
Bel pelajaran usai serta waktu istirahat telah tiba. Pak Indra memanggil semua murid agar berkumpul. Pak Indra juga membunyikan peluitnya untuk siswa yang belum mendengar instruksi untuk berkumpul.
Para siswa berbaris di depan pak Indra, kemudian pak Indra mengakhiri pelajaran olahraga hari ini.
“Baiklah, pelajaran hari ini cukup sampai di sini. Karena hari sudah siang silahkan kembali ke kelas dan berisitirahat." Kata pak Indra.
“Baik pak, terimakasih untuk hari ini." Teriak semua siswa di tengah lapangan
Para siswa kemudian membubarkan diri. Mereka semua terlihat bersenda gurau sambil menuju ke kelas. Sebagian ada juga yang langsung menuju ke kantin.
"Terimakasih untuk hari ini pak." Ucapku dari atas pohon.
Aku tidak ikut berkumpul berbaris di lapangan. Saat ini aku masih mengamati dari atas pohon dan tidak ikut kembali ke kelas. Bagiku untuk apa panas-panasan sedangkan aku tidak bisa kembali ke kelas bersama mereka semua. Lebih baik aku menunggu waktu yang tepat untuk berganti pakaian, karena pasti saat ini ruang ganti masih penuh.
Hari semakin siang dan semakin panas, namun di bawah pohon ini masih sejuk karena bagian atasnya masih ada saljunya. Aku memang belum pergi kemanapun setelah pelajaran usai. Aku menikmati angin yang sejuk dari atas sini. Namun, suasana menjadi panas lagi karena Luna kembali menghampiriku. Ada apa dengan gadis ini sebenarnya?
“Kamu tidak kembali ke kelas?” Tanya Luna dari bawah.
Aku membuka buku catatanku sambil berpura-pura menulis sesuatu. Lagipula kenapa dia tidak kembali ke kelas? Aku agak tidak nyaman waktu istirahatku diganggu olehnya. Kenapa harus selalu ada dia di waktu luangku?
“Nanti, aku tidak mau kembali saat kelas ramai." Jawabku sambil menulis catatan.
Terdengar suara dari bawah. Aku melihat Luna yang sedang mencoba untuk naik ke atas pohon, tapi dia tidak bisa naik. Dia mencoba lagi dan tetap tidak bisa.
“Aduh, aku tidak bisa naik." Luna berusaha memanjat pohon.
“Sudah, kamu di situ saja. Nanti jatuh loh." Balasku.
“Tidak, pokoknya aku ingin naik." Luna bersikeras.
Daripada, daripada. Lebih baik aku mengalah turun. Aku takutnya Luna akan terluka jika tetap berusaha memanjat pohon ini. Aku teringat, dulu sewaktu pertama kali aku memanjat pohon ini aku terjatuh lalu di bawa ke UKS. Tangan dan kakiku luka-luka, sedang keningku mengeluarkan darah. Aku tidak ingin Luna juga mengalaminya.
“Haaaahhh.. Biar aku yang turun." Ucapku.
Luna berhenti memanjat. Dia melihat ke atas lalu tersenyum kepadaku. Licik memang anak satu ini.
“Nah gitu dong dari tadi." Luna tersenyum.
Aku segera turun karena aku tidak ingin mengulur waktu lebih lama dengan gadis ini. Lebih baik aku segera ke kelas. Ketika aku sampai bawah, Luna melihat buku catatanku. Dia sedikit penasaran dengan buku ini.
“Sebenarnya buku apa yang kamu bawa itu?" Luna menanyakan buku catatanku.
“Oh ini buku catatan olahraga. Saat pelajaran olahraga aku pasti membawanya. Aku menulis semua materi hari ini agar sewaktu ujian aku bisa belajar. Walaupun aku selama pelajaran hanya di atas pohon, tapi aku tidak santai-santai begitu saja. Pak guru pasti akan memarahiku jika aku tidak belajar." Aku menjelaskan.
Luna teringat dengan kejadian sewaktu dirinya di marahi pak Indra tadi. Dia kemudian bertanya kepadaku.
“Lalu kenapa kamu tadi tidak dimarahi pak guru?” Tanya Luna kesal.
Astaga, masih diungkit juga. Aku tidak bisa memberitahu tentang ini kepadanya. Ini adalah rahasia antara aku dengan pak guru.
“Sudah kubilang bukan, yang penting aku belajar. Aku ada perjanjian dengan pak Indra, selama nilai ujian olahragaku tidak buruk maka pak guru tidak memarahiku." Jawabku.
Luna melihatku dengan raut wajah kesal. Dia menggembungkan pipinya seakan tidak terima kalau aku tidak dimarahi oleh pak guru.
“Curang." Luna memukul pundakku.
“Aw...” Aku kesakitan.
Aku bisa mati kalau begini terus. Pukulan Luna sungguh sakit, aku tidak membuat-buat ini benar-benar sakit. Aku mengelus punggungku yang Luna pukul, panasnya masih terasa.
“Oiii Luna. Sudah berapa kali kamu menyiksaku begini, sakit tahu." Balasku kesal.
