HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 92: Tugas Bendahara



“Baik, pengajuan ini saya terima.” Ucap kepala sekolah.


Setelah kepala sekolah membaca surat pengajuan dari klub tenis, kepala sekolah pun menandatangani surat itu serta memberi cap. Setelah itu, kepala sekolah mengembalikannya ke Kevin.


“Terima kasih banyak pak. Kalau begitu, kami permisi dahulu.” Kevin pamit.


“Heh?..” Aku merasa tidak paham di sini.


Karena Kevin sudah pamit, aku pun juga pamit kepada guru olahraga. Aku tidak mau kembali ke kelas sendirian.


“Kalau begitu aku pamit juga pak, aku masih harus ikut dengan Kevin.” Ucapku kepada pak Indra.


“Silahkan, silahkan. Oh iya jangan lupa jaga kesehatan!” Pak Indra mengingatkan.


“Baik pak!” Balasku sambil berjalan cepat menyusul Kevin.


Aku kembali mengikuti Kevin. Saat ini muncullah pertanyaan di kepalaku tentang surat itu. Kenapa surat itu dikembalikan ke Kevin? Bukankah surat itu untuk kepala sekolah? Daripada aku bingung sendiri memikirkannya, lebih baik aku bertanya langsung pada Kevin.


“Kevin, kenapa surat itu dikembalikan kepadamu?” Tanyaku penasaran


“Oh memang begitu prosedurnya!” Jawab Kevin.


“Prosedur? Prosedur apa lagi itu? Aku dari tadi sungguh tidak mengerti.” Lanjutku.


Aku sedari tadi sangat tidak paham, namun ternyata masih ada prosedur setelah dari kepala sekolah. Aku jadi penasaran ingin tahu prosedur di balik surat itu. Aku malah bersemangat ingin mengetahui lebih jauh dari tugas Kevin.


“Oh kamu belum tahu rupanya? Jadi surat pengajuan ini kita beri tahukan dahulu kepada kepala sekolah. Setelah kepala sekolah menyetujui dengan memberikan tanda tangan dan cap, surat ini kemudian kita berikan kepada bendahara OSIS.” Jelas Kevin.


Jadi begitu, aku sangat paham sekarang setelah Kevin menjelaskan. Kevin tinggal mengantar surat yang sudah disetujui oleh kepala sekolah ke bendahara OSIS, yaitu Astrid.


“Ohh jadi surat itu kita berikan kepada Astrid?” Aku bertanya lagi.


“Iya, Astrid akan berbelanja barang yang diajukan oleh klub-klub di sekolah ini. Maka dari itu surat ini dikembalikan kepadaku." Lanjut Kevin.


“Ohh begitu rupanya. Aku paham sekarang. Jadi kita sekarang akan mencari Astrid?” Balasku.


Tiba-tiba bel masuk berbunyi saat aku sedang asyik mengobrol dengan Kevin. Ternyata waktu istirahat telah usai dan sekarang saatnya kami sema masuk ke kelas.


“Lebih tepatnya nanti sore, dengarkan bel sudah berbunyi.” Ucap Kevin.


“Pas sekali, kalau begitu aku kembali ke kelas dulu. Eh tetapi raket ini bagaimana?” Tanyaku.


Aku setengah sadar jika masih membawa raket tenis di tanganku. Setelah lama membawanya ternyata tidak seberat awal-awal tadi. Mungkin harus terbiasa dengan raket ini jika mau bermain tenis, ya?


“Hmm.. kita bawa ke kelas saja deh, nanggung soalnya.” Jawab Kevin setelah memikirkan solusi.


Masa iya harus bawa barang sebesar ini ke kelas? Namun mengingat aku sudah menyanggupi membantu Kevin jadi aku tidak boleh mengeluh. Dia saja tidak keberatan membawa raket itu ke kelasnya, aku juga harus bisa sepertinya. Aku akan membawanya.


“Oke deh, aku bawa.” Aku setuju.


“Terima kasih ya sudah membantuku!” Kevin berterima kasih.


“Sama-sama, sampai ketemu nanti.” Balasku.


Aku berjalan cepat menuju kelas dan berpisah dengan Kevin. Aku sedikit terburu-buru karena tidak ingin masuk kelas terlambat. Aku belum berani berlari karena aku takut cederaku akan kambuh. Sesampainya aku di depan kelas, aku berpapasan dengan guru yang hendak mengajar pelajaran selanjutnya. Waktunya begitu pas, aku pun segera masuk kelas.


