
“Kami bangga padamu, Tio.” Ucap kakek.
“Tetaplah seperti ini, jadilah orang baik meskipun semua orang tidak adil padamu.” Lanjut nenek.
Kakek dan nenek terlihat begitu bangga setelah mendengarkan penjelasan dariku. Kakek dan nenek juga merasa senang saat aku pergi karena menghawatirkan keadaan teman-temanku. Aku akan tetap seperti ini karena aku tidak memiliki rasa dendam kepada orang yang telah berbuat buruk kepadaku.
“Aku akan bertahan sebisaku.” Balasku.
Matahari sudah lebih terang sekarang, sudah cukup lama kami berkumpul untuk menceritakan alasanku pergi ke desa. Ibu kemudian mengingatkan Reza akan kewajibannya pagi ini
“Oh iya Reza, ngomong-ngomong ini jam berapa ya?” Tiba-tiba ibu mengingatkan Reza
“Oh sekarang jam setengah 7 kurang... Haaahh, hampir setengah 7 ternyata. Aku pamit dulu semua, aku terlambat ke sekolah.” Reza langsung berlari kencang.
Reza langsung melompat dari tempat duduknya lalu langsung lari terbirit-birit dari rumah kakek. Untungnya dia datang tadi mengenakan sandal, jadi tidak terlalu ribet. Reza pulang ke rumahnya untuk mengambil tas sekolah dan mengenakan sepatunya. Ibu hanya bisa menggelengkan kepalanya sedangkan aku malah merasa ingin tertawa melihatnya.
“Dasar anak itu!” Ucapku sambil menahan tawa.
"Oh iya, Tio. Bagaimana caranya kamu mendapatkan teman?" Tanya kakek dengan tiba-tiba.
Setelah ibu mengingatkan Reza, kami masih berbincang tentang masalah tadi. Kakek dan nenek masih penasaran dengan bagaimana aku mendapatkan teman. Lalu aku melanjutkan bercerita kepada kakek dan nenek.
Aku mulai bercerita dari pertama kali aku bertemu Luna. Meskipun dia gadis yang sangat mengganggu tapi tidak bisa dipungkiri jika dia satu-satunya orang yang sangat peduli kepadaku. Sejak saat itu aku berteman dengannya dan hari demi hari berlalu hingga pada saatnya aku di ajak masuk ke OSIS, itulah awal mula aku memiliki teman. Aku bilang kepada kakek dan nenek kalau saja aku tidak masuk OSIS, tidak akan ada yang akan menolongku seperti kemarin. Kakek dan nenek melanjutkan mendengarkan aku bercerita dengan antusias.
“Ternyata masih ada gadis seperti Luna itu ya!” Nenek kagum
“Dia gadis yang baik, lalu apa kalian berpacaran?” Tanya kakek.
“Haaahhh..?! Berurusan dengan dia saja sudah membuatku lelah. Aku masih belum berminat untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Meskipun aku memiliki teman sekarang, aku masih akan tetap menjaga jarak dengan mereka.” Tegasku.
Sepertinya telah terjadi kesalahpahaman di sini. Padahal aku bercerita tentang Luna biasa-biasa saja dan tidak melebih-lebihkan sama sekali. Namun kakek dan nenek malah beranggapan kami itu berpacaran, aku benar-benar tidak berharap dengan hal itu. Menurut apa yang aku tahu, berpacaran katanya lebih menyakitkan daripada seseorang yang jatuh ke jurang. Aku tidak ingin itu terjadi kepadaku, dipukuli orang saja sudah membuatku masuk rumah sakit, lalu bagaimana rasanya dengan berpacaran.
Sekarang keadaan telah tenang, kakek dan nenek juga sudah paham dengan keadaanku. Kakek dan nenek juga menerima kehadiranku tanpa ada pertanyaan lagi yang membuat mereka bingung kenapa kami datang ke sini secara tiba-tiba. Aku pun sekarang bebas melakukan apa saja di tempat ini.