Seperti biasa, dia sama sekali tidak mendengar ucapanku. Luna berjalan ke depan, setelah itu dia menoleh ke belakang sambil menggandeng kedua tangannya di belakang badannya.
“Ayo kembali ke kelas!" Ajak Luna.
Aku melihat ke langit, memang sudah semakin siang. Selain itu aku juga belum makan, aku lapar.
Kami berjalan ke kelas bersama. Akan tetapi aku tidak ingin membuat rumor yang tidak enak tentangku dengan Luna. Siswa lain melihatku yang berjalan bersama Luna. Lalu aku memutuskan untuk mundur dan berjalan di belakang Luna.
“Kenapa kamu malah di belakangku?" Tanya Luna.
Dia malah menyadari kalau aku sedang menjaga jarak. Aku meminta dia agar tetap seperti ini. Tatapan siswa lain sangat tajam menusukku.
“Sudah begini saja, cepat jalan." Balasku.
Aku dan Luna melanjutkan berjalan ke ruang ganti karena memang kami belum berganti pakaian seragam. Aku melihat gerombolan anak laki-laki di depan ruang ganti yang menatap tajam ke arahku. Aku pun tidak memperdulikannya.
Aku mengganti pakaian olahragaku ke seragam sekolah. Karena aku lapar jadi aku ingin segera ke kelas dan makan. Kebetulan aku di beri bekal oleh ibu tadi.
Aku kembali ke kelas masih bersama Luna. Dia menungguku di depan ruang ganti perempuan. Setibanya di kelas, Aku langsung duduk di tempat dudukku begitu juga dengan Luna. Aku mengambil bekalku dan membukanya. Belum juga makan, aku dikerumuni gerombolan anak laki-laki tadi sedangkan Luna masih duduk di tempat duduknya
“Yo Tio, apa kabar?” Tanya salah satu anak laki-laki.
“Mau apa kamu ke sini?" Jawabku sinis.
Aku sangat ingat anak satu ini. Dia bernama Romi. Sejak sedari SD aku satu sekolah dengannya. Dia juga yang paling membenci diriku. Bisa di bilang dialah yang membuat semua orang tidak menyukaiku lalu mem-bully-ku hingga saat ini.
“Oh rupanya kamu lupa dengan teman semasa kecilmu?" Ucap Romi.
Teman? Karena ulahmu aku tidak memiliki teman. Karena ulahmu semua orang mem-bully-ku. Dan karena ulahmu semua orang tidak menyukaiku. Aku dipandang rendah oleh semua orang. Lalu apa pantas kamu menyebut dirimu sebagai temanku?.
Aku diam dan tidak menggubris kata-kata Romi. Aku ingin makan tetapi nafsu makanku terhalang oleh kehadiran anak ini dengan gerombolannya.
“Seorang Tio yang tak berguna bisa sombong juga ternyata." Tambah seorang anak.
Berhenti memperkeruh keadaan. Namun pada akhirnya, aku tersulut emosi juga.
“Aku tidak punya teman." Jawabku lebih sinis.
Aku mulai mengambil sendok dan mulai makan. Namun bekalku menjadi sia-sia.
Braakkkk..... Klotakkkkkk.... (Suara kotak makan jatuh)
Bekalku dilempar ke tembok oleh Romi. Bekalku tumpah dan berceceran di lantai dan juga menodai dinding.
“Kamu dari dulu memang seperti ini ya. Sok-sokan belagu. Jangan kamu mentang-mentang dekat dengan seorang perempuan kesombonganmu malah bertambah." Romi emosi padaku.
Aku melihat ke bekalku yang tumpah. Kali ini aku benar-benar emosi padanya.
“AKU TIDAK PERNAH SOMBONG!" Aku membentak.
Di saat aku dengan Romi sedang panas. Luna berusaha menyela pembicaraan namun tidak ada dari aku maupun Romi memperdulikannya.
“Permisi.” Luna menyela.
Romi melanjutkan kemarahannya kepadaku. Semua bermula ketika SD. Kala itu keadaan masih normal, aku berteman dengan semuanya bahkan dengan Romi. Namun semakin ke belakang, entah kenapa mereka semua berubah kepadaku. Romi sangat membenciku bahkan anak-anak lain juga mengikutinya. Sejak itu kehidupanku berubah hingga seperti saat ini.
“Omong kosong, aku tidak ingin ada anak yang istimewa di sini." Kata Romi.
“AKU TIDAK MERASA JIKA AKU ISTIMEWA." Jawabku dengan nada keras.
Seisi kelas melihat ke arahku. Romi memang bukan teman sekelasku, akan tetapi dia sudah sering mondar-mandir di kelas dan akrab dengan anak-anak di kelasku.
Tiba-tiba, Luna berdiri lalu berteriak ke arah gerombolan anak ini.
“MMMIIIINNGGGGIIIRRRRRRRR....” Luna berteriak.
DYAAARRR... (Suara meja yang di banting)
Luna membanting mejanya hingga meja itu ada di sebelah mejaku. Luna benar-benar sudah emosi. Dia marah ke gerombolan anak yang mendatangiku.
“Pergi kalian sebelum aku memanggil guru." Luna menatap mereka dengan tajam.