HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 52: Penjelasanku



“Anu.. Tadi mau tanya apa ya?” Tanya Aria.


Aria kemudian bersikap biasa kepadaku. Dia terlihat penasaran dengan apa yang ingin aku tanyakan kepadanya tadi.


“Kenapa kalian tahu aku ada di tempat itu?” Tanyaku.


Aku masih penasaran kenapa semua anggota OSIS bisa datang ke gedung yang sepi seperti itu. Aku bahkan tidak merasa memberitahu Luna maupun Aria. Kalau Aria, aku tidak memiliki nomor teleponnya memang, yang jelas kenapa bisa begitu?


“Loh bukannya kamu mengirim foto ke Luna?" Balas Aria dengan heran.


“Heee?.. Foto?” Aku mulai bingung.


Foto apa? Seharian ini bahkan aku belum memfoto apapun karena aku belum menemukan adanya pelanggaran.


“Iya foto. Coba lihat chatmu dengan Luna." Lanjut Aria memberi tahu.


Aku mengambil lalu membuka smartphone milikku. Aku segera melihat chatku dengan Luna di smartphone. Ternyata benar, aku mengirim foto ke Luna. Foto tidak jelas yang hanya bergambar kaki dan tangga.


“Eh iya! Kapan aku mengirim foto ini?” Aku sama sekali tidak sadar.


Aku bahkan tidak tahu jika aku mengambil foto ini. Aku ingat, sebelum aku mengantongi smartphoneku tadi layarnya masih menyala. Aku cukup beruntung hari ini, aku tidak menyangka kejadian kecil ini bisa menyelamatkanku.


“Loh berarti foto itu tidak sengaja terkirim?” Tanya Aria sedikit terkejut.


“Iya, aku sama sekali tidak tahu jika aku mengirim foto itu ke Luna. Tapi kenapa kalian bisa tahu aku dalam masalah?” Jawabku lalu berbalik bertanya.


“Luna yang pertama kali sadar, tapi aku yang mengetahui tempatnya." Jawab Aria.


“Hah.. Apa maksudmu?” Aku sedikit kurang mengerti.


Luna yang pertama sadar lalu Aria yang mengetahui tempatnya? Aku benar-benar sudah tidak mengerti lagi. Sebenarnya mereka berdua ini siapa? Mereka berdua tahu hanya dari sebuah foto yang tidak jelas.


“Luna memahami foto itu, karena di foto terdapat banyak kaki jadi Luna langsung tahu jika kamu sedang dalam bahaya. Sedangkan aku memang sering ke lab IPA, karena itu gedung baru jadi lantainya berbeda dengan gedung lain. Makanya aku bisa tahu tempat itu." Jelas Aria.


Ternyata begitu. Aku sudah tidak meragukan feeling Luna lagi, dia sudah tidak dapat diremehkan sekarang. Pembacaan situasinya sangat menolongku juga. Tanpa kesadarannya, aku tidak tahu lagi jadi apa tadi tanpa Luna.


Aku juga kagum dengan Aria, ingatannya cukup tajam. Memang gedung lab IPA adalah gedung baru yang di bangun sedikit di luar area sekolah. Gedung itu memakai lahan di dekat lapangan olahraga di belakang sekolah. Namun Aria bisa mengingat gedung itu hanya dari lantainya saja, bahkan aku sendiri tidak menyadarinya. Mereka berdua benar-benar penyelamat.


“Ohh jadi begitu rupanya, terima kasih banyak." Aku berterima kasih kepada Aria.


"Tidak, aku tidak berbuat banyak hari ini." Balas Aria.


"Meski begitu. Tanpamu yang menyadari tempat itu, entah mau jadi apa aku tadi." Aku memuji Aria.


"Ka-kalau begitu, sama-sama." Aria tersenyum kepadaku.


Melihat senyumannya, hatiku sungguh menjadi tenang. Aria sudah seperti malaikat saja, dia gadis yang lembut. Namun tetap saja aku tidak berani mendekatinya.


Ya, hari ini bukan hanya Aria yang hebat. Semua anggota OSIS telah berjasa hari ini. Mulai dari Luna yang menyadariku dalam bahaya, Aria yang menyadari tempatnya, lalu Andreas, Ryan dan Kevin yang mengepung gerombolan itu hingga Astrid yang membawa guru pembimbing OSIS. Luna telah menepati janjinya, OSIS adalah rumah terbaik untukku saat di sekolah dan itu benar.


Aku dan Aria sampai di ruang OSIS kembali. Aku langsung duduk di kursi sedangkan Aria merapikan ruangan dan menyalakan kipas.