“Dari mana saja kamu sampai masuk kelas terakhir?” Tanya Luna padaku.


Belum juga duduk aku sudah ditanyai Luna. Dia menanyakan aku dari mana saja, Luna juga melihat jika aku sedang membawa sebuah raket tenis. Wajahnya sedikit curiga kepadaku.


“Aku tadi ikut Kevin ke ruang kepala sekolah. Klub tenis mengajukan beberapa barang.” Jawabku.


Aku kemudian duduk di kursiku, aku sudah lelah membawa raket besar ini dan sekarang malah Luna mengira aku ikut klub tenis. Membawa raketnya saja aku sudah malas apalagi masuk klubnya. Aku terpaksa membawa raket besar ini karena membantu Kevin. Jika lain kali aku disuruh membawanya lagi aku belum tentu mau, ini berat.


“Sembarangan, bawa raketnya saja sudah capek begini. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan mereka yang ikut klub itu.” Balasku.


“Hahaha.” Luna tertawa.


“Malah tertawa, apanya yang lucu?” Tanyaku.


“Tidak, tidak ada apa-apa!” jawab Luna sambil menahan tawa


“Dasar kamu ini, aneh!” Balasku.


Pelajaran kemudian dimulai kembali. Semua siswa memahami apa yang guru sedang terangkan di depan. Yang masih terpikirkan olehku hanyalah siapa yang mau ikut klub tenis? Aku melihat ke arah raket rusak yang aku sandarkan di tembok. Mereka pasti orang-orang yang memiliki kekuatan lebih untuk bisa sampai merusakkan raketnya seperti ini. Aku hanya bisa menggelengkan kepala.


Waktu pulang tiba, namun aku dan Luna harus ke ruang OSIS setiap waktu pulang. Itu kegiatan kami para OSIS setiap hari. Jika tidak ada sesuatu yang penting maka kami bisa pulang cepat, namun jika ada yang harus dibahas maka kami menambah sedikit waktu di sekolah.


"Ayo ke ruang OSIS!" Ajak Luna.


"Aku memang mau ke sana, kan aku bawa ini!." Balasku sambil menunjukkan raket tenis.


Aku dan Luna berjalan bersama menuju ruang OSIS, aku meminta Luna membawa raketnya namun dia menolak. Luna tidak ingin membawa benda berat seperti itu. Luna sedari tadi hanya menertawaiku, aku menjadi sedikit kesal kepadanya. Kami berdua sampai di ruang OSIS. Di sana sudah ada Andreas, Aria dan Astrid.


“Yang lain mana?” Tanya Luna.


“Ryan izin pulang, ada keperluan. Kevin belum datang.” jawab Aria


“Ohh, oke deh.” Luna kemudian duduk.


Aku juga ikut duduk di samping Luna, karena memang tempat kami bersebelahan. Tak lama, Kevin pun datang.


“Maaf aku terlambat, guru pelajaran terakhir agak lama sekali tadi.” Keluh Kevin.


“Tidak apa-apa. Baik kalau begitu adakah yang harus kita bahas?” Tanya Andreas.


“Dari kami tidak ada kayaknya, iya kan Tio?” Tanya Luna padaku.


“Aku tidak menemukan pelanggaran apapun hari ini.” Jawabku.


Yah memang hari ini nihil pelanggaran. Sudah hari ini panas lalu tidak ada pelanggaran, rasa-rasanya aku mengelilingi sekolah hari ini begitu sia-sia.


“Dariku juga tidak ada.” Sahut Aria.


“Aku juga!” Jawab Astrid.


Mendengar Astrid yang tidak ada laporan, Kevin langsung memberikan Astrid sebuah tugas. Kevin mengeluarkan surat pengajuan dari klub tenis lalu memberikan ke Astrid.


“Eeiits.. Tunggu sebentar Astrid! Ini klub tenis mengajukan sesuatu.” Sahut Kevin.


“Astaga Kevin, kenapa baru bilang sih!” Astrid kesal.


“Oh iya, ini raket yang rusak.” Tambahku.


Aku meletakkan raket tenis yang rusak di atas meja, begitu juga Kevin yang menunjukkan raket yang dibawanya ke Astrid. Di sini Astrid mulai kesal.


“Kalian ini ya memang!” Astrid cemberut.


“Haha, jadi intinya hari ini adalah tugas untuk Astrid.” Andreas tertawa