HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 35: Interogasi



Semua pertanyaanku telah hampir terjawab. Aku sudah bisa menebak-nebak apa yang Luna lakukan sekarang. Pertama, dia melihatku saat di sekolah bersama pak Indra persis seperti yang dia tanyakan. Kedua, sepatu dan baju olahraga yang digunakan Luna untuk masuk ke sekolah karena memang aturan sekolah mengatakan jika ingin memasuki area sekolah harus memakai atribut sekolah. Dan yang ketiga adalah, dia mengikutiku pulang. Itu sudah jelas karena hampir tidak mungkin Luna mengetahui rumahku di mana.


“Jadi?” Tanya Luna.


Sesuai janjiku, aku akan bercerita kepada Luna. Aku sudah sedikit mempercayainya sekarang. Aku juga yakin tujuannya kemari hanya ingin tahu tentang apa yang terjadi tadi.


“Ya seperti yang kamu lihat tadi. Pak guru yang menyarankan tentang hal ini. Beliau menyarankan agar aku mengganti pelajaran olahraga di hari minggu. Di hari minggu, aku hanya pengambilan nilai saja tapi kalau soal materi pelajaran aku harus tetap memperhatikan. Makanya aku selalu di atas pohon saat kalian berolahraga sambil mencatat poin-poin penting." Jawabku.


“Pak guru yang menyarankan? Jadi dia tahu tentang kasusmu?” Luna bertanya kembali.


“Iya, aku pernah di tolong pak Indra satu kali. Saat sore hari sepulang sekolah, aku berurusan dengan mereka yang tidak suka padaku di depan gerbang. Lalu setelah itu, pak Indra muncul. Setelah melerai kami dan mereka membubarkan diri, pak Indra menanyakan padaku kenapa aku selalu tidak ada di pelajaran olahraga. Karena pada waktu itu memang aku sering bersembunyi untuk menghindari kerumunan. Lalu aku ceritakan pada beliau bahwa seperti yang pak Indra baru saja lihat jika aku sering di-bully dan aku memang menghindari keramaian. Aku bilang ke pak Indra jika aku sudah tidak ingin ikut pelajaran olahraga lagi. Pada saat itu pak Indra memberiku nasihat dan juga saran kenapa tidak pada hari minggu aku mengambil nilai. Bagaimanapun juga aku membutuhkan nilai pelajaran olahraga. Karena pak guru sering berolahraga melewati sekolah, jadi dia tidak keberatan jika mengambil nilaiku di hari minggu. Aku menerimanya dengan senang hati." Aku menjelaskan secara rinci.


Luna hanya bisa terdiam mendengar ceritaku. Entah apa yang sedang dia pikirkan sekarang, yang penting aku sudah mempercayainya dan aku menceritakan kepadanya hal yang sesungguhnya terjadi.


“Jadi begitu rupanya. Lalu kenapa kamu merahasiakannya? Kenapa aku tidak tahu selama ini di hari minggu kamu mengambil nilai olahraga? Kamu sampai membuatku dimarahi pak guru kemarin." Luna masih kesal.


“Maaf, maaf. Aku hanya ingin mengerjaimu sedikit kemarin. Lagipula aku juga tidak ingin menceritakan tentang hal ini kepada orang lain. Kalau ada orang yang tahu aku melakukan ini, maka orang yang mem-bully-ku pasti akan sangat tidak terima. Aku sudah menutup rapat-rapat aktivitasku di hari minggu dengan berangkat pagi, tapi malah kamu tahu duluan." Balasku.


“Baiklah, sekarang aku mengerti." Luna sedikit lega.


Setelah Luna puas dengan jawabanku, sekarang giliranku bertanya tentang apa yang dia lakukan di sekolah hingga dapat melihat aktivitasku pagi ini.


“Nah sekarang giliranku bertanya kan?” Tanyaku


“Heehhhh?” Luna terkejut.


“Sekarang kamu harus menjawab semua pertanyaan ku." Lanjutku.


“Ba-baiklah." Luna sedikit gugup.


Aku memulai untuk memastikan dugaanku. Meskipun aku sudah tahu pastinya, namun alasan Luna sama sekali aku belum paham. Aku mulai bertanya tentang yamg sudah aku pikirkan sejak tadi.