“Sekarang giliran kami menginterogasi dirimu, Tio." Ucap guru pembimbing OSIS.


“Ehhhhh...!” Aku terkejut.


Apa ini? Aku sangat terkejut saat sedang bersantai menikmati segarnya angin dari kipas kemudian tiba-tiba ditanyai oleh guru pembimbing OSIS.


“Karena dua orang di sana tidak mau memberikan informasi yang sebenarnya. Terpaksa aku harus bertanya langsung kepadamu." Lanjut guru pembimbing OSIS.


Guru pembimbing OSIS menunjuk Luna dan guru olahraga. Karena mereka menyimpan rahasiaku, mereka tidak bisa mengatakan yang sesungguhnya kepada guru pembimbing OSIS.


“Aku kan sudah bilang pak, aku sudah berjanji tidak akan bercerita kepada siapapun. Jadi jangan paksa aku untuk membongkarnya." Tegas Luna.


“Saya juga seperti itu, saya tidak ingin Tio seperti ingin mengumbar masalahnya." Ucap pak Indra.


Guru pembimbing OSIS kemudian mengambil sebuah kursi. Beliau langsung duduk di depan tempat dudukku.


“Baiklah waktunya interogasi." Guru pembimbing dengan tampang serius.


“Maafkan aku Tio." Luna menempelkan kedua telapak tangannya.


Di sini aku sangat berterima kasih kepada Luna dan pak guru olahraga. Mereka menepati janjinya, aku sangat senang sekali. Namun untuk kali ini, mungkin sudah saatnya semuanya harus mengetahuinya.


“Terima kasih Luna dan pak guru karena telah menepati janji kalian. Mungkin sekarang semua harus tahu tentang ini." Aku berterima kasih dan menundukkan kepalaku ke pak Indra dan Luna.


Pak Indra hanya mengangguk. Semua yang ada di ruang OSIS menjadi sangat antusias. Guru pembimbing OSIS tidak meminta untuk menceritakan semua, dia hanya meminta aku untuk menceritakan intinya saja.


“Tidak perlu semua. Hanya kenapa mereka sampai berbuat seperti itu. Itu saja sudah cukup untuk bapak." Ucap guru pembimbing OSIS.


Aku menarik nafas dalam-dalam. Aku sudah siap untuk membuka apa yang selama ini aku simpan kepada mereka. Para anggota OSIS sudah seperti keluargaku sendiri, mereka patut mengetahuinya.


“Baiklah. Jadi selama ini aku menjadi korban bully dari orang-orang itu. Karena suatu alasan, aku tidak disukai oleh mereka. Mereka tidak ingin ada orang spesial di antara mereka dan mereka berencana menjatuhkanku." Jelasku singkat.


Kecuali Luna dan pak Indra, seluruhnya terkejut saat mendengar penjelasanku. Ini adalah kasus yang selama ini aku tutup-tutupi.


“Bully katamu?" Guru pembimbing sedikit tidak percaya.


“Ya, bapak tidak salah dengar. Aku bersama mereka sejak sedari SD. Hingga SMP mereka mencari semakin banyak orang untuk membenciku dengan menyebar fitnah dan gosip tidak baik. Dan sampai SMA ini pun aku masih berurusan dengan mereka." Lanjutku menjelaskan.


“Berarti ini bukan lagi masalah kecil. Ini sudah termasuk tindakan kejahatan." Balas guru pembimbing geram.


Guru pembimbing OSIS sudah mengetahui sedikit dari akar masalahku, dia sedang terlihat merencanakan sesuatu. Tak lama kemudian dia menanyaiku lagi.


“Lalu kenapa guru olahraga bisa lebih tahu tetapi tidak melaporkan nya?” Tanya guru pembimbing OSIS.


“Itu aku yang meminta beliau untuk tidak menceritakan kepada siapapun. Bagaimanapun juga, mereka juga berhak bersekolah. Urusan denganku tidak ada hubungannya dengan bersekolah. Pak Indra pernah memergoki aku saat di-bully mereka. Karena itu aku selalu tidak ikut pelajaran olahraga, tapi tapi pak guru meminta aku menggantinya di hari minggu. Aku tidak ingin masalahku tersebar luas. Aku hanya ingin belajar di sekolah dan mendapatkan nilai yang bagus tanpa mempedulikan mereka." Jelasku panjang lebar.


“Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas penjelasannya. Mari pak kita kembali ke ruang BK, kita selesaikan ini semua." Ajak guru pembimbing OSIS.


Kemudian guru pembimbing OSIS dan guru olahraga meninggalkan ruang OSIS. Setelah itu, ruangan OSIS menjadi hening setelah aku menjelaskan semuanya.