
Sewaktu istirahat, Luna berusaha mengajak Tio bicara. Semakin Luna berusaha mendekat, Tio selalu menjauh darinya. Luna memanggil Tio namun dia malah berlari kencang meninggalkan Luna. Luna langsung berlari mengejar, namun Tio bersembunyi di toilet laki-laki. Luna tidak mungkin mengejarnya masuk.
Luna kembali ke kelasnya. Dia bertemu dengan beberapa temannya yang mengajak ke kantin untuk membeli makanan.
"Luna, mau ke kantin?"
"Ayo kita pergi bareng, kamu belum makan siang juga kan?"
"Hmm.. Oke. Ayo ke kantin!" Balas Luna.
Luna ingin sejenak melupakan kejadian tadi pagi. Dia pergi ke kantin bersama teman-temannya. Namun saat tiba di kantin, Luna melihat Tio kembali. Dia dengan terburu-buru membayar pada kasir lalu pergi meninggalkan kantin.
"Tio.." Luna mengulurkan tangannya.
Luna sangat sedih dengan keadaannya sekarang. Dia berusaha menahan tangisnya dengan bercanda dengan teman-temannya. Luna kemudian memesan makanan. Sambil Luna makan siang, dia memikirkan sesuatu yang akan dia lakukan sepulang sekolah nanti. Dia teringat dengan Fox dan juga Battlefield. Luna memutuskan untuk menantangnya berduel nanti sepulang sekolah.
Bel masuk berbunyi, Luna dan teman-temannya bergegas kembali ke kelas. Luna memasang wajah cemberut dan juga tatapan mata yang tajam kepada Tio. Dia kesal karena sikap Tio yang mengabaikan dirinya.
Bel pulang sekolah berbunyi. Luna berdiri lalu pergi meninggalkan kelas. Dia berjalan melewati pintu lalu berjalan menjauh dari pintu kelas. Dia bersandar di tembok untuk menunggu Tio keluar.
Betapa kagetnya aku yang melihat Luna berdiri di depan kelas. Aku tidak menyangka dia akan menghadangku pulang. Ternyata dia juga merencanakan sesuatu. Terlebih lagi, dia menantangku duel. Pasti ada apa-apanya di balik semua itu.
“Heh? Duel?” Aku terkejut.
“Ya duel." jawab Luna.
Tidak seharusnya aku menjawab tantangannya. Lagipula tidak ada keuntungan untukku berduel saat ini. Aku harus segera pergi.
“Maaf aku tidak punya waktu untuk hal itu." Balasku.
Kali ini aku berjalan perlahan. Luna semakin berjalan mendekatiku. Dia menahan supaya aku tidak pergi dari sini.
“Bagaimana kalau begini?" Ucap Luna di depanku.
Aku berhenti, lalu aku mendengarkan ucapan Luna.
“Jika aku kalah, aku akan menjauhimu tapi jika aku menang, kamu harus mengikuti apa yang aku katakan." Luna dengan tatapan serius.
Aku mulai memikirkan tawaran Luna. Kapan lagi ada kesempatan menjauhkan gadis pengganggu ini dari hidupku. Tanpa berpikir panjang aku menerima tawarannya.
“Baik, aku terima tantanganmu." Jawabku.
Luna membalikkan badan, kemudian dia sedikit menoleh ke belakang dan masih dengan tatapan tajamnya.
“Ikuti aku." Ajak Luna.
Luna mulai berjalan dan aku mengikutinya dari belakang. Setelah beberapa saat sampailah kami di lapangan belakang sekolah, tempat kami akan memasuki Battlefield untuk berduel.
“Kamu sudah siap?” Luna bertanya padaku.
“Tentu saja." balasku.
“Battlefield, In." Aku dan Luna.
Aku memasuki battlefield dan disusul Luna. Aku dan Luna berada di suatu tempat yang sangat terang. Jujur saja tempat ini sangat menyilaukan.
"Tempat apa ini?" Tanyaku.
Tempat ini berbeda dengan padang rumput kemarin. Di tempat ini, tanah, batu dan bahkan pohonnya berkilauan. Luna tidak menjawab pertanyaanku.
“Kalau begitu, mari kita mulai." Ucap Luna.
Luna memasang skill deck di tangannya. Terdengar suara dari skill deck milik Luna.
[Skill deck ready]
Aku mengikutinya. Aku memasang skill deck milikku juga di tanganku.
[Skill deck ready]
“Aku tidak akan kalah darimu." Balasku.
[Duel]
Mode duel diaktifkan. Saatnya memanggil monster masing-masing ke arena. Aku memulainya terlebih dahulu.
“Aku memanggilmu, monster berkaki seribu. MK I, Hayase." Aku membaca kalimat pemanggi Hayasel.
Aku melempar kartu monsterku ke atas. Kartu itu bersinar lalu muncul seekor kelabang raksasa di depanku. Jadi seperti ini rupanya bentuk monster yang sesungguhnya, sungguh hebat.
Sekarang giliran Luna memanggil monsternya. Aku penasaran seperti apa Fox itu. Sampai-sampai dia bisa bicara seperti manusia, aku benar-benar ingin tahu.
“Aku memanggilmu, sang rubah pengendali petir. MK II, Fox." Luna membaca kalimat pemanggil.
"Mark 2? Tunggu dulu, apa maksudnya? Monsterku saja tertulis Mark 1. Apa Luna salah baca kalimat pemanggilnya?" Batinku.
