HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 156: Rumah Kesayangan



“Akhirnya kalian pulang juga!” Canda tante.


Di dalam mobil tante sedikit bercanda atas kepulangan kami ke kota. Namun penyambutan tante terlihat seperti kami pergi bertahun-tahun saja.


“Bukan akhirnya, memang aku sudah ingin pulang.” Balasku.


“Iya, baru saja 3 minggu lalu kami pergi. Oh iya tumben butik tutup?” Tanya ibu.


Ibu menanyakan waktu luang tante karena butik yang tutup. Meskipun hari minggu, biasanya butik tetaplah buka karena memang jadwal libur butik tidak selalu sama. Karena ibu jarang ke butik, jadi ibu tidak tahu jadwal liburnya.


“Masak sebagai penanam modal kamu tidak tahu. Hari ini kan jadwal semua karyawan libur!” Jawab tante.


“Oh begitu rupanya, maaf sekarang aku jarang sekali ke butik setelah Tio masuk rumah sakit kemarin.” Lanjut ibu.


Ibu menanamkan modal kepada tante saat tante merintis butiknya dulu, maka dari itu ibu tidak pernah bekerja karena setiap bulannya tante memberikan sejumlah uang ke ibu dari investasinya itu. Uang yang ibu tanam adalah uang peninggalan ayah, meskipun cukup banyak namun jika hanya kami gunakan untuk makan pasti akan habis juga. Saat tante menawarkan kerjasama dulu, ibu langsung mengiyakan tawaran tante tentunya untuk jangka panjang seperti sekarang.


Setelah kami keluar dari jalan arah stasiun tadi, tibalah kami di tengah kota. Jalanan macet menjadi pemandanganku sekarang. Inilah kenapa kami selalu berangkat pagi saat menuju stasiun sewaktu ingin pulang ke desa. Perjalanan menembus kemacetan bisa memakan waktu paling sedikit 2 jam lamanya.


"Tante, ini bisa cepat tidak sih?" Tanyaku.


"Kamu tidak lihat jalanan macet?! Kalau mobil ini bisa terbang sih bisa saja cepat sampai ke rumah." Canda tante lagi.


Aku benar-benar bosan dengan situasi macet seperti ini. Mana panas dan aku masih tidak memiliki hiburan, padahal sebentar lagi aku sampai rumah. Mana badanku capek semua, sungguh lengkap yang aku keluhkan hari ini.


"Kita sampai!" Ucap tante Rose.


"Syukurlah kita sampai dengan selamat!" Sahut ibu.


"Akhirnya aku bisa istirahat!" Balasku lemas.


Setelah kami lama bermacet-macetan, akhirnya sampailah kami di rumah kesayangan. Mobil tante berhenti dan kami semua turun dari mobil kemudian aku dan ibu menurunkan barang-barang dari bagasi.


“Akhirnya turun semua dan kami sampai di rumah, terima kasih ya!” Ibu berterima kasih kepada tante.


“Sama-sama.” Balas tante.


“Mau mampir? Aku buatkan teh dulu.” Lanjut ibu menawarkan.


“Maaf aku tidak bisa, aku harus segera pulang untuk makan malam bersama. Sekarang sudah cukup sore, oh iya ini kunci rumahmu!” Tante memberikan kunci rumah ke ibu.


Ibu menerima kunci yang dititipkan kepada tante Rose yang sekarang dia kembalikan. Sayang sekali tante tidak bisa mampir karena memang hari sudah mau sore sekarang.


“Baiklah kalau begitu, jangan sungkan mampir lain kali.” Balas ibu.


“Kalau begitu aku pulang dulu!” Tante pamit sambil memasuki mobil.


“Oke, hati-hati ya!” Ibu melambaikan tangan.


Tante Rose mengegas mobilnya lalu bergegas pergi. Ibu kemudian menuju samping rumah untuk menyalakan saklar listrik. Setelah lampu rumah menyala, ibu membuka pintu rumah.


"Permisi." Ucap ibu.


"Kan tidak ada orang di rumah, kenapa mengucap salam?" Balasku.


