
Luna dan ibunya melihat Tio berjalan pulang. Luna terlihat senang lalu memberi tahu ibunya tentang hal baik hari ini.
“Ibu." Luna tersenyum.
“Ada apa Luna?, kamu kelihatan senang sekali." Tanya ibunya penasaran.
Ibu Luna penasaran dengan raut wajah bahagia Luna. Ibu Luna melihat kembali ke arah Tio yang sekarang sudah menjauh pergi.
“Aku berhasil berteman dengannya." Jawab Luna dengan perasaan senang.
“Loh cepatnya? Apa yang kamu lakukan?” Tanya ibunya.
Luna memberi tahu ibunya, namun dia hampir saja salah bicara.
“Aku menang... Ehhh maksudku, aku berhasil membujuknya agar mau berteman." Luna hampir salah bicara.
Luna lupa bahwa orangtuanya tidak bisa melihat monster. Kalau dia cerita tentang monster ke orangtuanya, maka kejadian tentang salju semalam pasti akan terulang. Luna akan dianggap menghayal lagi.
“Oh, pantas saja kamu senang sekali hari ini." Balas ibunya.
“Hehe, ini adalah salah satu hari terbaikku bu." Luna tersenyum lagi.
Suasana hati Luna sedang senang sekarang. Ibu Luna kemudian teringat akan sesuatu. Terlebih dahulu, ibunya menyuruh Luna untuk segera mandi.
“Luna, sana mandi dulu. Nanti selesai mandi bilang ibu." Suruh ibunya.
Luna menatap ibunya. Dia penasaran kenapa habis mandi harus bilang ke ibunya?.
“Loh ada apa bu setelah mandi?" Tanya Luna.
“Sudah, nanti kalau selesai bilang saja. Nanti ibu kasih tahu." Jawab ibunya.
Luna bergegas menuju kamarnya. Dia masih penasaran tentang kata-kata ibunya tadi. Luna masih memikirkan itu, dia ingin cepat selesai mandinya.
Sementara sewaktu Luna mandi, ibunya bergegas menuju kamar. Ibu Luna membuka lemari bajunya kemudian mencari sebuah kotak yang ibu Luna simpan di lemari. Sebuah kotak kayu yang terlihat usang kemudian dikeluarkan dari lemari.
Selesai mandi, Luna kembali ke kamarnya. Luna bergegas memakai baju tidur lalu keluar kamar memanggil ibunya.
“Ibu, aku sudah selesai." Teriak Luna dari kamarnya.
Terdengar suara Luna yang memanggil. Ibu Luna kemudian membuka kotak yang dikeluarkanya tadi.
“Baik nak, ibu ke sana." Balas ibunya.
Kotak itu ternyata berisi kenangan masa muda ibu Luna. Di dalam kotak terdapat beberapa surat, beberapa foto, sebuah sisir dan sebuah ikat rambut. Ibu Luna mencari foto masa mudanya saat bersama ayah Luna. Setelah ketemu, ibunya datang ke kamar Luna membawa sisir, ikat rambut dan sebingkai foto.
Ibu Luna mengetuk pintu kamar Luna. Luna membuka pintu lalu bertanya kepada ibunya.
“Ada apa sebenarnya bu?" Tanya Luna penasaran.
"Sini!" ibu Luna masuk ke kamar Luna.
Luna ditarik tangannya oleh ibunya. Luna kemudian didudukkan di depan meja rias milik Luna.
"Ada apa sih bu?" Tanya Luna lagi.
“Sudah diam, kamu menurut saja sama ibu." Jawab ibunya.
Setelah itu, ibu Luna mulai menyisir rambut Luna dengan lembut. Luna jadi teringat masa kecilnya. Sedari kecil memang rambutnya diharuskan panjang oleh ibunya, jadi ibunya sering menyisir rambutnya sewaktu kecil.
“Bu, aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa menyisir rambutku sendiri." Keluh Luna sambil melihat cermin.
Namun, ibunya menjelaskan hal lain. Sekarang ibunya menyisir rambut Luna karena ada alasan lain.
“Bukan itu nak." Jawab ibunya yang masih menyisir rambut Luna yang setengah basah.
“Lalu?” Luna menjadi sangat penasaran.
Setelah cukup menyisirnya, ibunya kemudian mengumpulkan semua rambut coklat Luna ke samping kiri. Ibu Luna kemudian mengikatnya menjadi kuncir samping kiri dengan ikat rambut yang ibunya bawa tadi.
"Ehh.." Luna terkejut.
“Loh bu, kenapa rambutku dikuncir begini?” Tanya Luna.
Ibunya hanya tersenyum. Kemudian ibunya memberikan sebuah foto ke Luna.
