HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 85: Berhasil Pulang



Di depan gerbang sekolah, kami semua berpisah untuk pulang. Kami saling berbalas kata pulang satu sama lain. Momen ini adalah salah satu momen berharga bagiku, karena mungkin baru kali ini aku merasakannya.


“Dah semua!” Astrid melambaikan tangannya


Astrid dijemput oleh supir pribadi keluarganya. Mobilnya sudah menunggu di depan gerbang sekolah. Aku juga baru tahu jika Astrid anak orang kaya.


“Aku juga pulang dulu.” Balas Kevin.


“Aku dan Ryan juga!” Sahut Andreas.


“Kamu hati-hati di jalan, Tio.” Ryan mengingatkan.


“Terima kasih, Ryan! Aku akan sangat berhati-hati kali ini.” Balasku sambil menundukkan kepala.


Aku sangat menghargai peringatan Ryan, dia ternyata peduli dengan keselamatanku saat pulang nanti. Mobil Astrid kemudian mulai pergi disusul oleh Kevin yang bersepeda meninggalkan sekolah. Andreas dan Ryan juga pergi dengan berjalan bersama. Tinggal tersisa aku, Luna dan Aria di depan gerbang.


“Aku pulang dulu, sampai besok.” Aku melambaikan tangan.


“Eh Tio, mau kuantar?” Luna menawarkan.


Luna begitu baik padaku, aku yakin dia pasti menghawatirkanku saat pulang. Ya bahkan aku sendiri juga ketakutan mengingat kejadian itu sewaktu pulang. Namun aku tidak boleh terlalu bergantung kepadanya, aku tidak mau merepotkan Luna.


“Tidak usah, lagipula ini sudah sore. Akan lebih baik kalian pulang juga. Aku tidak ingin merepotkanmu.” Aku menolak tawaran Luna


“Tetapi kejadian itu kan terjadi sore juga. Aku tidak ingin kejadian itu terulang.” Luna khawatir.


“Sudah, aku akan baik-baik saja. Aku janji.” Balasku.


Aku kemudian berjalan perlahan meninggalkan mereka. Memang aku sedikit takut jika bertemu para pem-bully itu lagi, tetapi aku tidak ingin melibatkan Luna lebih jauh lagi. Aku mengambil kartu Hayase dan memegangnya untuk membuat pikiranku tenang saat aku pulang. Badanku masih terasa sedikit nyeri, jadi aku berjalan dengan masih tertatih-tatih.


Setelah beberapa langkah aku berjalan menjauh dari sekolah, aku menoleh ke belakang untuk melihat mereka berdua. Aku melihat ke telapak tanganku, aku masih tidak percaya jika akhirnya aku bisa saling berbalas melambaikan tangan dengan orang-orang. Aku benar-benar senang masuk ke dalam OSIS, aku sama sekali tidak pernah menyesal karenanya.


Sementara itu, Luna dan Aria tidak tega melihat Tio yang berjalan perlahan sambil menahan rasa sakit. Luna pun memiliki inisiatif, dia kemudian memberi tahu rencananya kepada Aria.


“Aria, aku punya ide. Mau ikut?” Tanya Luna.


“Membuntuti Tio dari belakang dan melihatnya sampai ke rumah?” Balas Aria.


Loh kenapa Aria malah berpikiran sama seperti yang sedang dipikirkan Luna? Luna langsung heran dengan tebakan Aria itu.


“Bagaimana kamu bisa tahu?” Luna terkejut keheranan.


“Aku juga memikirkannya dari tadi. Aku tidak ingin Tio kenapa-kenapa.” Lanjut Aria.


“Ya sudah jika kita berpikiran sama. Ayo kita ikuti dia! Nanti aku antar kamu pulang.” Ajak Luna.


“Baiklah, tapi jangan sampai ketahuan. Aku tidak ingin dia marah.” Balas Aria.


Kemudian Luna dan Aria mulai membuntuti Tio pulang. Luna menuntun sepedanya dan berjalan perlahan bersama Aria.


Setelah berjalan cukup jauh, aku pun sampai di titik di mana aku keluar dari Battlefield dengan keadaan babak belur. Aku sedikit mengenang kejadian hari itu. Aku hanya berharap tidak bertemu mereka. Aku ketakutan di sini, namun setelah aku melewatinya ternyata lahan itu kosong tidak ada orang.


“Syukurlah!” Aku mengela nafas.


Aku lega, tempat itu kosong tidak ada orang. Akhirnya aku bisa pulang dengan tenang sekarang. Aku mempercepat jalanku, aku tidak ingin bertemu mereka lagi jika terlalu santai.


“Aww..” Aku kesakitan.


