
“Wuhuu.. Sungguh di luar dugaan!” Ryan berteriak senang.
“A-aku kalah.” Kevin tidak menyangka.
Kevin kemudian mengambil Titan yang telah kalah dan menjadi kartu. Dia sangat tidak menyangka strategi sempurna miliknya telah dipatahkan oleh Ryan.
Ryan yang sewaktu duel menyadari akan lambatnya Titan memanfaatkannya sebagai celah untuk memenangkan duel. Pada akhirnya, Ryan berhasil mengeksekusi 1% dari kesempatannya dan berakhir dengan kemenangan.
“Aku sedikit tersadar saat Titan keluar dari dindingnya. Gerakannya lambat, jadi aku menentukan pilihan sebelum aku menyerang. Karena skillmu telah habis saat Phoenix terkurung tadi, aku jadi bisa menyerang dengan kombinasi terkuat milikku.” Ucap Ryan.
“Kamu hebat Ryan, bahkan kamu bisa menemukan kelemahan dari Titan.” Balas Kevin.
Sementara itu di tempat kami berada, kami semua hanya bisa terdiam atas kemenangan Ryan yang tak terduga. Ryan benar-benar memberikan kejutan kepada kami semua.
“Luna cubit aku, aku tidak bermimpi bukan?” Pinta Astrid
Luna lalu mencubit pipi Astrid tanpa ragu-ragu, Astrid kemudian kesakitan setelah Luna mengabulkan permintaannya.
“Aw.. Awwww.. Sakit Luna!” Astrid mengelus pipinya.
“Lah tadi katanya suruh cubit?” Balas Luna.
Sementara Astrid dan Luna saling menyalahkan, aku masih tidak percaya dengan apa yang Ryan lakukan barusan. Kesempatan Ryan untuk menang sudah sangatlah tipis namun dia masih bisa menang.
“Mereka benar-benar luar biasa!” Ucapku kagum.
“Iya, baru kali ini aku melihat duel sehebat ini.” Sahut Aria.
Aku melihat ke arah Aria, matanya juga terpana akan duel tadi. Aku memutuskan untuk menghampiri Ryan dan Kevin untuk memberikan ucapan selamat, aku pun mengajak semuanya.
“Ayo kita ke sana!” Ajakku sambil berlari.
Astrid dan Aria mengangguk. Aku mulai berlari pelan diikuti oleh kedua gadis itu. Sementara Luna menyusul kemudian.
“Tunggu..!!” Balas Luna.
Luna tertinggal di belakang meminta untuk kami menunggunya, karena badanku masih belum sehat aku pun tidak memaksakan diri untuk berlari kencang. Aku sedikit melambatkan lariku sambil menunggu Luna.
Masih di arena duel, Ryan dan Kevin masih mengobrol satu sama lain. Kemudian Titan keluar dari kartu dan berubah ke bentuk fairy. Titan memuji kemampuan Ryan.
“Partnermu benar-benar hebat Phoenix. Duel kita dahulu bahkan kamu tidak bisa kabur dari seranganku tadi, tapi setelah kamu berduel bersamanya bahkan serangan dan pertahananku bisa kamu patahkan.” Puji Titan.
Phoenix pun ikut keluar menjadi bentuk fairy. Dia langsung membalas pujian Titan barusan. Phoenix mengakui jika tanpa Ryan kemungkinan dia akan kalah saat duel tadi.
“Aku sendiri tidak menyangka dia memiliki refleks yang sangat hebat. Aku senang berpartner dengannya.” balas Phoenix.
“Hoi.. hoi.. kalian berdua berlebihan. Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan tadi.” Ryan sedikit malu.
Sewaktu mereka mengobrol, dari kejauhan terdengar suara Luna yang berteriak memanggil.
“Ooooiiiii.....” Luna berteriak sambil berlari.
Ryan dan Kevin menengok ke arah Luna. Setelah rombongan Luna datang, mereka langsung memuji Ryan dan Kevin.
“Ryan, Kevin, kalian sungguh hebat!” Puji Luna.
“Iya, aku juga sangat tidak percaya Ryan bisa menang.” Sahut Astrid.
Ryan menjadi sedikit lebih malu lagi, menurutnya mereka semua terlalu berlebihan.
“Kalian semua juga sama saja, kalian terlalu berlebihan!” Ryan semakin malu.
Kemudian Kevin menyela pembicaraan, dia memiliki inisiatif untuk membahas hasil duel yang baru saja selesai. Karena mungkin setelah ini tidak ada waktu lagi untuk membahasnya.