Muncul seekor rubah putih raksasa di depan Luna. Monster milik Luna memiliki aura berbeda. Ada aura listrik di sekitar tubuhnya.
Luna melihat ke arah Fox, kemudian dia menjelaskan sedikit kepadaku.
“Ya, monsterku adalah monster Mark 2. Jika kamu ingin menyerah, mungkin sekarang waktunya." Balas Luna.
Dia meremehkanku. Aku tidak peduli lagi, mau Mark berapapun aku akan lawan. Lagipula apa bedanya itu Mark?
“Aku tidak peduli tentang Mark yang ada di monster, yang jelas aku tidak akan kalah di sini." Tegasku.
Luna menyentuh layar skill deck miliknya. Sebuah kartu muncul dari skill deck miliknya. Luna menarik keluar kartu itu.
“Baiklah kalau begitu. Skill aktif, Lightning spear." Luna mengambil kartu skill dari skill deck dan mengaktifkannya.
Panah cahaya yang beraura petir muncul di sekitar Fox dan mulai terbang menuju monsterku. Aku melakukan hal yang sama seperti yang Luna lakukan. Aku melihat ke skill deck milikku. Tertera 4 skill dan 1 ultimate di layar. Aku mencoba menekan salah satu skill setelah aku membaca deskripsi skill itu. Sebuah kartu keluar dari skill deck, ternyata itu adalah kartu skill. Sekarang aku paham kenapa kotak ini bernama Skill deck.
“Skill aktif, Destruction spin." Aku mengambil kartu skill dari skill deck lalu mengaktifkannya.
Hayase melingkarkan tubuhnya, kemudian Hayase berputar menuju Fox. Skill Hayase menangkis panah cahaya dari Fox dan juga Hayase menabrak sedikit tubuh Fox.
“Uuuuggghhhhh." Rintih Fox
Fox terkena damage dan HP* nya berkurang.
*HP adalah Health Point atau bisa dikatakan nyawa monster. Jika nyawa itu habis maka monster itu akan kalah. HP di tampilkan di paling atas di layar skill deck dengan ditemani gambar monster.
“Sial, sekarang giliranku. Skill aktif, Lightning dash." Luna mengaktifkan skill.
Cahaya petir berkumpul di depan Fox. Fox dengan cepat menerjang Hayase. HP Hayase berkurang.
"Apa..?" Aku terkejut.
Skill apa tadi? Aku bahkan tidak bisa melihat pergerakan Fox. Aku melihat ke skill deck, HP Hayase berhasil dikurangi.
"Kamu terkejut?" Tanya Luna.
"Sedikit, tapi itu tidak membuatku takut." Jawabku.
Aku kembali memilih skill di skill deck milikku. Aku akan membalas Luna.
“Skill aktif, Heat poison." Aku mengaktifkan skill.
Hayase mengumpulkan kekuatan. Kemudian Hayase mengeluarkan racun api dari mulutnya dan mengenai Fox. Fox berlari-lari kepanasan.
“Apa? HP Fox terus berkurang terus!” Luna terkejut.
Luna kaget melihat skill deck miliknya. HP Fox berkurang sedikit demi sedikit secara konstan. Aku menjelaskan kepada Luna apa itu Heat poison.
“Heat poison adalah skill yang bisa menyebabkan efek burn(terbakar) selama beberapa saat." Jelasku pada Luna.
Hayase unggul saat ini, HP-nya lebih banyak dari Fox.
“Akan aku balas. Skill aktif, Lightning slash." Luna mengaktifkan skill
3 aura petir muncul di atas Fox. Kemudian aura itu berubah menjadi cahaya yang berbentuk sabit. Sabit-sabit itu meluncur menyilang menuju Hayase bak seperti tebasan.
Aku harus mengantisipasinya. Kali ini aku memutuskan untuk bertahan.
“Skill aktif, Shield." Aku mengaktifkan skill.
Terbentuk pelindung di sekitar Hayase, menangkis tebasan cahaya yang datang. Luna kembali menyerang.
“Skill aktif, Lightning spear." Luna mengaktifkan skill.
Heh? Luna mengaktifkan Lightning spear lagi? Tunggu, ada yang tidak beres. Saat aku sedang memikirkannya, panah cahaya kembali menuju ke Hayase. Aku harus mengesampingkan itu, sekarang waktunya fokus ke duel.
“Skill aktif, Thousand dagger”, Aku mengaktifkan skill.
Muncul banyak belati dari kaki-kaki Hayase. Belati-belati itu kemudian terbang menuju Fox.
“Skill aktif, Lightning barrier”, Luna mengaktifkan skill bertahan.
Langit bergemuruh dan mengeluarkan sambaran petir menuju Fox dan memberikan pelindung petir di sekitar Fox
Hayase terkena panah dari Fox dan HP-nya berkurang cukup banyak. Sedangkan skillku tertangkis oleh pelindung petir milik Fox.
Kali ini aku akan mengaktifkan skill pamungkas yaitu ultimate. Aku ingin segera menang.
“Skill aktif, Ultimate: Searing flames." Aku mengaktifkan skill ultimate.
Skill ultimate adalah skill khusus para monster. Skill pamungkas itu bisa sangat mempengaruhi kemenangan duel karena memiliki efek khusus ataupun damage yang besar.
Hayase mengeluarkan kobaran api di sekitar Fox. Hawa panas pun terasa dan efek burn yang sangat besar akan terasa jika terkena skill ini.
“Kena kau." Luna tersenyum.