Ternyata punggungku masih rawan, tapi mau bagaimana lagi. Aku harus segera sampai ke rumah jika ingin memastikan keadaanku aman. Aku akan beristirahat sepuasnya nanti jika sudah sampai di rumah.


Saat mengikuti Tio pulang. Luna dan Aria dikejutkan oleh Tio yang berhenti. Aria takut jika Tio tiba-tiba menoleh ke belakang. Tio pasti akan langsung mengetahui keberadaan mereka berdua.


“Luna, dia berhenti!” Ucap Aria panik.


Luna langsung melihat sekeliling, dia harus segera menemukan tempat bersembunyi. Kemudian Luna menemukan spot bagus yaitu sebuah pohon besar di pinggir jalan.


“Ayo kita ke pohon itu!” Ajak Luna.


“Repot sekali ini sepedamu!” Keluh Aria.


“Kamu mau pulang jalan kaki?” Tanya Luna sedikit kesal.


“Tidak lah, capek tahu.” Protes Aria.


“Ya sudah, jangan protes!” Balas Luna.


Kemudian Luna dan Aria melihat Tio yang berhenti di dekat lahan kosong. Tio terlihat mengendap-endap dan juga mengintip lahan kosong di sana. Lalu tidak lama kemudian Tio kembali melanjutkan berjalan namun kali ini sedikit cepat.


“Kira-kira ada apa di sana? Tio terlihat ketakutan di sana.” Luna penasaran.


“Atau mungkin itu tempat kejadian Tio dihadang para pem-bully itu?” Aria memperkirakan.


“Bisa jadi sih, dia juga langsung mempercepat jalannya.” Lanjut Luna yang sedang mengamati.


“Ayo kita jalan juga, keburu jauh nanti!” Balas Aria.


Luna dan Aria keluar dari persembunyian mereka. Mereka juga melanjutkan mengikuti Tio. Sesampainya di tempat Tio berhenti mereka berhenti sejenak untuk melihat-lihat keadaan tempat itu.


"Tidak ada apa-apa di sini!" Ucap Luna.


"Sudah ayo jalan, nanti kita ketinggalan loh!" Sahut Aria.


Mereka berdua kembali berjalan mengikuti Tio untuk memastikan Tio aman sampai ke rumahnya.


Akhirnya sampai juga aku di rumah, aku sangat senang. Aku bisa selamat sampai sekolah dan melihat duel yang luar biasa. Lalu sekarang aku selamat pulang sampai ke rumah sendirian. Ini benar-benar hari yang bagus untukku. Aku tersenyum lebar saat tiba di depan rumah.


“Aku pulang!” Aku mengucap salam.


“Syukurlah, bagaimana hari ini?” Tanya ibu.


Ibu langsung menyambut kepulanganku dari sekolah. Ibu juga langsung bertanya kepadaku tentang bagaimana hari ini.


“Ini hari yang bagus. Aku sangat senang bisa berangkat hari ini!” Jawabku senang.


“Lalu lukamu?” Lanjut ibu.


“Lukaku? Aww.. Sakit semua badanku.” Aku mengerang kesakitan.


Aku langsung merasa sekujur punggungku sakit semua, inilah efeknya jika aku terlalu memaksakan diri. Bagaimana juga aku masih dalam tahap penyembuhan.


“Kan apa ibu bilang, segera istirahat!” Suruh ibu.


“Baik, bu.” Aku menuruti apa kata ibu.


Aku menutup hari ini dengan istirahat sejenak menonton televisi di ruang tengah. Sementara ibu menyiapkan air hangat untuk mandi nanti dan juga makan malam. Aku sangat bersyukur untuk hari ini.


Kemudian sampai juga Luna dan Aria di dekat rumah Tio. Mereka melihat Tio yang memasuki rumah, Luna dan Aria senang Tio pulang dengan selamat.


“Syukurlah! Dia selamat sampai rumah.” Aria lega.


“Aku juga turut senang dia tidak kenapa-kenapa!” Luna senang.


“Aku lega, benar-benar lega sekarang." Balas Aria.


“Ayo kita juga pulang, sudah sore nih!” Ajak Luna.


Luna mulai menaiki sepedanya lalu mengajak Aria pulang. Tugasnya telah selesai dan sekarang giliran dia yang pulang dan mengantarkan Aria ke rumahnya.


“Ayo!” Aria membonceng di belakang Luna.


Luna kemudian mengantarkan Aria pulang. Di saat perjalanan pulang mereka melewati sebuah minimarket dekat rumah Tio. Kemudian Aria memikirkan sesuatu.


“Hmm.. Lain kali saja deh!” Gumam Aria.