HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 117: Mencari Penyebab



“Oiii Luna...” Teriak Airi.


Luna yang mendengar suara Airi langsung berhenti dan menoleh ke arah Airi. Airi pun datang menghampiri Luna.


“Airi, ada apa sampai teriak-teriak begitu?” Tanya Luna


“Aku ingin bertanya sesuatu padamu.” Jawab Airi.


“Apa itu?” Luna ingin tahu.


Airi berusaha mencari penyebab Aria menjadi murung seperti tadi. Mungkin saja Luna tahu kenapa adiknya sampai seperti itu.


“Luna, kamu tahu kenapa sikap Aria hari ini begitu aneh? Dia terlihat murung dan juga saat ini dia ingin minum kopi, padahal Aria sangat tidak menyukai kopi.” Tanya Airi kepada Luna.


“Entah kak, aku juga heran tadi. Tiba-tiba dia berlari begitu saja.” Jawab Luna.


Airi sedikit menemukan petunjuk di sini. Jadi Aria bertemu Luna sebelum dia seperti itu dan juga Luna bilang "Tadi" itu saja sudah cukup membuat Airi penasaran.


“Tadi? Tadi kenapa memangnya?” Airi penasaran.


“Tadi dia mengembalikan buku milikku yang dipinjamnya kemarin.” Luna menunjukkan bukunya.


“Hmm, masih kurang informasi nih!” Airi mulai berpikir.


Meskipun sudah mendapatkan petunjuk, tapi Airi masih kekurangan informasi kenapa Aria sampai murung seperti tadi. Kemudian Airi melihat Luna yang membawa sebuah bungkusan, karena masih ingin menggali informasi dari Luna, Airi pun menanyakannya pada Luna.


“Itu apa?” Airi menunjuk bungkusan yang dibawa Luna.


“Oh ini kotak makan siang. Aku tadi makan siang bersama Tio di dekat lapangan, makanya aku bawa dua bekal hari ini.” Jawab Luna.


Pantas saja Aria murung, ternyata jawabannya ada pada kotak makanan milik Luna. Airi sudah menemukan alasan kenapa Aria sampai sebegitu murungnya sampai-sampai dia tidak nafsu makan. Jadi bukan masalah masakan Airi tidak enak melainkan karena Luna makan siang bersama laki-laki itu.


“Oh ternyata itu penyebabnya, aku jadi sedikit kasihan dengan Aria!” Airi mulai menyadarinya.


“Apa kak penyebabnya?” Luna ingin tahu.


Airi menatap datar Luna yang bertanya alasan Aria yang begitu aneh kepadanya. Bisa-bisanya gadis satu ini tidak dapat memahami perasaan sesama gadis. Yah Airi juga sebenarnya tahu, bahkan Luna dengan perasaannya sendiri saja kemungkinan sama tidak pekanya.


“Tidak, tidak apa-apa. Kamu hanya perlu sedikit peka untuk menyadarinya.” Jawab Airi.


“Huh, kamu curang!” Balas Luna.


Airi mulai penasaran dengan laki-laki yang bernama Tio itu, yang sampai-sampai bisa membuat adiknya jatuh hati dan juga bisa membuat murung seperti sekarang ini. Sebenarnya seperti apa dia orangnya?


“Oh iya, Tio yang mana ya? Apakah laki-laki yang berdiri paling belakang kemarin? Kalau Andreas, Ryan dan Kevin, Aku sudah hafal.” Tanya Airi.


“Iya dia orangnya, memangnya kenapa kamu menanyakan tentang dia, Airi?” Balas Luna.


“Hanya bertanya, kalau begitu aku ke kantin dulu. Aku takut Aria ngambek nanti.” Airi bergegas meninggalkan Luna.


Airi dan Luna berpisah. Airi melihat jam di smartphone miliknya, waktu istirahat tinggal setengah lagi. Dia harus cepat, kalau tidak Aria akan ngambek mengingat suasana hatinya sedang tidak bagus hari ini.


“Akhirnya aku sampai kantin!” Ucapku.


Aku segera mengeluarkan dompetku lalu mencari uang koin untuk membeli minuman. Namun saat aku ingin membeli minuman, aku hampir saja menabrak orang lain yang ada di depanku.


“Ups.. Hati-hati dong kalau jalan.” Sahut Airi.


“Ma.. Maafkan aku! Silahkan duluan, aku tidak keberatan.” Balasku.


Airi merasa tidak asing dengan laki-laki yang barusan hampir menabraknya. Airi mengingat lagi di mana dia pernah melihatnya. Oh ternyata laki-laki ini adalah Tio yang kemarin dia lihat.


