HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 75: Obrolan Gadis



Airi melihat Aria yang terlihat sangat gembira setelah pulang dari rumah sakit. Aria masuk rumah dengan senyum lebar di wajahnya sambil melihat smartphonenya. Airi pun penasaran dengan apa yang telah terjadi pada adiknya itu.


“Sepertinya ada yang bagus hari ini?” Tanya Airi sambil menutup pintu.


“Heh? Apanya bagus kak?” Balas Aria menoleh ke arah Airi.


“Kamu terlihat sangat senang sekali, ada apa memangnya?” Lanjut Airi.


“Hmm.. Tidak apa-apa, hehe.” Aria tertawa.


Airi menatap Aria dengan penuh rasa penasaran. Dia kemudian mendekati adiknya dan memperhatikan gerak-gerik Aria. Aria berubah menjadi malu, berarti ada yang di sembunyikan dari Airi.


“Ohoo jadi begitu ya!” Airi melangkah menuju Aria.


Airi pun merebut smartphone milik Aria. Aria pun kaget dan meminta Airi untuk mengembalikan smartphone miliknya.


“Kakak, kembalikan! Aku mohon.” Aria mencoba mengambil smartphonenya.


“Eits, sebentar. Aku jadi penasaran. Sejak tadi kamu senyum-senyum sendiri sambil melihat smartphone ini.” Airi mengangkat smartphone Aria ke atas.


Airi pun melihat apa yang ada di smartphone itu. Yang terlihat hanyalah kolom chat dengan nomor Tio. Dan yang terpenting, ada emoticon hati di namanya. Airi hanya tersenyum melihatnya, dia tidak ingin menganggu adiknya lebih jauh lagi dari ini.


“Hmm.. Ternyata nomor laki-laki itu. Bilang dari tadi kenapa!” Airi mengembalikan smartphone Aria.


Aria yang hampir menangis itu menerima smartphone miliknya kembali. Aria merasa senang dan juga merasa malu karena rahasianya diketahui Airi.


“Habisnya, aku malu kak.” Aria menerima smartphonenya.


“Kenapa harus malu? Kita sudah besar. Wajar kalau seumuran kita kenal dengan laki-laki.” Airi menasihati Aria.


Aria melihat ke arah kakaknya setelah berbicara seperti itu. Aria ingin tahu kenapa sikap Airi terhadap laki-laki sangatlah biasa. Berbeda dengan dirinya yang malu-malu saat dekat dengan Tio, kakaknya terlihat santai menanggapi Aria tadi.


“Memangnya kakak ada kenalan?” Aria penasaran.


“Ada beberapa, tapi aku tidak ingin lebih jauh terlebih dahulu. Aku sudah kelas 3, sebentar lagi ujian kelulusan. Aku tidak ingin konsentrasi belajarku terganggu karena laki-laki.” Jawab Airi.


"Jadi kakak pernah ditembak?" Aria semakin antusias.


"Hmm.. Sudah beberapa kali tapi aku tolak semua. Bukan karena mereka tidak ganteng atau tidak kaya, hanya saja belum ada yang pas menurutku." Jelas Airi.


Aria begitu kagum terhadap kakaknya. Padahal mereka berdua adalah saudara yang seumuran, namun kenapa jarak di antaranya sangatlah jauh? Aria merasa tidak sebanding dengan kakaknya. Aria hanya bisa terkejut mendengar cerita Airi.


“Hebat, jadi sudah ada yang menyatakan perasaannya ke kakak!” Aria terkejut.


Airi melihat raut wajah murung di wajah adiknya. Airi kemudian mendekat lagi ke Aria lalu memegang pundaknya.


“Kamu juga bisa, Aria. Kita kan kembar, daya tarikmu sama sepertiku.” Airi menasehati lagi.


“Tapi aku tidak semenarik kakak.” Aria pesimis.


Airi menatap tajam mata Aria. Airi tidak mau terus-terusan membayang-bayangi Aria dalam hal apapun. Bagaimanapun mereka kembar, ada sisi yang sama di antaranya. Jika melihat seuatu kelebihan, Airi dan Aria juga punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.


“Dengar baik-baik Aria, kurangi rasa malumu itu! Mau sampai kapan kamu tidak percaya diri seperti ini. Sudah kubilang bukan, kita kembar. Fisik kita sama. Jadi tidak ada alasan untukmu bilang begitu.” Airi menasehati Aria dengan serius.


Aria pun hanya terdiam mendengar nasihat Airi barusan. Airi berbicara dengan nada yang sedikit marah, Aria tidak berani membalas ucapan kakaknya jika sudah begitu.


"Baik kak, akan aku coba." Balas Aria.


Airi tersenyum mendengar jawaban Aria. Karena Airi masih memasak, dia kemudian ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.


“Baiklah, aku lanjut masak lagi.” Airi menuju dapur.


Ketika Airi hendak ke dapur lagi untuk memasak, Aria kemudian memanggil kakaknya lagi. Ada hal yang masih mengganjal di hati Aria.


“Kakak..” Panggil Aria.


“Apa lagi?” Toleh Airi.


“Boleh aku bertanya?” Aria memainkan jari telunjuknya.


“Baik, aku dengarkan.” Airi berbalik arah menghadap Aria.


Aria mengeluarkan apa yang dia pikirkan selama ini ke Airi. Dia takut akan kalah dengan Luna dalam mendekati Tio. Aria harus segera mencari solusi untuk itu.


