
“Battlefield, In.” Andreas memasuki Battlefield.
Andreas muncul lebih jauh dari tempat simulasi. Dia sedikit melihat jika simulasi masih berlangsung. Andreas mengeluarkan kartu Lancer lalu menyelipkan di kedua jarinya, Lancer keluar menjadi bentuk fairy.
“Apa kamu merasakan sesuatu?” Tanya Andreas.
“Tidak, aku tidak merasakan apapun!” Jawab Lancer.
Sepertinya musuh tidak ada di sekitar sana. Andreas kemudian menyuruh Lancer untuk menghilangkan hawa keberadaannya. Andreas juga mengantisipasi jika musuh bisa mendeteksi keberadaan Andreas dan Lancer nantinya.
“Hilangkan hawa keberadaanmu! Aku akan hati-hati dalam bergerak nanti. Bersiap setiap saat, aku mungkin akan memanggilmu secara tiba-tiba.” Andreas memberi tahu Lancer rencananya.
Lancer yang berbentuk fairy mengeluarkan aura merah transparan, menandakan mode assasin miliknya aktif. Andreas mulai berjalan menyusuri hutan dengan sangat hati-hati. Setiap langkah dia ambil dengan penuh perhitungan. Tak lupa Andreas melihat ke atas dahan pohon, karena menurut informasi Ryan kemarin mata-mata itu mengawasi dari sebuah pohon.
Setelah beberapa lama Andreas berjalan, Lancer memberi peringatan padanya. Andreas berhenti lalu mengambil sikap siaga dan bersembunyi.
“Tunggu..!!” Seru Lancer.
“Ada apa Lancer?” Andreas menempel ke sebuah pohon dan mengambil sikap siaga.
“Aku merasakan hawa kegelapan yang kuat.” Jawab Lancer.
Andreas langsung melihat ke sekelilingnya dengan sangat teliti. Setiap sudut tempatnya bersembunyi dia lihat dengan sangat serius.
“Mungkinkah dia?” Tanya Andreas lagi.
“Aku tidak yakin, tapi aku sendiri belum pernah merasakan hawa seperti ini, bahkan Mage milik Aria pun tidak seperti ini hawanya.” Jawab Lancer.
Tempat bersembunyi Andreas masih aman dan tidak ada siapapun di sana. Andreas kemudian menanyakan dari arah mana Lancer merasakan kekuatan itu.
“Dari mana kamu merasakannya?” Tanya Andreas.
“Di sana, hutan dekat bukit di seberang tempat simulasi kita.” Lancer menunjukkan tempatnya.
Ternyata musuh berpindah tempat. Sekarang Andreas masih menyisir hutan di mana Ryan memergoki musuh itu. Dengan terpaksa Andreas harus menuju ke tempat musuh berada sekarang.
“Dia berpindah tempat ternyata, kemarin dia ada di sekitar sini padahal.” Andreas terlihat kesal.
“Lalu apa yang akan kau lakukan?” Tanya Lancer.
“Kita akan sedikit memutar arah, kita akan hadang dia dari belakang. Jika kita lurus ke depan, bisa saja kita akan langsung ketahuan.” Jawab Andreas.
Andreas langsung bergegas, dia mencari rute memutar. Andreas tidak ingin terlihat oleh orang itu, menyergap dari belakang adalah jalan terbaik untuk saat ini. Meskipun dia harus cepat, Andreas juga masih berhati-hati seperti tadi. Musuh mungkin saja menaruh jebakan di tempat yang dilalui Andreas.
“Hawa keberadaannya masih?” Tanya Andreas.
“Masih, sepertinya musuh belum curiga dengan pergerakan kita.” Jawab Lancer.
“Baguslah.” Lanjut Andreas.
Andreas bertanya kepada Lancer tentang hawa yang dirasakan oleh Lancer. Karena masih ada, Andreas tidak ingin membuang waktu lagi. Dia harus cepat, Andreas bergerak lebih cepat saat menyusuri hutan.
Sosok misterius yang baru saja turun dari pohon itu kemudian melihat ke arah arena duel. Terlihat beberapa orang yang berkumpul di sana, namun sosok misterius yang mengawasi simulasi pun tersadar akan sesuatu.
“Tunggu, mereka hanya berenam. Di mana assasin itu?” Sosok misterius bertanya-tanya.
Karena terlalu menikmati duel antara Phoenix dan Titan tadi, sosok misterius sampai lupa mengawasi anggota yang lain. Saat dia melihat semuanya berkumpul, baru terlihat hanya ada enam orang di Battlefield tempat simulasi diadakan hingga tidak menyadari ada satu orang yang hilang.