"Tidak ada salahnya bukan?" Jawab ibu.


Aku hanya menggeleng kepala lalu membawa barang-barang masuk. Aku kemudian membawa tas milikku ke dalam kamar. Aku mengeluarkan semuanya dari dalam tas koperku. Yang pertama aku keluarkan adalah konsolku sekaligus aku memasang ke televisi sekalian. Setelah konsolku siap aku melanjutkan menata baju-bajuku ke lemari.


Hari ini cukup melelahkan. Aku ingin mandi setelah itu aku juga mau pergi ke toko game untuk mencari game offline baru untuk aku bermain di desa dengan Reza. Aku bergegas menuju kamar mandi karena sudah tidak tahan akan lengketnya badanku karena keringat.


“Loh tumben masih sore mau mandi?” Tanya ibu di dapur.


Ibu melihatku yang membawa handuk dan menuju kamar mandi. Memang hari masih terang, wajar ibu bertanya seperti itu. Aku pun memberi tahu ibu jika aku mau pergi keluar sebentar.


“Aku mau ke toko game, bu. Aku mau cari game baru sekalian belanja yang lain.” Jawabku.


“Kamu tidak kecapekan? Besok kan kamu masuk sekolah?” Ibu sedikit khawatir.


“Justru karena itu aku ingin pergi sekarang. Kan tadi aku sudah tidur berkali-kali, yang harusnya dikhawatirkan adalah ibu. Apa ibu tidak capek setelah menata semua barang-barang ibu lalu sekarang memasak? Apa aku sekalian beli makanan di luar?” Aku berbalik bertanya.


“Oh ibu tidak apa-apa. Lebih baik kita memasak saja, tante memberi sayuran segar tadi sayang kalau tidak dimasak.” Jawab ibu.


Sebenarnya aku juga berniat membeli makan malam sih, tapi ternyata tante telah memberikan ibu bahan makanan. Sekarang rencanaku harus aku batalkan karena tidak baik jika tidak menghargai pemberian orang lain.


“Baiklah kalau begitu, jangan lupa mengabari guru olahraga untuk besok!” Ucapku sambil pergi meninggalkan ibu.


“Iya, iya. Nanti!” Balas ibu.


Aku kemudian mandi lalu bersiap pergi. Aku pamit ke ibu yang masih memasak. Setelah aku memastikan membawa uang dan dompetku, aku keluar dari rumah lalu berjalan menuju toko game.


Di suatu tempat..


“Hah.. Hah.. Aku capek!” Keluh Aria.


“Sama, aku juga kecapekan! Ini gara-gara ban sepedaku harus bocor segala sih!” Balas Luna.


Sementara itu, Luna dan Aria sedang berjalan-jalan di tengah kota. Mereka terlihat sedang berjalan kaki karena sepeda milik Luna harus di bawa ke bengkel karena ban sepedanya bocor. Mereka berdua ternyata masih melakukan rutinitas mencari Tio meskipun harus berjalan kaki.


“Aku tidak menyangka berjalan seharian melelahkan seperti ini!” Aria menyeka keringatnya.


“Kamu sih, sudah di bilang untuk menunggu ayahku pulang malah terburu-buru seperti tadi!” Luna menyalahkan Aria.


“Habisnya lama sih!” Balas Aria.


Luna hanya mengerutkan dahinya mendengar alasan Aria itu. Benar-benar anak itu tidak sabaran dan sangat mementingkan ego sendiri. Yah mau bagaimana lagi, Aria ya tetap Aria!


“Ya mana ada orang mengganti ban sepeda itu sebentar!” Lanjut Luna.


Sontak Luna sedikit mengeluarkan kekesalannya atas alasan Aria tadi. Ya mana ada mengganti ban sepeda satu menit jadi, mana sepedanya juga harus dibawa ke bengkel dan belum kalau antri.


Lalu mereka berdua pun berdebat satu sama lain sembari menyeka keringat dan melihat ke sekeliling tempat yang mereka sedang kunjungi. Mau bagaimana lagi semua sudah terlanjur, mereka sudah berangkat berjalan ya harus siap dengan rasa lelah.