HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 6: Nama Seorang Gadis



“Ti-ti-tidak usah repot-repot, aku lebih suka jalan sendirian. Lebih baik kamu duluan saja pulangnya." Aku menolak tawarannya.


Dia yang tadinya tersenyum langsung berubah murung. Apakah aku melakukan kesalahan? Tidak kan?.


“Baiklah kalau kamu tidak segera berjalan, aku juga akan tetap di sini." Balasnya cemberut.


Melihat dia yang seperti itu malah membuatku menjadi semakin takut dengannya. Lebih baik aku segera bergegas daripada aku harus lebih jauh lagi mengobrol dengannya. Aku segera berjalan meninggalkannya.


Akan tetapi ketika aku mulai berjalan dan semakin menjauh, masalah baru muncul. Aku mencoba menengok ke belakang, ternyata dia mengikutiku.


“Aaaahhhhh... lalu apa maksudmu mengikutiku dari belakang?” Ucapku kesal.


Pantas saja aku merasa seperti sedang diikuti, ternyata dia di belakangku selama ini. Kemudian dia datang mendekatiku sambil menuntun sepedanya, aku pun mulai menjaga jarak dengannya.


“Sebelum aku menjawabnya, kamu harus mengingat ini terlebih dahulu. Aku Luna, aku tahu kamu sama sekali tidak mengenal semua teman sekelasmu bukan? Kamu tadi pagi saja tidak memanggil namaku sama sekali." Luna cemberut.


Apa maksudnya dia tiba-tiba mengenalkan diri? Dia juga tahu betul jika aku sama sekali tidak memiliki teman. Tunggu, kalau dipikir-pikir lagi ternyata aku baru menyadarinya. Gadis ini selalu duduk di sampingku sejak kelas 1 dan dia juga tidak pernah pindah tempat duduk.


“Heh.. Luna? Maaf bukan maksudku begitu, tapi memang aku tidak memiliki teman satupun sampai sekarang. Aku tidak memiliki keberanian untuk berbicara dengan orang lain." Jawabku.


Luna menghela nafas. Setelah itu, dia menjelaskan padaku tentang mengikutiku dari belakang.


“Hmm.. baiklah aku mengerti. Ingat kan tadi sewaktu di gerbang sekolah? Aku sudah bilang ingin pulang bersamamu mumpung satu arah." Balas Luna.


Aku benar-benar lupa dia telah mengatakan itu, aku harus semakin waspada dengan gadis ini. Aku takut dia akan merampok uangku. Aku melihat di sosial media jika para gadis suka mengambil uang anak laki-laki. Ya, aku harus hati-hati dengannya.


Aku akhirnya mulai berjalan bersamanya. Secara tidak sadar, ternyata aku berjalan dengannya sudah cukup jauh. Kami diam tanpa percakapan. Lalu aku kaget karena dia tiba-tiba mulai bertanya.


“Anu.. Bolehkah aku bertanya?” Tanya Luna.


Aku menoleh ke arahnya. Saat dia bertanya, dia hanya menunduk sambil menuntun sepeda.


“Apa?” Jawabku singkat.


“Kenapa kamu selama satu tahun ini hanya diam di kelas dan tidak memiliki teman?” Lanjut Luna.


Luna menanyakan sesuatu yang cukup berat untuk kujawab. Berarti Luna belum tahu tentang apa yang kualami di sekolah. Aku harus mengalihkan pertanyaan itu, jujur aku tidak mau mengungkitnya.


“Itu, itu adalah hal yang tak bisa aku ceritakan kepada orang lain." Jawabku.


Luna terlihat tidak puas karena aku tidak menjawab pertanyaannya. Dia malah menjadi penasaran.


“Aku mohon dan tolong ceritakan. Sedikit saja, sedikipun tidak apa-apa." Luna memohon.


Luna memohon dan menundukkan kepalanya padaku. Melihatnya seperti itu seperti aku harus terpaksa bercerita padanya. Akhirnya aku menceritakannya sedikit.


“Tapi berjanjilah untuk tidak bercerita pada orang lain." Aku memastikan padanya agar merahasiakan ini.


“Aku berjanji. Jika aku bercerita kepada orang lain meskipun kamu tidak mengetahuinya, aku akan menjauhimu dan tidak akan bicara denganmu lagi." janji Luna.


Janji Luna terlihat meyakinkan bagiku. Baiklah, aku akan bercerita sedikit kepadanya.


“Baiklah, tapi ini sangat sedikit dan hanya intinya. Kamu tidak keberatan?” Aku memastikan lagi.


“Tidak apa-apa. Jika itu intinya maka sudah cukup bagiku." Luna dengan semangat menjawab.


Mari mulai bercerita, tapi aku harus mulai darimana ya enaknya. Hmm.. ini saja dulu.