“Pertama, apa yang kamu lakukan tadi di sekolah? Kenapa kamu memakai pakaian olahraga juga dan kenapa kamu tahu aku ke sekolah hari minggu." Tanyaku.


“A-anu..” Luna gugup.


“Jangan anu, anu." Aku menatap Luna serius.


“Iya, iya aku jawab. Tadi pagi aku sedikit kesal karena harus pagi-pagi membeli sayur, karena sayur di kulkas tinggal sedikit jadi aku pergi ke toko sayur. Saat pulang, aku melihatmu berlari menuju ke sekolah." Jawab Luna.


“Aku mengikutimu dari belakang. Setelah aku mengetahui kamu ke sekolah dan terkejut saat ada pak guru juga, aku memutuskan untuk pulang mengantar belanjaan dan berganti baju. Untuk memasuki sekolah kan minimal pakai seragam sekolah dan untuk jaga-jaga aku memakai badge OSIS. Kalau-kalau satpam mengetahui keberadaanku, aku masih aman." lanjut Luna menjelaskan.


Pertanyaan pertamaku terjawab sudah. Yang aku butuhkan hanya alasan Luna saat melihatku di toko sayur. Aku sendiri tidak menduga itu akan terjadi. Pikirku jika aku berangkat pagi maka tidak ada siswa lain yang melihatku tapi ternyata itu tidak berlaku pada Luna.


“Baiklah aku mengerti. Pertanyaan kedua, kenapa kamu tahu rumahku? Kali ini aku meminta penjelasan lengkap." Tanyaku lagi.


Luna keberatan dengan pertanyaanku kali ini. Dia memohon untuk tidak membahasnya.


“Kalau itu boleh dilewati tidak?" Luna memohon.


“Boleh kok, tapi aku telepon polisi ya?” Aku mengeluarkan smartphoneku.


“Tu-tunggu dulu, bercandamu sungguh tidak lucu. Baik aku akan menjawabnya. Aku mengikutimu pulang. Bagaimana, puas?” Jawab Luna sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya menahan malu.


“Oi kurang jelas, kalau masih tidak jelas aku benar-benar telepon polisi nih." Aku mulai memencet tombol panggil di smartphoneku.


“Sungguh bercandamu tidak lucu Tio. Aku akan lanjutkan." Tegas Luna.


“Begitu dong dari tadi. Cepat lanjutkan." Balasku tersenyum.


“Karena aku sangat ingin menanyakan tentang hal padamu. Tadi aku memutuskan mengikutimu. Jujur aku sangat penasaran sekali, perasaanku jadi tidak enak karena memendam rasa penasaran tentang kejadian tadi. Saat melihat kamu dan pak guru pulang, jujur aku sedikit bingung. Aku ingin segera menemuimu untuk bertanya namun masih ada pak Indra. Rasa penasaran ingin tahu yang sebenarnya tentang yang kalian lakukan tadi dan juga rasa kesal karena rahasia sebesar ini aku sama sekali tidak mengetahuinya, semua tercampur. Karena saat aku menanyakan besok, pasti kamu tidak akan mengaku bukan dan juga momennya sudah tidak pas jika aku menanyakannya besok. Jadi aku putuskan mengikutimu pulang dan bertanya hari ini juga." Jelas Luna.


Mendengar penjelasan Luna, aku menjadi sedikit merasa bersalah padanya. Wajar jika dia sangat ingin tahu kenapa aku dan juga pak Indra datang ke sekolah di hari minggu. Itu memang tidak lazim terjadi.


“Hmm, jadi begitu rupanya. Ya memang sih aku pasti tidak akan mengaku jika kamu menanyaiku besok, bahkan jika kau punya foto hari ini sekalipun. Namun pada akhirnya aku ketahuan juga dan untungnya kamu yang memergokiku. Aku jadi tidak terlalu khawatir." Balasku.


“Kita impas kan?” Tanya Luna.


“Iya kita impas. Aku puas dengan jawabanmu." Jawabku.


“Aku juga puas dengan jawabanmu Tio." Lanjut Luna.


Tak lama kemudian, ibu mulai berbicara. Dengan tatapan serius dan juga ibu telah mendengar obrolanku dengan Luna barusan, sekarang saatnya ibu yang mulai bertanya.


“Baiklah kalian berdua. Sekarang giliran ibu yang bertanya kepada kalian." Ucap ibu dengan tatapan serius.