HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 39: Hal Penting



Tok.. tok.. (Suara ketukan pintu)


“Ya..” Luna menjawab.


Ibu Tio membuka pintu kamar Tio lalu masuk dengan membawa cemilan untuk Luna.


“Ini camilannya nak Luna." Ibu Tio menawari Luna.


Ibu Tio menaruh camilan dan minuman kaleng yang telah Tio beli di atas sebuah meja kecil yang ada di kamar Tio.


“Terima kasih bu. Jadi Tio sudah pulang?” Tanya Luna.


“Iya sudah, sekarang dia sedang mandi." Jawab ibu Tio.


“Hehhhh.. Berarti.. Anu... Nanti dia akan ke sini?” Luna gugup.


Luna merasa tidak nyaman lagi berada di kamar Tio. Dia malah menjadi gelisah berasa di dalam kamar laki-laki.


“Sudah-sudah, ibu sudah memberinya baju ganti tadi. Biar ibu temani kamu di sini sampai Tio datang.” Balas ibu Tio.


“Oh begitu rupanya.” Luna lega.


Luna dan ibu Tio kembali berbincang. Luna sudah terlihat akrab dengan ibu Tio sekarang. Pembicaraan mereka semakin ke sini semakin menyenangkan.


Pada akhirnya, sekarang aku bingung mau melakukan apa? Aku sudah selesai mandi dan sekarang aku mau masuk ke kamarku sendiri saja tidak berani. Aku tidak menyangka di dalam kamar ada Luna.


“Permisi...” Ucapku.


Aku membuka pintu perlahan, aku merasa saat ini kamar ini seperti bukan kamarku saja. Ada Luna dan juga ibu, aku menjadi canggung untuk masuk kamar.


“Nah ini orangnya, ya sudah ibu ke dapur lagi. Oh iya Tio, katanya ada hal penting yang ingin Luna sampaikan." Balas ibu sambil meninggalkan kamarku.


Ibu menutup pintu kamar dan menyisakan aku dan Luna sekarang. Aku benar-benar gugup, tidak seharusnya aku dan Luna di sini. Beberapa saat kami terdiam tanpa berbicara satu sama lain, keadaan semakin canggung. Aku kemudian duduk di samping Luna agak jauh sedikit.


“Aku merasa terjajah di kamar sendiri." Gerutuku.


“Hehe, ibumu sangat baik padaku. Terimakasih Tio." Luna tersenyum.


Saat ini aku tersadar akan sesuatu. Luna memakai baju yang sangat bagus dan celananya cukup pendek. Aku tidak sanggup melihat Luna di keadaan seperti ini. Aku kemudian mengalihkan pandanganku.


“Eh tunggu, baju siapa itu?” Aku sedikit terkejut.


“Oh ini, tadi ibumu memberiku baju ganti." Luna melihat ke arah baju yang dia kenakan.


"Lalu apa maksudnya baju itu? Itu terlalu terbuka." Aku semakin tidak berani melihat Luna.


"A-aku juga tidak tahu, bajuku kotor tadi jadi ibumu memberikan baju ini. Katanya ini baju ibumu saat masih muda. Mau tidak mau aku harus memakainya, aku juga tidak betah memakai bajuku tadi. Aku sangat malu mengenakan baju ini, jadi.. jadi jangan buat aku semakin merasa malu lagi" Jawab Luna malu-malu.


Aku sedikit melirik ke arah Luna. Dia ternyata juga tidak menginginkan memakai baju itu. Dia memakainya karena terpaksa. Aku mencoba untuk bersikap biasa ke Luna untuk sekarang.


“Iya juga sih, aku sendiri tidak mungkin punya baju pink seperti itu." Balasku.


“Hahaha." Luna tertawa.


Akhirnya Luna bisa tertawa juga, suasana menjadi biasa sekarang. Aku teringat dengan yang ibu katakan tadi. Katanya Luna ingin membicarakan sesuatu denganku.


“Lalu ada apa? Tadi ibu bilang ada hal penting yang ingin kamu sampaikan." Tanyaku.


“Oh itu, aku ingin bertanya kepadamu?” Balas Luna.


“Apa itu?” Lanjutku.


“Kamu mau bergabung dengan OSIS?” Tanya Luna.


“Ehhh, OSIS katamu!" Aku sedikit terkejut.


Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba Luna menawarkan aku untuk masuk ke OSIS? Memang nilai-nilaiku tinggi di sekolah, tapi selama kelas satu aku tidak pernah melihat tanda-tanda jika akan direkrut oleh OSIS. Meskipun begitu, sepertinya aku akan menolak tawaran Luna.


“Iya, OSIS." Lanjut Luna.


"Pikirkan terlebih dahulu sebelum kamu mengambil keputusan." Balas Luna.


“Tapi..” Aku mulai bingung.


Ternyata Luna tidak menyerah begitu saja, dia sama sekali tidak melepaskanku sekarang. Meskipun dipikir berapa kali pun aku tidak ingin masuk ke OSIS. Selain aku nantinya akan bertemu dengan orang lain, masuk ke OSIS juga nantinya akan berurusan dengan orang banyak. Itu aku tidak menginginkannya.


