
“Nih kopimu!” Airi menempelkannya di pipi Aria.
“Ihh kakak.. Dingin tahu..!” Balas Aria dengan sedikit cuek
Setelah kembali dari membeli minuman, Airi bermaksud menghibur Aria. Namun tampaknya Aria sedang tidak ingin bercanda hari ini, Aria tidak merespon candaan Airi barusan.
“Kamu kenapa sih sebenarnya?” Airi kembali duduk di depan Aria.
“Entahlah kak, aku juga bingung.” Jawab Aria sambil membuka minuman kopi miliknya.
Airi berusaha untuk pura-pura tidak tahu tentang apa yang Aria rasakan hari ini. Airi kemudian fokus sesaat untuk melihat Aria menenggak kopi itu, Aria pun segera meminumnya.
“Huueeekkk.. Pahit.” Aria menjulurkan lidahnya.
“Hahahaha.. Kenapa malah kamu yang menghiburku, Aria. Wajahmu lucu sekali barusan.” Airi tertawa.
Airi benar-benar tidak bisa menahan tawa ketika Aria meminum kopi yang baru saja diberikan kepadanya. Sudah tahu tidak suka pahit masih saja sok-sokan minum kopi, dasar Aria.
“Jahatnya kakak ini.” Balas Aria.
Tidak berhenti di situ, Airi lalu membuka minuman soda miliknya untuk menggoda adiknya itu. Terdengar suara soda ketika Airi membuka minumannya, itu cukup untuk menjahili Aria.
“Minum ah, yang ini pasti enak!” Airi membuka minumannya.
Dengan sengaja Airi meminum minumannya dengan perlahan. Aria pun terpancing, dia menelan ludahnya karena melihat Airi yang begitu nikmat menenggak minuman sodanya.
“Kakak pengen, tukeran dong!” Aria memohon.
“Lah tadi kamu minta kopi, kalau begitu kan lebih baik aku beli soda semua tadi.” Balas Airi.
“Aku hanya kesal hari ini, makanya aku ingin minum kopi. Tapi ternyata tetap saja aku tidak menyukainya.” Aria kembali murung.
Airi tidak tega melihat adiknya seperti itu terus. Airi melihat ke arah soda yang dia pegang saat ini. Ya mau bagaimana lagi, Airi harus mengalah untuk sekarang demi Aria.
“Hmm.. Ya sudah, ini minumlah!” Airi memberikan minumannya.
“Yeey.. terima kasih kak, ini kopinya.” Aria juga memberikan kopinya.
Dengan cepat, Aria meminum soda milik kakaknya itu. Airi pun tidak segan meminum kopi milik Aria, bahkan Airi tidak merasa pahit dengan Kopi itu karena memang Airi sudah terbiasa minum kopi.
Bel masuk berbunyi, Airi harus segera kembali ke kelasnya sebelum terlambat.
“Sudah bel, aku kembali ke kelas dulu.” Airi berdiri dari tempatnya duduk.
“Terima kasih lho kak minumnya.” Aria berterima kasih.
“Tidak apa-apa, untung aku doyan kopi. Kalau tidak, kopi ini akan sia-sia tidak diminum.” Balas Airi.
“Oh iya kak minta tolong dong! Titip buang kaleng minuman ini.” Pinta Aria.
Airi mengerutkan keningnya melihat ke arah Aria. Sudah minta bertukar minuman terus sekarang minta tolong untuk membuang kaleng minumannya. Kalau saja Aria tidak sedang murung Airi tidak akan mau melakukannya.
“Hehehe.” Aria tertawa.
“Sudah sini, melihatmu tertawa sudah cukup bagiku. Aku pergi dulu.” Airi bergegas kembali ke kelas.
Airi pun membawa sekalian kaleng minum milik Aria tadi. Dia sedikit senang bisa membuat adiknya tertawa. Sekarang Airi sudah paham kenapa Aria seperti itu hari ini. Nanti setelah pulang sekolah, Airi akan membuat kejutan untuk adiknya. Airi membuang kaleng minuman lalu lanjut kembali ke kelas.
"Semoga saja dengan ini nanti Aria bisa tersenyum lagi." Airi memegangi smartphone miliknya.