“Kalau begitu nikmati saja waktu kalian di sini. Untuk Tio tidak usah dipikirkan lagi, berdoa saja semoga teman-temanmu selalu dalam keadaan baik-baik saja.” Ucap nenek
“Baik nek!” Balasku
Kemudian semuanya kembali ke aktivitas masing-masing. Aku melanjutkan berbaring di sofa sambil membayangkan aku masuk sekolah. Hari ini adalah hari Senin, aku sedang membayangkan saat aku datang ke kelas lalu bertemu dengan Luna yang selalu menggangguku. Meskipun dia sangat berisik, tapi untuk saat ini aku malah sedikit merindukan saat-saat seperti itu. Lalu bagaimana ya keadaan di kelas sekarang? Aku masih mengira-ngira.
Sementara itu di sekolah, guru olahraga datang pagi-pagi ke sekolah. Setelah menelepon ibu Tio kemarin, guru olahraga langsung menelepon kepala sekolah untuk membicarakan hal penting. Kepala sekolah sempat bertanya kepada guru olahraga tentang apa yang ingin dibicarakan, namun guru olahraga masih bungkam dan menyuruh kepala sekolah agar menunggu besok Senin.
“Pagi pak!” Sapa kepala sekolah.
“Pagi juga pak kepala sekolah.” Balas guru olahraga.
“Mari ikut ke ruangan saya.” Ajak kepala sekolah.
Guru olahraga berdiri lalu segera mengikuti kepala sekolah ke ruangannya. Kepala sekolah duduk di kursinya lalu mempersilahkan guru olahraga untuk duduk, guru olahraga kemudian duduk.
“Ada apa pak, sepertinya penting sekali?” Tanya kepala sekolah.
Raut wajah kepala sekolah menunjukkan begitu penasarannya beliau. Guru olahraga bisa memahami karena kemarin di telepon beliau tidak memberi tahu secara langsung kepada kepala sekolah. Maka sekarang adalah waktunya untuk membicarakan semuanya bersama secara tatap muka. Mumpung masih pagi dan para guru lain juga belum datang.
“Saya kemari untuk mengurus izin khusus untuk Tio pak.” Jawab guru olahraga.
“Kenapa lagi Tio? dia sakit lagi?” Kepala sekolah sedikit panik.
“Bukan pak! Saya akan jelaskan semuanya, tapi sebelumnya bapak sudah tahu bukan tentang anak yang kita keluarkan semuanya menghilang?” Lanjut guru olahraga.
“Iya, saya melihat berita itu kemarin, saya turut prihatin.” Jawab kepala sekolah.
Guru olahraga pun menceritakan semua tentang percakapan dia dengan ibu Tio. Guru olahraga juga memberi tahu kepala sekolah jika mereka telah pergi jauh sekarang karena masalah ini terkait dengannya. Tio yang tidak ingin membahayakan para anggota OSIS harus pergi menjauh untuk sekarang.
“Baiklah kalau begitu pak, saya akan buat izin khusus untuknya.” Ucap kepala sekolah setelah mendengar itu semua.
Kepala sekolah paham dengan keadaan Tio, memang masalah itu juga menyangkut dengan dirinya. Bukan hanya OSIS, menurut kepala sekolah bisa saja Tio sendiri yang akan diincar oleh orang itu. Kepala sekolah mendukung perginya Tio untuk sementara waktu, beliau juga langsung akan membuat izin khusus untuk Tio.
“Terima kasih pak.” Guru olahraga berterima kasih.
“Lalu berapa lama dia akan pergi?” Tanya kepala sekolah.
“Kata ibu Tio, semua itu belum bisa ditentukan berapa lama mereka akan kembali. Yang jelas paling tidak menunggu semua ini mereda.” Jawab guru olahraga.
“Oke, nanti saya akan rapat dengan para komite sekolah. Saya akan bahas tentang izin khusus ini dan juga tentang anak yang hilang itu. Akankah kita umumkan ini di sekolah atau tidak.” Lanjut kepala sekolah.
“Baik pak, tapi permohonan ibu Tio jangan sampai ada yang tahu jika mereka sedang pergi.” Balas guru olahraga.
“Kami akan rahasiakan itu sebisa mungkin.” Tegas kepala sekolah.