HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 73: Pengunduran Jadwal



“Heh, besok simulasi kah?” Aria lupa.


“Iya lah, kemarin kita undur karena Astrid sakit bukan. Makanya kamis besok jadwal Andreas melawan Astrid.” Luna mengingatkan.


Sebelum kejadian Tio ini, seharusnya kamis lalu adalah simulasi pertama yang seharusnya dilakukan. Namun kamis kemarin Astrid sakit dan tidak bisa berangkat sekolah. Sedangkan besok sudah hari kamis, karena terlalu lama sehingga Aria sampai lupa dengan jadwal simulasinya.


“Iya ya, aku ingat. Lalu bagaimana ini?” Tanya Aria.


Luna berpikir keras, dia tidak ingin Tio memikirkan tentang simulasi itu terlebih dahulu. Kesehatannya adalah prioritas. Luna akan menanyakan kepada Andreas terlebih dahulu.


“Kamu tunggu di sini dan temani Tio, aku akan keluar sebentar untuk mencoba menulis pesan kepada Andreas. Di sini tidak ada sinyal.” Luna mendapat ide.


"Oke!" Balas Aria.


Luna telah selesai berdiskusi dengan Aria. Kemudian mereka berdua kembali ke tempat Tio sambil tersenyum mencurigakan.


Aku hanya bisa melihat mereka dari kejauhan. Kenapa mereka berdua begitu panik setelah aku bilang simulasi? Malah mereka berbisik-bisik di pojokan seperti itu.


“Kenapa kalian barusan? Sampai bisik-bisik begitu.” Tanyaku setelah mereka kembali.


“Ti-tidak apa-apa, aku hanya ingin ke toilet sebentar. Dah.” Luna beralasan lalu pergi berlari keluar.


“Dasar anak itu.” Lanjutku menggelengkan kepala.


Tiba-tiba smartphone ibu berdering, ibu juga pergi keluar. Ibu menitipkan aku kepada Aria, karena memang di dalam gedung sudah sinyal jadi jika mau menelepon harus keluar terlebih dahulu.


“Nak Aria, titip Tio ya. Ibu ada telepon.” Kata ibu.


“Baik bu.” Balas Aria menyanggupi.


Ibu segera keluar meninggalkan ruangan. Setelah Luna dan ibu pergi, hanya tinggal aku dan Aria. Keadaan ruanganpun menjadi sunyi, kami berdua hanya saling diam.


Aria tidak tahu lagi harus melakukan apa? Dia terlalu malu untuk memulai sebuah percakapan. Akan tetapi Aria sudah tidak tahan jika diam terus seperti ini, dia langsung memberanikan diri untuk berbicara.


“Emm.. Tio apa kamu mau buah?” Tanya Aria dengan sedikit malu.


Tiba-tiba Aria mengajakku bicara, dia menawarkan kepadaku buah-buahan yang mereka bawa tadi. Aku melihat ke atas meja, hanya ada apel dan jeruk. Aku kali ini lebih memilih apel saja, karena jeruk banyak bijinya dan untuk keadaanku yang seperti ini jadi sulit untuk memakannya.


“Hmm.. boleh, aku ingin apel.” Jawabku.


“Sebentar, aku kupaskan.” Balas Aria.


Sementara itu setelah Luna keluar dari ruangan, dia segera mengeluarkan smartphone miliknya. Luna kemudian menulis pesan kepada Andreas.


“Andreas, gawat.” Tulis Luna.


Luna duduk di sebuah kursi. Luna menunggu beberapa saat, kemudian Andreas membalas chat. Mereka lalu melanjutkan perbincangan dalam chat.


Kling.. (Bunyi notifikasi)


“Gawat apanya?” Balas Andreas.


Luna mulai mengetik lagi di layar smartphone miliknya. Dia memberitahu Andreas jika Tio besok ingin melihat simulasi besok.


“Tio sangat ingin melihat simulasi kalian besok, sedangkan dia untuk bangun saja masih belum bisa.” Tulis Luna.


Kling.. (Bunyi notifikasi)


“Oh iya besok simulasi ya. Hmm.. baiklah kita undur saja lagi.” Balas Andreas.


“Loh, tapi bukankah kita membuang waktu lebih lama lagi jika mengundurnya sampai menunggu Tio sembuh? Katamu kita harus segera melakukan simulasi agar kita tahu kekuatan dari kita semua.” Tulis Luna.


Kling.. (Bunyi notifikasi)


“Kesehatan Tio lebih penting untuk sekarang. Baiklah, kita lihat sampai kapan Tio boleh pulang dan berangkat sekolah. Saat itu kita akan lakukan simulasinya.” Balas Andreas.


Luna setuju dengan Andreas dan dia sudah tidak perlu lagi melanjutkan ini. Saat ini lebih penting bagi Tio untuk menyembuhkan dirinya. Luna akan menyampaikannya nanti.