“Hmm.. Tunggu, kamu Tio kan?” Tanya Airi.


“Masa kamu lupa Ari... Hmm.. Kakaknya Aria ternyata, salam kenal kak.” Aku menundukkan kepalaku.


“Kamu mau beli apa? Biar sekalian.” Airi menawarkan.


“Tidak usah repot-repot kak, aku beli sendiri saja!” Jawabku


“Hoho.. Anak yang baik, calon adik yang bagus ternyata.” Airi kagum.


“Calon adik?” Aku bingung.


Kakaknya Aria memandangiku dengan sangat serius, dan juga dia bilang calon adik? Apa mereka mau punya adik lagi? Aku sedikit kebingungan di sini.


“Sudah lupakan, cepat mau minum apa? Aku ingin mengobrol sedikit denganmu soalnya.” Lanjut Airi.


“Hmm.. Seikhlasnya kakak saja deh!” Balasku.


“Oke kalau begitu.” Airi mengeluarkan beberapa uang koin


Aku tidak mau berlama-lama karena di belakangku sudah ada orang yang juga mengantri untuk membeli minuman. Kakak Aria kemudian membeli dua cola dan satu kopi. Setelah itu dia mengajakku duduk dan mengajakku berbincang.


"Ini untukmu!" Airi memberikan soda kepadaku.


“Terima kasih. Kenapa kakak beli tiga?” Tanyaku.


“Oh ini kopinya pesanan Aria. Tapi tolong jangan panggil aku kakak, sudah terlalu banyak yang memanggilku kakak padahal aku dan Aria seumuran.” Balas Airi


“Lalu aku suruh panggil apa? aku lupa nama kakak soalnya.” Lanjutku.


“Oh maaf, aku juga belum berkenalan denganmu. Aku Airi, kakak dan saudara kembar Aria.” Airi memperkenalkan dirinya padaku.


“Oh iya Airi, aku ingat sekarang. Nama kalian mirip.” Balasku


“Lah iya, kan kita kembar. Hmm, sebenarnya aku ingin bertanya sesuatu padamu.” Lanjut Airi.


“Apa itu?” Balasku


Aku membuka kaleng soda milikku lalu meminumnya sebelum Airi menanyakan apa yang ingin ditanyakan kepadaku. Aku sudah sangat haus dan tidak mungkin lagi aku tahan. Airi hanya melihatku meminum minumanku, dia kemudian melanjutkan bertanya.


“Apa kamu tahu kenapa Aria murung hari ini?” Tanya Airi.


“Loh tadi dia biasa saja? Tapi entah kenapa dia mengintip saat aku dan Luna makan siang lalu setelah mengembalikan buku milik Luna, dia langsung berlari kencang.” Jawabku.


“Haduh.. Kalian berdua sama saja tidak peka ternyata..” Airi menutup wajahnya dengan tangan.


“Apanya yang tidak peka?” Tanyaku.


Airi hanya bisa menghela nafas setelah mengetahui keduanya sama-sama parahnya dalam hal kepekaan. Airi berusaha mengubah topik pembicaraan, dia memiliki suatu rencana.


“Sudah lupakan, aku ada hal yang lebih penting yang ingin kutanyakan. Bagaimana menurutmu tentang Aria?” Airi mengalihkan pembicaraan.


“Apanya yang menurutku?” Aku bertanya lagi.


“Sudah jawab saja, apapun itu. Aku harus segera kembali ini sebelum Aria ngambek nanti.” Airi segera ingin mengetahuinya.


Aku kemudian memikirkan apa yang sedang Airi tanyakan. Aku mengingat-ingat lagi semua tentang Aria, kemudian aku mengutarakannya kepada Airi.


“Hmm.. Menurutku dia baik, tidak merepotkan seperti Luna lalu, hmm... dia juga cantik.” Aku mengutarakan pendapatku.


“Bagus.. Itu sudah cukup. Baiklah aku harus segera kembali, aku dititipi Aria soalnya.” Airi pamit.


“Aku juga terima kasih sudah ditraktir.” Balasku.


“Tidak masalah, sampai ketemu lain waktu, dah!” Airi bergegas pergi.


Airi pergi sambil melambaikan tangannya, sedangkan aku masih duduk di kantin. Saat berbicara dengan Airi tadi sebenarnya aku merasakan ada yang aneh. Aku merasakan hawa yang tidak biasa. Ah tapi itu mungkin cuma perasaanku saja. Yang lupa aku tanyakan tadi adalah kenapa mereka seumuran tetapi berbeda kelas? Aku penasaran malah penasaran akan hal itu.