“Aku melakukan ini demi dirimu. Jika kamu bergabung dengan OSIS, kemungkinan kamu di-bully lagi ke depannya akan menipis." Luna meyakinkan.


Heh? Apa maksudnya? Kenapa Luna bilang jika aku masuk OSIS maka kemungkinan aku di-bully akan berkurang? Aku harus meminta penjelasan darinya.


"Maksudmu kemungkinan aku di-bully menipis apa?" Tanyaku.


"Aku berpikir kalau OSIS adalah rumah terbaik untukmu saat di sekolah. Kamu nantinya akan memakai atribut OSIS selama di sekolah. Kamu juga lihat sendiri kemarin bukan? Mereka yang mem-bully-mu lari ketika melihat aku memakai badge OSIS-ku? Kebetulan ketua OSIS ingin mencari orang untuk di tempatkan di OSIS dan nantinya akan menemaniku. Aku diberi kesempatan untuk mengajukan kandidat, kesempatan itu aku ambil dan aku berniat menawarkan kepadamu. Aku tidak nyaman jika harus bekerja dengan orang yang belum akrab denganku." Jawab Luna menjelaskan.


Luna ada benarnya juga. Jika aku menerima tawaran ini, itu artinya aku mendapatkan keamanan saat di sekolah. Itu merupakan benteng yang selama ini aku cari. Aku memikirkan tawaran dari Luna, sebelum itu aku menanyakan tugas apa yang akan aku jalani nantinya.


“Tunggu. Jika aku bergabung, posisi apa yang akan aku dapat?” Aku mulai bertanya.


“Kamu akan bersamaku menjadi komisi kedisiplinan." Jawab Luna.


“Lah aku kan tidak cocok diposisi itu. Bahkan menegur orang pun aku tidak berani." Aku sedikit pesimis.


“Tidak, justru menurutku itu posisi yang bagus." Balas Luna.


“Bagus dari mananya? Bagaimana bisa?” Aku menyangkal.


“Dengan sikap pendiammu itu, kamu hanya perlu berjalan berkeliling sekolah saat jam istirahat. Jika kamu menemukan pelanggaran dari para siswa, cukup foto dan kirim kepadaku. Jujur aku sangat kerepotan menjadi komisi kedisiplinan sendirian sejak kelas 1. Banyak hal yang tidak bisa aku tangani sendiri." Jelas Luna.


“Bagaimana ya..?” Aku ragu.


“Jika kamu di OSIS, aku jamin kamu akan mendapatkan perlindungan penuh dari OSIS dan juga dari para guru selama kamu memakai bagde OSIS. Karena itu, aku sangat ingin kamu bergabung dan juga membantuku mengerjakan pekerjaan OSIS yang selama ini aku lakukan sendirian. Bagaimana?” Luna meyakinkan serta memohon kepadaku.


“Beri aku waktu untuk berpikir." Balasku.


Aku mulai memikirkan tawaran itu. Aku sedikit tertarik dengan apa yang ditawarkan Luna. Bukannya aku tidak ingin memanfaatkan kesempatan ini, tapi jika aku mendapat perlindungan maka aku akan sedikit aman. Benteng yang aku butuhkan ada di depan mata. Memang para pengganggu itu mungkin akan kembali, tetapi melihat mereka lari terbirit-birit saat melihat Luna memakai badge OSIS kemarin aku jadi tertarik dengan tawaran ini.


“Bagaimana?” Luna kembali bertanya.


“Baiklah aku terima, mohon bantuannya kalau begitu." Jawabku.


“Yes.. Oke, besok senin kita ada rapat. Jadi kita tidak akan ikut pelajaran sejak pagi." Lanjut Luna dengan gembira.


“Rapat? Aku langsung ikut?” Balasku.


“Iya, tapi aku tidak tahu rapat apa. Kata ketua ini rapat penting. Sekalian juga membahas tentang kamu nantinya." Jawab Luna.


“Oh begitu rupanya." Aku mulai paham.


“Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu. Ibuku pasti sudah menungguku." Luna melihat smartphone miliknya.


“Oke kalau begitu akan aku panggilkan ibuku sebentar." Balasku.


“Tunggu..” Luna menghentikanku.


Saat aku hendak berdiri, Luna memegang tanganku. Katanya mau pulang, sekarang malah aku tidak boleh pergi memanggil ibu.


“Ada apa lagi?” Tanyaku.


“Boleh kita bertukar nomor telepon?” Tanya Luna sedikit malu.


“Oh boleh, ini catat sendiri. Aku akan memanggil ibuku sebentar." Balasku.


Aku membuka kontak di smartphoneku. Aku mencari nomorku sendiri, setelah itu aku memberikan smartphoneku ke Luna. Aku bergegas menuju ke dapur dan memanggil ibuku, sedangkan Luna mulai menulis nomor teleponku.


“Bu, Luna mau pamit pulang." Kataku ke ibu.


“Oh begitu, baik ibu akan ke sana." Balas ibu.