Kling.. (Bunyi notifikasi)


“Oke, mohon bantuannya.” Andreas mengakhiri chat.


Luna telah selesai berkomunikasi dengan Andreas melalui chat. Luna juga telah mendapatkan hasilnya jika simulasi akan di undur lagi. Luna pun kembali menuju ruangan Tio dirawat untuk memberitahu kabar ini.


Di ruang perawatan, Aria menyiapkan piring dan garpu yang dia ambil dari lemari. Aria lalu membuka kantong apel yang di belinya tadi kemudian mengambil satu buah apel dan mencucinya. Lalu Aria duduk dan mengambil sehelai tisu untuk menaruh kulit apel. Aria mengupas apel itu dan membelah apel itu menjadi delapan, kemudian dia menaruh apel-apel itu di piring.


“Nih.. Aaaaaaammm.” Aria mengambil sepotong apel.


Aku kaget dengan apa yang dilakukan Aria. Dia ingin menyuapi aku apel-apel itu. Aku hanya bingung dengan apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku belum mengenal Aria sepenuhnya, tidak seharusnya dia seperhatian ini kepadaku.


“Ehhh.. Tapi..” Aku sedikit kaget.


Aria menarik kembali garpu yang tertancap sepotong apel. Aria juga menggembungkan pipinya.


“Tidak mau kah?” Aria cemberut.


Melihat Aria, aku menjadi tidak tega. Yah mau bagaimana lagi, untuk kali ini saja aku akan menurutinya.


“Hmm... Aaaaaaammm.” Aku membuka mulutku.


Aku menutup mataku karena aku merasa malu disuapi oleh Aria. Bukannya aku tidak mau, tapi kejadian ini sungguh tidak terbayang olehku sama sekali. Kemudian Aria menyuapiku apel tadi dia ingin suapi. Aku kemudian menggigit apel itu dan memakannya.


“Bagaimana?” Tanya Aria malu.


“Enak.. Apel ini sangat manis.” Jawabku sambil mengunyah.


“Syukurlah.” Aria senang.


Aria sangat senang jika apel pilihannya disukai oleh Tio. Dia melanjutkan menyuapi Tio potongan apel yang lainnya. Tidak lama kemudian, Luna pun kembali memasuki ruangan. Aria langsung bertanya kepada Luna.


“Bagaimana jadinya?” Tanya Aria kepada Luna.


“Ehh.. Apanya?” Aku bingung.


Aku yang sedang enak-enaknya mengunyah apel langsung dibuat kebingungan oleh pertanyaan Aria. Mereka jadi apanya?


“Andreas akan mengundurnya sampai Tio bisa berangkat sekolah.” Jawab Luna.


“Berangkat sekolah? Ngomongnya lebih jelas sedikit dong!” Aku sama sekali tidak mengerti dan meminta penjelasan Luna.


“Aku bilang pada Andreas barusan. Karena aku tidak ingin kamu memaksakan diri untuk melihat simulasi itu, jadi Andreas bilang akan mengundurnya sampai kamu berangkat sekolah. Hari itu juga kita akan lakukan sesuai jadwal. Pada intinya jadwal simulasi diundur.” Jelas Luna.


“Yah padahal tinggal besok.” Aku sedikit kecewa.


Hari yang aku nanti-nanti pada akhirnya mundur lagi. Setelah kemarin diundur karena Astrid sakit sekarang diundur lagi karena aku yang sakit. Padahal aku tidak ikut bertarung dalam simulasi, tapi kenapa juga harus diundur? Mereka semua telah perhatian sekali kepadaku, yah setidaknya aku harus segera sembuh agar bisa cepat melihatnya. Meskipun aku sedikit kecewa, aku harus menerimanya.


“Sudah jangan banyak bergerak. Semakin cepat kamu sembuh semakin cepat juga kita melakukan simulasi itu. Karena jika kita berlama-lama kita tidak akan bisa melawan musuh yang lebih kuat dari kita.” Lanjut Luna.


“Iya-iya, untungnya aku hanya tinggal pemulihan.” Balasku.


“Oh iya Aria, di mana ibu Tio?” Tanya Luna kepada Aria.


Saat ini Luna tidak melihat adanya ibu Tio. Hari sudah hampir malam dan dia juga harus segera pulang.


“Tadi beliau ada telepon, jadi keluar sebentar. Kenapa memangnya?” Balas Aria.


“Kenapa, kenapa? Sadar ini sudah hampir malam. Kita harus pulang bukan?” Lanjut Luna mengingatkan Aria.


Aria mengeluarkan smartphone miliknya. Dia melihat jam di smartphonenya dan ternyata benar sudah hampir malam, kakaknya pasti akan mencarinya lagi.


“Oh iya, sudah hampir malam rupanya.” Aria tersadar.