HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 127: Rumah Kakek



“Aku benar-benar lelah hari ini.” Keluhku


Meskipun sudah sampai, aku tidak bisa menyembunyikan jika hari ini aku benar-benar lelah. Ibu hanya menggeleng kepalanya saat mendengar aku mengeluh.


“Kalau lelah ayo segera kita berjalan, kita bisa langsung beristirahat nanti.” Ajak ibu.


“Baik bu.” Balasku.


Kemudian aku membawa dua tas besar. Tas berisi baju ibu yang aku taruh di atas tas koper sedangkan tas koper berisi baju dan barang bawaanku aku tarik karena memang cukup berat, kebetulan tas koper milikku memiliki roda jadi aku tidak perlu lagi capek mengangkatnya. Lalu ibu membawa dua tas tambahan, masing-masing tas itu berisi oleh-oleh untuk keluarga di desa dan satunya lagi berisi barang keperluan harian. Karena di desa jauh dari tempat perbelanjaan, jadi kami selalu mempersiapkan sejak dari kota untuk membawa keperluan harian seperti halnya untuk mandi.


Hari mulai gelap dan matahari telah terbenam sepenuhnya. Kami akhirnya sampai di tujuan kami yaitu rumah kakek. Aku dan ibu berdiri di depan pagar rumah, ibu kemudian memencet bel untuk memanggil orang di dalam.


Ting.. tong.. (Suara bel)


Karena ini di desa, jarak antara rumah dengan pagar depan cukup jauh jadi diperlukan sekali bel rumah. Kata kakek, tujuan kenapa halaman rumah cukup luas adalah untuk menjemur hasil pertanian. Selain untuk itu, halaman rumah yang luas juga berfungsi agar anak-anak dapat bermain dengan leluasa tanpa khawatir mereka main keluar lalu bermain di jalan raya. Aku pernah merasakan senangnya berlari-lari di halaman ini sewaktu aku kecil dulu.


Tak lama, seseorang datang menuju gerbang depan. Ternyata yang datang bertemu kami adalah nenek.


“Loh kalian datang?” Nenek kaget.


Meskipun aku bilang nenek, nenekku belum terlalu tua. nenek bahkan masih kuat ke sawah untuk menanam padi. Nenek begitu tidak menyangka jika kami akan datang, itu wajar karena sekarang bukanlah waktu libur sekolah.


“Iya bu, untuk lebih jelasnya aku akan jelaskan nanti.” Jawab ibu.


“Baiklah, ayo masuk dulu. Kalian pasti lapar kan?” Balas nenek.


"Bukan hanya lapar, aku capek nek!" Sahutku.


Nenek membuka pintu, kami pun masuk. Setelah itu nenek kembali mengunci pintu dan kami pun diajak menuju kedalam rumah.


“Loh kok!” Kakek juga kaget.


Kakek yang sedang melihat televisi di ruang tengah juga kaget dengan kedatangan kami. Ibu langsung membalas kakek dengan menanyakan keadaannya terlebih dahulu.


“Sehat yah?” Ibu menyapa kakek.


"Syukurlah aku sehat-sehat saja, tapi ada apa kalian tiba-tiba datang kemari?" Tanya kakek.


Belum juga dijawab oleh ibu, nenek memotong pembicaraan. Nenek merasa tidak tega dengan kami yang lelah seharian di perjalanan.


“Sudah pak, nanti saja bertanyanya. Biarkan mereka mandi dan beristirahat.” Sela nenek.


“Ya sudah, kalian mandi dulu saja.” Suruh kakek.


Kakek pun menyetujui saran dari nenek. Kakek menyuruh kami untuk segera membersihkan diri terlebih dahulu. Kakek kemudian melanjutkan menonton televisi.


“Tio, kamu duluan gih! Ibu mau masak dulu.” Ibu menyuruhku


“Astaga! Aku hampir saja lupa makan malam.” Nenek teringat


“Baiklah, ayo kita masak.” Ajak nenek.