“Hhhuuuuffffttt... aku sejak kecil adalah korban bully. Sejak SD, SMP bahkan saat ini di SMA pun sama. Di sini masih ada orang-orang yang dulu mem-bully-ku." Jawabku lemas.


Mendengar itu, Luna merasa tidak pantas menanyakan itu. Dengan cepat dia langsung meminta maaf.


“Astaga.. Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf telah menanyakan ini padamu." Luna merasa bersalah.


“Tidak.. Tidak apa-apa. Justru aku ingin mengingat semua kejadian itu. Karena jika aku melupakannya mungkin sekarang kejadian itu akan terulang padaku. Karena itu aku memutuskan untuk tidak mendekati siapapun sekarang." Lanjutku.


Luna baru tersadar kenapa keadaan kelas pagi ini sangat kotor. Dia memastikan hal itu dengan menanyakannya.


“Jadi setiap jadwalmu piket, kelas sekotor itu berarti semua itu disengaja?” Tanya Luna.


Sebenarnya aku tidak ingin mengadu. Tapi mau bagaimana lagi, dia benar menebaknya. Aku juga harus jujur.


“Ya, ada orang-orang tertentu saat pulang sekolah lalu mengotori kelas saat mereka tahu jadwal piketku. Maka dari itu aku selalu datang sangat pagi agar piketku selesai sebelum semua siswa datang." Jawabku lagi.


Pada akhirnya aku mengatakannya. Luna menjadi semakin memahami apa yang sedang aku alami. Tidak enak sebenarnya jika berbicara tentang hal seperti ini kepada orang lain.


“Aku sudah paham sekarang. Terima kasih telah bercerita padaku dan juga aku minta maaf atas kelancanganku menanyakan ini. Keingintahuanku selama ini telah terjawab." Luna menunduk lagi padaku.


Perjalanan kami pada akhirnya diisi juga dengan obrolanku dengannya. Ternyata mengobrol dengan Luna sedikit memberiku kehangatan hati. Sudah berapa lama aku tidak mengobrol seperti ini. Aku mengobrol seperti ini hanya dengan ibuku saja. Karena cukup menyenangkan, aku sekarang yang ingin aku tahu tentangnya tadi pagi.


“Tidak masalah, tapi ada yang aku heran tadi pagi." Balasku.


“Apa itu?" Luna terheran.


Dia menatapku lagi. Wajahnya terlihat sangat antusias.


“Apa yang kamu lakukan sepagi itu datang ke sekolah?. Bagiku menambah tidur 10 atau 15 menit lebih berguna daripada harus datang ke sekolah dengan keadaan nyawa masih setengah." Tanyaku.


Aku mencoba bertanya alasan dia datang ke sekolah bahkan sebelum pukul 6. Bagiku datang sepagi itu sungguh sulit jika tidak ada alasan.


“Aku bukanlah orang malas sepertimu yang hanya bisa bermain game. Belajar di pagi hari lebih bagus menurutku, karena setelah aku belajar akan masih ingat apa yang aku pelajari pagi itu." Jawab Luna cemberut.


Kalau ini sih benar-benar menyindir diriku. Aku menyesal menanyakan itu padanya. Lebih baik sekarang aku melupakannya, dia sungguh menakutkan ketika marah.


“Maaf maaf, aku hanya bertanya." Aku mulai takut padanya.


Setelah beberapa saat mengobrol, tibalah kami di sebuah persimpangan. Luna memberitahu jika dia akan berbelok. Akhirnya aku bisa berpisah juga dengannya.


“Aku ke sini." Luna menunjuk arah ke kanan.


“Kalau aku lurus." Balasku.


Luna bergegas menaiki sepedanya yang sedari tadi dia tuntun.


“Baiklah, sampai besok lagi Tio." Ucap Luna.


Sebelum dia pergi, aku ingin meminta sesuatu kepada Luna. Aku harus menghentikannya.


“Tunggu sebentar Luna." Aku menghentikan Luna yang akan segera bergegas.


“Eh.. Ada apa?" Luna kaget.


Dia berhenti dan menoleh ke arahku. Luna turun lagi dari sepedanya.


“Bisakah kamu besok melupakan apa yang telah terjadi hari ini? Aku benar-benar tidak ingin terlalu akrab dengan orang lain." Tegasku pada Luna.


“Tapi...” Luna terhenti bicara.


Dia terlihat murung. Tapi aku harus melakukan ini, aku tidak ingin menjadi pusat perhatian oleh gadis secantik dia. Aku terpaksa memotong pembicaraannya.


“Pokoknya aku tidak ingin kamu besok terlalu dekat denganku. Aku tidak ingin kamu dalam bahaya ataupun aku akan membawamu ke dalam masalahku. Dadah." Aku memotong ucapan Luna


Dengan segera aku berlari meninggalkan Luna. Dari kejauhan aku melihat Luna mengayuh sepedanya pulang ke rumahnya.