HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 54: Berita Besar



Luna dan Ryan kembali menuju ruang OSIS. Namun sebelum sampai ke sana, Luna bertanya sesuatu kepada Ryan.


“Hei Ryan!" Panggil Luna.


Ryan menoleh ke arah Luna merespon panggilannya.


“Ha.. Ada apa?” Balas Ryan.


Luna sedikit terlihat sedang kebingungan. Tangan kiri Luna mengelus tangan kanannya yang sedang membawa kantong plastik berisi minuman. Luna khawatir dengan keadaan di ruang OSIS.


“Menurutmu bagaimana keadaan kita sekarang?” Tanya Luna.


Ryan kembali melihat ke depan. Dia juga mengantongi tangannya di saku celana.


“Ya mau bagaimana lagi? Andreas memang seperti itu orangnya. Dia pintar namun tidak bisa membaca situasi seseorang, dia hanya bisa memaksakan kehendak. Semua itu karena memang sudah gaya hidupnya sebagai anak orang kaya.” Jawab Ryan.


Luna menundukkan kepalanya, dia berjalan sambil melihat lantai yang di lewatinya. Luna sedikit menyayangkan kejadian yang terjadi tadi.


“Padahal Tio baru saja masuk dan mau berinteraksi dengan orang selain diriku.” Luna sedikit murung.


“Di sini Tio sama sekali tidak bersalah. Wajar jika dia marah, dia punya masalah yang begitu serius. Jika aku jadi Tio pun aku tidak ingin menceritakan masalah itu kepada orang lain. Karena itu dapat mempengaruhi keselamatannya saat di sekolah, kamu lihat sendiri bukan tadi? Dia tidak bercerita kepada siapapun kecuali kamu dan pak guru saja sudah hampir dikeroyok.” Lanjut Ryan.


Luna menjadi semakin murung, dia tidak tahu harus melakukan apa. Menurut Luna, antara Tio dan Andreas sama-sama tidak bersalah. Mereka hanya salah paham saja.


“Aku juga berpikir demikian, tapi Andreas juga tidak salah di sini. Dia sangat perhatian dengan anggota-anggotanya. Dia sangat ingin membantu saat kita ada masalah, mungkin dia ingin menolong Tio tapi dia melakukan kesalahan karena tidak dapat memahami posisi Tio sekarang.” Balas Luna.


“Yang terpenting adalah bagaimana kita meredam semua ini. Tio sudah menjadi bagian penting dari OSIS. Kita tidak boleh kehilangan dirinya. Begitu juga Andreas, tanpa dia OSIS akan kehilangan tujuannya. Hanya Andreas yang layak untuk menjadi ketua untuk saat ini.” Ryan memejamkan matanya.


“Haaahhh.. Semoga saja berakhir dengan baik-baik saja nantinya.” Luna menghela nafas.


Setelah berbincang dengan Ryan, Luna sedikit mengerti dengan keadaan mereka berdua. Hal yang dapat di lakukan sekarang hanyalah bagaimana meredam emosi Tio dan Andreas. Luna dan Ryan melanjutkan berjalan menuju ruang OSIS.


Luna pun kembali ke ruang OSIS bersama Ryan. Suasana di sini masih saja canggung. Sunyi senyap dan semua orang melakukan kegiatannya masing-masing


“Aku kembali..” Teriak Luna dengan ceria di depan pintu.


“Akhirnya datang juga kamu.. Aku sudah haus sekali.” Keluh Astrid.


Sebelum masuk ke ruang OSIS, Luna memisahkan kantong soda yang di pesan oleh anak laki-laki. Luna kemudian memberikan kantong itu ke Ryan.


“Sebentar, ini Ryan soda untuk kalian bertiga." Luna memberikan Ryan kantong plastik berisi 3 kaleng soda


“Oke, akan aku bagi." Balas Ryan.


Ryan kemudian bergegas menuju tempat Kevin dan Andreas berada. Kevin sedang menemani Andreas yang sedang duduk di mejanya. Sementara Luna bergegas menuju ke Astrid dan Aria.


“Ini untukmu dan Aria." Luna memberi kantong plastik kedua kepada Astrid.


“Makasih banyak." Astrid menerima kantong dari Luna dengan senang.


Astrid mengambil isotonik miliknya dan masih menyisakan jus jeruk milik Aria. Astrid memberikan kantong itu kepada Aria.