Hari sudah sore, waktu untuk pulang pun tiba, Luna pun mengajakku pulang. Namun aku tidak bisa langsung pulang hari ini karena saat pelajaran terakhir tadi, guru yang mengajar memberikan pekerjaan rumah untuk dikumpulkan minggu depan. Aku memutuskan untuk mengerjakan pekerjaan rumah itu terlebih dahulu.
“Ayo pulang!” Ajak Luna.
“Aku agak nanti, aku ingin mengerjakan tugas yang diberikan barusan.” Jawabku.
“Kan besok Minggu, masih banyak waktu untuk mengerjakannya.” Balas Luna.
Aku masih bergelut dengan pulpen dan juga buku tulisku sekarang. Mendengar ucapan Luna barusan aku jadi teringat dengan kejadian sewaktu aku pertama kali bertemu dengannya. Kala itu dia menyindirku karena aku menanyakan kenapa dia datang ke sekolah pagi-pagi sekali, sekarang giliranku untuk membalasnya.
“Aku bukanlah orang malas, lebih baik aku kerjakan sekarang mumpung aku masih ingat pelajaran tadi. Selain itu, suasana di sekolah membuat mengerjakan pekerjaan rumah menjadi lebih menyenangkan.” Sindirku.
Luna langsung menatapku dengan datar, dia seperti sedang tidak terima akan sesuatu. Sepertinya Luna juga mengingat akan kejadian hari itu, karena dia langsung merespon sindiranku tadi.
“Kamu ada dendam ya denganku?” Tanya Luna.
“Tidak, sudah sana tadi katanya mau pulang. Aku mau melanjutkan mengerjakan tugas ini.” Aku mengingatkan Luna.
“Oke deh, kalau begitu aku pulang dulu. Sampai besok.” Luna bergegas pergi
“Besok Minggu.” Balasku
“Besoknya lagi!” Teriak Luna yang sudah menjauh.
Dasar anak itu, ribut sekali seperti biasa. Aku hanya bisa menggeleng kepala melihat tingkahnya. Luna telah pergi pulang, aku kemudian melihat ke sekeliling kelas yang sudah sepi. Cahaya sore menembus ruang kelas dan juga angin sore yang tertiup sepoi-sepoi sangat mendukung untuk aku mengerjakan tugasku. Sekarang semua yang mengganggu sudah pergi, aku bisa dengan tenang mengerjakan tugas ini.
Aku memang lebih suka seperti ini. Mengerjakan pekerjaan rumah di sekolah lebih menyenangkan daripada harus mengerjakan di rumah. Karena menurutku, mengerjakan tugas di sekolah itu lebih efisien karena otak sudah bekerja sejak pagi tadi untuk belajar. Berbeda jika sudah di rumah, keadaan otak sudah lebih santai dan yang ada malah rasa malas yang muncul karena di rumah ada konsol game yang sewaktu-waktu seperti memanggilku untuk memainkannya. Itulah kenapa alasanku mengerjakan pekerjaan rumah di sekolah.
Di depan gerbang, Airi sedang berdiri menunggu Aria untuk pulang bersama. Di sini dia agak sedikit menyayangkan sesuatu. Dia sedang menanti seseorang namun tidak kunjung lewat.
“Ahh.. Ternyata Tio tidak lewat, untung aku tadi sudah siap-siap.” Ucap Airi.
Airi berniat untuk menghadang Tio saat melewati gerbang, namun ternyata Tio tidak lewat. Airi pun memiliki rencana kedua yang telah dia siapkan untuk menghibur Aria, tapi sudah lama menunggu Aria masih belum muncul.
"Lama sekali, ke mana saja Aria?" Airi sudah tidak sabar lagi.
Airi terlihat memainkan smartphone miliknya. Sudah cukup lama Airi berdiri di depan gerbang menunggu kedatangan Aria, kalau begitu ceritanya akan lebih baik Airi tadi mampir ke kelas Aria untuk mengajaknya pulang bersama. Lagipula Airi juga punya rencana untuk menghadang Tio tadi, Airi jadi tidak bisa menyalahkan Aria sekarang.
Tak lama kemudian, Aria mulai terlihat keluar dari area sekolah. Aria berjalan menuju Airi dengan lemasnya. Mata Aria terlihat seperti ikan yang sudah mati. Sebegitu parahkah keadaan Aria hari ini? Airi sudah benar-benar heran melihat adiknya untuk sekarang ini.