Belum selesai sosok misterius itu bicara, terdengar suara dari belakang. Suara itu sungguh mengejutkan sosok misterius.
“Kau mencariku?” Tanya Andreas dari belakang.
“Hhhhaaaaaahh...!!” Sosok misterius terkejut.
Sosok misterius sangat terkejut di sini. Tak disangka ternyata yang dia cari muncul dari belakang. Bahkan tidak ada peringatan dari monster miliknya. Karena terlalu terkejut, sosok misterius itu menoleh ke arah Andreas. Dia sedikit memperlihatkan wajahnya.
“Kamu...!!” Andreas tidak percaya.
Sosok misterius langsung log out seketika setelah ditemukan oleh Andreas, dia menghilang dari hadapan Andreas. Di sebuah dimensi yang gelap, sebuah portal terbuka. Ternyata sosok misterius itu tidak log out ke dunia manusia melainkan ke tempat ini. Di sini dia sangat kesal.
“Sial... Aku tidak menyangka dia akan menyergapku. Yang terpenting aku masih bisa kabur. Tapi apakah dia tadi melihatku? Ini akan menjadi sesuatu yang sangat gawat.” Ucap sosok misterius dengan kesal.
Sosok misterius itu masih tidak bisa mempercayai jika dirinya lengah seperti tadi. Monsternya juga tidak merasakan hawa kehadiran dari monster lain. Ternyata assasin itu benar-benar assasin, lain kali sosok misterius harus lebih berhati-hati lagi dengannya.
Sementara itu Andreas juga sangat kesal, dia gagal dalam penyergapan ini. Padahal tinggal sedikit lagi dia bisa mengungkap siapa sebenarnya orang itu. Namun dia bisa berhasil kabur secepat itu.
“Ah sial.. dia kabur lagi. Tapi yang lebih penting aku tidak salah lihat bukan?” Andreas kesal.
“Apa yang kamu lihat, Andreas?” Tanya Lancer.
“Aku sedikit melihat wajahnya, tapi apakah aku salah orang? Soalnya wajah itu sangatlah aku kenal.” Jawab Andreas.
Andreas dan Lancer masih berada di tempat dia menyergap mata-mata tadi. Andreas berpikir keras namun tidak berujung hasil, akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke tempat simulasi.
“Ayo kita ke tempat mereka saja, ada hal yang harus segera aku lakukan!” Ajak Andreas.
Andreas pun segera berlari menuju tempat simulasi. Dia kali ini membawa sedikit informasi untuk semuanya. Meskipun hanya sekilas, tapi mungkinkah dia benar-benar orang yang Andreas kenal?
Sewaktu kami sedang berbincang, aku melihat Andreas yang sedang berlari menuju kemari. Aku langsung memberi tahu semuanya jika Andreas telah kembali.
“Itu Andreas!” Aku menunjuk ke arah Andreas.
Semuanya melihat ke arah Andreas. Luna kemudian langsung berteriak memanggil Andreas.
“Oh iya, oooiii Andreas...” Teriak Luna sambil melambaikan tangannya.
Tak lama kemudian, Andreas tiba di tempat kami berkumpul. Namun tiba-tiba dia menjadi serius saat tiba. Kami semua baru saja ingin menanyakan tentang hasil penyergapan, tapi Andreas langsung berbicara kepada kami
“Andreas mereka berdua hebat hari ini!” Luna memberi tahu Andreas.
“Maafkan aku jika mengabaikannya, tapi kita harus segera kembali ke sekolah dan menuju lapangan tenis.” Ucap Andreas dengan serius.
Sementara itu, di lapangan tenis Airi mengajak Rin dan Kana ke salah satu lapangan tenis untuk melatih keduanya. Airi sengaja memasangkan keduanya untuk berlatih karena memang kemampuan Rin dan Kana cukup seimbang. Jadi jika mereka berdua berhasil menjadi pemain hebat, kemungkinan sekolah menang sewaktu lomba antar sekolah akan semakin besar.
"Sini kalian berdua!" Airi memanggil Rin dan Kana.
"Baik kak." Jawab Rin dan Kana serentak.
"Baik, segera kalian ambil posisi untuk segera latihan." Airi menunjuk ke arah lapangan.
Rin dan Kana kemudian menuju lapangan tenis dan mengambil posisi yang berlawanan. Latihan hari ini adalah Rin melawan Kana.