Nenekku memang kadang menjadi pikun saat hari mulai malam. Untung saja rumah paman dekat dari sini, ya semua karena itu tadi. Nenek sering lupa memasak untuk makan malam, jadi kadang tiap sore keluarga paman datang ke sini untuk mengingatkan atau mengantar makan malam. Meskipun aku baru saja datang, tapi hari sudah malam sekarang. Apakah keluarga paman sudah ke sini tadi atau malah tidak datang malam ini?


“Kalau begitu aku mau mandi, badanku lengket semua.” Ucapku.


Sementara ibu dan nenek memasak, aku memutuskan untuk segera mandi dan mengesampingkan tentang tadi. Akhirnya selama seharian penuh aku bisa membersihkan diri dan menyegarkan badanku yang lelah ini. Aku membuka tasku lalu mengambil handuk milikku. Aku segera ke kamar mandi dan sudah di sambut oleh air hangat yang akan menyegarkan tubuhku ini.


Kakek karena penasaran, beliau menghampiri ibu Tio dan nenek untuk menanyakan perihal apa mereka datang kemari di saat tidak liburan.


“Aku mau bertanya, bukannya aku melarang kalian ke sini tapi ada apa sebenarnya kalian datang pada saat tidak liburan?” Tanya kakek ke ibu Tio.


“Hanya ada sedikit masalah kecil yah.” Jawab ibu Tio sambil memotong sayuran.


“Masalah kecil, apa itu?” Kakek ingin tahu.


“Nanti saja, biarkan Tio ikut menjelaskan. Ini semua menyangkut dia.” Balas ibu Tio.


Kakek semakin penasaran karena terus menerus disuruh menunggu nanti. Kakek semakin ingin tahu masalah apa yang sebenarnya terjadi sehingga anak dan cucunya datang kemari dengan tiba-tiba.


“Kenapa memangnya?” Lanjut kakek bertanya.


“Huss.. sudah, di bilang nanti ya nanti. Mau bapak tidak makan malam?” Nenek mengancam.


“Ibu ini memang, aku kan hanya ingin tahu. Ya sudah kalau begitu.” Balas kakek.


Kakek menyerah dan kembali ke ruang keluarga. Kakek melanjutkan menonton televisi sembari menunggu semuanya selesai untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaannya tadi.


"Aahh, segarnya. Akhirnya aku bisa sedikit melepas rasa lelahku!" Ucapku lega.


Aku selesai mandi dan telah berganti baju. Aku kemudian membawa tas milikku ke kamar yang memang khusus untukku tidur di rumah ini. Meskipun ruang keluarga ada televisi, namun televisi itu adalah televisi lama dan warnanya masih hitam putih karena kakek dan nenek sudah tua jadi menonton televisi berwarna membuat mata cepat lelah.


"Benar-benar masih seperti biasanya!" Ucapku melihat ke sekeliling kamar.


Berbeda dengan kamar ini, televisi besar yang seperti di kamarku ada di sini. Ibu memang membeli ini beberapa tahun lalu karena saat aku ke sini membawa gameku, aku selalu terpaksa tidur di rumah paman untuk bisa memainkannya. Karena televisi di rumah ini tidak mendukung untuk memainkan konsol gameku.


“Kotornya..!” Ucapku saat melihat televisi di kamarku.


Aku mencoba menyalakan televisi ini dan ternyata masih hidup. Itu wajar karena nenek tidak berani membersihkan televisi besar ini. Meskipun keadaan kamar sangat bersih dan sangat dirawat oleh nenek, tapi tidak untuk televisi satu ini. Aku membersihkan televisinya karena memang cukup kotor dan berdebu bahkan ada sarang laba-laba, aku sangat benci dengan laba-laba.


"Gluk.. Kira-kira ada sesuatu yang bersembunyi di belakang televisi tidak ya?" Aku menelan ludah dan gemetar ketakutan.


Aku sangat berhati-hati saat membersihkan televisi, karena pernah ada laba-laba yang keluar membuatku berteriak keras. Setelah aku membersihkan televisi, aku juga mengecek setiap sudut kamar kalau-kalau ada laba-laba atau hewan lainnya.


"Aman!" Aku merasa lega.


Setelah aman, aku melanjutkan untuk memasukkan baju-bajuku ke lemari baju yang ada di kamar ini. Tidak lupa aku juga mengeluarkan konsol gameku dan meletakkannya di dekat televisi.