HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 44: Konflik



Suasana di ruang OSIS mulai menegangkan. Andreas mengatakan kepada semua agar segera menemukan orang itu


“Mencarinya? Untuk apa kita semua mencarinya? Lalu bagaimana cara kita mencarinya tapi kita tidak punya petunjuk satupun." Ujar Luna.


"Aku sendiri juga tidak tahu, maka dari itu kita harus rencanakan." Balas Andreas dengan nada yang masih tinggi.


Andreas masih terbawa emosi. Ryan mencoba untuk menenangkan Andreas. Karena tidak baik ketika mengambil keputusan saat terbawa emosi.


“Tenang Andreas, dinginkan pikiranmu. Jangan sampai kau membuat keputusan saat pikiranmu sedang tidak jernih." Ryan menasihati Andreas.


Andreas kembali duduk dan menenangkan dirinya. Dia terlihat begitu emosi setelah membahas orang misterius tadi. Aku semakin penasaran dengan tujuan rapat ini. Katanya ini rapat penting, namun aku sama sekali tidak tahu pentingnya di mana?


“Maafkan aku semua. Aku hanya sedikit kesal tadi." Ucap Andreas.


Para anggota OSIS mencoba menenangkan Andreas. Memang hal ini adalah misteri yang harus dipecahkan dengan segera, namun apabila yang mereka lakukan hanya karena tergesa-gesa mungkin hasilnya akan jauh dari apa yang mereka harapkan.


“Baiklah, biar Lancer yang akan menjelaskan sesuatu. Keluarkan juga monster kalian masing-masing." perintah Andreas.


Andreas kemudian memanggil Lancer keluar menjadi bentuk Fairy. Lancer adalah monster milik Andreas yang berbentuk assasin api beratribut Fire


Kami semua mengeluarkan monster kami masing-masing. Aku sangat tidak menyangka ketika semua mengeluarkan monsternya, monster mereka berenam bisa menjadi bentuk Fairy semua. Itu artinya, monster mereka semua Mark 2. Saat aku menyadari itu, ternyata yang paling menyedihkan di sini adalah aku. Kali ini benar-benar tidak adil, apa tujuan mereka mengundangku ke tempat ini. Aku mulai menundukkan kepalaku dan mengepalkan tanganku dengan erat.


“Loh Tio. Kenapa monstermu masih berbentuk kartu?” Tanya Andreas.


Dengan santainya dia bertanya kepadaku seperti itu. Sekarang aku benar-benar merasa seperti tidak di hargai. Aku di ajak rapat namun aku sendirian yang tidak dijelaskan inti dari rapat ini. Apa maunya? Apa tujuan anak satu ini. Aku sudah menduga anak ini tidak beres sejak tadi.


Jadi ini maksudnya, aku diundang ke tempat ini hanya untuk diejek? Aku marah sekarang, namun aku tidak mempunyai kekuatan untuk melampiaskan kemarahanku ini. Aku menjadi murung sambil menahan emosi di sini, dan lagi-lagi Luna membelaku.


Brakk.. (Suara gebrakan meja)


“Hoi Andreas, sudah aku bilang bukan hati-hati dengan kata-katamu. Aku mendapat masalah karena Fox berkata monster Tio itu lemah dan sekarang kamu dengan terang-terangan menanyakan hal seperti itu. Kamu sungguh keterlaluan Andreas." Luna marah kepada Andreas.


Luna langsung berdiri dan menggebrak meja. Semua orang kaget dengan apa yang dilakukan Luna. Tidak hanya itu, Luna juga memaki Andreas tanpa ampun.


“Tunggu dulu.. Tenang Luna..” Andreas mencoba menenangkan Luna.


Luna semakin brutal memaki Andreas yang berbicara tanpa berpikir dan tidak merasa bersalah dengan apa yang telah dia katakan. Luna melimpahkan semua kekesalannya kepada Andreas.


“Asal kamu tahu Andreas. Butuh usaha besar agar aku bisa mendekati Tio lagi setelah kejadian itu. Aku harus bertaruh dan berduel dengannya. Kamu tidak akan bisa mengerti perasaanku, Andreas." Bentak Luna.