“Jika kakak mempunyai rival sahabat kakak sendiri, apa yang akan kakak lakukan?” Tanya Aria.


Airi kaget dengan pertanyaan Aria. Karena pertanyaan itu tidak dapat langsung dijawab dan juga Airi sedang memasak, Airi menyuruh Aria untuk mandi terlebih dahulu.


“Hmm.. Mandi dulu sana. Aku akan menjawabnya setelah makan nanti.” Jawab Airi.


“Yah kakak.” Aria sedikit kecewa.


Aria sudah benar-benar tidak bisa melawan ucapan kakaknya, dia juga tidak mau makan masakan gosong. Akhirnya Aria harus menurut kepada kakaknya.


“Baik kak.” Aria menurut.


Aria pun bergegas mandi sedangkan Airi melanjutkan memasak. Karena hampir jam 7 malam, Airi segera menyelesaikan masakannya. Aria juga selesai mandi. Setelah itu mereka melanjutkan makan bersama.


“Kakak, mana janjinya tadi?” Aria meminta jawaban Airi.


“Sebentar, aku merapikan tempat ini sebentar.” Balas Airi.


“Biar aku bantu.” Aria menghampiri kakaknya.


Setelah makan, mereka merapikan meja makan dan mencuci piring. Dan setelah semua selesai, Airi menyuruh Aria duduk di sofa depan televisi.


“Kamu duduk dulu, aku akan membuat minum.” Suruh Airi.


Aria pun menurut dan duduk di sofa. Airi kemudian membuat dua cangkir teh di dapur, lalu dia membawanya ke ruang tengah.


“Nih untukmu!” Airi memberikan secangkir teh.


“Terima kasih kak.” Aria menerima teh itu.


Airi pun duduk di samping Aria, Airi kemudian mulai membahas apa yang tadi Aria tanyakan.


“Tadi kamu bertanya bukan, bagaimana jika aku mempunyai rival sahabatku sendiri?” Airi memastikan.


Airi tahu betul apa yang di maksud Aria saat ini. Dia pasti Luna, tidak salah lagi. Karena hanya Luna yang dekat sekali dengan laki-laki yang baru dikenal adiknya itu.


“Iya kak. Aku ingin mendengar pendapat kakak.” Jawab Aria.


Airi tidak perlu basa-basi lagi, dia akan tanyakan langsung ke intinya. Kali ini pertanyaan Airi tanpa ampun lagi.


“Jadi benar kamu menyukai laki-laki itu?” Tanya Airi.


“I-itu.. Emm..” Aria mengangguk malu.


“Lalu kamu tidak enak dengan Luna?” Lanjut Airi.


“Emm..” Aria mengangguk lagi.


Airi tersenyum saat mendapati adiknya jatuh cinta seperti ini, bahkan ini baru pertama kalinya terjadi. Sebenarnya banyak orang yang menyukai Aria, semua laki-laki yang mengincar Aria selalu bertanya kepada Airi karena Aria terlalu menutup dirinya. Namun kali ini malah Aria sendiri yang memulainya.


“Jadi ternyata benar kamu menyukainya!” Goda Airi.


“Ah kakak serius sedikit kenapa? Tapi jangan bilang Luna lo kak. Aku sangat bingung sekarang.” Aria cemas.


Airi kemudian serius memberikan pendapatnya kepada Aria. Mungkin saja pendapatnya bisa membantu bisa juga tidak, karena penyelesaian masalah setiap orang pasti berbeda.


“Aku belum melihat orangnya sih. Tapi kalau aku, tidak masalah jika rivalku adalah sahabatku sendiri. Ingat Aria, di dunia ini tidak ada sahabat yang sempurna. Sebaik-baiknya dia, pasti ada keburukan juga di baliknya. Aku akan memberi saran lagi jika telah bertemu dengannya dan juga melihat reaksi Luna tentangnya.” Airi mengutarakan pendapatnya.


“Kakak ada benarnya juga.” Aria antusias.


“Bagaimana? Puas dengan pendapatku?” Tanya Airi.


“Puas kak, dan juga aku tunggu pendapat kakak selanjutnya.” Jawab Aria tersenyum.


“Baiklah, aku tidur dulu. Ngantuk.” Airi mengucek matanya.


“Baik kak.” Balas Aria.


Airi pun pergi menuju kamar. Aria menyalakan smartphonenya dan masih di kolom chat kosong. Lalu dia menulis chat kepada Tio. Aria mengirim chat itu sambil tersenyum. Kemudian Aria menyusul Airi tidur.


Kling.. (bunyi notifikasi)


Smartphoneku berbunyi, tertera nomor tidak dikenal mengirimkan pesan kepadaku.


“Siapa ini?” Pikirku.


Aku membuka pesan itu, ternyata nomor itu adalah nomor Aria.


“Maaf mengganggu, ini aku Aria. Ini nomor teleponku, simpan ya. Lekas sembuh, selamat malam.” Tulis Aria.


“Oh nomor Aria ternyata!” Ucapku.


Aku menyimpan nomornya lalu segera membalas.


“Iya sudah kusimpan, selamat malam juga.” Balasku.


Saat Aria menuju kamarnya, smartphonenya berbunyi. Dia membaca pesan itu lalu Aria melompat-lompat karena senangnya. Aria memasuki kamar dan segera tidur di samping Airi.