sepedanya. Sesampainya di persimpangan, dia turun dan melihat ke jalan yang Tio tuju. Luna masih beruntung bisa melihat keberadaan Tio. Dan kemudian Luna melihat Tio berbelok ke suatu rumah dan memasukinya. Luna menaiki sepedanya lagi dan dengan perlahan menuju rumah itu.


“Jadi di sini rumahnya!” Luna melihat ke suatu rumah.


Sampailah Luna di depan rumah Tio. Luna masih berada di pinggir jalan dan masih di atas sepedanya. Luna sekarang malah bingung sendiri, setelah sampai di sini apa yang akan dilakukannya?