“Oh iya aku ada ide. Bagaimana kalau kita bahas tentang simulasi ini? Mumpung kita sudah berkumpul.” Ide Kevin.
“Loh tapi Andreas?” Tanyaku.
“Kevin benar. Bukannya kita tidak ingin mengajak Andreas, tetapi akan lebih baik jika kita sambil membahas tentang simulasi hari ini. Lagipula belum ada tanda dari Andreas bukan? Jika kita mencari dia sekarang, musuh pasti akan curiga. Lebih baik jika kita tetap di sini sampai ada tanda dari Andreas atau Andreas datang ke sini.” Ryan memberi pendapat.
Aku menoleh ke arah Luna, Astrid dan Aria. Mereka semua mengangguk setuju dengan apa yang Ryan katakan. Menurutku Ryan ada benarnya juga, sebelum ada tanda dari Andreas kita tidak akan bisa kembali ke sekolah.
“Baiklah kalau begitu, kita lakukan evaluasi tentang simulasi ini.” Aku pun setuju.
“Oke, lalu bagaimana menurut kalian?” Tanya Ryan yang memulai pembahasan.
“Kalian hebat!!” Luna dan Astrid serentak.
Kevin dan Aria menahan tawa setelah mendengar pendapat Luna dan Astrid. Aku pun menggeleng kepala karena mereka mengulang tingkah mereka yang kemarin.
“Kalau cuma hebat lalu apa gunanya simulasi tadi?” Keluh Ryan.
“Hehe, soalnya memang aku menikmati duel kalian. Aku sendiri sampai kehabisan kata-kata.” Astrid tertawa.
“Kamu ini susah untuk diharapkan ya, Astrid!” Balas Ryan.
“Hehe..” Astrid tertawa lagi sambil mengedipkan satu matanya.
Pandangan Ryan langsung berpindah ke arahku. Aku sudah bisa menebaknya, dan tebakanku benar adanya.
“Kalau kamu Tio? Aku banyak berharap padamu.” Tanya Ryan padaku.
Ryan tanpa berbasa-basi langsung bertanya kepadaku, mungkin karena setelah simulasi kemarin di mana pendapatku langsung diterima oleh Andreas dan Astrid jadi Ryan langsung ingin mengetahui pendapatku sekarang.
“Pendapatku adalah kalian berdua menang!” Jawabku.
“Haaaahh..!!” Luna dan Astrid serentak.
“Shhhh, dengar dulu yang ingin Tio bicarakan.” Aria menyuruh dua orang itu diam.
Ryan langsung mengerutkan dahinya sedangkan Kevin mulai penasaran. Ya bagaimana tidak? Aku dengan santainya bilang mereka berdua menang tanpa melanjutkannya.
“Lanjutkan Tio.” Ucap Kevin.
“Strategi kalian sangatlah bagus. Sisi Kevin mengandalkan pertahanan untuk menyerang lalu sisi Ryan mengandalkan analisa untuk menyerang. Serangan Kevin sangat unggul di duel ini, namun refleks dari Ryan membalikkan keunggulan di duel tadi. Intinya di duel ini Kevin unggul namun Ryan lebih beruntung.” Aku memberi pendapat.
Raut wajah Ryan dan Kevin berubah menjadi lega. Mereka berdua juga merasakannya jika di duel ini tidak ada yang kalah. Meski Ryan menang duel namun Kevin masih menang dalam hal kekuatan.
“Tidak salah memang Andreas mempercayakan soal pendapat tentang simulasi ini padamu.” Puji Ryan.
"Jangan berlebihan seperti itu, aku sendiri tidak sehebat kalian semua." Balasku.
Kami semua pun melanjutkan membahas tentang duel tadi. Luna dan Astrid sedikit tidak terima karena mereka tidak bisa memberi pendapat tentang duel ini. Ryan dan Kevin pun terus mengerjai Luna dan Astrid, sedangkan aku dan Aria hanya bisa ikut tertawa.
Di atas pohon, sosok yang menggunakan hoodie telah muncul sejak tadi. Dia melihat seluruh duel antara Ryan dan Kevin.
“Sepertinya aku tidak boleh meremehkan kedua orang itu. Tak kusangka kedua monster itu cukup hebat." Ucap sosok misterius.
Sosok misterius memasukkan monster tanah itu ke daftar ancamannya, namun dia juga tidak semena-mena mengabaikan dual skill dengan ultimate milik burung legendaris itu. Pada akhirnya, sosok misterius mendapatkan tambahan informasi dengan adanya simulasi ini.
"Selanjutnya tinggal 2 monster lagi.” Ucap sosok misterius sambil melompat turun dari pohon.