“Lihat nak. Ini ibu dulu sewaktu seumuran denganmu. Ibu menggunakan ikat rambut ini dan juga model rambut seperti ini saat ibu didekati ayahmu." Ibu Luna menceritakan tentang foto itu.
Luna melihat foto ayah dan ibunya saat masih SMA. Luna merasa ibunya sangat cantik dengan model rambut seperti di foto. Apalagi ini adalah foto ayah dan ibunya sewaktu berpacaran saat SMA. Luna kembali melihat cermin, dia merasa aura ibunya sewaktu muda sekarang ada pada dirinya.
“Lalu apa maksudnya ini bu?” Tanya Luna kepada ibunya.
Ibu Luna menjelaskan kepada Luna, bahwa dia hanya mengajarkan cara berpenampilan menarik. Ibunya juga bilang jika akan mendukung masa muda Luna.
“Ibu hanya ingin mengajarimu menguncir rambut seperti ini. Ibu akan selalu mendukungmu nak. Ibu memberikan benda yang dulu selalu ibu pakai sampai ibu menemukan ayahmu kepadamu. Dan juga ibu ingin nostalgia bagaimana jika anak ibu didandani seperti waktu ibu masih muda dulu." Jawab ibunya.
“Tapi bu....” Luna berhenti bicara.
“Kita tidak tahu nak hati kita akan jatuh kepada siapa, setidaknya ibu ingin memberimu benda keberuntungan ibu ini padamu di model rambut yang sama. Ingat kedepannya tata rambutmu seperti ini. Kamu perempuan Luna, kamu harus punya daya tarik tersendiri." Potong ibunya.
Luna masih menatap foto yang ada di tangannya, dia juga kembali melihat cermin. Luna tersenyum senang dengan penampilannya yang sekarang. Meniru ibunya sewaktu muda tidaklah buruk. Namun Luna belum memiliki niat untuk menikmati masa mudanya.
“Haaahhh.. Aku masih terlalu muda untuk hal itu ibu. Aku belum ingin berpacaran. Aku juga tidak ada perasaan apapun ke Tio. Aku hanya ingin berteman dengannya." Luna menjawab dengan lemas.
Ibunya menasihati Luna kembali, agar dia tidak menyesal di masa depan.
“Luna, soal perasaan memang itu terserah dirimu. Tetapi jika perasaan itu datang terlambat, itu akan menjadi hal yang sangat menyakitkan." Ibu Luna mengingatkan.
Apa yang di katakan ibunya benar. Luna mendengar nasihat dari ibunya.
“Baik bu, aku akan mengingatnya." Balas Luna.
Ibunya mengambil foto dari Luna dan meninggalkan kamar Luna. Luna masih di depan cermin sambil tersenyum-senyum sendiri dan memainkan gaya rambutnya yang baru.
Sementara itu, di sisi lain....
“Aku sebaiknya menelpon ibu." Aku mengeluarkan smartphoneku dari saku.
Aku tidak bisa menelepon ibu saat bersama Luna tadi. Bisa-bisa dia mengacau dan bilang aneh-aneh pada ibu nantinya dan saat di rumah pasti aku akan diserbu seribu pertanyaan dari ibu.
Kriiiinnggggggg... (Suara smartphone berdering)
Ya ampun, ikatan batinku dengan ibu ternyata kuat juga ya. Selalu saja saat aku ingin menelepon ibu pasti ibu dulu yang meneleponku.
“Halo Tio, kenapa belum pulang?" Tanya ibu.
Kupingku langsung berdengung karena suara keras ibu. Aku sudah tahu ini akan terjadi.
“A-a-anu bu." Jawabku ketakutan.
“Anu apa?” Balas ibu.
Jangan galak-galak ke anak sendiri kenapa bu? Aku berusaha menjawabnya dengan tenang.
“Tadi aku mampir ke toko mencari game baru lagi tapi sudah habis, lalu aku memainkan game demo tapi malah jadi lupa waktu. Maaf bu." jawabku.
Maaf aku berbohong lagi bu. Kali ini aku harus merahasiakan dari ibu.
“Kamu ini memang kalau sudah main game selalu begitu. Ya sudah cepat pulang." Suruh ibu.
“Baik bu." Balasku.
Telepon berakhir. Dalam hati aku merasa berdosa pada ibu karena aku beberapa kali berbohong padanya akhir-akhir ini. Maafkan aku bu, suatu saat akan aku ceritakan yang sesungguhnya. Aku harus mencari tahu tentang Luna yang sebenarnya sebelum aku memberi tahu pada ibu. Aku kembali melanjutkan perjalanan pulang.
“Aku lapar." Aku mengelus perutku
Aku ingat aku diberi kue oleh Luna. Kalau dilihat-lihat ini seperti kue buatan sendiri. Aku membuka satu bungkus dan memakannya.
“Enakk.. aku harus berterimakasih padanya besok." Ucapku.