HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 67: Mimpi



“Di mana aku?” Tanyaku pada diri sendiri.


Aku berada di tempat gelap yang sama sekali belum pernah kulihat. Aku melihat ke sekeliling tempat ini, aku tidak tahu aku di mana dan bahkan aku sendiri tidak tahu kenapa aku ada di tempat seperti ini.


Aku berjalan menyusuri tempat ini, aku sama sekali tidak bisa melihat apapun selain gelap. Benda-benda yang ada di tempat ini bahkan hanya terlihat samar karena gelapnya. Setelah beberapa lama berjalan, aku pun tersadar akan sesuatu.


“Oh iya, aku tidak sadarkan diri. Rasa sakit di badanku hilang.” Aku memegangi seluruh tubuhku.


Seingatku, aku pingsan saat telah sampai di depan rumah. Setelah aku tahu aku sedang tidak sadarkan diri, aku kembali melanjutkan berjalan. Aku ingin tahu tempat apa ini? Aku mulai menjelajah untuk menemukan tempat terang.


“Ibu.. ibu..” aku mencoba memanggil ibuku


Tidak ada jawaban, itu berarti hanya aku yang berada di sini. Aku harus cepat menemukan jalan keluar. Aku mulai berlari dan terus berlari, namun tiada hasil. Aku kelelahan dan berhenti di bawah sebuah pohon. Aku mengetahuinya karena aku meraba-raba dan merasakannya tekstur pohon.


“Apa yang terjadi padaku setelah aku pingsan kemarin?” Tanyaku pada diri sendiri.


Aku mengingat kembali kejadian kemarin. Meskipun mungkin ini adalah alam bawah sadar, masih tergambar jelas di pikiranku tentang kejadian itu. Kemarin adalah hari yang sangat menyakitkan bagiku setelah kehilangan ayahku.


Aku hanya bisa berdoa agar aku tetap baik-baik saja. Kasihan ibu jika aku masih seperti ini, dia pasti akan sedih melihatnya. Kemudian beberapa saat aku berada di bawah pohon, tiba-tiba ada sebuah cahaya merah yang terbang melewatiku. Cahaya merah itu kemudian bersinar terang lalu muncul Hayase di depanku.


“Hayase?” Aku terkejut.


Aku tidak menyangka ini benar-benar Hayase, aku bisa merasakannya. Kemudian Hayase seolah memberiku petunjuk untuk mengikutinya. Meskipun dia tidak bisa bicara, aku masih bisa mengerti apa yang ingin Hayase sampaikan.


"Kamu ingin aku ikut?" Tanyaku.


Hayase mengangguk. Tanpa ragu aku mengikuti Hayase pergi. Meskipun melewati jalan yang sulit, menerobos semak, menaiki bebatuan dan juga kegelapan yang membuat mata samar-samar saat melihat sesuatu. Yang hanya bisa aku lihat hanyalah Hayase yang berwarna merah. Aku lebih mendekatkan diri kepada Hayase karena aku tidak ingin kehilangan jejaknya.


"Akhirnya, akhirnya tempat terang!" Ucapku senang.


Setelah beberapa lama aku mengikuti Hayase, secercah cahaya muncul di depanku. Semakin dekat dan semakin dekat, pada akhirnya aku menemukan tempat terang di sini. Tempat ini ternyata adalah sebuah danau yang memantulkan cahaya. Kemudian Hayase berjalan menuju tepi danau dan melihat ke arahku.


“Hayase, ada apa?” Tanyaku.


Tiba-tiba hal aneh itu datang kembali, Hayase diselimuti oleh aura api. Lalu kemudian dari bawah, api hitam muncul dan melahap semua api merah yang ada di tubuh Hayase. Ini sama persis seperti kemarin, kartu Hayase menunjukkan hal yang sama. Setelah api hitam itu melahap habis Hayase, Hayase pun menghilang tanpa jejak.


“Haayyaasseeee....” Teriakku.


Apa maksudnya tadi? Ada dua api yang membakar Hayase. Aku masih tidak mengerti karena Hayase juga tidak bisa berbicara. Lagi-lagi aku sendiri di tempat asing ini.