Aku sendiri menjadi terbawa emosi. Tidak salah memang aku mengincar Andreas karena hanya dia yang membuatku tidak nyaman. Aku sudah tahu jika ini mungkin akan terjadi. Sikap angkuhnya benar-benar kelewatan. Aku akan lebih marah lagi jika Luna semakin memperpanjang debat mereka. Aku memutuskan untuk menghentikan Luna.


“Tapi Tio..” Luna menatapku.


“Cukup.. terima kasih atas yang barusan." Lanjutku dengan nada dingin.


Semua terdiam, suasana pun menjadi canggung. Setelah aku menghentikan Luna, aku pun mulai berbicara


“Sebenarnya monsterku hanyalah monster Mark 1. Aku memang sedikit kecewa dan kesal saat aku mengetahui Luna memiliki monster level tinggi dan di sini pun demikian. Aku seperti bukan bagian dari kalian tapi aku akan berpikir sedikit dewasa. Aku akan mengesampingkan masalah pribadiku untuk sekarang. Aku tidak keberatan karena memang monsterku monster yang lemah." Aku menjelaskan dengan menahan amarahku.


Semuanya hanya terfokus kepadaku dan Andreas. Andreas merasa bersalah, tidak seharusnya dia menyinggung perasaan anggota baru.


“Sekali lagi aku minta maaf." Andreas menyesal


Kali ini Andreas benar-benar menyesal dengan apa yang telah dia perbuat. Dia menundukkan kepalanya untuk waktu yang cukup lama. Karena aku tidak tega, aku menyuruhnya mengangkat kepalanya.


“Sudah, aku sudah maafkan. Angkat kepalamu Andreas." Balasku.


Meskipun aku sudah memaafkannya namun aku tidak bisa langsung mengabaikannya. Aku akan tetap waspada dengan Andreas ke depannya. Aku masih yakin hal seperti ini akan terjadi lagi.


“Baiklah, terima kasih.” Andreas terdiam kemudian.


Ruang OSIS menjadi sepi tanpa suara. Lalu Lancer mendekat ke arahku. Lancer kemudian mengajak aku berbicara.


“Jangan cemas nak, monster akan menjadi kuat seiring berjalannya waktu. Tujuan kami para monster disegel menjadi kartu adalah agar kami bisa berkembang dengan setara. Berbeda saat di dunia kami, hukum alam yang bertindak. Semakin kuat monster maka semakin mudah juga dia mengalahkan monster yang lain. Dengan bantuan para manusia para monster akan melewati batas kekuatan miliknya masing-masing." Jelas Lancer.


Aku sedikit terhibur dengan ucapan Lancer. Aku memandangi kartu Hayase dan berharap ucapan Lancer itu benar adanya. Aku menenangkan diriku sebelum aku membalas Lancer. Aku masih merasa emosi namun aku tidak ingin melanjutkannya.


“Aku mengerti, maka dari itu aku mencoba mengesampingkan masalah pribadiku untuk saat ini." Balasku ke Lancer.


Keadaan masih belum kondusif. Jika keadaan masih seperti ini, kemungkinan pertemuan ini skan menjadi buntu. Aku memilih diam untuk sementara, kalau tidak konflik ini akan berlanjut lagi.


“Maafkan aku Luna." Tiba-tiba Andreas meminta maaf ke Luna.


Tidak lupa, Andreas juga meminta maaf kepada Luna. Aku kemudian melihat ke arah Luna, dia masih terlihat emosi kepada Andreas. Meski begitu, Luna juga sepertinya tidak ingin ini berlanjut.


“Hhhaaaaaahhhhhh.... Jika kata Tio seperti itu apa boleh buat, lupakan saja yang tadi." Luna memaafkan Andreas.


Luna terlihat terpaksa memaafkan Andreas karena dia tidak bilang langsung jika telah memaafkan Andreas. Aku benar-benar paham dengan perasaan Luna, karena akulah yang membuat Luna seperti itu berkat kejadian kemarin. Saat itu memang Fox yang bilang monsterku lemah, namun aku melampiaskan kekesalanku ke Luna bukan ke Fox. Teringat akan hal itu jelas membuat Luna marah saat ini. Mulai sekarang aku harus bisa mengesampingkan masalahku. Karena sekarang aku sedikit dikelilingi oleh beberapa orang baik dan aku harus bisa beradaptasi.