“Mana punyaku, Astrid?” Sahut Aria.


“Nih, sekalian kantongnya.” Astrid memberi Aria jus jeruk sambil meminum isotonik miliknya.


"Ih bilang saja kamu malas membuangnya." Aria kesal


"Ahh.. Tidak ada yang lebih menyegarkan dari ini." Aria memuji minuman kesukaannya.


Luna membawa kantong yang berisi minumannya dan minuman Tio, dia berjalan menuju ke tempat duduk Tio. Luna melihat Tio yang sedari tadi melihat ke luar jendela.


“Lalu ini untukmu Tio.” Luna memberiku soda.


Aku menoleh ke arah Luna, dia ternyata membawakanku minuman soda. Aku senang karena yang dibawa Luna adalah minuman yang aku suka, karena aku tadi bilang terserah jadi aku tidak tahu dia akan membawakanku apa?


“Terima kasih banyak." Aku menerima pemberian Luna.


“Sama-sama.” Balas Luna.


Aku membuka minumanku begitu juga Luna yang membuka green tea miliknya. Kami berdua kemudian minum bersama minuman kami.


Tidak lama kemudian, bel yang menandakan istirahat selesai telah berbunyi. Waktunya seluruh siswa masuk kelas dan melanjutkan pelajaran selanjutnya. Kami semua bergegas merapikan ruang OSIS lalu kembali ke kelas masing-masing.


Hari sudah sore dan sudah waktunya pulang. Kelas Andreas sudah bubar lalu Andreas bergegas pulang. Ketika perjalanan pulang, dia ditemani oleh Ryan.


“Hei Andreas, bukankah tadi sikapmu sedikit berlebihan.” Ryan memulai percakapan.


Ryan sama sekali tidak berbasa-basi. Dia terang-terangan menegur sikap Andreas tadi siang. Tentu saja itu membuat emosi Andreas naik.


“Apa maksudmu?” Andreas sedikit emosi.


“Tenang dulu dan dengarkan. Aku sudah hafal dengan sikapmu jadi lebih baik kamu tenang dulu.” Sahut Ryan menenangkan Andreas.


“Oh maaf, aku terbawa emosi.” Balas Andreas.


Ryan mulai menjelaskan kepada Andreas. Ryan menilai Andreas telah salah bersikap seperti tadi siang kepada Tio.


“Coba kamu pahami orang lain sedikit sebelum kamu menasehatinya. Kamu selalu saja memaksakan kehendakmu kepada orang lain. Lihat posisi Tio dengan benar. Jika aku di posisinya, aku pun tidak ingin orang lain mengetahui itu. Masalah seperti itu bukan untuk diceritakan kepada siapapun. Karena musuhnya tidak hanya satu, keselamatan Tio juga akan terancam. Kamu juga sadar bukan waktu kita menyergap mereka tadi? Dia tidak bercerita saja sudah terancam.” Jelas Ryan dengan nada pelan.


Ryan sengaja memelankan nada bicaranya, dia tidak ingin emosi Andreas naik lagi. Sebisa mungkin Ryan juga harus menjaga perasaan Andreas.


Andreas terlihat berpikir keras, alangkah keterlaluannya dia saat Andreas tersadar.


“Astaga.. Betapa keterlaluan aku tadi. Aku sungguh tidak berpikir sampai situ. Aku hanya ingin menolongnya saja tadi.” Andreas tersadar.


“Menolong boleh, tetapi untuk masalah ini kita tidak bisa ikut campur. Kita hanya bisa melindunginya saja. Langkah kita sudah benar tadi siang, semua berkat Luna dan dirimu." Lanjut Ryan.


“Aku akan minta maaf besok kepada Tio. Entah sudah berapa kali aku minta maaf kepadanya.” Andreas merasa bersalah.


“Baguslah kalau begitu. Bagaimanapun juga, Tio adalah anggota yang berharga bagi kita.” Ryan lega mendengarnya.


"Benar katamu, Ryan." Balas Andreas.


Andreas dan Ryan melanjutkan pulang ke rumah masing-masing. Mereka pulang bersama seperti biasanya.


Keesokan lusa telah tiba, namun ada yang heboh dengan hari ini. Di mading sekolah terdapat berita yang sangat mencengangkan.


[Mading]


[8 orang siswa dikeluarkan dari sekolah dengan kasus berat, Pem-bully-an terhadap siswa bernama Tio]