Aku terduduk lemas di tepi danau, aku hanya bisa menundukkan kepalaku. Aku hanya berpikir akankah aku kehilangan Hayase. Meskipun dia monster level bawah, tetapi tanpa dia aku tidak akan sejauh ini. Aku harus segera bangun ke dunia nyata dan memastikan apakah Hayase masih ada atau tidak.


Aku berdiri untuk melanjutkan mencari jalan keluar dari tempat ini. Aku ingin segera keluar, aku sudah tidak tahan lagi. Aku mulai berjalan menyusuri pinggiran danau karena tempat ini satu-satunya petunjuk jalan karena terang. Ternyata sumber cahayanya dari dalam danau, aku jadi penasaran apa yang ada di dalamnya.


“N.. Naga?” Aku terpesona.


Naga itu terbang kesana-kemari sambil mengeluarkan api dari mulutnya. Kemudian naga itu melihatku dan berhenti di atas danau.


Aku semakin mendekati danau. Naga itu sepertinya sangat kuat, aku sangat ingin partner yang kuat untuk sekarang. Aku ingin bisa bersaing. Setelah benar-benar aku memasuki danau dan sedikit mendekat kepada sang naga. Hal aneh selanjutnya terjadi lagi.


Criinng..


Criinng.. (Suara rantai)


Tiba-tiba muncul rantai-rantai hitam dari dalam danau. Sang naga kemudian terikat oleh rantai hitam sehingga naga itu tidak bisa terbang. Aku menjadi sedikit takut, aku mundur ke belakang karena khawatir akan terikat juga seperti naga itu.


Naga itu berusaha melepaskan diri, namun dia tidak mampu dan berakhir tenggelam di danau. Naga itu semakin tidak terlihat tertarik rantai lalu ditelan oleh air danau.


"Naga.. Naga.." Aku mengulurkan tanganku.


Aku ingin sekali menolong naga itu. Setelah aku mengingat aku tidak melakukan apapun saat Hayase menghilang tadi, aku merasa kesal. Kemudian aku berlari semakin memasuki danau. Aku ingin menolongnya, namun malah aku juga berakhir dengan tenggelam.


Aku tidak bisa bernafas dan aku pun tidak bisa berenang. Aku semakin masuk kedalam air dan aku sama sekali tidak bisa bernafas lagi. Aku memejamkan mataku dan berkata dalam hati apakah aku akan mati di sini? Pandanganku semakin gelap dan semakin gelap, sampai aku tidak bisa melihat apa-apa lagi.


“Hayase...” Aku tersadar dan mataku terbuka.


Aku melihat sekeliling dan menemukan kartu Hayase ada di dekatku. Syukurlah dia masih ada, aku sangat lega sekarang. Aku mengambil kartu Hayase lalu melihatnya dengan seksama. Ini nyata, ini benar-benar Hayase. Itu artinya aku sudah sadar?.


"Aw.. Sakit!" Aku merasakan sakit di sekujur tubuhku.


Aku berhenti menggerakkan tubuhku karena bergerak sedikit saja aku sudah merasa kesakitan. Yang terpenting sekarang aku ada di mana? Aku kembali melihat ke sekeliling untuk mencari tahu.


"Ah, aku di rumah sakit ternyata." Ucapku saat menyadarinya.


Aku melihat infus yang menggantung di dekatku dan juga jarum infus yang tertancap di tanganku. Tempat tidurku juga terasa aneh karena memiliki besi penghalang di kanan-kirinya. Sudah pasti jika aku sedang di rumah sakit. Aku merasa senang karena ternyata aku selamat dan aku lebih bersyukur lagi karena pada akhirnya aku sadar.


Aku melihat ada seseorang tertidur di dekatku. Dia menyandarkan kepalanya di tanganku, aku berfikir apa itu ibu? Rambutnya juga sedikit berbeda dengan ibu dan dia memakai salah satu jaketku.


"Ib.. Tunggu, dia sedikit berbeda." Gumamku


Karena rambutnya menutupi wajahnya, akupun sedikit membelai rambutnya sehingga terlihat siapa dia. Sungguh aku sangat terkejut saat aku mengetahui siapa dia.


“Lu.. Luna.” Ucapku lirih.